Sambal Pedas

Sambal Pedas

LANGIT sedang cemerlang. Tidak ada mendung hitam yang menutupi taburan bintang yang bersinar. Gob tenguk-tenguk di teras warung Mbok Nom sambil memandangi langit malam itu yang dihiasi jutaan bintang. Dia mencoba mencari rasi bintang yang belum ditemukan. Niatnya itu tak lain dan tak bukan biar namanya tercatat dalam sejarah ilmu astrologi. Lumayan, pemuda ndak jelas macam Gob ini bisa bersanding dengan nama-nama beken ahli perbintangan seperti Anaximander.

Namun semakin dicari semakin tak ketemu rasi bintang yang dibayangkan. Saat memandang langit luas itu, Gob justru membayangkan bintang jatuh. Dia pasti langsung make a wish berupa jodoh perempuan cantik plus kaya raya. Cantik tentu saja untuk memperbaiki keturunan. Sedangkan kaya raya untuk melunasi hutangnya yang jika dihitung hampir menyamai jumlah hutang negara.

“Selamat malam, Gob …”

Wah, doa Gob barusan terjawab. Padahal ndak ada bintang jatuh. Tapi doa dalam hati ini langsung terkabul. Tiba-tiba ada suara merdu memanggilnya. Dengan wajah menggebu-gebu dan sumringah, Gob langsung menoleh ke asal suara.

“Lhooo, ternyata kamu, Blok!” Gob teriak seketika melihat ternyata yang memanggilnya bukan perempuan cantik dan kaya raya seperti yang dibayangkan.

Lha mbok kira siapa lagi kalau bukan aku?”

“Ah, gara-gara kamu bayanganku yang indah jadi buyar,” ujar Gob sewot.

Blok terlihat aneh. Tak ada angin tak ada hujan, wajahnya menyeringai, gerak tubuh tak seperti biasa, tangan memegangi perut, butir-butir keringat sebiji jagung hiasi pelipis wajah.

“Kamu kelihatan pucat ada apa?” tanya Gob. Meski sedang jengkel, tapi tetap saja dia perhatian terhadap karibnya itu.

“Aku lagi diare, Gob…” jawab Blok meringis.

How come?”

Ternyata sakit yang menguras cairan tubuh ini sudah menemani hidup Blok sejak beberapa hari ke belakang. Sebelum diare menderanya, Blok secara tidak terkontrol melahap sambal. Diketahui, pemuda serabutan ini sempat ikut membantu panen lahan cabai. Sebagai upahnya selain uang, dia diberi beberapa cabai rawit.

Blok memang pandai mensyukuri rezeki dan nikmat yang diberikan kepadanya. Cabai itu langsung dibikin sambal. Otomatis sambal yang sudah dijamin pedasnya luar biasa ini dihabiskan seorang diri. Alhasil keesokan harinya dia mesti bolak-balik kamar mandi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Makanya, kamu itu jangan maruk begitu. Lha wong presiden saja ndak segitunya kok, ndak boleh memimpin selama tiga periode berturut-turut.”

“Aku ini pencinta makanan pedas, Gob!” tegas Blok, “Aku mau menikmati hasil jerih payahku mosok ndak boleh?!” lanjutnya.

“Ya boleh saja menikmati hasil keringatmu. Tapi ya dikontrol dong. Ingat pesan orang bijak, sesuatu yang berlebihan itu ndak baik. Sekarang, akibatnya kamu kena diare sampai beberapa hari.’’

“Iya sih. Aku memang terlalu ngawur saat menghabiskan sambal itu. Soalnya sambal bikinanku ini uenak pol, Gob. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk mencintai sambal yang super hot ini.”

Di tengah gejolak perutnya ini, Gob memulai berfilosofi secara ngawur. Menurutnya, rasa pedas memang sudah sering menyiksa penikmatnya. Mulai dari seisi mulut yang terasa panas, lalu turun ke perut yang panas, sampai besoknya mulas di perut yang susah ditahan untuk tidak dibuang.

