Gobernur

Gobernur

HIDUP di kota besar memang panas. Ya panas cuacanya kalau nggak lagi hujan. Ya panas kalau tidak pasang AC di setiap bilik perkantoran gedung bertingkat yang dinding kacanya menyilaukan mata. Ya panas hatinya kalau kepanasan di jalanan yang macet. Apalagi ditambah nada klakson yang seakan bisa memecah jalan yang selalu penuh kendaraan.

Saat panas begini, otak mesti dipercepat berputarnya untuk mencari jalan keluar dari kepanasan ini. Panas pantas digunakan untuk mematangkan sesuatu. Beras perlu dipanaskan dengan cara tertentu agar menjadi nasi. Pun mungkin manusia mesti diberi panas dulu biar bisa menjadi insan yang menyejukkan Bumi.

Dan itu yang terjadi dengan Gob dan Blok. Mereka tengah asyik bercengkerama di warung kopi Mbok Nom. Mereka berada di antara pengunjung yang memperdebatkan kepantasan APBN digunakan Rio Haryanto agar bisa berkiprah di ajang F1. Atau layak tidaknya UU KPK direvisi.

‘’Hmmm, hari ini panas sekali, Blok,’’ ucap Gob sambil menyecap kopi hitamnya.

‘’Iya, nih. Semuanya panas. Kopiku juga masih panas. Aku takut lidahku melepuh kalau langsung menyeruputnya.’’

‘’Aku lagi bahas cuaca kamu malah ngomong soal kopi.’’

‘’Yang namanya cuaca dari dulu kalau tidak dingin ya panas, Gob. Apanya yang mau dibahas?’’

‘’Bantu cari jalan keluarnya kek. Biar kita bisa betah hidup di sini.’’

‘’Aku belum siap jadi gubernur, Gob.’’

‘’Lho, apa hubungannya cuaca panas sama gubernur?’’

‘’Ada dong! Akhir-akhir ini sering muncul tokoh yang seolah-olah bisa melesaikan masalah Ibukota.’’

‘’Terus?’’ tanya Gob yang masih belum paham.

‘’Kemungkinan besar mereka pengin jadi Gubernur Jakarta.’’

Kursi orang nomor satu di Ibukota ini memang sudah panas sejak dulu. Meski pemilihan baru dimulai tahun depan, geliatnya sudah terasa mulai sekarang. Mulai terlihat orang-orang dari segala latar belakang dengan segala agendanya. Mereka berbicara tentang semua permasalahan yang terjadi di sini. Berikut membawa solusi yang mereka anggap bisa meluruskan benang yang terlanjur kusut.

‘’Memangnya harus jadi gubernur dulu ya untuk bisa menyelesaikan masalah di Jakarta? Kalau memang merasa bisa mengakhiri karut marut ini, ya kerjakan saja. Tapi kenapa mesti jadi gubernur dulu?’’ tanya Gob.

‘’Kemungkinan besar, mereka itu nggak ikhlas, Gob.’’

Gob semakin bingung dengan sahabat karibnya tersebut.

Kalau solusi itu benar-benar dijalankan dan ternyata sukses. Kemungkinan besar yang mendapat nama baik tentu saja pemimpin yang sedang menjalankan daerahnya. Nanti sejarah bilang, kota ini berhasil keluar dari kesemwarutan berkat kerja keras gubernur anu. Mungkin cuma sedikit yang mencatat kesuksesan itu berkat gagasan dari si ini, si itu, si apa, relawan, teman, atau yang lain.

‘’Waaah, suudzon-mu kebablasan, Blok.’’

‘’Tapi bisa saja kan hal itu terjadi.’’

‘’Iya, sih. Tapi kalau kasusnya seperti ini lain lagi.’’

Gob menuturkan, kalau tidak jadi pemimpin, bakal susah merealisasikan  pembenahan yang lebih baik. Mungkin pengin jadi gubernur karena selama ini suara mereka tidak didengar oleh pemimpinnya. Boro-boro gagasan itu direalisasi, didengar saja sudah syukur.

‘’Waaah, berarti lebih susah mana? Jadi gubernur dulu baru membenahi kota, atau membenahi kota tanpa harus jadi gubernur?’’

‘’Kalau itu aku nggak tahu. Yang jelas, kalau masukan untuk perbaikan kota tidak didengar, ya mending jadi gubernur sekalian saja. Dengan begitu solusi yang mereka canangkan bisa direalisasikan dengan baik dan benar. Demi apa? Demi bangsa dan negara!’’

‘’Hmmm, bisa jadi, Gob,’’ kata Blok sambil manggut-manggut. ‘’Tapi jadi gubernur itu mudah lho,’’ lanjutnya lagi.

