Harga Diri Korek Api

36. Harga Diri Korek Api

AWAL mula pertemuan Gob dan Blok ini ketika mereka berdua sedang suntuk dengan kehidupan. Suatu malam kedua pemuda nggak jelas ini dipertemukan di warung kopi Mbok Nom di dekat pusat peradaban Ibukota. Gob lebih dulu tiba di sana.

Lelaki tanggung ini hendak menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang. Namun apa daya korek api kesayangannya raib entah kapan dan di mana. Dengan begitu Gob jadi seorang di antara ribuan perokok yang kehilangan korek api di setiap detiknya.

Sudah lumrah ‘kan, korek api jadi salah satu barang yang sering hilang dan (tidak sengaja) dicuri. Bagi seorang perokok aktif, keberadaan barang yang berukuran jari manusia dewasa ini begitu penting. Tentu lintingan tembakau ini tak bisa menyala tanpa adanya barang dengan bahan bakar gas yang dicairkan tersebut.

Dalam keadaan genting seperti ini, pikiran Gob tiba-tiba menjadi kritis. Menurutnya, ada baiknya dibuat Undang-undang terkait pemantik api ini. Jangan pernah menganggap sepele korek api. Meski ukurannya kecil dan harganya tergolong murah, tapi keberadaannya penting banget lho bagi khalayak ramai.

“Siapa terbukti mencuri korek api, baik disengaja maupun tidak, maka akan dikenai sanksi kurungan penjara selama sekian tahun serta denda sebanyak sekian rupiah (tergantung track record tersangka),” kata Gob dalam hati.

Sedangkan pasal yang selanjutnya kira-kira berbunyi begini, “Siapa menemukan korek api yang masih berfungsi harus memberikan barang temuannya tersebut pada pemilik sebelumnya atau perokok terdekat yang sedang memerlukan korek. Jika hal tersebut di atas tidak dilakukan dalam waktu maksimal 1 x 24 jam, maka akan dianggap sebagai tindak pidana pencurian sesuai yang telah diatur dalam pasal sebelumnya.”

Gob tersenyum sendiri menyadari betapa merasa cerdas otaknya malam itu.

“Percuma sok kritis tapi ndak bisa merokok,” pikirnya dalam hati.

Setelah tengok kanan-kiri, baru dia sadari malam itu pelanggan warung kopi Mbok Nom hanya dia seorang. Gob beranjak menghampiri pemilik warung yang seorang wanita paruh baya tersebut. Sial baginya, pemilik warung yang usianya kini mendekati 70 tidak punya korek yang dimaksud.

“Ah, sial betul hidupku hari ini!” katanya ketus sembari kembali duduk di luar warung sembari menyeruput kopi hitamnya yang diramu tanpa gula.

Tak hilang akal, Gob berlagak seolah sedang merokok. Dihisapnya dalam-dalam rokok kreteknya itu. Lalu dia semburkan pelan asap tebal mengepul dari mulutnya. Bahkan sesekali asap itu dia bikin berbentuk lingkaran.

Gob terlihat begitu menghayati dan menikmati rokoknya. Orang-orang yang melintas di depannya merasa aneh melihat tingkah lakunya. Mungkin mereka berpikir Gob merupakan orang gila baru yang kehilangan akal, seperti adegan viral mahasiswa yang mem-bully sejawatnya di kampus. Gob pun tahu orang-orang yang lalu-lalang itu memperhatikannya, namun dia acuh saja dan terus menikmati rokok dalam imajinasinya sendiri.

“Mas, pinjam korek, dong,” tiba-tiba ada yang menghampiri Gob untuk pinjam korek.

Gob tersentak kaget mendengarnya, “Lho, saya ndak punya. Ini saja saya pura-pura rokoknya menyala,” ujarnya.

“Tapi saya bisa lihat itu nyala lho, Mas. Jangan bohong deh. Saya lagi pengin merokok banget nih!” kata orang itu dengan nada mulai meninggi.

