Kalau Kere Jangan ….

Kalau Kere Jangan.png

BERSAMA kita bisa ngopi! Kalimat tersebut sepertinya menjadi slogan hidup Gob dan Blok malam itu. Bagaimana tidak, mereka berjalan berjajar menuju warung kopi kesayangan mereka, warung Mbok Nom. Ditemani asap serta klakson kendaraan bermotor, mereka tetap enjoy menikmati perjalanan.

Mereka pun dengan sabar minggir ketika ada sepeda motor yang nekat melaju di trotoar. Sepeda motor yang terburu-buru ingin sampai ke tujuan masing-masing. Padahal trotoar sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Mungkin orang-orang seperti itu juga tidak tahu paham artinya rambu dilarang parkir dan dilarang berhenti.

Dalam perjalanan yang hampir sampai di warung Mbok Nom, mereka berhenti. Gob dan Blok memperhatikan sebuah mal megah yang sama sekali belum pernah mereka sambangi. Dari luar, tempat itu layaknya magnet yang menarik minat manusia untuk mendekat dan masuk ke dalamnya. Magnet itu juga yang sedang dirasakan Gob dan Blok.

‘’Blok, kita ke sana yuk…’’ kata Gob sambil menunjuk ke arah mal.

‘’Ngapain?’’

‘’Ngopi lah. Sekali-kali kita coba nongkrong di sana. Piye?’’

‘’Secangkir kopi di mal itu mahal, kakak!’’

‘’Waaah, mosok to, Blok?’’

‘’Yoi. Kalau kere jangan ke mal ya, kakak.’’

‘’Yo wis, kita melanjutkan misi awal saja: ngopi di warung Mbok Nom.’’

‘’Yang murah meriah dan bisa ngutang!’’ sahut Blok.

Sampai juga mereka di warung kesayangannya. Kesayangan untuk bersenda gurau. Kesayangan untuk melihat kehidupan. Kesayangan karena pemilik warung jarang menagih hutang mereka yang sudah entah kapan nunggak.

‘’Eh, Mbok, di sini tagihan airnya nggak nunggak, kan?’’ tanya Gob ketika kopi pesanannya diantar langsung si empunya warung.

Gob takut kalau warung kopi langganannya itu tiba-tiba disegel karena telat bayar tagihan air. Padahal keberadaan air sangat penting untuk menjalankan bisnis ini. Kopi tak bisa dinikmati tanpa ada air. Kalau itu terjadi, bakal banyak orang kecewa. Salah satu tempat mereka merenungi hidup ditutup untuk sementara.

Mbok Nom tersenyum mendengar pertanyaan salah satu langganannya tersebut. Dengan suara yang bijak dia mengatakan kalau dia itu tertib membayar tagihan air warungnya. Meski tergolong warga kelas bawah, perempuan paro baya itu selalu tepat waktu membayar serba-serbi tagihan.

‘’Kita takut kalau tiba-tiba warung ini disegel, Mbok. Soalnya kata Blok, kalau ngopi di mal itu mahal, Mbok. Dan yang lebih penting lagi, di sana nggak bisa ngutang kayak di sini. Heuheuheuheu….’’

‘’Tenang, Nak. Warung ini nggak akan disegel. Monggo dinikmati kopinya.’’

‘’Percaya diri sekali? Memangnya Mbok punya kenalan backing yang kuat ya?’’

‘’Iya, Gusti Allah …’’ jawab Mbok Nom sambil berlalu meninggalkan Gob dan Blok.

‘’Siaappp!’’ sahut dua sahabat itu bebarengan.

Kemudian mereka larut dalam pekatnya kopi malam itu. Diterangi taburan bintang yang menyala tanpa terselimuti awan hitam. Sinar bulan di angkasa tetap indah meski hari itu sedang akhir bulan alias tanggal tua.

‘’Aku dengar harga beras sekarang naik. Piye iki?’’

‘’Ya makannya jangan banyak-banyak, Gob. Sekali-kali diet! Gitu aja kok repot ….’’ sahut Blok sigap.

‘’Diet mana lagi yang kudustakan? Aku mesti mencoba diet macam apa lagi, Blok?’’

‘’Take it easy, Gob …’’

Blok mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang dilanda galau naiknya harga beras itu. Dia meyakinkan Gob agar selalu bersikap optimistis dalam menghadapi kehidupan. Ingat, manusia itu makhluk beradab. Jadi, kalau ada apa-apa harus ditanggapi dengan cara yang penuh keberadaban.

‘’Nanti mosok ada yang nyindir dengan berkata, kalau kere jangan makan nasi, kakak. Kalau nasi sudah tak terbeli, terus aku mangan opo, Blok?’’

‘’Sekali lagi, take it easy, Gob. Negeri ini gemah ripah loh jinawi. Masih banyak bahan pangan yang bisa mengganti peran nasi. Nilai gizinya pun nggak kalah hebat sama nasi,’’ jelas Blok.

‘’Tapi kita nggak belum terbiasa makan selain nasi. Paling banter diganti mie instan, itu pun kalau lagi nggak punya duit.’’

