Harga Diri Korek Api

36. Harga Diri Korek Api

AWAL mula pertemuan Gob dan Blok ini ketika mereka berdua sedang suntuk dengan kehidupan. Suatu malam kedua pemuda nggak jelas ini dipertemukan di warung kopi Mbok Nom di dekat pusat peradaban Ibukota. Gob lebih dulu tiba di sana.

Lelaki tanggung ini hendak menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang. Namun apa daya korek api kesayangannya raib entah kapan dan di mana. Dengan begitu Gob jadi seorang di antara ribuan perokok yang kehilangan korek api di setiap detiknya.

Sudah lumrah ‘kan, korek api jadi salah satu barang yang sering hilang dan (tidak sengaja) dicuri. Bagi seorang perokok aktif, keberadaan barang yang berukuran jari manusia dewasa ini begitu penting. Tentu lintingan tembakau ini tak bisa menyala tanpa adanya barang dengan bahan bakar gas yang dicairkan tersebut.

Dalam keadaan genting seperti ini, pikiran Gob tiba-tiba menjadi kritis. Menurutnya, ada baiknya dibuat Undang-undang terkait pemantik api ini. Jangan pernah menganggap sepele korek api. Meski ukurannya kecil dan harganya tergolong murah, tapi keberadaannya penting banget lho bagi khalayak ramai.

“Siapa terbukti mencuri korek api, baik disengaja maupun tidak, maka akan dikenai sanksi kurungan penjara selama sekian tahun serta denda sebanyak sekian rupiah (tergantung track record tersangka),” kata Gob dalam hati.

Sedangkan pasal yang selanjutnya kira-kira berbunyi begini, “Siapa menemukan korek api yang masih berfungsi harus memberikan barang temuannya tersebut pada pemilik sebelumnya atau perokok terdekat yang sedang memerlukan korek. Jika hal tersebut di atas tidak dilakukan dalam waktu maksimal 1 x 24 jam, maka akan dianggap sebagai tindak pidana pencurian sesuai yang telah diatur dalam pasal sebelumnya.”

Gob tersenyum sendiri menyadari betapa merasa cerdas otaknya malam itu.

“Percuma sok kritis tapi ndak bisa merokok,” pikirnya dalam hati.

Setelah tengok kanan-kiri, baru dia sadari malam itu pelanggan warung kopi Mbok Nom hanya dia seorang. Gob beranjak menghampiri pemilik warung yang seorang wanita paruh baya tersebut. Sial baginya, pemilik warung yang usianya kini mendekati 70 tidak punya korek yang dimaksud.

“Ah, sial betul hidupku hari ini!” katanya ketus sembari kembali duduk di luar warung sembari menyeruput kopi hitamnya yang diramu tanpa gula.

Tak hilang akal, Gob berlagak seolah sedang merokok. Dihisapnya dalam-dalam rokok kreteknya itu. Lalu dia semburkan pelan asap tebal mengepul dari mulutnya. Bahkan sesekali asap itu dia bikin berbentuk lingkaran.

Gob terlihat begitu menghayati dan menikmati rokoknya. Orang-orang yang melintas di depannya merasa aneh melihat tingkah lakunya. Mungkin mereka berpikir Gob merupakan orang gila baru yang kehilangan akal, seperti adegan viral mahasiswa yang mem-bully sejawatnya di kampus. Gob pun tahu orang-orang yang lalu-lalang itu memperhatikannya, namun dia acuh saja dan terus menikmati rokok dalam imajinasinya sendiri.

“Mas, pinjam korek, dong,” tiba-tiba ada yang menghampiri Gob untuk pinjam korek.

Gob tersentak kaget mendengarnya, “Lho, saya ndak punya. Ini saja saya pura-pura rokoknya menyala,” ujarnya.

“Tapi saya bisa lihat itu nyala lho, Mas. Jangan bohong deh. Saya lagi pengin merokok banget nih!” kata orang itu dengan nada mulai meninggi.

