Lalap Kalap

Lalap Kalap_3

LALAP tidak gratis! Begitu tertulis dalam plang besar begitu memasuki warung tenda pecel lele milik Gob dan Blok. Betul, dua pemuda tanggung ini mencoba peruntungan baru dengan membuka usaha di bidang kuliner. Sebelumnya, tentu saja mereka ndak punya pekerjaan jelas sehingga otomatis berimbas pada penghasilannya yang juga sama tak jelasnya.

Belum lama keduanya membuka usaha pecel lele. Mungkin belum sampai satu bulan pemuda perantauan ini memulai menggelar lapak di pinggir jalanan Ibu Kota yang selalu ramai tak kenal masa. Warung yang mereka namai “Pulang Kenyang” ini nyatanya selalu ramai pengunjung.

Mengetahui jam-jam jalan raya yang paling sibuk yakni sore sampai malam, duo Gob dan Blok sepakat untuk memulai operasi pecel lele pada jam tersebut. Mulai dari pegawai kantoran, mahasiswa,  pekerja kasar, pengusaha, pejabat, pengemudi angkutan daring, semua tumpah ruah berbaur menikmati sajian warungnya.

Menu makan yang mereka tawarkan antara lain ayam (dada, paha, kepala, dan ceker), lele, tahu, tempe, jeroan ayam (jantung, hati, empedal, usus, dan kulit yang ditampilkan dengan tusukan dari lidi), ikan mas, nila, mujair, dan bawal. Menu tersebut disajikan dengan sambal tomat dengan pilihan tiga level pedas: tidak pedas, sedang, dan sangat pedas.

Sebagai tambahan, Gob dan Blok juga menyediakan lalap untuk menambah nilai gizi dalam sajiannya. Berbeda dengan warung makan pada umumnya, lalap di Pulang Kenyang dipasang tarif. Bahkan banderolnya melebih harga es kepal rasa cokelat yang sedang jadi tren. Warung pecel lele ala Blok dan Gob ini memang lain daripada yang lain. Sepertinya tidak ada satu warung pun yang memasang tarif pada lalap. Malah, biasanya lalapan yang berupa irisan mentimun, lembaran kubis, dan daung kemangi tersebut terbengkalai tak tersentuh tangan pemesan makanan.

Alasannya sederhana, Gob dan Blok ingin menaikkan derajat lalap karena prihatin nasib sayuran ini kerap diabaikan.

“Selama ini lalap dipandang sebelah mata. Maka kami ingin mengubah pandangan ini,” jelas Gob pada seorang pembeli yang bertanya soal lalap yang dipasang tarif, mahal pula.

“Di tempat lain lalap kayak begini gratis! Masa di sini bayar?!” protes lelaki yang hendak masuk ke warung.

“Karena kami ingin lalap dihargai. Karena sayuran ini gizinya tidak kalah penting dengan makanan lain. Keberadaan lalap pada makanan bukan sekadar hiasan! Kenapa selama ini mereka dipinggirkan dan tidak dipedulikan? Itulah salah satu alasan kami hadir membawa nafas baru.”

“Lalap itu harganya murah. Jadi ya nggak apa-apa kalau sedikit diabaikan. Lagipula produksi lalap juga cepat dan dalam sekali panen bisa langsung dapat banyak. Kenapa mesti diperhatikan hal remeh macam ini?” ujarnya sambil berkacak pinggang.

Sambil geleng-geleng kepala Blok yang dari tadi cuma mendengarkan kini ikut nimbrung. “Terus sekarang kamu mau apa? Mau pakai lalap atau tidak?”

“Aku mau ayam yang bagian dada digoreng kering agar kulitnya crispy dan crunchy. Sambalnya yang banyak karena aku suka kemewahan, eh maksudnya kepedasan. Lalu minumnya es teh manis, tapi jangan terlalu manis, ya. Satu lagi, jangan pakai lama.”

“Mau pakai lalap atau tidak?” timpal Gob tegas.

Does it matter?” jawab si lelaki sambil menaikkan satu alisnya.

Gob semakin emosi dengan jawaban dan sikap customer-nya ini. “Heh! Makhluk macam kamu ini yang wajid disadarkan!”

Masih emosi, Gob menjelaskan sikap si pemuda yang menurutnya tidak etis tersebut, terutama soal lalap. Giliran menginginkan sesuatu, ada kecenderungan untuk mengatakannya. Kenapa hal ini tidak diterapkan pada lalap? Kalau memang enggan melahap lalap, ya tinggal ngomong makanan pesanannya tidak perlu ditambahi lalap. Kalau masih seperti ini yang terjadi di mana-mana,  maka kubur dalam-dalam mimpi bahwa negara ini bisa naik kelas kalau soal remeh macam lalap di warung kaki lima luput dari perhatian.

“Coba perhatikan, saat mau makan sambal yang banyak, kamu tadi bilang sambalnya ditambah. Atau kalau minta es teh manis tapi tidak terlalu manis, barusan request agar gulanya sedikit saja. Apakah itu terjadi pada lalap? TIDAK! Mana pernah ada orang yang bilang: ‘Tidak usah pakai lalap, mas.’ Sepertinya tidak pernah terdengar kalimat macam itu. Kenapa hal ini bisa terjadi? Di mana keadilan untuk lalap?!” teriak Blok berapi-api.

“Halah, situ sok peduli sama lalap tapi di saat yang sama juga mengeksploitasi lalap. Kepedulian macam apa itu?”

