Ayo Sekolah

PENDIDIKAN tak kenal tua usia. Siapa pun itu, berlatar belakang status sosial seperti apa, pendidikan tetap mau mendidik dan mengajar manusia. Tanpa memandang gender, ras, suku, agama, dan sebagainya, semua sama di mata pendidikan. Bahkan, pendidikan sendiri saya rasa tidak memerlukan uang sebagai pengganti jerih payahnya menanggalkan kepayahan manusia. Justru manusia itu sendiri membuat pendidikan seolah-olah perlu dana atas nama macam-macam.

Itulah yang dilakukan Larry Crowne. Seorang tokoh utama dalam film yang berjudul sama dengan namanya, Larry Crowne. Bukan, dia bukan memanfaatkan pendidikan untuk memperkaya diri. Dia bukan orang yang seperti itu. Dalam masa sulit, apalagi usia yang tak muda, dia malah memutuskan untuk sekolah.

Saat dipecat secara mendadak dari perusahaan, tentu saja kita semua akan kebingungan. Bingung saat satu-satunya pegangan tiba-tiba terlepas tanpa persiapan. Bingung karena sebelumnya tidak ada sangkaan akan dipecat secara langsung. Bingung apa yang mesti dilakukan setelahnya.

Tokoh utama yang diperankan Tom Hanks ini dipecat dengan alasan belum pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Kebijakan itulah yang memaksa Larry menjadi seorang pengangguran. Padahal dia sudah bekerja di perusahaan itu selama bertahun-tahun. Dari adegan yang terjadi saat pemecatan berlangsung, Larry terlihat akrab dengan atasannya. Bahkan di antara mereka merupakan temannya sendiri. Tapi tetap saja, peraturan harus ditegakkan, bukan?

Satu hal membuat saya tertarik dari film yang rilis pada 2011 ini, bukannya semakin semangat mencari kerja, Larry malah sekolah – setelah menerima saran tetangganya. Sebelumnya, dia memang sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Namun semua usahanya menemui jalan buntu. Untuk pria seusianya, sekolah bukan keputusan mainstream. Apalagi saat itu terlilit hutang yang tak sedikit. Taruhannya, rumah yang menjadi satu-satunya aset terancam disita.

Umumnya, kalau sudah mentok tak ada perusahaan yang menerimanya, bisa saja Larry memulai bisnis. Pengalamannya sebagai juru masak di kapal TNI AL Amerika Serikat selama bertahun-tahun pasti sedikit memudahkan jalannya. Tapi bisa saja Larry tak punya cukup modal untuk memulainya. Apalagi saat itu hutang selalu membayangi langkahnya. Bank mana yang mau meminjaminya uang untuk Larry mulai membuka bisnis. Mungkin jika itu semua gagal, pilihan terakhir menjadi gelandangan, yang dalam UUD 1945 di Indonesia seharusnya mereka dipelihara negara.

Akhirnya, Larry memilih kelas agar mahir berpidato di Speech 217. Dia juga mengambil kelas ekonomi. Di kelas Speech 217, ternyata jumlah siswanya hanya 10. Sedangkan kelas ekonomi jauh lebih banyak dibandingkan kelas pidato. Sudah bisa ditebak, tentu saja Larry merupakan satu di antara sedikit peserta didik yang terlihat lebih tua dibanding siswa yang lain.

Larry Crowne

Adegan ketika Larry (kiri) berada di kelas Speech 217. Sumber gambar: screnshot pribadi.

Untuk menyambung hidup, selama kuliah Larry bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran milik temannya. Demi menekan biaya pengeluarannya, dia juga mengendarai skuter yang dia beli dari tetangganya. Dilihat dari kapasitas tangki bahan bakar, skuter jauh lebih hemat dibandingkan dengan mobilnya. Dengan skuter itu pula, Larry mendapat banyak teman baru.

Dari ilmu yang didapat di kelas ekonomi, Larry akhirnya mampu terbebas dari lilitan hutang yang menjeratnya selama ini. Suatu ketika, dia menyerahkan dokumen-dokumen yang bisa membebaskannya dari hutang. Pihak bank awalnya menolak. Namun Larry lagi-lagi memastikan bahwa itu bisa dilakukan. Di satu sisi, dia harus kehilangan rumahnya. Di satu sisi yang lain, dia menang karena sukses terlepas dari hutang.

Sementara dari kelas pidato, Larry mendapat kepercayaan diri untuk berbicara di depan orang banyak. Kelas yang dikuliahi Mercedes Tainot, seorang dosen yang diperankan Julia Roberts, ini memang menyulitkan Larry sejak awal. Namun berkat usahanya, terbukti di akhir semester, dia mendapat nilai A+ di kelas itu. Selain itu, dia juga berhasil menggaet cinta seorang dosen cantik yang mengajarinya di kelas tersebut.

Pendidikan memang tidak menjamin kelak bisa mendapat pekerjaan bergaji dan berposisi tinggi. Dengan bersekolah (lagi) kita bisa menemukan sesuatu yang belum tentu bisa ditemui di tempat lain, termasuk cinta. Larry membuktikan dengan bersekolah dia bisa bebas dari hutang. Pun, dia juga sukses mendapat cinta dosennya. Sudah berapa banyak kisah cinta berdasarkan pertemuan di sebuah institusi pendidikan itu. Maka dari itu, ayo sekolah! ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s