Gob semakin mumet kepalanya. Jelas-jelas rokok ini tidak menyala babar blas. Pun, selama ini dia hanya pura-pura bertingkah laku seolah-olah rokok itu terbakar. Kelakuannya ini lantaran Gob tak juga menemukan korek api yang dia butuhkan untuk menyalakan rokoknya. Tapi kenapa ini ujugujug ada orang yang mau pinjam korek dan mengaku melihat rokoknya menyala. Kemudian dia mencoba menjelaskan secara pelan-pelan pada orang baru dilihatnya tersebut bahwa sejatinya Gob memang benar-benar tak punya korek dan lagaknya merokok itu cuma pura-pura.

“Ah, sialan! Baru kali ini aku ketemu orang yang super pelit! Cuihh!!” lelaki muda berbalut kaus hitam polos dan jeans kusut itu seketika pergi menjauh dari pandangan Gob.

Gob terduduk memaku di sana. Masih merasa kebingungan dengan apa yang baru saja dia alami. Sementara kondisi warung mulai berangsur ramai. Meski beberapa kursi di dalam masih ada yang kosong, Gob tetap enggan masuk. Menurutnya, menikmati kopi harus dalam keadaan santai. Jika dalam satu ruangan penuh orang seperti itu, apalagi tidak ada yang kenal satu pun, tentu kenikmatannya bakal  berkurang.

Padahal bisa saja pemuda perantauan ini dapat kenalan baru di dalam warung Mbok Nom. Dengan semakin banyak teman, semakin banyak pula kans bagi Gob untuk dapat kerja. Tapi malam itu dia sedang malas bersosialisasi dengan insan yang lain. Akhirnya Gob menunggu saja sambil menghisap rokoknya yang tak bakal habis karena memang tidak menyala.

“Nih, saya kasih korek api. Biar nanti kalau ada yang pinjam ndak bakal pelit lagi,” tiba-tiba pemuda misterius itu menghampiri Gob lagi.

Gob pun melihat lelaki yang baru ditemuinya itu memegang rokok yang sudah menyala. Tanpa pikir panjang, Gob langsung menyambut korek pemberian lelaki itu dan menyalakan rokoknya.

Halaaaaaah, masih saja kamu ini. Jelas-jelas rokok itu sudah menyala, masih saja kamu berlagak menyalakannya,” ujar lelaki itu lagi.

Matur nuwun, mas. Saya jadi bisa merokok,” kata Gob.

“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Kalau bukan karena sifatmu yang pelit itu, ndak mungkin aku memberimu korek ini,’’ jawab si lelaki itu.

Syahdan, dua pemuda ini duduk santai di depan warung Mbok Nom. Asap rokok yang mengepul dari keduanya semakin menambah warna jalan raya yang sudah penuh dengan asap kendaraan beserta riuh riang knalpot beserta klaksonnya tersebut.

“Eh, mas ini namanya siapa?” Gob mulai membuka percakapan dengan lelaki baik hati yang baru saja memberinya korek api ini.

“Apalah arti sebuah nama,” jawab pemuda ini singkat.

“Halaaah, sok-sokan niru William Shakespeare,” sahut Gob ketus.

Lho, jangan salah! Shakespeare itu teman dekatku! Kutipan yang melegenda itu terinspirasi dari kisah nyata yang aku alami!”

Gob semakin heran dengan pemuda yang baru dia temui ini. Gob semakin yakin lelaki yang duduk di sampingnya itu benar-benar sinting.

Di awal pertemuan, lelaki itu seolah melihat rokok yang dihisap Gob benar-benar menyala. Kini dia mengklaim berteman baik dengan sastrawan asal Inggris tersebut. Mana mungkin penulis kondang kisah Romeo and Juliet itu berteman dengan pemuda yang tampangnya memprihatinkan itu. Lagipula Shakespeare hidup di tahun 1500-an, sedangkan sekarang ini sudah masuk zaman milenium.