“Mending aku peduli sama lalap, aku menghargainya! Daripada orang-orang yang tak menyentuh bahkan tak melihat adanya lalap dalam makanan mereka. Ujung-ujungnya lalap tak tergapai dan terbengkalai hingga akhirnya menjadi sampah!”

“Sudah sudah sudah, aku malas berdebat sama situ. Boleh deh aku makan lalap, tapi aku tidak mau bayar sesuai harga yang ada di warung ini,” sahut si pemuda.

“Kalau mau makan lalap harus bayar dong. Kalau tidak mau mematuhi aturan di sini, silakan angkat kaki dari warung kami! Di mana Bumi dipijak, di situ langit dijunjung!” sahut Gob.

“Hahaha… Situ lupa pepatah ‘Pembeli adalah raja’ atau pura-pura lupa? Jadi situ harus memenuhi semua yang aku inginkan,” lelaki itu masih dan semakin ngeyel.

“Monarki sudah tidak berlaku lagi! Di sini sistem yang kami anut demokrasi. Sekarang semua orang berhak menjadi pemimpin, bukan lagi berdasarkan silsilah keluarga, apalagi anak petinggi partai!”

“Oke. Kalau ‘Pembeli adalah raja’ sudah dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, lalu pepatah zaman kiwari seperti apa?” Sepertinya lelaki ini cenderung niat berdebat daripada mengisi perutnya di warung Pulang Kenyang.

“Dari mereka, oleh kami, untuk kita!” jawab Gob sambil mengulek sambal.

Sambil mencicipi sambal hasil ulekannya, Gob sedikit memaparkan konsep ‘Dari mereka, oleh kami, untuk kita’ yang baru saja dia sebutkan. Menurutnya, mereka di sini adalah orang-orang yang diajak kerja sama Gob untuk memasok bahan-bahan untuk menggerakkan warung Pulang Kenyang. Mereka antara lain petani yang membajak sawah hingga menghasilkan beras maupun petani yang berkebun merawat sayuran sampai menjadi lalap segar siap santap. Ada pula distributor yang mengantar beras, sayur, cabai, dll ke pasar tradisional. Pedagang pasar pun termasuk dalam spektrum ‘mereka’ karena di sana Gob dan Blok setiap pagi belanja keperluan bahan utama warung Pulang Kenyang. Tentu masih banyak lagi pihak yang tidak bisa disebutkan di sini karena kemungkinan besar tulisan ini akan panjang sepanjang pacekliknya AC Milan meraih gelar juara dari berbagai kompetisi yang klub asal Italia ini ikuti.

Sementara itu, pihak ‘kami’ tak lain dan tak bukan adalah Gob dan Blok serta kolega. Hasil belanja dari pasar diolah oleh ‘kami’ sebagai pihak yang menyajikan makanan di warung Pulang Kenyang. Ada pramusaji, juru masak, kasir, hingga tukang parkir.

Untuk kita? Tentu saja semua hasil olahan makanan yang diproses dengan penuh cinta ini dipersembahkan untuk kita. Baik untuk pihak Gob dan Blok sebagai penjual maupun pihak pembeli serta orang-orang yang diuntungkan atas keberadaan warung ini. Dengan kata lain, ada rasa kasih antara pihak yang terlibat di dalamnya. Pembeli mendapatkan rasa kenyang setelah menyantap makanan di warung. Penjual mendulang untung dari uang yang diberikan pembeli sehingga usahanya terus berjalan.

“Posisi kita sama rata alias sejajar. Ndak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah, apalagi dianggap raja. Jadi intinya kita itu saling membutuhkan. Saya memerlukan pembeli agar roda warung kami terus berputar. Begitu pula dengan kamu sebagai pembeli yang butuh makan sehingga datang ke sini,” jelas Gob.

Pembeli itu memasang muka kecut. Dengan terpaksa dia menerima penjelasan serta aturan yang berlaku di warung Pulang Kenyang. Keterpaksaan ini bukan tanpa dasar. Dia sedari tadi mengajak gebetannya untuk merasakan sensasi makan hasil racikan tangan Gob dan Blok. Tentu saja 100 persen dia tidak mau imejnya anjlok di depan mata sang pujaan hati. Dia ogah citranya terjun bebas gara-gara berdebat di warung kaki lima. Tema debatnya soal lalap pula.

Menurut survei yang katanya independen dan terbebas dari tendensi pihak mana pun, perempuan ogah menjalin hubungan dengan lawan jenis yang bersikap kasar terhadap pramusaji.

Maka dari itu, lelaki ini akhirnya kalem. Demi mendapatkan perhatian pujaan hati, apa pun dilakukan. Apalagi, konon perempuan yang dia ajak ke warung Gob dan Blok adalah salah seorang yang berpengaruh di negeri ini. Massa pendukung perempuan ini banyak, bahkan mungkin separuh masyarakat rela mati demi perempuan ini. Oleh karena itu, menjelang musim pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018 maka tak heran banyak pihak mengincar cinta perempuan ini, salah satunya termasuk si lelaki ini.

“Jadi pakai lalap ya, mas?” tanya Gob yang juga sudah mulai dingin emosinya.

“Ya,” jawab si lelaki singkat.

“Kalau mbak ini mau makan apa ya? Kok dari tadi diam terus,” Gob penasaran dengan selera perempuan semampai ini.

“Terserah,” ujarnya sambil tersenyum seolah yakin Gob paham seperti apa makanan favoritnya. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s