Teman yang Hilang

Teman yang Hilang

PUNYA teman memang asyik. Saat senang, kita bisa membagi rasa itu dengannya. Begitu pula ketika sedih, biasanya mereka yang menghibur dengan caranya masing-masing. Kalau kata seniman Bandung, teman atau sahabat itu adalah dirimu yang kedua.

Atas dasar hubungan pertemanan itu, kita seringkali bertindak di luar kewajaran. Ketika mencapai kesuksesan tertentu, masih banyak teman kita yang belum berada di titik itu. Dan ternyata rasa iba dan kasihan muncul dalam benak kita melihat nasib mereka. Terlebih ada andil mereka sehingga bisa mengantar kita mencapai kesuksesan.

Mosok tega melihat kondisi teman yang tidak lebih sukses dari kita. Yang entah atau tidak disengaja, mereka selalu terlihat melas ketika berhadapan dengan kita. Kita pasti membantu mereka. Apalagi mereka juga sudah membantu kita. Tapi kalau teman kita buanyaaak bagaimana?

Ya tenang saja. Kesuksesan kita nggak bakal habis. Lha wong, teman-teman yang kita bantu itu juga ikut mempertahankan kesuksesan kita kok. Persoalannya kalau ternyata teman itu nggak becus. Kita asal membantu ngasih ini-itu ke dia. Tapi nyatanya, mereka bukan orang yang tepat. Nah, ini yang bahaya. Bisa-bisa kesuksesan kita runtuh seketika. Apalagi ternyata itu disebabkan kesalahan kita ssendiri. Karena sembarangan membantu teman atas dasar pertemanan dan jasa mereka. Oh.

Ngomong-ngomong soal kesuksesan, Gob masih jauh dari kata itu. Dia masih saja serabutan. Masih saja dia pemuda dengan segala aktivitas yang nggak jelas. Dalam mengarungi kehidupan di kota besar, dia selalu ditemani satu-satu teman baiknya, Blok. Entah sudah berapa lama usia pertemanannya. Mereka terlihat begitu kompak dengan ketidakjelasan hidup.

Sudah beberapa hari ini dia tidak mendengar kabar sahabatnya itu. Dicoba ditelpon, HP-nya nggak aktif. Dicari di kontrakannya, nggak ada. Pas dicari ke sana, Gob malah ditagih oleh pemilik kamar buat bayar tunggakan kontrakan. Ah, atas dasar pertemanan, Gob membayarnya. Tapi Gob ikhlas dan rela lho membayarnya.

Dicari di tempat ngopi favorit, warung Mbok Nom, sama saja. Blok tak juga menampakkan batang hidungnya. Akhirnya, rasa kopi Gob semakin terasa pahit karena tidak ada sosok sahabat karib yang menemaninya. Beberapa hari ngopi di warung Mbok Nom, dia cuma duduku melamun menemani kopi hitam tanpa gula miliknya.

‘’Blok ke mana, Nak Gob?’’ tanya Mbok Nom di sela-sela kesibukannya melayani pesanan pelanggan warung kopinya.

‘’Mboten pirso, Mbok. Dia tiba-tiba hilang secara misterius,’’ jawab Gob lesu.

‘’Kenapa bisa begitu?’’

‘’Lha nggih niku, Mbok. Aku juga nggak tahu.’’

‘’Yo wis, semoga Blok cepat ketemu ya.’’

‘’Nggih, Mbok. Aamiin.’’

Kemudian Mbok Nom kembali sibuk bikin kopi atau pesanan lain pelanggannya. Gob juga kembali sibuk dengan kesepiannya tanpa ditemani Blok.

Tak lama kemudian, orang yang sempat hilang misterius itu muncul. Blok tiba-tiba langsung duduk manis di samping Gob. Penampilannya tidak ada yang berubah. Masih dengan sandal jepit, kaus dan celana jeans yang lusuh. Dia senyum-senyum nggak jelas ketika duduk di samping Gob.

‘’Heh, kamu ke mana saja, Blok? Tiba-tiba hilang tanpa kabar.’’

Belum juga Blok menjawab, Gob sudah mencecar sohib-nya itu dengan pertanyaan lain. ‘’Kamu sekarang jadi anggota intel ya?’’

‘’Ya nggak lah. Siapa aku ini? Aku bukan siapa-siapa. Kalau toh benar aku jadi anggota intel. Nanti kalau aku pamer Surat Keputusan pengangkatan, nanti malah nggak ada yang percaya. Percuma.’’

‘’Memangnya kalau kamu benar jadi intel, kamu sanggup?’’

‘’Ya nggak sanggup lah. Aku ini tahu diri, Gob.’’

‘’Berarti kamu siap mundur kalau tiba-tiba diangkat jadi intel?’’