Dengan pelan, Gob sedikit  menggeser badannya menjauh dari pemuda tersebut. Belum sempat selesai menjauhkan diri, Gob tersentak lelaki itu berbicara.

Ngapain menjauh? Takut aku rampok?” katanya dengan nada mengejek. Tentu saja perlakuan pemuda itu membuat Gob semakin ketakutan.

“Memangnya kamu punya apa? Aku yakin kamu ndak punya harta berharga!”

“Iya sih…”

That’s why! Ngapain takut kehilangan kalau kamu sudah ndak punya apa-apa lagi!” sela lelaki ini. “Aku juga curiga kamu sudah kehilangan harga diri…”

Gob langsung naik pitam dituduh seperti itu, “Kurang ajar kamu! Mentang-mentang tampangku kayak gini, aku masih punya yang namanya harga diri!”

Halah mbelgedes! Lagipula buat apa di zaman sekarang ini masih punya harga diri?”

“Harga diri itu penting! Di zaman edan ini kita harus wajib waras biar ndak ketularan gila,” ucap Gob.

Preettt! Begitu kamu bilang kamu punya harga diri, secara ndak langsung kamu bisa menjual dirimu. Begitu ada kata ‘harga’, berarti bisa dijual. Camkan itu!” tegasnya.

Gob berdecak kagum dengan ucapan pemuda ini. Akan tetapi dia sudah lelah berdebat soal harga diri. Gob lebih memilih untuk mulai maklum dengan keunikan lelaki itu. Dia pun ingin semakin mengulik pandangan hidup pemuda ini. Namun Gob mau kembali mengajukan pertanyaan pertama yang tadi belum mendapat jawaban yang tepat.

“Baiklah, aku setuju sama kamu. Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab, siapa namamu?”

“Aku sudah lupa namaku sesuai pemberian orang tua dulu. Orang-orang biasa memanggilku Blok,” jawabnya.

“Walaah, kok bisa-bisanya kamu lupa sama nama sendiri? Lalu kenapa namamu jadi Blok?” ujar Gob heran.

“Aku juga ndak tahu kenapa orang-orang memanggilku begitu. Aku juga cuek saja disebut begitu. Lalu namamu siapa?”

“Nama panggilanku Gob.”

Tuh, namamu juga ndak kalah uniknya sama namaku,” ucap Blok.

“Julukanku berganti jadi Gob saat dulu aku…”

“Sudah… sudah… aku ndak mau dengar alasan macam-macam, yang penting aku sudah tahu namamu,” potong Blok.

Selesai berkenalan soal nama, Gob masih penasaran dengan sosok yang baru dia kenal itu. Gob ingin tahu bagaimana bisa Blok melihat rokoknya menyala padahal tidak, bagaimana pula dia begitu percaya diri mengaku sebagai teman William Shakespeare. Jangan-jangan Blok ini memang manusia sakti pilihan yang ditakdirkan bisa hidup di segala zaman.

“Kata kakek buyutku, Mbah Albert Einstein, imajinasi itu penting,” jawab Blok.

Gob geleng-geleng kepala lagi mendengar pernyataan kenalan barunya ini. Menurutnya, imajinasi Blok ini benar-benar luar biasa.

“Berimajinasi ya boleh saja. Tapi mosok sampai kamu bisa melihat rokokku tadi menyala, terus kamu mengaku kenal William Shakespeare, sekarang kamu mengaku keturunan Albert Einstein, wajahmu ini ndak ada paras bule sama sekali,” kata Gob.