Gob semakin mumet kepalanya. Jelas-jelas rokok ini tidak menyala babar blas. Pun, selama ini dia hanya pura-pura bertingkah laku seolah-olah rokok itu terbakar. Kelakuannya ini lantaran Gob tak juga menemukan korek api yang dia butuhkan untuk menyalakan rokoknya. Tapi kenapa ini ujugujug ada orang yang mau pinjam korek dan mengaku melihat rokoknya menyala. Kemudian dia mencoba menjelaskan secara pelan-pelan pada orang baru dilihatnya tersebut bahwa sejatinya Gob memang benar-benar tak punya korek dan lagaknya merokok itu cuma pura-pura.

“Ah, sialan! Baru kali ini aku ketemu orang yang super pelit! Cuihh!!” lelaki muda berbalut kaus hitam polos dan jeans kusut itu seketika pergi menjauh dari pandangan Gob.

Gob terduduk memaku di sana. Masih merasa kebingungan dengan apa yang baru saja dia alami. Sementara kondisi warung mulai berangsur ramai. Meski beberapa kursi di dalam masih ada yang kosong, Gob tetap enggan masuk. Menurutnya, menikmati kopi harus dalam keadaan santai. Jika dalam satu ruangan penuh orang seperti itu, apalagi tidak ada yang kenal satu pun, tentu kenikmatannya bakal  berkurang.

Padahal bisa saja pemuda perantauan ini dapat kenalan baru di dalam warung Mbok Nom. Dengan semakin banyak teman, semakin banyak pula kans bagi Gob untuk dapat kerja. Tapi malam itu dia sedang malas bersosialisasi dengan insan yang lain. Akhirnya Gob menunggu saja sambil menghisap rokoknya yang tak bakal habis karena memang tidak menyala.

“Nih, saya kasih korek api. Biar nanti kalau ada yang pinjam ndak bakal pelit lagi,” tiba-tiba pemuda misterius itu menghampiri Gob lagi.

Gob pun melihat lelaki yang baru ditemuinya itu memegang rokok yang sudah menyala. Tanpa pikir panjang, Gob langsung menyambut korek pemberian lelaki itu dan menyalakan rokoknya.

Halaaaaaah, masih saja kamu ini. Jelas-jelas rokok itu sudah menyala, masih saja kamu berlagak menyalakannya,” ujar lelaki itu lagi.

Matur nuwun, mas. Saya jadi bisa merokok,” kata Gob.

“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Kalau bukan karena sifatmu yang pelit itu, ndak mungkin aku memberimu korek ini,’’ jawab si lelaki itu.

Syahdan, dua pemuda ini duduk santai di depan warung Mbok Nom. Asap rokok yang mengepul dari keduanya semakin menambah warna jalan raya yang sudah penuh dengan asap kendaraan beserta riuh riang knalpot beserta klaksonnya tersebut.

“Eh, mas ini namanya siapa?” Gob mulai membuka percakapan dengan lelaki baik hati yang baru saja memberinya korek api ini.

“Apalah arti sebuah nama,” jawab pemuda ini singkat.

“Halaaah, sok-sokan niru William Shakespeare,” sahut Gob ketus.

Lho, jangan salah! Shakespeare itu teman dekatku! Kutipan yang melegenda itu terinspirasi dari kisah nyata yang aku alami!”

Gob semakin heran dengan pemuda yang baru dia temui ini. Gob semakin yakin lelaki yang duduk di sampingnya itu benar-benar sinting.

Di awal pertemuan, lelaki itu seolah melihat rokok yang dihisap Gob benar-benar menyala. Kini dia mengklaim berteman baik dengan sastrawan asal Inggris tersebut. Mana mungkin penulis kondang kisah Romeo and Juliet itu berteman dengan pemuda yang tampangnya memprihatinkan itu. Lagipula Shakespeare hidup di tahun 1500-an, sedangkan sekarang ini sudah masuk zaman milenium.

Dengan pelan, Gob sedikit  menggeser badannya menjauh dari pemuda tersebut. Belum sempat selesai menjauhkan diri, Gob tersentak lelaki itu berbicara.

Ngapain menjauh? Takut aku rampok?” katanya dengan nada mengejek. Tentu saja perlakuan pemuda itu membuat Gob semakin ketakutan.

“Memangnya kamu punya apa? Aku yakin kamu ndak punya harta berharga!”

