Kerak Teror

Kerak Teror.png

SEJAK tragedi ledakan bom di kawasan Sarinah, Jakarta beberapa hari lalu, semua warga menjadi siaga. Semua pasang mata awas mengawasi sekitar kanan dan kirinya. Dengan penuh harapan, semoga kejadian serupa atau kejadian yang lebih besar dampak kerugiannya tidak lagi menghampiri di negeri nan asri ini.

Hampir semua tempat di penjuru Nusantara membicarakan tragedi yang terjadi di siang bolong itu. Mulai dari tukang sate yang tetap santai berjualan, petugas keamanan yang membeli rujak, warga yang swafoto ria di lokasi kejadian, sampai aksi heroik polisi ganteng adu tembak melawan teroris.

Jarang lagi terdengar ada yang membicarakan kesuksesan Lionel Messi yang beberapa waktu lalu mendapat gelar Ballon d’Or. Tidak ada lagi pembahasan perihal salah seorang politikus partai pemenang pemilu 2014 yang ditangkap KPK. Tak ada lagi pembicaraan mengenai salah seorang pucuk pemimpin DPR RI yang sedang digoyang posisinya. Gafatar yang sempat ramai diperbincangkan juga sudah hilang ditelan angin. Apalagi kabar paspampres yang kedapatan bawa narkoba, wooo sudah lupa tuh.

Ledakan bom yang terjadi di lokasi yang berdekatan dengan istana kepresidenan itu sampai sekarang masih diperbincangkan di mana-mana. Tak terkecuali di warung kopi Mbok Nom. Waah, semua hal dari A sampai Z tumpah ruah dibicarakan di sana. Blok yang sedang duduk sendirian manggut-manggut saja ikut mendengar pembicaraan pengunjung lain tersebut.

Tak lama kemudian, datang sahabatnya, Gob. Tentu saja kedatangan Gob itu menyenangkan hati Blok. Karena Gob selama ini merupakan satu-satunya sahabat yang dia miliki. Dia juga sudah tak sabar ingin mengeluarkan segala unek-uneknya bersama Gob. Sambil menikmati kopi pahit favorit mereka tentunya.

Malam itu Gob membawa sebungkus tas kresek. Bungkusan plastik berwarna hitam itu berukuran besar. Blok tentu penasaran dengan apa yang dibawa sahabatnya itu. Apalagi kantung kresek itu bertuliskan huruf Arab. Waaah, bisa saja Gob ikut-ikutan Agnes Monica yang saat menyanyi di salah satu stasiun TV mengenakan pakaian bertuliskan huruf Arab.

‘’Kamu bawa apa itu, Gob? Kenapa ada tulisan Arabnya? Waaah, bisa dianggap pelecehan ini namanya … ’’

‘’Heuheuheu …’’ bukannya menjawab, Gob malah tersenyum dan tertawa pelan.

‘’Aku nanya serius ini, Gob! Kamu jangan seenaknya melecehkan agama begini dong!’’

‘’Kamu ini bicara apa to, Blok. Memangnya kamu tahu tulisan ini apa artinya?’’

Blok menggelengkan kepala tanda tak paham.

‘’Makanya, sebelum tahu tulisan ini apa artinya, kamu jangan asal njeplak …’’

‘’Terus apa dong artinya tulisan Arab di tas kresek yang kamu bawa itu?’’

Gob menghela nafas yang panjang sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ‘’Tulisan berbahasa Arab ini artinya HALAL… Puas kamu?’’

‘’Oalaaah, aku kira apa… Sorry, sorry…’’ sahut Blok tersipu malu. ‘’Eh, sebentar sebentar… Lalu isi kresek yang kamu bawa itu apa?’’

Gob tak menyangka sahabatnya bakal menanyakan hal itu padanya. Dia tak mengira Blok penasaran kepada isi bungkusan yang dibawanya ke warung Mbok Nom tersebut.

Belum sempat menjawab, Gob sudah dihujani pertanyaan lagi.

‘’Heh! Kamu bawa opo? Jangan-jangan kamu bawa bom…’’

‘’Huss! Ngawur kamu! Ini aku bawa kerak telor!’’

‘’Nggak mungkin! Kalau benar kerak telor kenapa besar sekali bungkusnya?’’

‘’Aku belinya banyak, Blok. Tenang, ini bukan bom.’’

‘’Aku nggak percaya, Gob …’’

Untuk membuktikan ucapannya, Gob mau membuka bungkusan yang dia bawa. Dia tak punya cara lain lagi. Dia mau meyakinkan Blok bahwa bungkusan itu memang kerak telor. Bukannya bom yang selama ini ditakutkan sabahatnya tersebut.

‘’Woooo, ojo mbok bukak nanti meledak!!’’

‘’Meledak apanya, Blok?’’

Gob tidak jadi membuka bungkusan kerak telor yang dibawanya. Dia malah memarahi Blok. Katanya Jakarta Berani, katanya Jakarta Tidak Takut, katanya katanya. Ini baru melihat bungkusan kerak telor saja takutnya bukan main.

‘’Kamu jangan kayak mantan ketua DPR itu dong. Ada yang manggil tapi malah mangkir nggak mau hadir? Kenapa? Takut?’’