“Biarin! Aku juga boleh dong berimajinasi kalau Nusantara ini memang benar-benar negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja!” tutup Blok. (dsk/)

Makomakoma

Jalanan Jakarta Selatan cenderung masih sepi. Jelas, ketika itu masih sekitar pukul 07.00 pagi.  Mayoritas perkantoran tutup. Sekolah pun masih libur. Akhir pekan pula. Untuk mengisi weekend kemarin (7/7 dan 8/7), saya diajak sang kekasih ikut garage sale yang biasa diadakan di daerah Kebayoran Baru. Ini ketiga kalinya kami turut serta, setelah sebelumnya ikut pada Ramadan silam.

Cukup pagi kami datang ke lokasi diadakannya garage sale ini. Para pengunjung mulai ramai. Peserta bazaar sebagian masih ada yang menyiapkan dagangannya. Tidak sedikit pula yang bahkan belum menampakkan batang hidung mereka.

Termasuk salah seorang di antaranya si penghuni meja sebelah kami. Bazaar yang berisi berbagai barang jualan seperti pakaian (baru atau preloved), sepatu, makanan, dll ini dijadwalkan buka mulai dari jam 09.00 sampai 16.00 waktu setempat. Namun, sampai sekitar pukul 10.00 lapak sebelah kami masih kosong.

Jarum jam masih di sekitar angka 10 dan 12, muncul juga si empunya lapak sebelah kami. Seorang ibu memasuki arena pertarungan niaga. Wanita berkacamata itu berjalan sendirian. Barang dagangannya yang dikemas dalam koper dibantu diangkut juru parkir tempat lokasi garage sale berlangsung.

Perempuan yang rambutnya diwarna kemerahan ini mulai menggelar dagangannya. Tampak beliau kurang bersemangat pagi itu. Terlihat dari caranya menyiapkan segala macam barang jualannya. Begitu selesai, si ibu yang mengenakan baju oranye itu duduk manis di kursi yang telah disediakan.

Beberapa pengunjung yang menjamah jualannya pun tidak beliau hiraukan. Padahal lumrahnya orang berdagang, begitu ada orang mengubek-ubek barang dagangan, sang penjual langsung mengeluarkan jurus sapaan. Contohnya, “Silakan dilihat dulu barangnya” atau “Yang ini harganya murah” atau “Yang ini diskon” atau “Beli tiga gratis satu” dan sebagainya. Namun, ibu ini bergeming dan baru bicara jika ada pengunjung yang tertarik menanyakan barang dagangannya.

Saat matahari mulai naik, wanita yang rambutnya diikat tersebut mulai bersosialisasi dengan tetangganya, yang tak lain dan tak bukan adalah kami. Beliau membuka pembicaraan dengan kekasih saya yang memang persis duduk berdekatan dengan lapaknya. Saya sesekali mendengar samar apa yang dua kaum Hawa ini bicarakan.

Baru bercengkerama sebentar, tampaknya ibu dan kekasih saya cepat sekali akrab. Keintiman ini pun menulari saya saat mereka merasa lapar karena sudah waktunya masuk masa makan siang. Ternyata ibu yang sebut saja namanya Tantan ini sedang ingin menyantap mie instan yang dijual tak jauh dari lokasi garage sale digelar.

Sebagai satu-satunya lelaki di antara dua wanita ini, tentu saja saya yang beranjak membelikan makan siang untuk kami bertiga. Sambil santap siang, Tante Tantan yang alergi kuning telur itu tetap mengajak kami bercakap-cakap. Saya pun membuka diri untuk merespons wanita berusia sekitar awal kepala 5 ini.

Menurut saya, Tante Tantan ini unik. Bagaimana tidak, jarang sekali kita menemukan ada yang bisa langsung menceritakan soal kehidupannya kepada orang lain yang baru kenal. Mungkin Tante Tantan punya hal lain yang dia anggap lebih pribadi dari yang diperbincangkan siang itu. Atau mungkin beliau memang pada dasarnya senang mengobrol saja. Atau mungkin dia tidak punya orang lain yang bisa dia curahi perihal kisah perjalanan hidupnya. Sehingga di garage sale inilah kesempatan emas bagi Tante Tantan untuk melepaskan semuanya, terlepas dari siapa lawan bicaranya.