‘’Kamu harus ingat betul pepatah Jawa. Camkan kalimat ini: witing trisno jalaran saka kulina. Yang artinya kira-kira begini, cinta datang karena terbiasa,’’ jelas Blok.

Kalau memang keadaan sudah benar-benar memaksa untuk berubah, ya apa boleh buat. Kita mesti berubah mengikuti keadaan. Kecuali kalau kita punya kekuatan tertentu yang bisa mengubah keadaan itu menjadi seperti yang diinginkan. Sebagai wong cilik, bisa apa Gob dan Blok. Mereka cuma bisa nrimo ing pandum.

‘’Apalagi katanya nasi itu bisa menjadi salah satu penyebab penyakit diabetes, lho,’’ papar Blok lagi.

‘’Waaah, mosok? Nanti kalau aku kena diabetes piye, Blok? Aku mesti berobat ke rumah sakit mana? Nanti ada yang bilang begini, kalau kere jangan ke rumah sakit, kakak,’’ Gob semakin galau dengan kebingungannya sendiri.

‘’Ya makanya kita juga mesti menjaga kesehatan, Gob.’’

‘’Bicara soal kesehatan, aku tiba-tiba pengin kuliah, Blok. Biar pintar. Biar paham kesehatan.’’

‘’Weleh, kerasukan setan mana lagi kamu punya pikiran begitu? Ingat, kalau kere jangan kuliah, kakak. Memangnya usiamu masih memenuhi syarat jadi mahasiswa?’’

‘’Orang seperti aku kan juga berhak menuntut ilmu setinggi mungkin,’’ protes Gob.

‘’Aku setuju itu. Tapi kamu juga mesti hati-hati kalau di kampus nanti…’’

Mahasiswa yang orientasi seksualnya dianggap menyimpang, dilarang masuk kampus. Maksudnya, mereka dilarang pamer kemesraan di sana. Misalnya, mereka tidak boleh bercinta di kampus. Katanya, larangan ini khusus bagi mereka yang dianggap menyimpang. Tapi bisa jadi ini berlaku bagi semua mahasiswa. Baik yang menyimpang maupun tidak. Termasuk bagi Gob kalau dia benar-benar bisa jadi mahasiswa.

‘’Jadi kamu harus hati-hati nanti, Gob …’’ kata Blok mengingatkan.

Mendengar hal itu, Gob langsung protes! Kalau memang merasa berada di pihak yang benar dan normal, ya bukan begini caranya. Larang-melarang bukan solusi. Usir-mengusir bukan solusi. Ingat, alon-alon waton kelakon alias pelan tapi pasti. Pelan-pelan manusia yang dianggap menyimpang oleh khalayak umum ini dibimbing dengan cara yang bijak bestari. Suatu saat pasti ada perubahan.

Bagaimana bisa kembali ke jalan yang lurus (kalau selama ini dianggap menyimpang) dan kembali normal (kalau selama ini dianggap abnormal) kalau mereka justru diperlakukan seperti itu. Sedikit-sedikit dilarang. Sedikit-sedikit diusir. Mungkin yang lebih bikin geleng-geleng kepala lagi, sedikit-sedikit dibakar.

‘’Betul juga apa yang kamu bilang, Gob. Pokoknya yang penting optimistis. Meskipun pelan-pelan tapi hasilnya pasti!’’

‘’Yoi. Hidup kampus! Hidup kuliah! Hidup mahasiswa!’’

‘’Eh, ngomong-ngomong soal kuliah, memangnya kamu mau ambil jurusan opo?’’

‘’Kedokteran dong,’’ jawab Gob sambil memamerkan senyum lebarnya.

‘’Weleh-weleh, edan tenan! Memangnya kamu punya duit? Katanya kuliah di kedokteran itu kan biayanya tinggi sekali.’’

Mungkin Blok belum tahu. Ada universitas yang menggratiskan biaya kuliah di fakultas kedokteran. Syaratnya, mahasiswa calon dokter itu harus setuju ditempatkan di mana saja setelah lulus. Jadi, mulai masuk sampai lulus jadi dokter, mahasiswanya tidak perlu mikir biaya kuliah kedoteran yang terkenal muahal itu.

‘’Waaaah, bagus dong. Semoga fakultas lain dan perguruan tinggi yang lainnya juga segera menyusul. Menggratiskan biaya kuliah. Semoga mereka juga bisa bikin obat yang ampuh bagi harkat hidup keberadaban manusia ya,’’ ucap Blok yang terlihat sedikit bahagia karena secercah harapan majunya bangsa ini mulai sedikit-sedikit terbuka.

‘’Semoga juga mereka bisa meramu obat penangkal virus zika yang sedang merajalela itu. Katanya penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk itu belum ada obatnya.’’

‘’Aamiin. Dan yang paling penting lagi, kalau bisa semua obat bikinan mereka dijual murah. Biar terjangkau orang-orang macam kita ini. Lebih bagus lagi kalau gratis. Heuheuheuheu…’’ canda Blok.

‘’Hari gini gratis? Kalau kere jangan sakit, kakak!!’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s