‘’Ya iyalah! Pasti! Aku nggak mau mengerjakan sesuatu yang aku nggak bisa.’’

‘’Hmmm, tapi setelah mundur kamu ditawari jabatan lain gimana?’’

Blok semakin kebingungan mendengar pertanyaan Gob yang semakin ngawur ini. ‘’Eh, kamu ini ada apa sih? Pertanyaanmu nggak jelas!’’

‘’Sorry, aku terlalu terbawa suasana. Lha terus kamu ke mana saja selama ini?’’

Lagi-lagi kesempatan Blok untuk menjawab langsung diserobot lagi oleh Gob.

‘’Jangan-jangan kamu sekarang jadi relawan Manchester City?’’

‘’Apa hubungannya?’’ Blok kaget dengan pertanyaan itu.

Gob mencurigai sahabatnya itu jadi relawan klub asal Inggris itu. Apalagi klub yang dimiliki pengusaha kaya asal Arab itu musim depan bakal ganti manajer. Josep ‘Pep’ Guardiola sudah resmi bakal melatih klub yang identik dengan warna biru itu.

Bisa saja Blok ujug-ujug menjadi relawan. Untuk meringankan beban Guardiola untuk membawa kesuksesan di Etihad Stadium, stadion kebanggaan Manchester City. Bisa saja Blok membawa keberuntungan yang besar bagi klub itu. sehingga bisa bersaing kesuksesan dengan klub rival sekotanya yang lebih dulu dan lebih banyak mendulang prestasi membanggakan, Manchester United.

‘’Ngawur kamu ini, Gob! Tuduhanmu tidak berdasar. Tidak ada bukti!’’

‘’Ya aku kan cuma menebak, Blok. Siapa tahu tebakanku benar.’’

‘’Tapi ngomong-ngomong soal sepakbola. Persaingan perebutan gelar juara di liga Inggris semakin seru, Gob! Apalagi kalau Jose Mourinho jadi melatih Manchester United. Waaah, dijamin akhir pekan kita yang serabutan ini ada hiburannya.’’

‘’Bal-balan liga Inggris semakin menegangkan, aku setuju. Tapi apa kabar sepakbola kita, Blok? Jangan-jangan nanti muncul seseorang entah siapa dengan tulisan: ‘Piye Kabare? Enak jamanku to?’ Kalau kayak gitu gimana?’’

‘’Kalau seseorang itu adalah mantan, waaah, nylekit-nya nggak ada duanya!’’

Lalu dua pemuda itu membayangkan mereka benar-benar menjadi relawan Guardiola. Dia bisa mendapat ilmu yang tak ternilai dari salah seorang manajer tersukses di dunia. Gratis pula. Kan yang namanya relawan seharusnya tidak minta bayaran apalagi jabatan.

Mereka kemudian membayangkan jika ilmu yang mereka dapat selama menjadi relawan Guardiola itu dipraktikkan di Nusantara. Waaaah, bal-balan di sini bisa semakin seru. Negara ini bisa menjadi Macan Asia dalam hal sepakbola. Bayangan atau imajinasi memang indah.

Belum selesai dengan bayangan yang serba indah, Gob kembali teringat belum mendapat jawaban atas hilangnya Blok berhar-hari kemarin.

‘’Eh, terus kamu ke mana kalau begitu?’’

Lagi-lagi Blok tidak mendapat kesempatan menjawab. Baru saja mulutnya terbuka dan hendak menjawab, kembali Blok menghujaninya dengan pertanyaan .

‘’Jangan-jangan kamu sembunyi karena dituduh memukul staf ahli-mu?’’

‘’Mboten, Gob.’’

‘’Jangan-jangan kamu yang membuat panci bertuliskan bismillah. Lalu kamu sembunyi karena takut?’’

‘’Mboten, Gob.’’

‘’Jangan-jangan kamu ganti nama jadi Aril Piterpen?’’

‘’Mboten, Gob.’’

‘’Jadi kalau bukan jadi intel, kalau bukan jadi relawan Guardiola, kamu ke mana, wahai sahabatku?’’

Akhirnya Blok mendapat kesempatan menjawab juga. Dengan nada serius, dia bilang kalau selama ini dia bertapa di suatu tempat yang sunyi. Blok sedang menyiapkan lagu tentang kereta cepat Jakarta-Bandung.

Selama ini sudah ada lagu anak-anak tentang kereta api yang sangat terkenal. Kereta api Bandung-Surabaya. Melihat kesempatan ini, Blok berpikir keras mengkompos lagu untuk kereta cepat itu. Siapa tahu lagu gubahannya itu bisa melegenda dan bisa membawa rezeki bagi pemuda macam Blok.

Naik kereta cepat pat pat pat. Siapa yang berangkat. Ke Bandung-Jakarta … (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s