Usut punya usut, Tante Tantan ternyata pernah mengalami koma akibat saat kecelakaan. Tidak tanggung-tanggung, menurut pengakuannya, beliau terkapar tak sadarkan diri di rumah sakit selama tiga bulan. Dengan gaya bercerita penuh semangat, ibu seorang pengacara muda ini dinyatakan hilang ingatan begitu siuman dari koma.

Sambil sesekali tertawa, Tante Tantan menceritakan kisahnya saat mengalami amnesia. Beliau berubah jadi ibu rock and roll (begitu beliau menyebutnya). Bagaimana tidak, selama hilang ingatan itu, Tante Tantan tiba-tiba ingin membeli motor gede (moge) dan mengendarainya keliling kota. Selain itu, katanya dia juga sempat membiarkan kepalanya plontos tanpa sehelai ramput pun demi lebih terlihat seperti rider moge sejati. Menurut pengakuannya, Tante Tantan jadi plontos lantaran koma yang dia alami membuat kepalanya sempat dibuka saat menjalani perawatan.

Seiring berputarnya waktu, ingatan Tante Tantan kembali pulih seutuhnya. Bagaimana bisa? Kisahnya tidak kalah unik dan menarik. Amnesia ini hilang seketika beliau mengalami kecelakaan untuk kedua kalinya. Ketika kembali ke kondisi semula, Tante Tantan sempat tidak percaya dirinya jadi seorang ibu rock and roll saat mengalami amnesia.

Obrolan yang kebanyakan satu arah (dari Tante Tantan) antara kami bertiga terus berlanjut hingga sore. Sampai pada waktunya berkemas barang dagangan. Tibalah saatnya kami berpisah. Agak sedih sih begitu tahu perpisahan dengan Tante Tantan sudah di depan mata. Terlebih entah kapan kami bisa dipertemukan lagi dengan wanita yang rumahnya berlokasi di daerah perbatasan Jakarta-Tangerang tersebut.

Kami memang cenderung pasif tidak terlalu banyak bertanya kepada Tante Tantan, terutama hal-hal detail. Kami melepaskan beliau berkicau ngalor-ngidul menceritakan pengalaman hidupnya. Respons yang kami berikan hanya sebatas anggukan kepala, senyum, dan berkata ‘iya’ sebagai tanda menyimak perkataannya.

Sebetulnya masih banyak hal yang bisa dikisahkan tentang kehidupan Tante Tantan yang menghabiskan masa kecilnya di Ngawi, Jawa Timur, ini. Akan tetapi, menurut saya dua kali kecelakaan yang mengakibatkan amnesia dan berujung kembalinya ingatan beliau ini jadi salah satu yang paling menarik.

Semoga Tante Tantan diberi usia panjang. Dengan begitu, dia bisa menggoreskan lebih banyak lagi kisah menarik dalam perjalanan hidupnya. Kalau dijodohkan bertemu kembali, kami (khususnya saya) siap jadi pendengar yang baik dengan menyimak secara saksama kisah wanita tangguh ini. See you when I see you, Tante. Heuheuheu… (dsk/)

Kukembalikan Makananmu

Ungkapan pembeli adalah raja ternyata tidak mutlak berlaku di segala medan. Satu contohnya seperti yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Ini terjadi saat saya turut meramaikan musim arus pulang kampung lebaran 2017.  Pertengahan Juni kemarin saya mudik naik kereta api Bima dari Stasiun Gambir Jakarta menuju Madiun. Kereta dengan tujuan akhir Stasiun Malang ini berangkat sekitar 16.30 WIB. Bertepatan dengan Ramadan, tentu banyak penumpang yang membawa bekal sendiri untuk persiapan berbuka puasa, mengingat waktu berbuka yang tidak terlalu lama dari jadwal keberangkatan. Namun, tak sedikit pula penumpang yang memilih utuk memesan makanan begitu pramugari kereta berkeliling menawarkan menu makanan.

