PHK, Penuh Harapan Kesuksesan

 

PHK.png

HUJAN akhir-akhir ini lebih sering menyapa bumi. Tak pagi tak siang tak petang tak malam, tetesan air langit silih ganti menjawab doa manusia yang merindukan hujan. Rumput yang tadinya kering kini ijo royo-royo. Siap bergoyang dan menerima pertanyaan.

Tak cuma rumput, sungai pun mulai deras mengalir. Membawa apa saja yang bisa dia bawa. Termasuk kesedihan bagi warga di sejumlah daerah. Lokasi yang ternyata tak kuat atau tak siap menyapa berubahnya musim. Sungai terlalu meluap hingga lahap menelan jalanan yang menghubungkan wilayah satu ke yang lainnya.

Sebagian jalan pun jadi sungai dadakan. Intensitas hujan yang banyak tak tertampung sungai sampai-sampai air mencari tempat bernaung di jalanan. Sampai pada saatnya nanti pulang ke lautan. Menguap ke angkasa dan menunggu lagi doa bumi yang merindukan hujan.

Malam itu, pengunjung warung kopi Mbok Nom pada menyingsingkan celana. Ternyata warung sederhana itu ikut tergenang air. Ketinggiannya sih tidak setinggi harga atau gaji pemain sepakbola yang ditransfer ke liga Cina. Juga tidak setinggi angka kemungkinan PHK buruh karena sejumlah pabrik yang tutup.

Tinggi air di warung itu sebatas mata kaki. Toh, setinggi apa pun genangannya, selalu lebih tinggi harapan kita agar Tuhan tetap sayang pada negeri ini. Dan harapan itu tertuang sebatas mulut cangkir mungil kopi disajikan penuh welas asih oleh Mbok Nom.

Kebetulan sekali, datangnya genangan air ke warung itu berdekatan dengan Hari Raya Imlek juga Valentine. Maka dari itu, Mbok Nom hari itu kasih diskon besar-besaran terhadap barang jualannya. Mulai kopi, teh, susu, gorengan, nasi plus lauk-pauknya, dan lain sebagainya.

Tentu saja kebijakan itu bikin girang pengunjung serta pelanggannya. Di antara sekian banyak yang bahagia, ada dua sosok manusia yang terlihat paling sumringah. Siapa lagi kalau bukan Gob dan Blok. Begitu mendengar segala hal berkaitan dengan diskon, dua pemuda nggak jelas ini paling tambak merekah bak indahnya taman bunga yang belum menjadi korban penginjakan demi swafoto.

‘’Hmmmm, aroma kopi ini nikmat sekali ya, Gob,’’ kata Blok sambil menghirup kepulan asap yang membumbung dari cangkirnya.

‘’Ya iyalaah. Dapat diskon gitu lho,’’ sahut Gob yang tak kalah sumringah dengan sahabatnya itu.

‘’Coba kalau gratis. Waaah, pasti terasa lebih nikmat.’’

‘’Weeiitsss. Kamu ini sukanya kok sama yang gratis-gratis sih?’’

‘’Gratis itu kan enak, Gob,’’ protes Blok.

‘’Kita ini sudah terlalu banyak dimanjakan dengan kegratisan, Blok.’’

‘’Mosok?’’

‘’Kamu selama ini nggak sadar apa? Oksigen yang kamu hirup itu gratis. Hujan yang turun dari langit juga gratis.’’

‘’Itu kan datangnya dari Tuhan Yang Maha Kaya, Gob. Mosok Tuhan butuh duit sih? Aya-aya wae kamu ini.’’

‘’Tuhan memang tak butuh duit. Tapi bisa saja ada manusia yang tega mengatasnamakanNya demi dapat duit. Bisa saja suatu hari nanti mesti bayar setiap oksigen yang kita hirup.’’

‘’Waduh,’’ Blok memegangi keningnya.

‘’Bisa saja suatu hari nanti kita mesti membayar pakai Dolar, kalau-kalau Rupiah punah di masa mendatang, untuk mendatangkan hujan dari langit.’’

‘’Waduh,’’ Blok masih memegangi keningnya. ‘’Bisa-bisa juga, oksigen atau hujan itu nantinya harus minimal berstandar nasional Indonesia. Lebih bagus lagi kalau secara resmi sudah dinyatakan halal oleh MUI.’’

‘’Ngawurmu kebablasan, Blok.’’

