Let’s Go

Let's Go

MENJADI pemuda nggak jelas memang bikin pontang-panting. Siang itu, Gob kelihatan terburu-buru sekali. Jalannya cepat. Kecepatannya hampir menyamai Son Goku ketika menggunakan jurus berpindah tempat . Mak wuzzzzz.

Namun sayang, gerak langkah Gob ternyata tak secepat yang dibayangkan. Dia menemui kesulitan mencapai tempat tujuannya lantaran jalan yang dilaluinya lagi macet. Trotoar yang seharusnya jadi lajurnya diserobot motor. Apa boleh buat, Gob mesti mengalah sedikit.

‘’Gimana ya caranya biar trotoar tetap berfungsi bagi pejalan kaki,’’ Gob menggerutu sepanjang perjalanannya.

‘’Mosok kita protes minta pelebaran trotoar seperti yang biasa dilakukan di jalan aspal. Atau bahkan minta dibikinkan flyover trotoar. Ah, ada-ada saja kamu ini, Gob,’’ ucapnya pada diri sendiri.

Akhirnya, tiba sudah Gob di kontrakan Blok. Sahabatnya itu lagi leyehleyeh di teras kontrakan. Ternyata Blok habis setrika bajunya yang sudah menggunung. Maklum beberapa hari hujan melulu. Jadi dia nggak bisa nyuci baju karena takut nggak kering. Hari itu terang benderang. Saat yang tepat untuk mencuci.

‘’Weleh weleh, santai benar uripmu, Blok,’’ sapa Gob.

‘’Aku habis nyetrika baju, Gob. Istirahat dulu sambil menyapa matahari yang lagi panas.’’

‘’Kamu ini nggak up to date ya. Sekarang sudah bukan zamannya lagi nyetrika di rumah. Sekarang ada yang punya kerjaan baru, setrika keliling.’’

‘’Waaah, ada to?’’ tanya Blok terkejut.

‘’Ada. Kamu tahu omzet mereka? Rp 9 juta, Coy!!’’

‘’Wow, hebat! Tapi aku nggak mau mengikuti mereka ah. Takut dikira nyerobot lahan rezeki orang.’’

‘’Yo sakarepmu. Yang penting kita harus tetap bergerak.’’

‘’Setuju. Tapi aku mau istirahat dulu. Eh, ngomong-ngomong kamu ngapain mendadak ke sini. Pasti ada urusan penting ya.’’

Ternyata ungkapan tamu membawa rezeki itu ada benarnya juga. Kedatangan Gob ke kontrakan Blok membawa kabar gembira. Dia lagi dapat proyek sesuatu yang lokasinya nun jauh di sana.

Sebagai sahabat yang baik, dia mengajak Blok ikut menggarap proyek itu. Gob masih belum memberitahu lebih rinci pada Blok. Dia juga bungkam soal berapa bayaran yang bakal didapat kalau mengerjakan proyek tersebut.

Gob cuma pengin melihat reaksi Blok. Dia penasaran, apa Blok tetap mau diajak kerja kerja kerja walau tempatnya dirahasiakan. Apa dia tetap manut ikut meski tidak diberi tahu berapa nominal uang yang bakal diterimanya. Yang bukan tidak mungkin sama dengan harga kantung plastik belanja yang sekarang dikenai biaya.

Nyatanya Blok tidak mempedulikan semua itu. Dia langsung hey ho let’s go mendengar ajakan sahabatnya itu. ‘’Ayo, aku siap berangkat!’’ ucap Blok yang seketika beranjak dari kursi malasnya.

‘’Yakin?’’ tanya Gob memastikan.

‘’Haqul yakin, Gob. Ayo kita let’s go!’’

‘’Kalau ternyata pekerjaannya kita disuruh menjadi bawahan pejabat gimana? Terus kita dijadikan sasaran kemarahan beliau yang baru saja dilantik piye? Masih mau?’’

‘’Halaaah, itu mah kecil,’’ sahut Blok sambil menjentikkan jari kelingkingnya. ‘’Amarah beliau nggak ada apa-apanya dibanding kerasnya kehidupan kota yang sudah kulalui,’’ lanjutnya.

‘’Kalau ternyata pekerjaannya disuruh memalsukan tanda tangan absensi anggota DPR gimana? Misalnya pas si anggota DPR ini lagi ke luar kota, tapi dia tetap pengin tampak masuk, kumaha?’’

‘’Ya kalau dapat gaji sebesar mereka sih akurapopo. Heuheuheu. Toh, apa sih dari mereka yang nggak palsu. Janji kampanye dulu bukan tidak mungkin sekarang sudah jadi janji palsu. Janji kampanye saja dipalsukan, mosok tanda tangan absen juga harus asli.’’

‘’Hmmmm …’’ Gob masih belum yakin mau mengajak sahabatnya itu.

‘’Bagaimana kalau kerjaan kita ini disuruh ikut menguji urin anggota DPR?’’

‘’Kamu nggak usah banyak tanya. Pokoke melu!’’ jawab Blok menirukan gaya nyanyian lagu campursari itu.

‘’Tapi itu bisa kapan saja lho. Kapan saja ita harus siap. Soalnya katanya tes urin ini diadakan mendadak,’’ jelas Gob lagi.