Saya termasuk yang tidak membawa bekal dan tidak pula memesan makanan ke pramugari. Persiapan berbuka puasa hanya air mineral, teh manis kemasan, dan roti. Alasan tidak turut pesan makanan karena saya kurang merasa nyaman bersantap di bangku penumpang. Begitu pihak kereta mengumumkan waktunya berbuka puasa, saya minum air dan makan roti saja. Tentu bekal ini tidak membuat perut kenyang. Tapi saya tidak mau langsung menuju gerbong restorasi untuk makan. Karena saya yakin di sana pun pasti berjubel penumpang yang hendak makan. Tentu saja tidak nyaman kalau bergoyang lidah sambil berhimpitan dengan orang lain, menurut saya sih begitu.

Maka dari itu, saya tetap duduk di bangku selama beberapa jam sembari menunggu gerbong restorasi sedikit menyusut kepadatannya. Setelah dirasa sudah cukup lama menunggu, saya kemudian berjalan menuju gerbong yang khusus menjajakan makanan pada penumpangnya tersebut.

Sesampainya di sana, benar dugaan saya, gerbong restorasi sudah cukup sepi hanya ada beberapa orang yang ada di sana. Saya memesan bakso yang memang hanya dijual di dalam kereta. Makanan dalam cup dengan tulisan Bakso Sehat Siap Saji ini menurut saya rasanya enak, dibandingkan dengan makanan sejenis yang berupa mie. Lagipula ini makanan paling murah dibandingkan dengan menu lain yang ditawarkan pihak kereta. Silakan dicoba, bagi saya bakso ini paling recommended daripada makanan lain sejauh pengalaman saya menaiki moda transportasi umum ini.

Jpeg

Bakso yang disajikan di gerbong restorasi kereta api.

Selesai melahap bulatan daging berkuah panas itu, pastinya saya merasa kenyang. Muncul perasaan enggan kembali ke bangku penumpang. Satu, karena pendingin udara di gerbong penumpang terlalu dingin bagi saya yang tidak biasa berada di ruangan ber-AC. Kedua, ada hal yang bisa diperhatikan di gerbong restorasi ini karena lebih banyak aktivitas dibandingkan dengan duduk manis di bangku penumpang yang hanya bisa melihat orang lain duduk, bermain gawai, tidur, dan sebagainya.

Guna memperpanjang masa duduk di gerbong restorasi, saya lalu memesan kopi. Tidak perlu lama bagi pramugari mempersiapkan minuman berwarna hitam pekat ini. Sambil menyeruput kopi pesanan, perhatian saya lalu tertuju pada sosok perempuan bule yang datang ke kereta makan ini.

Saya tidak tahu berapa usia perempuan ayu tersebut, yang jelas dia masih muda, mungkin sekitar 20-an. Dari yang saya perhatikan, gadis berambut pirang itu meminta daftar menu kepada pramugari di bar pemesanan. Usai menunjuk pesanan yang diinginkan dan sekaligus membayarnya, mbak bule ini duduk di meja samping sebelah saya duduk. Dia mengenakan tank top hitam berbalut jaket hoodie abu-abu yang tidak diresleting. Rambutnya berwarna pirang dengan ikatan gaya cepol. Mbak dengan hidung yang tentu saja mancung ini memakai celana pendek di atas lutut. Saya tidak tidak ingat dia memakai alas kaki model apa karena sudah lebih dulu terpukau dengan indah mata hijaunya.

Ternyata mbak bule ini memesan nasi goreng. Saya sedikit-sedikit mencuri pandang untuk memperhatikan caranya menyantap makanan ini. Gadis dengan perawakan semampai itu terlihat begitu hati-hati saat mencoba memasukkan bawang goreng ke dalam bibir tipisnya. Dia terlihat sedikit terkejut begitu irisan bawang goreng merasuki lidahnya. Tampaknya dia suka, terbukti mbak bule ini terus menyantapnya. Berbeda saat dia mencoba acar mentimun dan wortel yang langsung disisihkan usai mencicipinya.

