Pangeran Pink

28. Pangeran Pink

KEKOMPAKAN Gob dan Blok sebagai sepasang sahabat memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Bagaimana tidak, malam itu, mereka berdua bertandang ke warung kopi Mbok Nom kompak pakai pakaian serba pink. Padahal, sebelumnya duo pemuda nggak jelas ini seringnya mengenakan klambi serba gelap. Bukan mau sok ala penggemar metal. Tapi kalau baju itu kotor biar nggak kelihatan kotornya.

‘’Ada acara apa ini kalian pink? Valentine masih lama lho, Gob, Blok …’’ tanya Mbok Nom saat mereka memesan kopi.

‘’Ehhm, perkenalkan, nama kami Pangeran Pink, Mbok,’’ jawab mereka kompak sambil berkacak pinggang membusungkan dada.

‘’Tapi kenapa harus pink? Warna itu kan kurang maskulin …’’

‘’Justru itu, Mbok. Tadinya mau pakai biru, tapi sudah terlalu identik dengan partai itu. Apalagi ternyata partai itu sudah punya pangeran,’’ jelas Blok.

Gob menambahkan, ‘’Kalau pangeran biru itu kuat banget, Mbok. Katanya terlibat kasus anu tapi kok belum diperiksa. Makanya, kami nggak mau seperti dia yang kebal segala hal. Kami pengin jadi pangeran yang hidupnya nggak selalu enak. Akhirnya, terpilihlah warna pink sebagai seragam dinas kami berdua. Heuheuheu …’’

Sebetulnya, warna pink ini diinspirasi jilbab Angelina Sondakh saat hadir dalam persidangan pengadilan beberapa hari lalu. Menurut Gob dan Blok, penampilan mantan Putri Indonesia 2001 itu semakin ayu saat memberi kesaksian di hadapan majelis hakim. Aura kecantikan perempuan yang kerap dipanggil Angie itulah yang pengin juga dimiliki Gob dan Blok. Siapa tahu dengan pakai pakaian pink, penampilan mereka bisa lebih menyejukkan bagi mata yang memandang.

‘’Kita jadi semakin lebih ganteng nggak, Mbok?’’ tanya mereka berdua.

‘’Ya kalian saling menilai sendiri lah. Jangan Mbok dong. Mbok bukan orang yang berkompetensi di bidangnya. Mbok bukan Ivan Gunawan yang memberi komentar pada penampilan busana peserta di salah satu ajang pencarian bakat.’’

‘’Kami ini bukan menteri yang bisa menilai kinerja sesamanya, Mbok. Kalau kami saling menilai justru malah jadi nggak betul itu, Mbok. Kami perlu seseorang yang pantas. Ya, siapa lagi di sini yang layak kalau bukan Mbok Nom. Kados pundi, Mbok?’’ tanya mereka berdua berbarengan.

Mbok Nom tak menjawab. Perempuan paro baya itu lalu memberikan sepasang cangkir kopi hitam tanpa gula pesanan mereka.

Kopi itu sebelumnya sudah diaduk Mbok Nom, namun secara tak sadar Blok terus mengaduknya dengan tujuan yang tak jelas. Karena dia melakukan itu sambil melamun. Dia penasaran, nanti setelah Rafael Benitez, kira-kira siapa lagi pelatih klub-klub elit di daratan Eropa yang kena depak pemiliknya.

‘’Blok, ngapain kamu dari tadi ngaduk kopimu? Saking cepatnya kamu ngaduk, itu kopinya sebagian tumpah ke lepek-nya …’’

Blok seketika tersadar dari lamunannya. Dia kaget. Betul kata Gob. Sebagian kopinya berpindah ke alas cangkir minumannya itu.

‘’Kamu tadi ngelamun opo, Blok? Sudah tahu kopinya penuh, kamu ngaduknya cepat sekali. Kamu kayak Lapindo saja yang masih pengin terus-terusan ngebor …’’

‘’Wooo, bukan itu maksudku, Gob. Aku tadi mbayangin kenapa kita nggak pakai baju serba kuning. Paling tidak, warna ini kan lebih netral dibanding pink yang kadung identik sama kaum Hawa …’’

Sambil menghela nafas, Gob memberi penjelasan. Kuning memang lebih netral daripada pink. Tapi kuning juga terlanjur jadi identik sama partai tertentu. Sambil melumat pisang goreng, Gob mengatakan kalau partai itu sampai sekarang masih ruwet. Banyak pihak kepingin menguasai partai yang pernah berkuasa lama di negeri ini.

Dari filosofi asal-asalan itu, Gob emoh pakai kuning. Dia takut predikat sebagai pangeran jadi kacau. Berkaca pada partai itu, Gob nggak mau nanti di antara mereka berdua malah saling ribut. Dia khawatir suatu saat antara Gob dan Blok saling klaim merupakan pangeran kuning. Padahal, justru mereka itu kuat karena berdua. Kalau saling ribut berebut kekuasaan malah melemahkan diri mereka sendiri.

‘’Waaah, penjelasan yang brilian! Aku paham, Gob. Hidup Pangeran Pink!’’ sahut Blok sambil mengacungkan tangannya yang mengepal erat. ‘’Oke. Selanjutnya, langkah pertama kita sebagai Pangeran Pink opo, Gob?’’