“Iya sih…”

That’s why! Ngapain takut kehilangan kalau kamu sudah ndak punya apa-apa lagi!” sela lelaki ini. “Aku juga curiga kamu sudah kehilangan harga diri…”

Gob langsung naik pitam dituduh seperti itu, “Kurang ajar kamu! Mentang-mentang tampangku kayak gini, aku masih punya yang namanya harga diri!”

Halah mbelgedes! Lagipula buat apa di zaman sekarang ini masih punya harga diri?”

“Harga diri itu penting! Di zaman edan ini kita harus wajib waras biar ndak ketularan gila,” ucap Gob.

Preettt! Begitu kamu bilang kamu punya harga diri, secara ndak langsung kamu bisa menjual dirimu. Begitu ada kata ‘harga’, berarti bisa dijual. Camkan itu!” tegasnya.

Gob berdecak kagum dengan ucapan pemuda ini. Akan tetapi dia sudah lelah berdebat soal harga diri. Gob lebih memilih untuk mulai maklum dengan keunikan lelaki itu. Dia pun ingin semakin mengulik pandangan hidup pemuda ini. Namun Gob mau kembali mengajukan pertanyaan pertama yang tadi belum mendapat jawaban yang tepat.

“Baiklah, aku setuju sama kamu. Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab, siapa namamu?”

“Aku sudah lupa namaku sesuai pemberian orang tua dulu. Orang-orang biasa memanggilku Blok,” jawabnya.

“Walaah, kok bisa-bisanya kamu lupa sama nama sendiri? Lalu kenapa namamu jadi Blok?” ujar Gob heran.

“Aku juga ndak tahu kenapa orang-orang memanggilku begitu. Aku juga cuek saja disebut begitu. Lalu namamu siapa?”

“Nama panggilanku Gob.”

Tuh, namamu juga ndak kalah uniknya sama namaku,” ucap Blok.

“Julukanku berganti jadi Gob saat dulu aku…”

“Sudah… sudah… aku ndak mau dengar alasan macam-macam, yang penting aku sudah tahu namamu,” potong Blok.

Selesai berkenalan soal nama, Gob masih penasaran dengan sosok yang baru dia kenal itu. Gob ingin tahu bagaimana bisa Blok melihat rokoknya menyala padahal tidak, bagaimana pula dia begitu percaya diri mengaku sebagai teman William Shakespeare. Jangan-jangan Blok ini memang manusia sakti pilihan yang ditakdirkan bisa hidup di segala zaman.

“Kata kakek buyutku, Mbah Albert Einstein, imajinasi itu penting,” jawab Blok.

Gob geleng-geleng kepala lagi mendengar pernyataan kenalan barunya ini. Menurutnya, imajinasi Blok ini benar-benar luar biasa.

“Berimajinasi ya boleh saja. Tapi mosok sampai kamu bisa melihat rokokku tadi menyala, terus kamu mengaku kenal William Shakespeare, sekarang kamu mengaku keturunan Albert Einstein, wajahmu ini ndak ada paras bule sama sekali,” kata Gob.

“Biarin! Aku juga boleh dong berimajinasi kalau Nusantara ini memang benar-benar negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja!” tutup Blok. (dsk/)

Saya dan Kehidupanku

HAMPIR semua mimpi mustahil diingat secara rinci ketika mata terjaga lagi. Tak demikian halnya mimpiku bersama Saya. Selalu kuingat setiap kata yang terucap dari bibirnya. Memoriku menyimpan apik kelopak demi kelopak bunga tidur bersamanya setiap malam.

Saya seorang tua yang kesulitan menyeberang jalan. Kuamati lama sekali Saya mematung di pinggir jalan. Padahal jalan sedang sepi. Tak satu pun kendaraan yang melintas selain daun kering tertiup angin. Saya hanya menoleh ke kanan dan kiri. Kemudian mematung kembali. Begitu seterusnya sampai kokok ayam menggugurkan bunga tidur ini.

