Kecebong

Kecebong

TAHUN baru ditandai dengan mulai menjamurnya durian yang dijual di beberapa jalanan sepanjang kota. Banyak manusia cerdik melirik peluang ini. Mereka menjual buah berkulit duri itu karena memang sedang musimnya.

Namun kecerdikan itu kali ini tidak tersemat dalam diri Gob dan Blok. Dua pemuda nggak jelas ini tak mau latah berjualan durian. Gob sebetulnya pengin ikut arus utama seperti orang-orang pada umumnya. Tapi sahabatnya, Blok, ogah-ogahan.

Di warung Mbok Nom, Gob masih berusaha membujuk Blok agar mau jualan durian. Gob tak bisa bekerja sendirian, makanya dia butuh teman untuk membantunya dagang durian.

‘’Kamu mentang-mentang BBM mau turun jadi malas-malasan begitu?’’

‘’Ini nggak ada hubungannya, Gob! Aku tuh nggak bisa kalau jualan durian.’’

‘’Lha nyapo? Orang lain saja bisa, mosok kamu nggak?’’

‘’Aku bakal rugi besar. Durian yang kujual pasti sudah habis tak pangan sebelum dibeli orang. Masalah menunggu pekerjaan yang layak aku masih bisa menahan sabar. Masalah menahan nggak makan seharian aku juga oke. Tapi kalau sudah di hadapan durian, aku bagai budak sahaya yang rela diinjak telapak raja …’’

‘’Waaah, bahaya kalau begitu. Yo wis, ora sido dodolan duren. Tapi kita harus tetap bergerak, Blok. Biar ada pemasukan …’’

‘’Bagaimana kalau kita jualan martabak saja. Musim penghujan ini pasti enak menyantap martabak yang hangat,’’ ujar Blok sambil

‘’Kamu mau ikut-ikutan anak presiden jualan martabak? Kamu mau menyaingi mereka yang akhir-akhir ini jadi pusat pembicaraan di jagad internet?’’

‘’Martabakku beda, Gob …’’

‘’Beda di bagian mana? Kamu mau bikin martabak rasa kecebong?’’

‘’Huss! Ngawur kamu, Gob! Aku mau bikin martabak calon mertua. Martabak ini cocok untuk buah tangan saat apel ke rumah pacar. Martabak ini pasti digandrungi orangtua sang pacar …’’

‘’Hmmm, boleh juga idemu. Lalu mau kamu isi opo martabakmu?’’

‘’Lha nggih niku, aku belum kepikiran. Heuheuheuheu …’’

Blok yang sudah semangat tiada tara mendengar ide cemerlang itu tiba-tiba lemas lagi. Otaknya memang mesti diperas lebih keras lagi biar nemu formula sempurna agar tetap berpenghasilan. Dia harus selalu siaga satu menghadapi tahun yang kian berat. Sama siaganya militer Amerika yang katanya sudah berada di tanah Papua.

‘’Kita mesti gerak cepat, Gob. Semakin ke sini harga-harga makin mencekik. Kalau masih saja mengandalkan pendapatan serabutan, bisa-bisa kita disikat zaman.’’

‘’Don’t worry, Blok. Negara ini buktinya masih terasa santai-santai saja, padahal katanya hutangnya melebihi pinjaman masa Orde Baru.’’

‘’Maka dari itu, kita mesti berbenah. Seperti orang-orang itu lho, punya resolusi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.’’

‘’Halah, mbelgedes!!

‘’Maksudmu gimana?’’

Blok terkadang merasa geli. Setiap tahun berganti, mendengar kebanyakan orang merancang resolusi untuk menjadi manusia yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Menurutnya, itu terlalu ndakik-ndakik.

Ibarat pepatah ‘Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan nampak jelas’, ya begitulah mereka. Hura-hura merayakan baru dengan segenap harapan tinggi. Bergemuruh menggelegar di langit. Tak peduli pada orang-orang yang tidak terlalu antusias merayakan pergantian tahun.  Jor-joran meniup terompet dan menyalakan mercon.

‘’Padahal siapa tahu terompet itu terbuat dari sampul Al Quran, ya?’’ timpal Gob.

‘’Sssst, aku belum selesai ngomong. Jangan dipotong, dong …’’ jawab Blok ketus.

Begitu detak detik mengganti tahun, doa itu dipanjatkan. Harapan agar segalanya menjadi lebih baik. Setelah itu, pulang ke rumah masing-masing. Namun mereka meninggalkan sesuatu yang kecil dan kalau banyak bisa merepotkan. Apa lagi kalau bukan sampah.