Mbak bule ini mungkin sedang diet, nasi goreng itu hanya dihabiskan separuh lebih sedikit. “Nasi goreng itu enak lho, mbak! Apalagi kalau saya yang nyuapain…” kata saya dalam hati.

Begitu selesai makan, bule ini tidak langsung melenggang meninggalkan gerbong restorasi begitu saja. Dia justru mengembalikan wadah makan itu ke bar pemesanan. Tentu saja pemandangan ini mengejutkan saya yang tidak pernah melihat kejadian seperti ini. Setali tiga uang, pun pramugari yang berjaga di bar tampak sedikit aneh dengan sikap wisatawan asing ini yang mengembalikan tempat makan ke meja pemesanan. Setelah itu, mbak pirang itu melangkahkan kakinya meninggalkan gerbong restorasi.

Bagi saya tentu saja ini kejadian unik, kalau tidak tentu tidak akan ditulis di sini, heuheuheu. Saya memang pernah sesekali melihat pemandangan serupa saat makan di restoran cepat saji. Itu pun dilakukan oleh pembeli yang berparas bukan orang asli Indonesia, saat konsumen yang dianggap raja mengembalikan tempat makannya. Yang namanya raja masa iya mengembalikan bekas tempatnya makan. Ya pasti menitah bawahannya untuk membereskan bekasnya bersantap ria.

Satu hal terlintas di benak, yang sering saya dengar begitu orang Indonesia berkunjung ke luar negeri, mereka bakal tunduk pada aturan baik yang baku maupun tidak yang berlaku di negara tersebut. Seperti contohnya merokok di tempat umum, membuang sampah, bahkan meludah di sembarang tempat, dan lain sebagainya. Begitu kembali ke negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, sikap ini seolah diabaikan begitu saja dengan alasan yang macam-macam.

Akan tetapi, hal berbeda justru ditunjukkan oleh mbak bule ini. Dia tidak meninggalkan begitu saja nampan tempatnya makan, sama seperti pada umumnya orang Indonesia setelah selesai makan. Padahal, meja tempat mbak bule itu sebelumnya berserakan bekas makanan penumpan lain yang makan di sana.

Mungkinkah dia berpikir seperti ini, “Oh, kalau di sini setelah makan, tempat makanannya ditinggalkan begitu saja di meja. Apa saya harus begitu juga? Atau saya harus tetap membiasakan tradisi di kampung halaman saya?”

Mungkin pula mbak bule ini pernah mengenal Gusjur Mahesa, seniman yang kini berkembang di Bandung. Salah satu konsep hidupnya yang pernah diajarkan pada saya yakni ‘datang bersih pulang bersih’ yang bisa diaplikasikan di mana pun kita berada. Singkatnya, baiknya kita mesti membersihkan tempat di mana memijakkan kaki sebelum meninggalkannya, meskipun sebelumnya tempat ini kotor sekali pun.

Saya memang belum pernah melakukan hal yang dipraktikkan oleh bule berhidung lancip ini. Yang sering saya lakukan usai makan adalah merapikan dan membersihkan meja di mana saya menikmati kuliner. Dengan begitu, orang yang bertugas mengambil piring maupun gelas tinggal membawa bekas tempat saya makan itu untuk langsung dicuci.

Entah mana yang lebih baik, sikap yang membiarkan dan meninggalkan bekas tempat makan di meja atau dalam kasus ini mengembalikan ke bar pemesanan. Yang jelas, (meminjam istilah Sujiwo Tejo) saya berhutang rasa pada mbak bule ini yang sudah memberi saya pelajaran yang sungguh berarti di bulan nan suci ini. Semoga selalu berbahagia di mana pun engkau berada, mbak. (dsk/)