Harga Diri Korek Api

36. Harga Diri Korek Api

AWAL mula pertemuan Gob dan Blok ini ketika mereka berdua sedang suntuk dengan kehidupan. Suatu malam kedua pemuda nggak jelas ini dipertemukan di warung kopi Mbok Nom di dekat pusat peradaban Ibukota. Gob lebih dulu tiba di sana.

Lelaki tanggung ini hendak menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang. Namun apa daya korek api kesayangannya raib entah kapan dan di mana. Dengan begitu Gob jadi seorang di antara ribuan perokok yang kehilangan korek api di setiap detiknya.

Sudah lumrah ‘kan, korek api jadi salah satu barang yang sering hilang dan (tidak sengaja) dicuri. Bagi seorang perokok aktif, keberadaan barang yang berukuran jari manusia dewasa ini begitu penting. Tentu lintingan tembakau ini tak bisa menyala tanpa adanya barang dengan bahan bakar gas yang dicairkan tersebut.

Dalam keadaan genting seperti ini, pikiran Gob tiba-tiba menjadi kritis. Menurutnya, ada baiknya dibuat Undang-undang terkait pemantik api ini. Jangan pernah menganggap sepele korek api. Meski ukurannya kecil dan harganya tergolong murah, tapi keberadaannya penting banget lho bagi khalayak ramai.

“Siapa terbukti mencuri korek api, baik disengaja maupun tidak, maka akan dikenai sanksi kurungan penjara selama sekian tahun serta denda sebanyak sekian rupiah (tergantung track record tersangka),” kata Gob dalam hati.

Sedangkan pasal yang selanjutnya kira-kira berbunyi begini, “Siapa menemukan korek api yang masih berfungsi harus memberikan barang temuannya tersebut pada pemilik sebelumnya atau perokok terdekat yang sedang memerlukan korek. Jika hal tersebut di atas tidak dilakukan dalam waktu maksimal 1 x 24 jam, maka akan dianggap sebagai tindak pidana pencurian sesuai yang telah diatur dalam pasal sebelumnya.”

Gob tersenyum sendiri menyadari betapa merasa cerdas otaknya malam itu.

“Percuma sok kritis tapi ndak bisa merokok,” pikirnya dalam hati.

Setelah tengok kanan-kiri, baru dia sadari malam itu pelanggan warung kopi Mbok Nom hanya dia seorang. Gob beranjak menghampiri pemilik warung yang seorang wanita paruh baya tersebut. Sial baginya, pemilik warung yang usianya kini mendekati 70 tidak punya korek yang dimaksud.

“Ah, sial betul hidupku hari ini!” katanya ketus sembari kembali duduk di luar warung sembari menyeruput kopi hitamnya yang diramu tanpa gula.

Tak hilang akal, Gob berlagak seolah sedang merokok. Dihisapnya dalam-dalam rokok kreteknya itu. Lalu dia semburkan pelan asap tebal mengepul dari mulutnya. Bahkan sesekali asap itu dia bikin berbentuk lingkaran.

Gob terlihat begitu menghayati dan menikmati rokoknya. Orang-orang yang melintas di depannya merasa aneh melihat tingkah lakunya. Mungkin mereka berpikir Gob merupakan orang gila baru yang kehilangan akal, seperti adegan viral mahasiswa yang mem-bully sejawatnya di kampus. Gob pun tahu orang-orang yang lalu-lalang itu memperhatikannya, namun dia acuh saja dan terus menikmati rokok dalam imajinasinya sendiri.

“Mas, pinjam korek, dong,” tiba-tiba ada yang menghampiri Gob untuk pinjam korek.

Gob tersentak kaget mendengarnya, “Lho, saya ndak punya. Ini saja saya pura-pura rokoknya menyala,” ujarnya.

“Tapi saya bisa lihat itu nyala lho, Mas. Jangan bohong deh. Saya lagi pengin merokok banget nih!” kata orang itu dengan nada mulai meninggi.

Gob semakin mumet kepalanya. Jelas-jelas rokok ini tidak menyala babar blas. Pun, selama ini dia hanya pura-pura bertingkah laku seolah-olah rokok itu terbakar. Kelakuannya ini lantaran Gob tak juga menemukan korek api yang dia butuhkan untuk menyalakan rokoknya. Tapi kenapa ini ujugujug ada orang yang mau pinjam korek dan mengaku melihat rokoknya menyala. Kemudian dia mencoba menjelaskan secara pelan-pelan pada orang baru dilihatnya tersebut bahwa sejatinya Gob memang benar-benar tak punya korek dan lagaknya merokok itu cuma pura-pura.

“Ah, sialan! Baru kali ini aku ketemu orang yang super pelit! Cuihh!!” lelaki muda berbalut kaus hitam polos dan jeans kusut itu seketika pergi menjauh dari pandangan Gob.

Gob terduduk memaku di sana. Masih merasa kebingungan dengan apa yang baru saja dia alami. Sementara kondisi warung mulai berangsur ramai. Meski beberapa kursi di dalam masih ada yang kosong, Gob tetap enggan masuk. Menurutnya, menikmati kopi harus dalam keadaan santai. Jika dalam satu ruangan penuh orang seperti itu, apalagi tidak ada yang kenal satu pun, tentu kenikmatannya bakal  berkurang.

Padahal bisa saja pemuda perantauan ini dapat kenalan baru di dalam warung Mbok Nom. Dengan semakin banyak teman, semakin banyak pula kans bagi Gob untuk dapat kerja. Tapi malam itu dia sedang malas bersosialisasi dengan insan yang lain. Akhirnya Gob menunggu saja sambil menghisap rokoknya yang tak bakal habis karena memang tidak menyala.

