Saya dan Kehidupanku

HAMPIR semua mimpi mustahil diingat secara rinci ketika mata terjaga lagi. Tak demikian halnya mimpiku bersama Saya. Selalu kuingat setiap kata yang terucap dari bibirnya. Memoriku menyimpan apik kelopak demi kelopak bunga tidur bersamanya setiap malam.

Saya seorang tua yang kesulitan menyeberang jalan. Kuamati lama sekali Saya mematung di pinggir jalan. Padahal jalan sedang sepi. Tak satu pun kendaraan yang melintas selain daun kering tertiup angin. Saya hanya menoleh ke kanan dan kiri. Kemudian mematung kembali. Begitu seterusnya sampai kokok ayam menggugurkan bunga tidur ini.

Pada suatu malam berikutnya, masih kulihat Saya yang belum juga menyeberang. Aku heran mengapa sepi jalan masih saja menakutkan Saya. Mengapa berat kakinya begitu kaku melangkah sampai seberang. Saya duduk bersila sambil tengok kanan dan ke kiri. Kemudian duduk mematung kembali dengan sorot mata kosong. Begitu seterusnya sampai basah keringat membangunkanku.

Begitu seterusnya sampai sinar matahari menembus tirai jendela kamarku. Begitu seterusnya hingga gemuruh klakson kendaraan menerobos dinding kamarku.

Tidak terlihat ada apa-apa di seberang. Tak ada nyanyian burung dari balik ruang gelap itu. Tak tampak  pula hijau padi terpanggang matahari. Hanya hitamnya misteri selimuti sisi seberang jalan itu. Kabut pekat yang senantiasa memanggil Saya untuk menghampirinya. Namun semakin Saya ingin menyeberang, semakin tak kuasa berjalan walau sejengkal tanah sekali pun . Seakan ada yang menghalangi sekaligus menghentikan Saya untuk sama sekali tak bergerak.

Dalam mimpi yang kesekian kali, kuhampiri Saya. Rasa iba menuntun keinginanku untuk membantunya menyeberang. Saat aku sudah berdiri di sampingnya, Saya hanya melirik sedetik. Kemudian kembali menatap seberang jalan yang gelap. ‘’Apa kau lupa? Namaku Saya.’’

Aku terkejut. Lalu kubolak-balik lembar demi lembar ingatanku. Aku ingin tahu apa pernah mengenal seorang tua bernama Saya. Dengan segenap keyakinan, sudah kupastikan tak ada nama Saya dalam daftar itu. Bahkan di alam mana pun dalam kehidupanku, tak pernah walau hanya sekali melihatnya.

Ketepuk pundak Saya. Kuutarakan keinginan menolongnya menyeberang. Tatapan yang selama ini kosong berubah kala melihatku yang masih berdiri di sampingnya. Sorot kedua mata Saya begitu tajam menyala. Raut muka pasrah berganti garang. Kurasakan emosi yang begitu panas dari tubuh tuanya.

Saya mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kemudian Saya berbisik dengan suaranya yang parau, ‘’Mengapa kamu masih di sini?’’ []

Jakarta, 7 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s