‘’Pokoknya aku yes!’’ jawab Blok meyakinkan. ‘’Eh, tapi jadwal dadakan itu bisa bocor nggak? Kalau di sekolah, yang namanya tes atau ujian itu suka ada yang bocor. Entah itu soalnya yang bocor atau bahkan jawabannya. Nanti jangan-jangan jadwalnya sudah bocor. Bukan tes urin secara mendadak lagi dong namanya.’’

‘’Tapi kamu mau nggak dikasih kerjaan ini?’’ tanya Gob lagi.

‘’Wooo, ya jelas siap dong! Asalkan mereka pipisnya nggak di sembarang tempat. Nanti kayak yang terjadi di India. Polisi setempat menghukum warganya yang pipis sembarangan dengan cara dikalungi karangan bunga.’’

‘’Okelah kalau begitu. Mmmmm, satu pertanyaan lagi, gimana kalau ternyata ….’’

Belum selesai Gob bertanya, sudah di-cut Blok, ‘’No more question! Sudah, jangan banyak tanya. Jadi nggak nih perginya? Ayo!’’

‘’Oh, iya. Let’s go!’’

Kemudian dua sahabat itu bergegas ke bandara terdekat. Mereka memilih tidak menggunakan kendaraan umum. Bukan karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecopetan atau kecelakaan. Mereka juga tidak naik ojek online. Bukan juga karena takut tiba-tiba si pengemudi ojeknya usil melakukan pelecehan seksual.

Mereka ke bandara jalan kaki. Jaraknya cukup jauh memang dari kontrakan Blok. Tapi apa boleh buat, mereka tidak memilih menggunakan moda transportasi umum maupun ojek online. Semua ini dikarenakan duit mereka lagi tipis.

Atas nama kesehatan, mereka jalan kaki saja. Ibarat pepatah sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Jalan kaki tentu menyehatkan secara tubuh. Pun, itu turut menyehatkan dompet mereka yang sudah lusuh, tipis pula.

‘’Fiuuuh, akhirnya sampai juga kita,’’ ucap Blok terengah-engah kecapaian.

‘’Iya,’’ jawab Gob yang nafasnya juga ngos-ngosan.

‘’Eh, ngomong-ngomong, memangnya kamu sudah punya tiket yang diatasnamakan namaku?’’

‘’Sudah dong. Aku sebelumnya sudah yakin kamu bakal ikut. Makanya aku sudah memesankan tiket buatmu. Nih,’’ kata Gob sambil menyerahkan tiket kepada Blok.

‘’Waaah, sip deh,’’ sahut Blok sumringah mendapati secarik tiket bertuliskan namanya. ‘’Aku pengin cepat-cepat sampai di sana dan bekerja. Rasa capek jalan kaki ini pasti langsung hilang begitu kita sampai di lokasi proyek yang kau ceritakan itu.’’

‘’Anggap saja jalan kaki barusan pemanasan. Sebelum nanti terbiasa bekerja di sana.’’

‘’Memangnya kita bakal kerja di mana sih, Gob?’’

‘’Rahasia.’’

‘’Memangnya kita bakal kerja jadi apa sih, Gob?’’

‘’Itu juga rahasia. Sudah, nggak usah banyak tanya. Ayo kita masuk.’’

Begitu masuk bandara, betapa kagetnya Gob yang disusul Blok setelahnya. pesawat yang seharusnya mereka tumpangi sudah berangkat beberapa menit yang lalu.

Mendapati nasib nahasnya hari itu, Gob berdiri mematung dan melongo. Dia tak menyangka bakal ketinggalan pesawat. Blok yang melihat sahabatnya diam tak bergerak serta mimik wajahnya melongo, ikut-ikutan juga.

Bayangan Blok yang menggambarkan betapa senangnya dia mendapat pekerjaan muspra sudah. Dia tidak bisa lagi berkhayal bekerja dengan semangat yang keras di suatu tempat yang belum diberi tahu Gob. Blok juga tidak bisa lagi berimajinasi tentang gaji yang bakal dia terima setiap bulan. Yang kemungkinan besar jumlahnya lebih besar dan datangnya lebih pasti dibandingkan saat dia jadi pemuda serabutan.

‘’Kamu sih tadi kelamaan berkemasnya!’’ gerutu Gob pada Blok.

‘’Lho, kok kamu nyalahin aku?! Seharusnya kamu yang salah. Coba tadi kamu nggak banyak tanya, kita pasti tepat waktu yang ke sini.’’

‘’Kenapa juga kamu menjawabnya!’’

‘’Tunggu dulu. Mungkin saja kita ini sebetulnya datang tepat waktu. Tapi pesawat itu berangkatnya terlalu cepat alias mendahului jadwal pemberangkatan.’’

‘’Hmm, bisa jadi itu benar, Blok. Aku mau protes ah! Aku mau direksi maskapai penerbangan ini dievaluasi dan diganti! Titik!’’

‘’Kamu jangan ikut-ikutan menteri itu dong, Gob! Gara-gara ketinggalan pesawat mosok langsung minta direksinya diganti. Mending sekarang kita ngopi di warung Mbok Nom saja …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s