Pada suatu malam berikutnya, masih kulihat Saya yang belum juga menyeberang. Aku heran mengapa sepi jalan masih saja menakutkan Saya. Mengapa berat kakinya begitu kaku melangkah sampai seberang. Saya duduk bersila sambil tengok kanan dan ke kiri. Kemudian duduk mematung kembali dengan sorot mata kosong. Begitu seterusnya sampai basah keringat membangunkanku.

Begitu seterusnya sampai sinar matahari menembus tirai jendela kamarku. Begitu seterusnya hingga gemuruh klakson kendaraan menerobos dinding kamarku.

Tidak terlihat ada apa-apa di seberang. Tak ada nyanyian burung dari balik ruang gelap itu. Tak tampak  pula hijau padi terpanggang matahari. Hanya hitamnya misteri selimuti sisi seberang jalan itu. Kabut pekat yang senantiasa memanggil Saya untuk menghampirinya. Namun semakin Saya ingin menyeberang, semakin tak kuasa berjalan walau sejengkal tanah sekali pun . Seakan ada yang menghalangi sekaligus menghentikan Saya untuk sama sekali tak bergerak.

Dalam mimpi yang kesekian kali, kuhampiri Saya. Rasa iba menuntun keinginanku untuk membantunya menyeberang. Saat aku sudah berdiri di sampingnya, Saya hanya melirik sedetik. Kemudian kembali menatap seberang jalan yang gelap. ‘’Apa kau lupa? Namaku Saya.’’

Aku terkejut. Lalu kubolak-balik lembar demi lembar ingatanku. Aku ingin tahu apa pernah mengenal seorang tua bernama Saya. Dengan segenap keyakinan, sudah kupastikan tak ada nama Saya dalam daftar itu. Bahkan di alam mana pun dalam kehidupanku, tak pernah walau hanya sekali melihatnya.

Ketepuk pundak Saya. Kuutarakan keinginan menolongnya menyeberang. Tatapan yang selama ini kosong berubah kala melihatku yang masih berdiri di sampingnya. Sorot kedua mata Saya begitu tajam menyala. Raut muka pasrah berganti garang. Kurasakan emosi yang begitu panas dari tubuh tuanya.

Saya mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kemudian Saya berbisik dengan suaranya yang parau, ‘’Mengapa kamu masih di sini?’’ []

Jakarta, 7 Desember 2015

Belum Tentu

PACARAN dalam kurun waktu tiga tahun sudah bisa terbilang lama. Untuk usia berpacaran selama itu, bagi sebagian orang mungkin terlalu lama. Terlalu lama mendekati zina, begitu kata yang merasa paling mengerti agama. Mereka mendorong pelaku pacaran untuk meresmikan hubungan itu agar halal dan diberkahi Tuhan.

Kata ‘menikah’ tak pernah terbersit sekalipun di pikiran Grace. Sampai pada Mamanya yang nun jauh di sana menelpon. Beliau menanyakan tujuan hidup mahasiswi berambut hitam lurus sebahu itu. Gadis berbibir tipis tersentak mendengarnya.

Grace baru sadar, selama ini begitu semangat kuliah. Setiap hari ke kampus. Setiap hari mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Mata kuliahnya tak pernah bernilai C, D, apalagi E. Selalu A dan jarang B. Dia tak tahu mau apa setelahnya. Ke mana setelah lulus.

Belum usai Grace melamunkan masa depannya, pertanyaan lanjutan ibunya semakin membuatnya terpaku. Dengan siapa kelak Grace mengarungi kehidupan di dunia.

Ketika usia kuliahnya menginjak pertengahan semester tiga, teman kampusnya berhasil memikat hatinya. Sejak saat itu, hari-hari Grace dihiasi lelaki bernama Lanang.

Suka dan duka dilewati bersama. Menangis dalam tawa, tertawa dalam tangis mewarnai halaman demi halaman buku kehidupan mereka selama menjadi sepasang kekasih. Tugas kuliah mulai dari yang terberat sampai yang ecek-ecek dikerjakan berdua dengan penuh semangat demi mengejar satu tujuan, wisuda bersama-sama.

