Makomakoma

Jalanan Jakarta Selatan cenderung masih sepi. Jelas, ketika itu masih sekitar pukul 07.00 pagi.  Mayoritas perkantoran tutup. Sekolah pun masih libur. Akhir pekan pula. Untuk mengisi weekend kemarin (7/7 dan 8/7), saya diajak sang kekasih ikut garage sale yang biasa diadakan di daerah Kebayoran Baru. Ini ketiga kalinya kami turut serta, setelah sebelumnya ikut pada Ramadan silam.

Cukup pagi kami datang ke lokasi diadakannya garage sale ini. Para pengunjung mulai ramai. Peserta bazaar sebagian masih ada yang menyiapkan dagangannya. Tidak sedikit pula yang bahkan belum menampakkan batang hidung mereka.

Termasuk salah seorang di antaranya si penghuni meja sebelah kami. Bazaar yang berisi berbagai barang jualan seperti pakaian (baru atau preloved), sepatu, makanan, dll ini dijadwalkan buka mulai dari jam 09.00 sampai 16.00 waktu setempat. Namun, sampai sekitar pukul 10.00 lapak sebelah kami masih kosong.

Jarum jam masih di sekitar angka 10 dan 12, muncul juga si empunya lapak sebelah kami. Seorang ibu memasuki arena pertarungan niaga. Wanita berkacamata itu berjalan sendirian. Barang dagangannya yang dikemas dalam koper dibantu diangkut juru parkir tempat lokasi garage sale berlangsung.

Perempuan yang rambutnya diwarna kemerahan ini mulai menggelar dagangannya. Tampak beliau kurang bersemangat pagi itu. Terlihat dari caranya menyiapkan segala macam barang jualannya. Begitu selesai, si ibu yang mengenakan baju oranye itu duduk manis di kursi yang telah disediakan.

Beberapa pengunjung yang menjamah jualannya pun tidak beliau hiraukan. Padahal lumrahnya orang berdagang, begitu ada orang mengubek-ubek barang dagangan, sang penjual langsung mengeluarkan jurus sapaan. Contohnya, “Silakan dilihat dulu barangnya” atau “Yang ini harganya murah” atau “Yang ini diskon” atau “Beli tiga gratis satu” dan sebagainya. Namun, ibu ini bergeming dan baru bicara jika ada pengunjung yang tertarik menanyakan barang dagangannya.

Saat matahari mulai naik, wanita yang rambutnya diikat tersebut mulai bersosialisasi dengan tetangganya, yang tak lain dan tak bukan adalah kami. Beliau membuka pembicaraan dengan kekasih saya yang memang persis duduk berdekatan dengan lapaknya. Saya sesekali mendengar samar apa yang dua kaum Hawa ini bicarakan.

Baru bercengkerama sebentar, tampaknya ibu dan kekasih saya cepat sekali akrab. Keintiman ini pun menulari saya saat mereka merasa lapar karena sudah waktunya masuk masa makan siang. Ternyata ibu yang sebut saja namanya Tantan ini sedang ingin menyantap mie instan yang dijual tak jauh dari lokasi garage sale digelar.

Sebagai satu-satunya lelaki di antara dua wanita ini, tentu saja saya yang beranjak membelikan makan siang untuk kami bertiga. Sambil santap siang, Tante Tantan yang alergi kuning telur itu tetap mengajak kami bercakap-cakap. Saya pun membuka diri untuk merespons wanita berusia sekitar awal kepala 5 ini.

Menurut saya, Tante Tantan ini unik. Bagaimana tidak, jarang sekali kita menemukan ada yang bisa langsung menceritakan soal kehidupannya kepada orang lain yang baru kenal. Mungkin Tante Tantan punya hal lain yang dia anggap lebih pribadi dari yang diperbincangkan siang itu. Atau mungkin beliau memang pada dasarnya senang mengobrol saja. Atau mungkin dia tidak punya orang lain yang bisa dia curahi perihal kisah perjalanan hidupnya. Sehingga di garage sale inilah kesempatan emas bagi Tante Tantan untuk melepaskan semuanya, terlepas dari siapa lawan bicaranya.

Usut punya usut, Tante Tantan ternyata pernah mengalami koma akibat saat kecelakaan. Tidak tanggung-tanggung, menurut pengakuannya, beliau terkapar tak sadarkan diri di rumah sakit selama tiga bulan. Dengan gaya bercerita penuh semangat, ibu seorang pengacara muda ini dinyatakan hilang ingatan begitu siuman dari koma.

Sambil sesekali tertawa, Tante Tantan menceritakan kisahnya saat mengalami amnesia. Beliau berubah jadi ibu rock and roll (begitu beliau menyebutnya). Bagaimana tidak, selama hilang ingatan itu, Tante Tantan tiba-tiba ingin membeli motor gede (moge) dan mengendarainya keliling kota. Selain itu, katanya dia juga sempat membiarkan kepalanya plontos tanpa sehelai ramput pun demi lebih terlihat seperti rider moge sejati. Menurut pengakuannya, Tante Tantan jadi plontos lantaran koma yang dia alami membuat kepalanya sempat dibuka saat menjalani perawatan.

Seiring berputarnya waktu, ingatan Tante Tantan kembali pulih seutuhnya. Bagaimana bisa? Kisahnya tidak kalah unik dan menarik. Amnesia ini hilang seketika beliau mengalami kecelakaan untuk kedua kalinya. Ketika kembali ke kondisi semula, Tante Tantan sempat tidak percaya dirinya jadi seorang ibu rock and roll saat mengalami amnesia.

Obrolan yang kebanyakan satu arah (dari Tante Tantan) antara kami bertiga terus berlanjut hingga sore. Sampai pada waktunya berkemas barang dagangan. Tibalah saatnya kami berpisah. Agak sedih sih begitu tahu perpisahan dengan Tante Tantan sudah di depan mata. Terlebih entah kapan kami bisa dipertemukan lagi dengan wanita yang rumahnya berlokasi di daerah perbatasan Jakarta-Tangerang tersebut.

Kami memang cenderung pasif tidak terlalu banyak bertanya kepada Tante Tantan, terutama hal-hal detail. Kami melepaskan beliau berkicau ngalor-ngidul menceritakan pengalaman hidupnya. Respons yang kami berikan hanya sebatas anggukan kepala, senyum, dan berkata ‘iya’ sebagai tanda menyimak perkataannya.

Sebetulnya masih banyak hal yang bisa dikisahkan tentang kehidupan Tante Tantan yang menghabiskan masa kecilnya di Ngawi, Jawa Timur, ini. Akan tetapi, menurut saya dua kali kecelakaan yang mengakibatkan amnesia dan berujung kembalinya ingatan beliau ini jadi salah satu yang paling menarik.

Semoga Tante Tantan diberi usia panjang. Dengan begitu, dia bisa menggoreskan lebih banyak lagi kisah menarik dalam perjalanan hidupnya. Kalau dijodohkan bertemu kembali, kami (khususnya saya) siap jadi pendengar yang baik dengan menyimak secara saksama kisah wanita tangguh ini. See you when I see you, Tante. Heuheuheu… (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s