Kukembalikan Makananmu

Ungkapan pembeli adalah raja ternyata tidak mutlak berlaku di segala medan. Satu contohnya seperti yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Ini terjadi saat saya turut meramaikan musim arus pulang kampung lebaran 2017.  Pertengahan Juni kemarin saya mudik naik kereta api Bima dari Stasiun Gambir Jakarta menuju Madiun. Kereta dengan tujuan akhir Stasiun Malang ini berangkat sekitar 16.30 WIB. Bertepatan dengan Ramadan, tentu banyak penumpang yang membawa bekal sendiri untuk persiapan berbuka puasa, mengingat waktu berbuka yang tidak terlalu lama dari jadwal keberangkatan. Namun, tak sedikit pula penumpang yang memilih utuk memesan makanan begitu pramugari kereta berkeliling menawarkan menu makanan.

Saya termasuk yang tidak membawa bekal dan tidak pula memesan makanan ke pramugari. Persiapan berbuka puasa hanya air mineral, teh manis kemasan, dan roti. Alasan tidak turut pesan makanan karena saya kurang merasa nyaman bersantap di bangku penumpang. Begitu pihak kereta mengumumkan waktunya berbuka puasa, saya minum air dan makan roti saja. Tentu bekal ini tidak membuat perut kenyang. Tapi saya tidak mau langsung menuju gerbong restorasi untuk makan. Karena saya yakin di sana pun pasti berjubel penumpang yang hendak makan. Tentu saja tidak nyaman kalau bergoyang lidah sambil berhimpitan dengan orang lain, menurut saya sih begitu.

Maka dari itu, saya tetap duduk di bangku selama beberapa jam sembari menunggu gerbong restorasi sedikit menyusut kepadatannya. Setelah dirasa sudah cukup lama menunggu, saya kemudian berjalan menuju gerbong yang khusus menjajakan makanan pada penumpangnya tersebut.

Sesampainya di sana, benar dugaan saya, gerbong restorasi sudah cukup sepi hanya ada beberapa orang yang ada di sana. Saya memesan bakso yang memang hanya dijual di dalam kereta. Makanan dalam cup dengan tulisan Bakso Sehat Siap Saji ini menurut saya rasanya enak, dibandingkan dengan makanan sejenis yang berupa mie. Lagipula ini makanan paling murah dibandingkan dengan menu lain yang ditawarkan pihak kereta. Silakan dicoba, bagi saya bakso ini paling recommended daripada makanan lain sejauh pengalaman saya menaiki moda transportasi umum ini.

Jpeg

Bakso yang disajikan di gerbong restorasi kereta api.

Selesai melahap bulatan daging berkuah panas itu, pastinya saya merasa kenyang. Muncul perasaan enggan kembali ke bangku penumpang. Satu, karena pendingin udara di gerbong penumpang terlalu dingin bagi saya yang tidak biasa berada di ruangan ber-AC. Kedua, ada hal yang bisa diperhatikan di gerbong restorasi ini karena lebih banyak aktivitas dibandingkan dengan duduk manis di bangku penumpang yang hanya bisa melihat orang lain duduk, bermain gawai, tidur, dan sebagainya.

Guna memperpanjang masa duduk di gerbong restorasi, saya lalu memesan kopi. Tidak perlu lama bagi pramugari mempersiapkan minuman berwarna hitam pekat ini. Sambil menyeruput kopi pesanan, perhatian saya lalu tertuju pada sosok perempuan bule yang datang ke kereta makan ini.

Saya tidak tahu berapa usia perempuan ayu tersebut, yang jelas dia masih muda, mungkin sekitar 20-an. Dari yang saya perhatikan, gadis berambut pirang itu meminta daftar menu kepada pramugari di bar pemesanan. Usai menunjuk pesanan yang diinginkan dan sekaligus membayarnya, mbak bule ini duduk di meja samping sebelah saya duduk. Dia mengenakan tank top hitam berbalut jaket hoodie abu-abu yang tidak diresleting. Rambutnya berwarna pirang dengan ikatan gaya cepol. Mbak dengan hidung yang tentu saja mancung ini memakai celana pendek di atas lutut. Saya tidak tidak ingat dia memakai alas kaki model apa karena sudah lebih dulu terpukau dengan indah mata hijaunya.

Ternyata mbak bule ini memesan nasi goreng. Saya sedikit-sedikit mencuri pandang untuk memperhatikan caranya menyantap makanan ini. Gadis dengan perawakan semampai itu terlihat begitu hati-hati saat mencoba memasukkan bawang goreng ke dalam bibir tipisnya. Dia terlihat sedikit terkejut begitu irisan bawang goreng merasuki lidahnya. Tampaknya dia suka, terbukti mbak bule ini terus menyantapnya. Berbeda saat dia mencoba acar mentimun dan wortel yang langsung disisihkan usai mencicipinya.