‘’Kamu yang memulai. Ya tak bikin lebih ngawur lagi saja. Heuheuheu …’’

‘’Bicara soal ngawur. Menurutmu pabrik yang tutup itu ngawur nggak? Pabrik yang mem-PHK massal karyawannya itu ngawur nggak? Terus negara malah mengimpor pekerja dari luar negeri, itu ngawur nggak?’’

‘’Lho, lho, lho?’’

Blok kaget. Meski katanya ada yang mengklaim penyerapan tenaga kerja sudah banyak, tetap saja kabar diberhentikannya karyawan pabrik membuatnya trenyuh. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.

Belum terhapus dari ingatan ada orang yang rela menjual ginjal demi menyambung hidup. Bukan tak mungkin nanti kabar itu akan ramai kembali. Pun, belum dingin berita soal korban jiwa minuman keras oplosan. Entah alasan apa ketika mereka nekat menenggak minuman itu sampai nyawa taruhannya. Tapi jangan sampai itu terjadi lagi. Jangan.

‘’Memangnya kamu kalau mendengar ada pabrik yang tutup gimana?’’

‘’Ya sedih.’’

‘’Kenapa?’’

‘’Aku nggak bisa bayangin pekerja di pabrik yang tutup itu. Mereka harus mencari pekerjaan ke mana lagi?’’

‘’Nah, pemikiran seperti itu yang mesti diubah.’’

Sambil menggigil kedinginan karena kakinya sedari tadi basah genangan air, Gob mulai berceramah. Sebaiknya, tutupnya pabrik direspons positif.

‘’Maksudnya?’’

‘’Tenang dulu makanya. Aku belum selesai ngomong sudah kamu potong.’’

Di sini letak revolusi mental mesti ditegakkan. Kena PHK bukan seharusnya menjadi sedih. Justru sebaliknya, kita harus gembira. Seharusnya kita bikin sendiri pabrik dalam negeri. Dengan begitu, kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Kita tidak lagi terlalu bergantung pada asing. Tidak lagi bergantung pada pabrik asing yang berdiri di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kita angkat senjata siap berperang dengan produk yang sudah lebih dulu punya nama. Perang dengan cara yang baik juga tentunya.

Negeri ini jadi lebih mandiri. Kita bisa produksi sendiri produk dalam negeri. Sudah seharusnya kita bisa bikin motor made in teknisi dalam negeri. Sudah seharusnya kita bisa membuat barang-barang elektronik buatan anak bangsa. Apa pun itu, kita mesti bangga dengan hasil karya anak bangsa. Kita mesti bangga dengan Indonesia.

‘’Hmmm, benar juga sih. Tapi itu semua kan tidak semudah membalikkan telapak tangan, Gob.’’

‘’Ya maka dari itu, kita harus tetap bersemangat dan optimistis. Lha wong mau makan gratis di warteg keliling saja kita mesti membaca dua juz Al Quran kok.’’

Gob menambahkan, apalagi hari ini berdekatan dengan Hari Raya Imlek alias Tahun Baru Cina. Kita songsong tahun monyet ini dengan harapan tinggi. Kita harus menjadi manusia baru yang siap bangga punya produk sendiri. Apa pun itu kualitasnya. Pokoknya ditingkatkan terus. Insya Allah nanti kita songsong masa depan yang cerah bagi Indonesia.

Lagi pula, sekarang juga berdekatan dengan perayaan Hari Valentine. Sudah bukan zamannya lagi mengungkapkan rasa sayang kepada teman, pacar, pacar orang, keluarga, dan lain-lain. Sekarang momentum untuk menunjukkan bukti kasih sayang pada negara.

Caranya ya itu tadi. Kita mesti bisa bikin produk-produk yang memiliki nilai jual. Ini bukti nyata kasih sayang kita pada negara. Syukur kalau bisa sampai ekspor. Lebih syukur lagi kalau bisa bersaing dengan produk yang sudah lebih dulu terkenal dan punya kredibilitas.

‘’Top markotop!’’ kata Blok tanda setuju. ‘’Lalu teknisnya piye?’’

‘’Kalau teknis itu bukan urusan saya. Aku nggak tahu, Blok.’’

‘’Kami ini menjelaskan ide panjang-lebar, tapi nggak tahu teknisnya.’’

‘’Indonesia ini kan banyak sekali orang-orang yang cerdas dan pintar. Baik yang lagi mengabdi di dalam negeri maupun di luar. Daripada mereka diopeni luar negeri, mending suruh pulang memajukan Ibu Pertiwi.’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s