Hampir bisa ditemui di titik-titik perayaan pergantian tahun sampah pasti berserakan di mana-mana. Ingin menjadi manusia lebih baik dari mana kalau masalah sampah saja mereka khilaf. Ah, tapi masalah menjadikan menusia lebih baik itu urusan mudah bagi Tuhan. Mau dia lupa pada sampahnya atau tidak, tanpa menghadapi kesulitan berarti, Tuhan bisa mengubahnya menjadi umat yang lebih baik.

‘’Berarti itu hak prerogatif Tuhan, kan. Ngapain jadi sok peduli begitu? Ada sampah atau tidak, nggak ada pengaruh banyak pada perubahan menusia jadi lebih baik.’’

‘’Iya, sorry, aku kepalang emosi soalnya, Gob …’’

‘’Sekarang yang terpenting, bagaimana caranya kita agar lebih kuat bertahan hidup. Kita ini lagi menghadapi MEA alias Masyarakat Ekonomi Asean lho, Blok. Nggak ada lagi kata santai di kamus kehidupan kita. Kita harus kerja kerja kerja! Tapi kerja opo?’’

‘’Ternak kecebong saja,’’ celetuk Blok.

‘’Kamu ini dari tadi kecebong melulu …’’

‘’Ini ide cemerlang lho, Gob. Kecebong adalah kunci!’’

‘’Halah embuh!’’

‘’Dengarkan penjelasanku dulu dong. Sekarang ini zamannya anti-mainstream. padahal anti arus utama itu juga sudah bisa dibilang menjadi mainstream. ’’

Umumnya, orang-orang menyukai binatang. Apalagi binatang yang bisa bersuara. Terlebih jika suaranya merdu. Seperti anjing dengan gonggongannya, kucing dengan ngeongnya, ayam jago dengan kokoknya, dan lain-lain.

Dari sana, Blok berpikir anti-mainstream. Dia nggak mau seperti orang-orang yang memelihara hewan yang sudah umum itu. Blok mau beternak kecebong. Nanti kalau sudah besar, mereka bisa jadi katak. Jangan salah, dengkang katak tak kalah merdu dengan bunyi-bunyian hewan peliharaan arus utama.

‘’Apalagi sekarang ini mulai masuk musim penghujan. Waaah, pasti banyak katak yang saling bersahutan saat malam hari. Dan dengkang mereka itu sering bikin bulu kudukku berdiri lho, Gob …’’ jelas Blok.

‘’Hmmm …’’ ucap Gob sudah nampak malas menanggapi ide Blok yang nggak masuk akal itu.

‘’Katak itu banyak gunanya lho, Gob. Keberadaan mereka di sekitar rumah bisa membasmi nyamuk yang menjadi santapan favoritnya. Pemiliknya nggak perlu repot-repot merawat seperti kucing atau anjing dengan segala tetek bengeknya. Pokoknya, katak bisa jadi pilihan alternatif selain hewan peliharaan lainnya. Piye?’’

Gob manggut-manggut. Dia mulai termakan rayuan Blok. Di sisi lain, Gob membayangkan kalau hal itu betul terjadi. Ada kemungkinan pabrik obat nyamuk gulung tikar. Mereka tidak lagi laku karena posisinya sudah diganti oleh keberadaan katak. Pasti ada demonstrasi besar-besaran dari buruh pabrik obat nyamuk yang bangkrut tadi. Mereka mendesak dan menuntut government agar menyediakan lapangan kerja bagi para buruh.

Bahkan, bukan tak mungkin suatu saat katak juga melakukan tuntutan dan desakan. Mereka meminta agar kehidupannya lebih diperhatikan. Jangan hanya makan nyamuk setiap hari. kalau perlu, mereka bisa menuntut agar makanan pokok mereka diganti dari nyamuk menjadi martabak.

‘’Khalayanmu kejauhan, Gob.’’

‘’Idemu tentang katak yang jadi hewan peliharaan itu malah lebih kejauhan lagi, Blok.’’

‘’Lha nggih niku. Kita memang harus berpikir jauh ke depan, Gob. Nanti kalau kecebong itu sudah jadi katak dewasa dan laris manis dijual di pasaran, bisa-bisa popularitasnya meroket melebihi tokoh-tokoh daerah yang dari sekarang sudah nampak mulai dinasionalkan.’’

‘’Maksumu gimana?’’

‘’Hmmm, bisa saja katak itu nanti dicalonkan bertarung di pemilihan presiden periode mendatang. Waah, pemilu 2019 nanti dijamin bakal ngeri-ngeri sedap kalau katak-katak ini mencalonkan diri maju berebut kursi orang nomor satu di negeri ini …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s