Mbak bule ini mungkin sedang diet, nasi goreng itu hanya dihabiskan separuh lebih sedikit. “Nasi goreng itu enak lho, mbak! Apalagi kalau saya yang nyuapain…” kata saya dalam hati.

Begitu selesai makan, bule ini tidak langsung melenggang meninggalkan gerbong restorasi begitu saja. Dia justru mengembalikan wadah makan itu ke bar pemesanan. Tentu saja pemandangan ini mengejutkan saya yang tidak pernah melihat kejadian seperti ini. Setali tiga uang, pun pramugari yang berjaga di bar tampak sedikit aneh dengan sikap wisatawan asing ini yang mengembalikan tempat makan ke meja pemesanan. Setelah itu, mbak pirang itu melangkahkan kakinya meninggalkan gerbong restorasi.

Bagi saya tentu saja ini kejadian unik, kalau tidak tentu tidak akan ditulis di sini, heuheuheu. Saya memang pernah sesekali melihat pemandangan serupa saat makan di restoran cepat saji. Itu pun dilakukan oleh pembeli yang berparas bukan orang asli Indonesia, saat konsumen yang dianggap raja mengembalikan tempat makannya. Yang namanya raja masa iya mengembalikan bekas tempatnya makan. Ya pasti menitah bawahannya untuk membereskan bekasnya bersantap ria.

Satu hal terlintas di benak, yang sering saya dengar begitu orang Indonesia berkunjung ke luar negeri, mereka bakal tunduk pada aturan baik yang baku maupun tidak yang berlaku di negara tersebut. Seperti contohnya merokok di tempat umum, membuang sampah, bahkan meludah di sembarang tempat, dan lain sebagainya. Begitu kembali ke negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, sikap ini seolah diabaikan begitu saja dengan alasan yang macam-macam.

Akan tetapi, hal berbeda justru ditunjukkan oleh mbak bule ini. Dia tidak meninggalkan begitu saja nampan tempatnya makan, sama seperti pada umumnya orang Indonesia setelah selesai makan. Padahal, meja tempat mbak bule itu sebelumnya berserakan bekas makanan penumpan lain yang makan di sana.

Mungkinkah dia berpikir seperti ini, “Oh, kalau di sini setelah makan, tempat makanannya ditinggalkan begitu saja di meja. Apa saya harus begitu juga? Atau saya harus tetap membiasakan tradisi di kampung halaman saya?”

Mungkin pula mbak bule ini pernah mengenal Gusjur Mahesa, seniman yang kini berkembang di Bandung. Salah satu konsep hidupnya yang pernah diajarkan pada saya yakni ‘datang bersih pulang bersih’ yang bisa diaplikasikan di mana pun kita berada. Singkatnya, baiknya kita mesti membersihkan tempat di mana memijakkan kaki sebelum meninggalkannya, meskipun sebelumnya tempat ini kotor sekali pun.

Saya memang belum pernah melakukan hal yang dipraktikkan oleh bule berhidung lancip ini. Yang sering saya lakukan usai makan adalah merapikan dan membersihkan meja di mana saya menikmati kuliner. Dengan begitu, orang yang bertugas mengambil piring maupun gelas tinggal membawa bekas tempat saya makan itu untuk langsung dicuci.

Entah mana yang lebih baik, sikap yang membiarkan dan meninggalkan bekas tempat makan di meja atau dalam kasus ini mengembalikan ke bar pemesanan. Yang jelas, (meminjam istilah Sujiwo Tejo) saya berhutang rasa pada mbak bule ini yang sudah memberi saya pelajaran yang sungguh berarti di bulan nan suci ini. Semoga selalu berbahagia di mana pun engkau berada, mbak. (dsk/)

Advertisements

6 thoughts on “Kukembalikan Makananmu

  1. Mbak bulenya pasti cantik banget ya. Mas dimas sampai detail melihat cara makannya 😄.
    Memang setahu saya dr hasil baca2 kalau diluar negeri sana memang sudah merupakan kebiasaan pelanggan resto cepat saji merapikan sendiri piring kotornya. Menurutku bagus sih, semoga bs diterapkan jg di negeri kita 🙂

    • Terlalu cantiq untuk dilupakan… Heuheuheu..

      Iya, tapi maksudnya itu tuh udah jadi aturan (tertulis) gak sih di luar? Atau emang udah jadi kebiasaan makanya semua orang luar merapikan sendiri piringnya?

      • Wah kurang tau kalau terkait udah ada peraturan tertulis atau enggaknya 😂
        Sepertinya sudah jadi habit yang tertanam sejak kecil sehingga menjadi sesuatu yang lumrah utk dilakukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s