Siapa yang Benar

Siapa yang Benar

TAHUN ini tahun kabisat. Februari sudah lewat. Hanya empat tahun sekali usia bulan kedua ini sebanyak dua-sembilan. Sudah segudang lelucon umur orang yang dulu lahir di tanggal itu. Mereka yang baru bertambah angka usianya sekali setengah windu.

Tapi yang jelas Bumi makin tua. Pun begitu mantan presiden RI ketiga yang sedang dirawat di rumah sakit. Semoga segala kebaikan menyertainya. Dan tentunya, kebaikan menurut Tuhan tak selalu sama dengan apa yang ada dalam pikiran manusia.

Di sebuah kamar kontrakan sederhana sayup terdengar suara seseorang sedang bercengkerama melalui telepon. Dari obrolan yang diperdengarkan, tampak sekali orang ini sangat akrab dengan suara di seberang.

‘’Iya, sami-sami, Do. Sekali lagi, selamat ya. Aku turut bahagia.’’

Blok menutup teleponnya. Dalam santai duduknya, dia pandang sore langit yang mendung setengah.

‘’Heh, kamu habis telepon sama siapa tadi?’’ kata Gob yang tiba-tiba muncul di hadapan Blok.

‘’Eh, kamu, Gob. Itu, Leonardo DiCaprio …’’ jawab Blok membetulkan posisi duduknya.

‘’Weleh-weleh, Leonardo DiCaprio yang aktor Amerika itu? Kamu kenal?’’ Gob tak menyangka temannya yang serabutan itu mengenal aktor kenamaan negeri Paman Sam tersebut. Bahkan mengaku habis berbincang via telepon.

‘’Ya kenal dong. Gini-gini, temanku bukan orang sembarangan lho,’’ sahut Blok menyeringai.

‘’Lalu doi tadi bilang opo?’’

‘’Dia bilang terima kasih. Setelah bertahun-tahun berkarir di dunia peran, dia akhirnya didapuk jadi aktor terbaik di ajang Piala Oscar kemarin.’’

‘’Ngapain Leonardo DiCaprio berterima kasih sama kamu?’’

‘’Lhooooo, jangan salah. Kamu jangan lupa, aku ini salah seorang temannya. Aku ikut mendoakan dia biar berprestasi di bidang film.’’

‘’Teman apa relawan?’’

‘’Eh, apa bedanya?’’

Kata Gob, untuk sekarang ada perbedaannya. Relawan kurang lebih artinya orang yang rela. Di satu sisi, mereka rela mendukung seseorang untuk menjadi dan atau melakukan sesuatu. Di sisi yang lain, mereka pun rela jika suatu saat diberi sesuatu oleh seseorang itu.

‘’Kalau teman?’’ tanya Blok.

Awalnya sih sama. Mereka sama-sama ngasih dukungan. Tapi aku belum tahu sisi lainnya. Jika seseorang itu berhasil mencapai apa yang dicita-citakan temannya, apa mereka nanti dikasih sesuatu atas nama teman atau tidak. Kita tunggu saja nanti. Heuheuheu.

‘’Kamu yang mana, Blok?’’

‘’Waduh, kalau begitu aku bukan dua-duanya, Gob. Aku ini teman yang nggak mengharapkan apa-apa.’’

‘’Yakin?’’

‘’Yakin lah.’’

Sekarang sih Blok boleh yakin. Suatu saat nanti Leonardo DiCaprio ada garapan bikin film. Ternyata eh ternyata, sebagai temannya, Blok nggak diajak ikut proyek itu.

‘’Kamu masih mau jadi temannya? Lha wong dia saja nggak ngajak kamu bikin film bareng kok.’’

‘’Suwer samber geledek aku tetap jadi temannya,’’ jawab Blok meyakinkan.

‘’Yakin?’’ tanya Gob belum percaya sepenuhnya pada sahabatnya itu.

‘’Kamu ini temanku bukan sih? Kalau kamu memang temanku, seharusnya kamu ini sudah paham luar-dalam tentangku,’’ ujar Blok mulai kesal.

‘’Oke oke oke oke, aku percaya sama kamu deh.’’

‘’Gitu dong. Terus maksud dan tujuan serta visi dan misi kamu datang kemari mau ngapain? Kamu mau bikin konser dadakan di sini? Ini bukan gedung KPK, bung!’’

‘’Visi dan misi? Aku ini bukan bakal calon gubernur DKI Jakarta yang harus punya visi dan misi. Maksudku ke sini mau ngajak kamu ke warung Mbok Nom, Blok.’’

‘’Ini kan masih sore, Gob. Biasanya kita ke sananya kan malam.’’

‘’Tadi Mbok Nom telepon, katanya beliau minta bantuan.’’

‘’Bantuan opo?’’

‘’Lha embuh, kayaknya beliau butuh banget, Blok.’’

‘’Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke sana.’’

Detik tergelincirnya surya di ufuk barat cakrawala menjadi saksi perjalanan dua manusia nggak jelas ini. Mereka juga turut menyaksikan betapa tumpukan kulit kabel di pinggir jalan. Sampah yang bisa menyumbat aliran air karena dibuang di got alias saluran air. Siapa pun yang berbuat, biar Tuhan saja yang tahu. Heuheuheu.

‘’Assalamualaikum, Mbok Nom,’’ kata Gob dan Blok mengucapkan salam begitu sampai di warung.

