Ikrar Ingkar Janji

on

Dialogoblok - Ingkar Ikrar Janji

MATAHARI belum muncul sempurna. Lembayung fajar di ufuk timur siluetkan gedung bertingkat seolah jajaran batu nisan tanpa tuan. Kunang-kunang yang menyamar dalam lampu kendaraan juga belum banyak bermunculan. Gema suara samar lantunan ayat suci membuat diri kian ciut mengecil.

Berbarengan dengan gesekan sapu lidi mengayun, Blok berjalan tergesa-gesa. Dia susuri jalanan yang tempo hari sempat tertanam pohon plastik warna-warni. Derap langkahnya cepat, namun belum ada seujung kuku gesitnya ambisi orang agar segera berkuasa lagi maupun yang tadinya oposisi.

Tibalah pemuda ndak jelas ini di depan kamar Gob. Tak sempat mengetuk pintu, Blok langsung gedor-gedor pintu sahabatnya tersebut. Sambil dipanggil-panggilnya makhluk yang menghuni kamar mungil nan sederhana ini.

“Gob, aku tahu kamu ada di situ. Keluar!”

Shadaqallahul adzim…” terdengar suara dari dalam kamar.

Muncul batang hidung Gob yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.

“Eh, Blok, pagi-pagi begini sudah bertamu ke sini.”

Dengan kemunculan Gob di depan matanya itu Blok heran. Padahal barusan dia seperti mendengar Gob tengah mengaji. Namun begitu membuka pintu, mosok penampilan sobatnya ini seperti itu saat membaca kitab suci. Lagipula menurutnya mustahil bagi Gob bisa salin secepat kilat dari pakaian yang pantas sampai kepada apa yang dia kenakan sekarang.

“Eh, sebentar. Penampilanmu kok kayak gitu? Kamu bukannya ngaji ya barusan?”

Monggo masuk dulu saja, Blok.”

“Jawab dulu pertanyaanku!” jawab Blok menolak masuk sebelum rasa penasarannya bertemu titik terang.

“Iya, aku tadi ngaji.”

“Tapi mosok penampilanmu kurang pas begitu.”

“Tadinya aku ndak mau menampakkan bahwa aku baru saja mengaji. Begitu aku mendengarmu menggedor pintu, aku selesaikan mengaji. Lalu aku langsung ganti baju,” jelas Gob.

“Kenapa langsung mengubah penampilan?” desak Blok terus menginterogasi.

“Aku ndak mau kamu menyangka aku sedang pamer kalau aku baru saja mengaji. Ayo masuk dulu, yang namanya tamu wajib dipersilakan masuk,” ajak Gob.

Duo pemuda itu pun masuk ke kamar Gob. Ruangan sederhana itu tampak rapi. Tidak banyak furnitur yang menghiasi kamarnya. Alas tidur Gob bukan kasur, melainkan selembar tikar pandan usang yang sudah bisa dipastikan usianya sudah puluhan tahun. Di salah satu penjuru kamar tergeletak piring bekas makan sahur Gob. Tak tersisa sebutir pun nasi pada piring itu. Hanya tersisa tulang ayam bagian paha.

“Silakan duduk, Blok. Mau minum apa?”

“Aku ini puasa kok kamu tawarin minum,” Blok heran dengan sahabatnya ini.

“Oh, iya, maaf, sepertinya tawaran barusan sudah jadi template begitu ada tamu yang berkunjung ke kamarku. Lalu apa maksud kedatanganmu ke mari, Blok?”

“Aku mau bikin perhitungan sama kamu!”

Gob terperanjat mendengar jawaban temannya itu. Tidak biasanya Blok langsung to the point mengutarakan tujuannya. Biasanya dia melipir dulu berputar-putar ke sana ke sini untuk menuju ke pokok pembahasan. Kali ini, pemuda berusia tanggung itu justru langsung menancap ke inti pembicaraan.

“Katanya kamu mau bangunin aku pas jam sahur. Mana? Aku tunggu dari dua pertiga malam ndak ada panggilan masuk darimu!” ungkap Blok kesal.

“Lho, jadi kamu dari tadi nungguin telepon dariku?”

“Iya!”

“Kalau kamu sudah bisa bangun sendiri, mengapa masih menunggu aku hubungi?”

Ternyata Blok menantikan ada panggilan masuk dari Gob. Sehari sebelumnya, menurut penuturan Blok, seharusnya Gob menelepon sahabatnya itu dengan maksud membangunkan agar tidak terlambat makan sahur. Di satu sisi, Blok sudah terlebih dulu bangun sebelum Gob menelepon. Di sisi lain, Gob juga tak kunjung memanggil karibnya tersebut melalui gawainya.

Blok yang merasa dikhianati tentu kesal terhadap perlakuan sahabatnya ini. Pasalnya, Gob sudah lebih dulu berjanji mau membangunkan Blok. Namun tak kunjung ada panggilan masuk yang Blok nanti-nantikan. Maka dari itu, pagi buta itu Blok seketika menggeruduk kontrakan Gob untuk membuat perhitungan.

“Kalau kamu sudah bangun, seharusnya janjiku untuk meneleponmu sudah gugur dong,” Gob mencoba membela diri.