“Nih, saya kasih korek api. Biar nanti kalau ada yang pinjam ndak bakal pelit lagi,” tiba-tiba pemuda misterius itu menghampiri Gob lagi.

Gob pun melihat lelaki yang baru ditemuinya itu memegang rokok yang sudah menyala. Tanpa pikir panjang, Gob langsung menyambut korek pemberian lelaki itu dan menyalakan rokoknya.

Halaaaaaah, masih saja kamu ini. Jelas-jelas rokok itu sudah menyala, masih saja kamu berlagak menyalakannya,” ujar lelaki itu lagi.

Matur nuwun, mas. Saya jadi bisa merokok,” kata Gob.

“Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Kalau bukan karena sifatmu yang pelit itu, ndak mungkin aku memberimu korek ini,’’ jawab si lelaki itu.

Syahdan, dua pemuda ini duduk santai di depan warung Mbok Nom. Asap rokok yang mengepul dari keduanya semakin menambah warna jalan raya yang sudah penuh dengan asap kendaraan beserta riuh riang knalpot beserta klaksonnya tersebut.

“Eh, mas ini namanya siapa?” Gob mulai membuka percakapan dengan lelaki baik hati yang baru saja memberinya korek api ini.

“Apalah arti sebuah nama,” jawab pemuda ini singkat.

“Halaaah, sok-sokan niru William Shakespeare,” sahut Gob ketus.

Lho, jangan salah! Shakespeare itu teman dekatku! Kutipan yang melegenda itu terinspirasi dari kisah nyata yang aku alami!”

Gob semakin heran dengan pemuda yang baru dia temui ini. Gob semakin yakin lelaki yang duduk di sampingnya itu benar-benar sinting.

Di awal pertemuan, lelaki itu seolah melihat rokok yang dihisap Gob benar-benar menyala. Kini dia mengklaim berteman baik dengan sastrawan asal Inggris tersebut. Mana mungkin penulis kondang kisah Romeo and Juliet itu berteman dengan pemuda yang tampangnya memprihatinkan itu. Lagipula Shakespeare hidup di tahun 1500-an, sedangkan sekarang ini sudah masuk zaman milenium.

Dengan pelan, Gob sedikit  menggeser badannya menjauh dari pemuda tersebut. Belum sempat selesai menjauhkan diri, Gob tersentak lelaki itu berbicara.

Ngapain menjauh? Takut aku rampok?” katanya dengan nada mengejek. Tentu saja perlakuan pemuda itu membuat Gob semakin ketakutan.

“Memangnya kamu punya apa? Aku yakin kamu ndak punya harta berharga!”

“Iya sih…”

That’s why! Ngapain takut kehilangan kalau kamu sudah ndak punya apa-apa lagi!” sela lelaki ini. “Aku juga curiga kamu sudah kehilangan harga diri…”

Gob langsung naik pitam dituduh seperti itu, “Kurang ajar kamu! Mentang-mentang tampangku kayak gini, aku masih punya yang namanya harga diri!”

Halah mbelgedes! Lagipula buat apa di zaman sekarang ini masih punya harga diri?”

“Harga diri itu penting! Di zaman edan ini kita harus wajib waras biar ndak ketularan gila,” ucap Gob.

Preettt! Begitu kamu bilang kamu punya harga diri, secara ndak langsung kamu bisa menjual dirimu. Begitu ada kata ‘harga’, berarti bisa dijual. Camkan itu!” tegasnya.

Gob berdecak kagum dengan ucapan pemuda ini. Akan tetapi dia sudah lelah berdebat soal harga diri. Gob lebih memilih untuk mulai maklum dengan keunikan lelaki itu. Dia pun ingin semakin mengulik pandangan hidup pemuda ini. Namun Gob mau kembali mengajukan pertanyaan pertama yang tadi belum mendapat jawaban yang tepat.

“Baiklah, aku setuju sama kamu. Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab, siapa namamu?”

“Aku sudah lupa namaku sesuai pemberian orang tua dulu. Orang-orang biasa memanggilku Blok,” jawabnya.

“Walaah, kok bisa-bisanya kamu lupa sama nama sendiri? Lalu kenapa namamu jadi Blok?” ujar Gob heran.

“Aku juga ndak tahu kenapa orang-orang memanggilku begitu. Aku juga cuek saja disebut begitu. Lalu namamu siapa?”

“Nama panggilanku Gob.”

Tuh, namamu juga ndak kalah uniknya sama namaku,” ucap Blok.

“Julukanku berganti jadi Gob saat dulu aku…”

“Sudah… sudah… aku ndak mau dengar alasan macam-macam, yang penting aku sudah tahu namamu,” potong Blok.

Selesai berkenalan soal nama, Gob masih penasaran dengan sosok yang baru dia kenal itu. Gob ingin tahu bagaimana bisa Blok melihat rokoknya menyala padahal tidak, bagaimana pula dia begitu percaya diri mengaku sebagai teman William Shakespeare. Jangan-jangan Blok ini memang manusia sakti pilihan yang ditakdirkan bisa hidup di segala zaman.

“Kata kakek buyutku, Mbah Albert Einstein, imajinasi itu penting,” jawab Blok.

Gob geleng-geleng kepala lagi mendengar pernyataan kenalan barunya ini. Menurutnya, imajinasi Blok ini benar-benar luar biasa.

“Berimajinasi ya boleh saja. Tapi mosok sampai kamu bisa melihat rokokku tadi menyala, terus kamu mengaku kenal William Shakespeare, sekarang kamu mengaku keturunan Albert Einstein, wajahmu ini ndak ada paras bule sama sekali,” kata Gob.

“Biarin! Aku juga boleh dong berimajinasi kalau Nusantara ini memang benar-benar negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja!” tutup Blok. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s