Skripsi seakan merenggangkan intensitas pertemuan mereka. Pra-skripsi, hampir setiap hari mereka bisa bebas memadu kasih dengan caranya masing-masing. Kini, prasyarat menamatkan jenjang sarjana itu membelenggu kebebasan Grace dan Lanang untuk semakin menebalkan kadar cinta mereka.

Akhir pekan yang menjadi langganan menghabiskan waktu di keramaian kota tak lagi terlihat. Mereka lebih memilih tempat-tempat terdekat. Itu pun hanya pergi ke tempat makan. Itu pun dibawa pulang, bukannya dinikmati di tempat sambil saling menyuapi satu sama lain. Selebihnya, waktu mereka banyak digunakan untuk merevisi bab yang dianggap belum layak mengantar keduanya mengenakan toga.

Pantang hura-hura, makan enak dan mahal, nonton bioskop, shopping, ke salon, dan jalan-jalan sebelum sidang dan dinyatakan lulus tanpa syarat oleh dosen penguji. Itu mungkin Sumpah Palapa ala muda-mudi yang masih saja termabuk cinta itu.

Mereka lebih banyak menghabiskan waktu pacaran mereka via pesan singkat atau telepon. Jarang ada pembahasan hal berbau apa kabar, sudah makan atau belum, tidur yang nyenyak, maupun harapan saling memimpikan saat mata terpejam. Itu semua berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan seputar progres skripsi.

Grace belum mengenalkan Lanang secara lebih jauh pada orangtuanya. Mamaya hanya tahu Grace punya pacar. Selebihnya, beliau tak tahu-menahu perihal kekasih putri bungsunya itu. Bahkan dia tak tahu nama lelaki yang memacari anaknya tersebut.

 ‘’Kenapa kamu belum juga kenalkan dia ke Mama-mu?’’ tanya seorang teman dekat Grace saat main ke kamar kontrakannya.

Grace tak menjawab. Dia masih melamun seusai curhat dengan sahabatnya itu.

‘’Ingat, kalian pacaran sudah tiga tahun, lho,’’ lanjut temannya.

Pertanyaan itu membawa pikiran Grace kembali di tahun pertama kuliah. Saat pertama kali melihat dan mengenal Lanang sebagai teman sekelasnya. Karena sifat pendiamnya, Lanang menjadi sosok mahasiswa paling misterius sekelas. Dia hanya berbicara seperlunya dengan teman sekelasnya, termasuk dengan Grace.

Tahun kedua, Lanang seperti mulai membuka diri. Mungkin dia perlu waktu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebagai mahasiswa dari luar daerah, tentu dia merasa canggung bergaul dengan teman barunya yang mayoritas berasal dari satu daerah.

Perubahan Lanang yang terbuka itu berimbas juga pada teman lawan jenisnya. Grace yang paling takjub akan hal itu. Ternyata di balik sifat pendiamnya, Lanang merupakan sosok lelaki yang ramah. Begitu kesan pertama yang Grace rasakan ketika mengobrol dengan Lanang di kantin kampus.

‘’Dari situ kamu mulai suka sama dia?’’

‘’Mungkin …’’

Hari-hari selanjutnya sejak perubahan sikap Lanang itu, Grace seperti diterbangkan ke awan. Setiap hari saat bangun pagi, selalu ada senyum tersungging begitu membaca pesan di HP-nya. Isinya beberapa baris puisi yang dikirim Lanang saat dini hari. Puisi itu menjadi penyemangat Grace untuk menghabiskan hari yang melelahkan.

Puncaknya, beberapa minggu setelahnya, Lanang membaca puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono di depan kelas. Tingkah laku nekat lelaki yang dulunya misterius dan pendiam itu sontak membuat geger seisi kelas. Tak lain tak bukan, puisi itu dijadikan Lanang sebagai pernyataan rasa cintanya pada Grace.

Di mata Grace, Lanang begitu gagah saat membaca puisi itu. Suaranya yang berat membuat Lanang terlihat begitu tulus dan sungguh-sungguh menyatakan perasaannya itu. Belum lagi sorot mata Lanang yang teduh. Selama membaca puisi, Lanang tak sedikitpun memalingkan matanya ke arah lain selain Grace. Dan itu membuat Grace semakin tinggi terbang ke awan sampai logikanya tak sanggup lagi berbicara.