“Tidak bisa! Janji adalah janji! Aku tidak terima kalau kamu santai ongkang-ongkang kaki tanpa menunaikan janjimu,” Blok tetap kesal dengan sikap sahabatnya itu.

Gob membetulkan posisi duduknya. Dia lalu menjelaskan duduk perkara yang tengah dihadapi bersama Blok. Tidak ada maksud bahwa dia hendak ingkar janji seperti yang dituduhkan Blok. Ada maksud tersembunyi di balik pernyataan yang Gob janjikan pada sahabat senasib seperjuangannya ini.

“Kamu belum paham ya dengan janjiku kemarin.”

“Aku sudah 100 persen paham! Kemarin kita sudah sepakat kamu mau meneleponku untuk bangun sahur. Kamu ‘kan tahu aku suka susah terjaga begitu memasuki waktu sahur,” Blok terus mendesak Gob agar mengakui kesalahannya.

“Nah, tapi itu buktinya tadi kamu bisa bangun sendiri tanpa aku telepon.”

“Iya!”

“Nah, itu dia poin yang kumaksud.”

Menurut Gob, dengan janji yang dia ikrarkan kemarin, dia bermaksud agar Blok tidak bergantung pada orang lain. Gob meyakini bahwa alam sadar Blok memerintahkan tubuhnya untuk bisa bangun sendiri, bahkan sebelum ada panggilan masuk dari telepon Gob. Dengan kata lain, begitu janji diikrarkan, secara tidak langsung tubuh Blok sudah mengatur jadwal sendiri agar bisa bangun.

“Teori dari mana hingga kamu yakin aku bisa bangun sendiri tanpa ada aba-aba telepon darimu?” Blok tetap bersikukuh bahwa Gob bersalah.

“Buktinya tadi kamu bisa bangun sendiri, bukan? Aku sering mengalami sendiri,” Gob tidak menyerah memberikan penjelasan.

Maksud Gob adalah ketika dia memasang alarm, misalkan jam 03.00 pagi, secara tidak langsung dia menyadari bahwa dirinya harus bangun pada jam tersebut. Biasanya, Gob bahkan sudah membuka mata sebelum gawainya membunyikan bebunyian nyaring agar dirinya bisa bangun. Dia sudah sering mengalami hal ini. Perihal bangunnya Gob sebelum alarm berbunyi itu apakah dia tetap terjaga atau terlelap lagi melanjutkan tidur itu sudah beda urusan.

Blok mulai sedikit melunak mendengar penjelasan Gob. Memang ada benarnya teori yang baru saja dipaparkan sahabatnya itu. Blok sudah terbangun jauh sebelum waktu seharusnya Gob menelepon.

“Oke aku terima teorimu ini. Tapi mbok ya kamu telepon aku tadi. Kamu ‘kan bisa menanyakan kabarku. Kamu bisa basa-basi sedikit bertanya aku sahur makan apa.”

“Iya, maaf aku tadi tidak meneleponmu. Bukan maksud ingkar janji. Tapi sebetulnya tadi aku hendak meneleponmu. Aku lupa ternyata pulsaku habis, makanya aku tidak bisa meneleponmu. Hehehe …” ujar Gob menyeringai.

Mendengar pengakuan jujur Gob, Blok geleng-geleng kepala. Amarahnya tidak jadi klimaks. Seketika dia jadi maklum bahwa sahabatnya ini memang manusia biasa yang tak luput dari lupa bahwa Gob tidak punya pulsa sehingga terpaksa janjinya gugur.

“Oalah, mbok ya bilang dari tadi kalau pulsamu habis. Kalau begini ‘kan aku bisa maklum. Mengapa kamu dari tadi berbelit-belit memberi penjelasan,” tutur Blok.

“Hehehe, maafkan aku, sahabatku. Tidak ada maksud untuk berbelit-belit. Aku lagi meniru gaya para politikus yang gencar beraksi mengeluarkan jurus-jurus agar nanti sukses terpilih jadi pejabat publik. Kita sendiri tidak tahu agenda yang mereka lakukan itu benar-benar tulus atau memang pencitraan belaka demi meminang suara rakyat agar sudi memilihnya kelak. Kita tak tahu pasti ketika mereka melakukan sesuatu karena memang itu yang dimaksud atau ada agenda lain yang tersembunyi di baliknya. Bukan begitu, kawan?” jelas Gob.

“Ciyee ciyeee politikus… Ciyee ciyeee pejabat… Ciye ciyeee… Suit suiiiitt.”

Tidak terasa obrolan kedua pemuda ndak jelas ini membawa mereka hingga mendengarkan azan berkumandang.

“Alhamdulillah, akhirnya waktu berbuka telah tiba,” kata Blok semringah.

“Huss! Magrib masih lama, woy! Itu azan zuhur. Yuk kita ke masjid. Selepas salat zuhur kita lanjutkan lagi obrolan ini. Atau sebaiknya kita melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat,” Gob mengajak sahabatnya itu segera beranjak dan menunaikan salat zuhur.

“Ayo, let’s go, amigo!” (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s