‘’Wooo, jangan samakan aku sama dia dong, Gob! Nggak sebanding, tahu …’’

‘’Ya makanya kamu jangan takut. Yang aku bawa ini kerak telor betulan …’’

Akhirnya Blok luluh juga. Dia siap menjadi saksi pembukaan bungkusan yang dibawa Gob. Bulir keringat sebesar biji jagung mulai membasahi sekujur tubuhnya. Tangannya terlihat gemetaran kala Gob mulai memegang dan siap membuka bungkusan tersebut. wajah Blok semakin pucat pasi. Dia takut bukan main kalau itu benar-benar bom yang bisa meledak.

‘’Apa kubilang. Ini kerak telor, Blok,’’ ujar Gob begitu membuka bungkusan itu.

Gob membawa banyak kerak telor malam itu. Ternyata saat dalam perjalanan ke warung Mbok Nom, Gob bertemu seorang penjual makanan khas Ibukota tersebut. Menurut keterangan Gob, penjual itu sudah tua. Karena memang saat itu kelaparan, dan ndilalah Gob juga sedang punya uang lebih, dia memborong semua dagangannya.

Pak tua penjual kerak telor itu sempat berpesan pada Gob, jangan sekali-kali melupakan warisan kuliner Nusantara. Nasionalisme bukan berarti harus setiap hari pakai batik, berbahasa Indonesia, dan lain sebagainya. Bukan berarti pula orang yang tak pernah pakai batik, orang yang suka mencampur bahasa Inggris dan Indonesia dalam percakapannya itu nggak nasionalis. Nasionalisme lebih dari itu.

Pak tua itu berharap agar ada perhatian khusus dari siapa pun terhadap kuliner khas Nusantara. Jangan harus menunggu klaim negara asing dulu, baru kemudian mencak-mencak ngamuk menuding negara tetangga mencuri warisan budaya Nusantara. Terlebih, jangan menunggu ada hari peringatan, orang-orang baru sok nasionalisme. Pakai batik pas hari batik thok, kalau bukan pas momen hari batik, setiap hari pakai yang bukan batik.

‘’Waaah, pas banget kamu bawa makanan. Aku belum makan dari tadi. Matur nuwun, Gob,’’ kata Blok sambil mulai melahap kerak telor pemberian sahabatnya itu.

‘’Oke. Tapi ini bukan buat kamu semua. Mau aku bagikan ke Mbok Nom sama pengunjung lain di sini …’’

Blok manggut-manggut. Dia lahap betul menguyah kerak telor yang malam itu sungguh terasa nikmat. Gob lalu membagi-bagikan kerak telor yang dia bawa pada pengunjung yang lain. Tak lupa dia juga memberikan sebungkus pada si empunya warung, Mbok Nom.

‘’Gimana, sudah kenyang?’’ tanya Gob pada Blok yang sudah terlihat memegangi perutnya.

‘’Alhamdulillah, wareg. Nah, kalau sudah kenyang begini, ngopi jadi lebih nikmat.’’

Kemudian dua pemuda nggak jelas itu menikmati kopi berdua di malam yang sudah lama merindukan guyuran hujan.

‘’Bicara soal bom, kenapa ya mereka kok tega melakukan itu?’’ tanya Blok dalam renungannya malam itu bersama Gob.

‘’Melakukan opo?’’

‘’Ya kayak kemarin itu, bom bunuh diri yang juga membahayakan orang lain.’’

‘’Pelakunya kan sudah diyakinkan dan akhirnya meyakini sepenuh hati, bahwa mereka kelak bakal masuk surga kalau sudah mati.’’

‘’Tapi mosok ke surga mesti harus bunuh diri. Apalagi ini sampai ikut membunuh orang lain juga. Opo tumon?’’

‘’Lha nggih niku, aku ora ngerti …’’

‘’Terus aku kudu piye, Gob?’’

‘’Piye gimana maksudmu?’’ Gob kurang paham dengan pertanyaan sahabatnya itu.

‘’Aku takut kalau bom itu bisa memecah-belah kita. Kalau itu benar piye?’’

Isu cap isapan jempol yang beredar, Rupiah bisa anjlok gara-gara bom itu. Tapi nyatanya mata uang Nusantara itu tetap saja lemah. Eh, maksudnya nggak anjlok-anjlok amat. Eh, maksudnya stabil di garis kelemahan. Eh, embuh ah. Pokoknya Rupiah tidak seperti yang dikhawatirkan sekumpulan orang bakal semakin terpuruk.

Ditakutkan, kalau Rupiah betul semakin anjlok gegara bom itu, rakyat jadi panik. Kepanikan itu bisa karena takut bakal ada teror bom lagi. Di sisi lain, panik gara-gara Rupiah terjun bebas. Lalu semua harga-harga jadi naik. Kemungkinan terburuknya, bisa terjadi kerusuhan di mana-mana. Akibatnya, negara ini jadi hancur. Ah, jangan sampai itu terjadi. Semoga Tuhan masih menyanyangi negeri ini. Aamiin.

‘’Pokoknya kamu tenang saja. Indonesia dijamin aman. Jakarta aman. Daerah lain juga semoga tetap aman. Kalau Freeport, entah aman apa tidak, bukan urusan saya,’’ ujar Gob meyakinkan Blok agar tidak ketakutan.

‘’Syukurlah kalau Indonesia masih aman. Alhamdulillah kalau Jakarta aman. Semoga daerah lain juga demikian. Yang terpenting, semoga Jakarta selalu aman. Terutama aman bagi urban yang mau mengadu perbaikan nasib seperti kita.’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s