‘’Perempuan mana yang sanggup menahan untuk tidak berkata ‘iya’ begitu mendengar ada yang membacakan puisi sedahsyat itu!’’ kata Grace pada sahabatnya itu.

‘’Terus selama kalian tiga tahun pacaran, sudah seberapa jauh kamu mengenal Lanang? Kamu sudah kenal dengan keluarganya?’’

‘’Aku pernah beberapa kali berbicara dengan ibunya via telepon.’’

Selama pacaran pun, Grace cukup mengenal sosok Lanang. Lelaki yang berhasil memikat hatinya itu berasal dari kampung yang jauh dari tempatnya kuliah. Biasanya, Lanang pulang kampung menggunakan bus kelas ekonomi. Kata Lanang, perjalanan menuju kampungnya menempuh waktu lebih dari sepuluh jam. Itu pun mesti menyambung dengan beberapa angkutan umum lainnya. Karena tidak ada kendaraan yang jurusannya langsung dari tempatnya kuliah menuju ke kampung halaman.

Dari yang diceritakan Lanang pada Grace, orangtuanya di kampung bekerja sebagai buruh tani. Lanang pun merupakan anak tunggal. Tujuannya kuliah jauh di kota besar semata-mata demi mengubah takdir yang seakan mengutuk keluarganya turun-temurun tergolong dalam kaum miskin.

‘’Sekarang apa yang bikin kamu ragu?’’

‘’Aku nggak tahu …’’

‘’Apa karena latar belakang Lanang yang seperti itu?’’

‘’Aku nggak tahu …’’

‘’Mungkin rasa itu hilang seiring tak ada lagi hal misterius yang melekat pada diri Lanang. Kamu sudah tahu semuanya tentang Lanang. Itu membuat kamu nggak lagi penasaran sama sosok misterius Lanang,’’ kata sahabat Grace yang berbeda jurusan namun bernaung di bawah atap kontrakan yang sama itu.

‘’Aku nggak tahu …’’

‘’Kamu sudah tanya ke Lanang, nanti setelah lulus bagaimana kelanjutan hubungan kalian?’’

‘’Sudah …’’

Setiap kali Lanang ditanya tentang rencana hidupnya ke depan, Grace selalu mendapat jawaban yang sama. Dengan jawaban pendek dan tidak memuaskan Grace, Lanang hanya berkata, ‘’Tenanglah, sayang. Jangan meremehkan Tuhan.’’

Setelah jawaban itu, tak ada lagi pembahasan lebih lanjut dan lebih rinci lagi. Semua menguap begitu saja sampai Grace menyinggung lagi perihal masa depan hubungan mereka. Jawaban yang sama bakal diucapkan dari mulut Lanang.

‘’Kamu ragu dengan masa depan Lanang?’’

‘’Bagaimana aku nggak ragu?! Setiap kali ditanya jawabannya selalu sama!’’ jawab Grace ketus. ‘’Itu juga yang buat aku agak malas mengenalkannya ke orangtuaku!’’

Dari dulu, Grace selalu menunda mengenalkan pacarnya pada keluarga, terutama orangtua. Dia baru akan melakukan itu jika pacarnya meyakinkan untuk lanjut ke tingkat yang lebih mulia. Dalam hal ini, Lanang belum memenuhi. Meski sudah pacaran tiga tahun, tetap saja mustahil  Grace mengenalkan pemuda kampung itu pada orangtuanya yang sudah kenyang makan asam-garam kehidupan kota di berbagai negara.

Bagi Grace, orangtuanya cukup tahu saja bahwa dia punya pacar. Orangtua Grace pun tak menanyakan lebih lanjut perihal sosok lelaki yang berhasil mengambil hati anaknya tersebut. Selama Grace menjadi mahasiswi, orangtuanya selalu menanyakan perkembangan perkuliahan di kampus. Tak sekalipun menyentuh hal-hal berbau pacar.