‘’Waalaikum salam. Eeeeh, ada Nak Gob dan Blok,’’ sahut Mbok Nom.

‘’Nggih, Mbok. Katanya perlu bantuan, Mbok. Apa ya? Kami siap membantu,’’ ujar Blok.

‘’Ini lho, Nak Gob dan Blok. Mbok perlu bantuan kalian buat masak nasi goreng. bisa to kalian?’’

‘’Wooo, ya jelas bisa dong, Mbok,’’ jawab Gob dan Blok serempak penuh semangat.

‘’Yang biasa masak nasi goreng lagi nggak bisa masuk. Untuk sementara, kalian saja yang memasaknya. Gimana?’’

‘’Oke, Mbok. Kami siap!’’

‘’Ya bagus kalau begitu, Nak Gob dan Blok. Kebetulan barusan ada pengunjung yang pesan nasi goreng. Segera dibikinkan, ya …’’

‘’Siap laksanakan, Mbooook!’’ sahut Gob dan Blok kompak bersamaan.

‘’Kalian yang semangat dan yang total ya kalau bekerja. Ingat, beberapa hari lagi ada gerhana matahari total lho. Matahari saja kalau pas gerhana bisa total, mosok kalian ndak bisa.’’

‘’Siap laksanakan, Mboook!’’

Sejurus kemudian, mereka memasang wajan di atas kompor. Menyalakan kompor dan menuangkan minyak goreng di wajan. Begitu minyak goreng mulai sedikit panas, mereka memasukkan bumbu yang sudah disediakan.

Masalah bermula di sini, mereka tiba-tiba perselisih paham. Gob berpendapat bahwa telur dalam nasi goreng harus dipisah ketika dimasak. Telur itu harus disajikan dengan cara didadar atau diceplok. Begitu nasi goreng yang sesungguhnya menurut Gob.

Sementara Blok justru berpendapat sebaliknya. Menurutnya, sebenar-benarnya nasi goreng itu ya telurnya dicampur. Telur dimasak bareng bersama nasi ketika dimasak di atas wajan.

Perdebatan mereka berlanjut. Sedangkan nasib pesanan nasi goreng pesanan pengunjung warung Mbok Nom entah ke mana. Tidak ada juntrungannya. Gob dan Blok yang didapuk menjadi koki dadakan malah bertengkar di dapur soal telur dalam nasi goreng.

‘’Nak Gob dan Blok, pesanan nasi gorengnya sudah belum? Yang cepat ya, itu pelanggan sudah pada nunggu,’’ ucap Mbok Nom yang lagi sibuk bikin kopi bagi pengunjung warungnya.

‘’Iya, Mbok. Sebentar lagi,’’ jawab Gob dan Blok berbarengan.

‘’Tuuh, nasi gorengnya sudah banyak yang nunggu. Kita malah debat nggak jelas begini. Ayo kita segera bikin nasi gorengnya,’’ ucap Blok.

‘’Oke. Tapi telurnya tetap didadar atau diceplok ya.’’

‘’Wooo, tidak bisa! Nasi goreng yang enak itu telurnya dicampur pas masak nasinya!’’

‘’Ora iso! Kamu ini ngeyel ya kalau dibilangin. Kalau telurnya dipisah alias didadar atau diceplok, secara visual nasi gorengnya lebih menarik. Otomatis, pelanggan yang melihatnya semakin nafsu untuk memakannya.’’

‘’Tidak bisa! Nasi goreng itu yang betul ya telurnya dipisah! Kamu ini gimana sih, Gob. Sudahlah nurut apa kataku saja! Aku ini sudah ahli dalam hal begini!’’

‘’Prett! Yang betul itu ya telurnya dicampur sekalian sama nasi pas digoreng! kamu salah besar, Blok!’’

Suara kegaduhan itu sampai juga di telinga Mbok Nom yang berada tak jauh dari mereka berdua. Tanpa pikir panjang, perempuan paro baya itu menghampiri Gob dan Blok.

‘’Aduuuh, pusiiiiiiinngg,’’ ujar Mbok Nom menirukan gaya Peggy Melati Sukma dalam salah satu sinetron di masa lampau. ‘’Kalian ini dari tadi ngapain saja? Pelanggan banyak yang tanya kabar nasi goreng pesanan mereka. Sepertinya mereka sudah nggak sabar. Kalau kelamaan nanti mereka bisa kabur dan nggak mau ke sini lagi gara-gara trauma.’’

‘’Iya, Mbok,’’ jawab Gob dan Blok kompak.

‘’Anu, Mbok, nasi goreng yang benar itu telurnya dipisah atau dicampur?’’ tanya Gob.

‘’Iya, Mbok. Kami dari tadi bingung. Gob ngeyel telurnya harus dipisah. Sedangkan menurut saya mestinya dicampur,’’ tanya Blok juga.

Mbok Nom geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dua pembantu dadakannya tersebut. Dalam benaknya, haruskah dia me-reshuffle dua pembantunya yang bikin gaduh itu. Atas ulah keduanya, bisa-bisa warung Mbok Nom merugi karena ditinggal pelanggannya karena pesanan nasi goreng yang tak kunjung datang.

Mbok Nom tak menjawab pertanyaan Gob dan Blok. Dia hanya memandang keduanya sambil menghela nafas panjang. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s