‘’Mudah gundulmu, Blooook, Blok. Mereka juga harus meraih suara terbanyak untuk menjadi juara satu dalam pemilihan nanti.’’

‘’Itu dia! Jadi nomor satu itu mudah. Yang susah itu jadi nomor dua.’’

‘’Kok bisa?’’

‘’Ya iya dong!’’ sahut Blok.

Ibarat balapan, anggap saja balapan mobil F1. Anggap saja pembalapnya nggak pakai duit APBN buat kebut-kebutan di sirkuit. Kalau mau jadi nomor satu, tinggal ngegas sekencang-kencangnya. Kalau Tuhan mengizinkan bisa jadi nomor satu. Nah, kalau mau jadi nomor dua beda lagi. Perjuangannya harus benar-benar pas. Terlalu semangat ngegas nanti malah kebablasan jadi juara satu. Kalau terlalu santai nanti ketinggalan jadi juara tiga. Atau apesnya lagi malah bisa nggak juara. Bahkan bisa saja malah di-overlap.

‘’Jadi juara dua memang lebih susah daripada juara satu,’’ kata Blok.

‘’Tapi, mau juara berapa pun itu, untuk ikut pertandingan ada biayanya kan. Ya mesti ikut partai politik lah, ya mesti ngumpulin fotokopi KTP lah, ya mesti kampanye lah, ya mesti ngundang penyanyi dangdut lah, dan lah-lah yang lain,’’ ujar Gob.

‘’Lagipula, juara dua nggak dapat apa-apa, Blok. Nggak dapat prestise. Nggak dapat kekuasaan,’’ lanjut Gob lagi.

‘’Eh, ngomong-ngomong soal gubernur, kamu kalau jadi gubernur gimana, Gob?’’

Mendegar pertanyaan yang diajukan sahabatnya itu, pikiran Gob langsung melayang-layang. Dia membayangkan dia menjadi gubernur seperti yang dikatakan Blok. Hmmm, dia tidak lagi takut panas karena naik mobil ber-AC. Dia tidak perlu lagi bermacet ria di jalanan. Karena dengan kuasa yang dipunya dia bisa saja melenggang dengan pasukan nguing-nguing. Oh.

‘’Heh, ditanya bukannya menjawab malah ngelamun,’’ kata Blok sambil sedikti mengguncang tubuh Gob yang wajahnya sedang senyum-senyum.

‘’Ah, kamu ini nggak pernah mau sahabatnya senang sebentar. Aku tadi lagi mbayangin jadi gubernur. Belum puas berimajinasi sudah kamu bangunkan. Huh!’’

‘’Jawab dulu pertanyaanku,’’ sahut Blok.

‘’Ya aku bakal menjadi gubernur yang baik dong!’’

Ibarat peribahasa ‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang’, menjadi seorang pemimpin pun demikian. Sebaik-baiknya pemimpin, dia lah yang tidak terlalu mewariskan banyak masalah pada suksesornya. Soalnya kalau masih banyak meninggalkan problem, nanti pasti disalahkan oleh pemimpin berikutnya. Menjadi sasaran kesalahan. Dikambinghitamkan.

‘’Tapi pola yang terjadi memang seperti itu kan? Selalu seolah menyalahkan yang sebelumnya. Nanti kalau ada pemimpin baru lagi, dia juga bakal menyalahkan yang sekarang.’’

‘’Makanya, kalau jadi pemimpin, aku harus meninggalkan yang baik-baik. Sebisa mungkin aku menyelesaikan masalah sebanyak mungkin selama masa jabatanku.’’

‘’Tapi tetap saja nanti kamu juga bakal disalahkan penggantimu kelak. Terus kamu mau apa? Curhat di setiap forum pertemuan di mana pun itu? Dan malah menjelekkan penggantimu. Dan bilang bahwa rakyat merindukan dan menginginkan agar kamu jadi pemimpin lagi?’’ tanya Blok.

‘’Itulah hebatnya aku. Aku nggak mau seperti itu,’’ jawab Gob sambil membusungkan dada dan menepuknya.

Gob menambahkan, ‘’Untung aku punya bakat di bidang musik. Nanti aku bisa mencurahkan semuanya menjadi rangkaian nada yang merdu. Sekalian saja aku bikin album musik yang semuanya berisi lagi curhat. Siapa tahu albumku itu nanti bisa masuk nominasi Grammy Awards.’’

‘’Memangnya kamu sudah kepikiran nama album curhatanmu itu?’’

‘’Sudah dong! Nama albumku: Masa Lalu Masalah Lu! Bukan Gue!’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s