Meski selalu tersiksa makanan pedas, tetap saja masih banyak yang setia. Begitu pula cinta. Seberapa pun sakit akibat cinta, tetap saja manusia terus dan terus mengejarnya. Sama seperti makanan pedas, mungkin di balik rasa sakit, ada kenikmatan yang tak bisa dijelaskan bahkan oleh perangkai kata paling hebat sekalipun. “Dan itulah cinta. Atau itukah cinta?” ujarnya seakan tak yakin dengan pernyataannya sendiri.

“Nah, kalau begitu berarti sambal dan makanan pedas itu memang bahaya.”

“Maksudmu piye?”

Melihat efek samping yang dialami sahabatnya itu, Gob membayangkan akan datang suatu masa ketika makanan pedas dilarang dikonsumsi. Tentu saja larangan ini dirancang secara matang dengan disiplin ilmu yang terstruktur, sistematis, dan masif. Mungkin saja dasar dalilnya itu bahwa makanan pedas ternyata lebih banyak memberikan mudarat ketimbang manfaat terhadap kelangsungan hidup manusia.

“Oleh karenanya, mulai detik ini atas nama Tuhan Yang Maha Benar, kami menyatakan haram!” kata Gob membayangkan kalimat yang diucapkan juru bicara para pencetus fatwa saat konferensi pers terkait larangan mengkonsumsi makanan pedas.

“Aku no! Aku belum siap hidup tanpa sambal!” ujar Blok protes.

“Tenang dulu, Blok. Jangan langsung naik pitam begitu dong…”

Lagi-lagi Gob membayangkan kelanjutan imajinasinya tersebut. Dia baru ingat makanan pedas yang memang sedang jadi tren ini menggunakan nama-nama setan. Sungguh keterlaluan sekali kelakukan para pelaku kuliner itu. Mungkin di catatan malaikat, mereka diganjar dengan dosa ganda. Pertama, dia menjual makanan pedas yang nyata-nyata lebih banyak mendatangkan mudarat. Kedua, mereka menamai makanannya dengan nama-nama setan.

“Sampai akhir zaman, setan yang terkutuk itu musuh besar manusia, selain dirinya sendiri, kan? Setan memang ndak pernah mau menyerah menggoda manusia untuk menemaninya hidup di neraka,” jelas Gob.

Menurut Gob, penamaan makanan seperti itu sesat dan menyesatkan. Secara tidak sadar, orang-orang akan lebih banyak mengingat nama setan daripada nama Tuhan karena mereka sering melihat, mendengar, bahkan memakan sajian tersebut. Kondisi ini tentu memprihatinkan.

“Cukup, Gob! Aku sudah ndak kuat membayangkannya!”

“Sebentar. Aku belum selesai. Mumpung imajinasiku lagi liar banget,” ujar Gob.

Begitu dinyatakan haram, tak lama kemudian, secara seolah tiba-tiba muncul produk makanan pedas versi terbaru. Masih dalam bayangannya pula, mungkin saja akan dijual produk berlabel sambal, makanan, atau bumbu pedas yang sudah disesuaikan dengan anjuran agama.

Bahkan, produk ini diklaim sudah diuji di perguruan tinggi ternama negeri ini. Dengan nikmat rasa pedas yang tidak bikin lidah terbakar, produk itu dijamin tidak akan bikin sakit perut. Karena proses pembuatan sampai pendistribusiannya menggunakan sistem yang sudah didasarkan pada agama.

“Apa mungkin itu betul terjadi, Gob?”

“Mungkin saja,” jawab Gob santai.

“Kalau benar terjadi piye, Gob? Aku belum siap!” Blok bergidik.

“Pikiranmu jangan tertutup dan terkunci seperti itu. Apa pun bentuknya, yang penting kamu tetap merasakan pedas yang sama. Kamu jangan tergila-gila mencintai bahkan sampai menyembah-sembah sambal atau makanannya. Seharusnya yang kamu sembah itu rasanya! Bukan bentuknya! Bukan warnanya! Bukan namanya!” (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s