‘’Kita geledah satu per satu barang pengunjung warung. Piye?’’

‘’Memangnya salah apa mereka? Kok ujug-ujug tanpa ada surat pemberitahuan sudah main periksa saja? Nggak bisa! Ini melanggar kode etik sesama konsumen!’’

‘’Sudah! Kamu jangan banyak protes! Kalau kamu ini masih mahasiswa, bisa drop-out! Ikuti saja perintahku!’’

‘’Okelah kalau begitu. Tapi sebelum memeriksa pengunjung. Sebaiknya aku memeriksa kamu dulu, Gob.’’

‘’Aku ini sahabatmu, Blok! Kenapa kamu mencurigaiku?’’

‘’Kamu nggak tahu? Ada anggota ISIS yang tega nembak mati ibunya sendiri, Gob. Ibunya sendiri. Manusia yang melahirkannya di dunia. Maka dari itu, siapa saja patut dicurigai. Sini, keluarkan barang-barangmu sekarang!’’

Blok akhirnya menyerahkan dompet dan telepon genggamnya. Cuma itu barang yang dia bawa hari itu. Tapi dia mengingatkan Gob saat memeriksa barang bawaannya tersebut. Dia mewanti-wanti agar jangan sampai ada sesuatu yang hilang.

‘’Tenang, Gob. Aku ini bukan oknum maskapai penerbangan yang kurang ajar nyolong barang bawaan penumpangnya. Barang dan segala isinya, bahkan sampai rahasia di dalamnya aman bersamaku,’’ ujar Gob sambil memeriksa HP dan dompet Blok yang hanya berisi beberapa lembar rupiah.

‘’Puas? Puas?’’ kata Blok ketus setelah Gob selesai melakukan pemeriksaan. ‘’Hadirin sekalian, perkenalkan kami Pangeran Pink. Atas nama superhero, kami mau memeriksa barang-barang bawaan kalian. Dikhawatirkan ada di antara pengunjung yang membawa barang yang membahayakan,’’ Blok berdiri dan memberi pengumuman ke segenap pengunjung warung yang lagi khidmat ngopi.

’No way!’’ ujar salah seorang pengunjung. ‘’Kalau memang pangeran betulan, seharusnya paling tidak yang bicara itu juru bicaranya. Mana juru bicaramu?’’ lanjutnya.

Gob dan Blok saling berpandangan. Mereka kaget dan bingung bukan kepalang mendapati ada pengunjung yang protes dengan cara demikian. Duo pangeran pink diam seribu bahasa tak bisa menjawab tuntutan tersebut.

Tiba-tiba Gob punya ide untuk meladeni pengunjung itu, ‘’Begini, Bos. Juru bicara kami lagi sibuk. Dia lagi konsen mengurus kabar yang mengatakan beliau bakal jadi juru bicara istana. Makanya, malam ini kami melakukan ini sendiri.’’

‘’Prettt!!!’’ sahut pengunjung itu.

‘’Anu, maaf, Bos. Monggo lanjutkan menikmati kopinya. Abaikan saja keberadaan kami. Anggap saja kami tadi tidak bilang apa-apa. Sekali lagi, maaf ya, Bos. Heuheuheu,’’ kata Blok ingin meredam suasana. Para pengunjung sudah terlihat emosi melihat mereka berdua. Kalau tidak segera diredam, bisa runyam masalahnya.

Mendengar ucapan Blok, pengunjung yang mulai tinggi tensinya itu kembali dingin. Mereka kembali larut dalam kopi yang sarat akan filosofi.

Melihat kondisi yang sudah mulai aman, Gob malah cekikian sendiri.

‘’Kamu kok malah cekikikan sih? Kamu nggak lihat gara-gara ulahmu kita hampir dihajar massa?’’

‘’Ya memang itu tujuanku, Blok. Aku memang mau mengerjaimu. Niat menggeledah barang bawaan pengunjung itu mengada-ada belaka. Tidak ada maksud lain selain mengerjaimu …’’ jawab Gob yang memegangi perut sambil menahan ketawa.

Sebagai pemuda yang terkenal sabar, Blok tidak marah dikerjai sahabatnya sendiri. Dia sudah maklum. ‘’Ternyata kami cuma mengerjaiku, Gob.’’

‘’Iya, sorry ya, Blok, aku sudah ngerjain kamu. Bercandaku kelewatan …’’ kata Gob yang masih cekikian.

‘’Heuheuheu. Tenang, Gob. Aku rapopo. Tapi kok malah jadi mirip nama kabinet kita ya,’’ celetuk Blok.

‘’Maksudmu piye?’’ Gob seketika berhenti tertawa.

‘’Iya, mandat presiden kepada kita kan kerja kerja kerja. Kabinetnya juga dinamakan Kabinet Kerja. Pokoknya semuanya bekerja.’’

‘’Iyo, terus?’’ tanya Gob semakin penasaran.

‘’Pasti ada saja yang ngerjain kinerja Kabinet Kerja. Contohnya sekarang ini, santer kabar bakal ada menteri yang di-reshuffle …’’

‘’Memangnya siapa yang mengusik?’’

‘’Anu, lha nggih niku, pokoknya Kabinet Kerja lagi dikerjain …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s