Beberapa kali Grace sempat membahas pacar kebanggaannya itu pada orangtuanya. Namun apa tanggapan mereka? Mama dan Papanya menganggap Grace tak berbicara sama sekali. Pernah sekali Grace menyinggung pacarnya, sayang waktunya tak tepat. Dengan nada yang tegas, Papa Grace bilang, ‘’Kamu ini kuliah di sana buat mengejar ilmu, bukan pacar-pacaran. Dan ingat! Kalau memang mau pacaran, cari yang sepadan!’’

Saat mendengar hal itu, usia pacaran Grace dengan Lanang telah berjalan dua setengah tahun. Namun Grace tetap menaruh keyakinan yang besar pada lelaki pujaannya tersebut. Dia yakin kelak Lanang mampu menjadi menjadi sosok lelaki yang seperti dibilang Papa Grace sebagai calon yang sepadan.

 ‘’Menurut kamu, Lanang sudah menjadi pasangan yang sepadan buat kamu belum?’’ tanya temannya.

Grace kembali terdiam. Kamarnya yang ber-AC itu menjadi sunyi. Masih banyak yang ingin diutarakan temannya itu. Hanya saja tertahan karena percuma karena Grace tidak akan mendengar ucapannya. Karena Grace sedang diam mematung. Dia memandangi TV berlayar lebar dengan tatapan kosong.

‘’Masa depan itu penuh misteri. Dan itulah yang membuat manusia betah bertahan hidup. Mereka diliputi rasa penasaran akan seperti apa rupanya masa depan itu. Tapi masalah masa depan juga menyangkut keyakinan. Kalau memang kamu sudah nggak yakin, buat apa dilanjutkan?’’ kata sahabatnya itu sambil berlalu keluar kamar meninggalkan Grace yang matanya sudah penuh airmata yang kecewa.

Perlu beberapa hari bagi Grace untuk menimbang-nimbang apa yang mau dia putuskan. Selama masa itu, dia tak enak makan, tak nyenyak tidur, tak mandi, tak lain-lain tak apa-apa. Juga tak konsentrasi melanjutkan skripsinya. Semuanya buyar.

Sampai pada akhirnya dia sudah memutuskan keputusannya dengan bulat. Saat akhir pekan, di saat yang pasangan lain sedang senang-senangnya bersuka dengan cinta. Grace mesti bergelut dengan perasaannya. Dia mengajak Lanang untuk makan di sebuah restoran kota tempat mereka kuliah.

Sambil menunggu pesanan makanan datang, tak ada sepatah kata pun terucap. Seakan sudah tahu apa yang akan terjadi. Grace dan Lanang hanya saling pandang satu sama lain. Mata mereka seakan berbicara. Hingga membuatnya basah tanpa kata-kata.

‘’Aku mau ngomong sesuatu …’’ Grace sudah tak kuat menahan ingin bersuara.

Lanang sama sekali tak membalasnya. Dia hanya tersenyum sambil terus menatap mata Grace yang tak lagi kuat melihat mata Lanang yang teduh.

Belum sempat Grace melanjutkan apa yang mau dia omongkan, HP Lanang berdering. Itu dari Ibunya. Tak mungkin Lanang mendiamkan panggilan tersebut. Dia takut mengkhawatirkan ibunya karena tidak menerima telepon itu. Dia tak mau ibunya kecewa, murka, dan tiba-tiba mengutuknya menjadi batu.

‘’Sebentar ya …’’ kata Lanang pada Grace. ‘’Iya, Bu …’’

‘’Kamu lagi apa?’’

‘’Lagi makan, Bu …’’

‘’Masih ingat pesan Ibu, kan? Jangan sekali-kali pernah bilang ke siapa pun kalau kamu ini anak orang kaya! Jangan bilang kalau Bapak sama Ibumu ini juragan tanah yang punya berhektar-hektar sawah! Jangan bilang kalau kita ini keturunan orang ningrat! Ibu nggak mau kamu kecewa karena orang-orang mendekatimu hanya karena tahu latar belakangmu!’’

‘’Iya, Bu …’’

‘’Kamu kapan lulus? Nanti kalau sudah lulus, kamu pulang ke kampung saja. Sawah ini kamu saja yang urus. Bapak sama Ibu pengin istirahat menikmati masa tua.’’ []

Madiun, 7 Oktober 2015