Mesin Liburan

Mesin Liburan

NEGARA ini memang tak pernah kehabisan stok nama-nama musim. Belum juga musim penghujan benar-benar serius datang, di sini justru mulai musim liburan. Musim saat kebanyakan manusia bisa atau boleh sejenak rehat dari segala aktivitas keseharian. Biasanya waktu yang dari dulu sampai sekarang berjumlah 24 jam ini habis untuk pergi ke tempat yang ampuh menyegarkan badan serta pikiran.

Momen ini memang layak disebut musim liburan karena waktuynya tepat. Tepat untuk pelajar yang sudah setahun penuh mereguk ilmu. Tepat untuk pegawai yang selama hari kerja memeras keringat. Tepat juga dimanfaatkan sebagai momen merenung. Merenungi oksigen yang selama ini dihirup apa memang berguna untuk tetap membuat kita masih hidup sampai sekarang.

Di saat kebanyakan orang-orang menyusun rencana menghabiskan libur akhir tahun, Gob malah sibuk mencatat. Pemuda nggak jelas aktivitasnya ini mencatat satu demi satu hal baik dan buruk yang dilakukan sepanjang tahun ini. Tak tanggung-tanggung, catatan Gob sudah mencapai hampir separo buku tulisnya.

Sambil menikmati jalanan kota yang mulai lengang, Gob semakin asyik mencatat. Dia lalu membayangkan alangkah lebih nikmatnya jika kota yang menyepi ini dinikmati dengan secangkir kopi. Baru mau mulai beranjak, dia dikagetkan dengan kedatangan sosok pemuda yang sama nggak jelasnya dengan dirinya. Siapa lagi kalau bukan Blok.

‘’Ngapain kamu di dalam kontrakan melulu? Ayo kita ngopi …’’ ajak Blok.

‘’Baru aku mau ke Mbok Nom, kamu sudah muncul di sini. Yo wis, let’s go …’’

Mereka berdua menyusuri jalanan kota yang kali ini terasa segar karena jarangnya kendaraan berasap yang melintas. Sepeda motor keluaran lama milik Blok terasa begitu romantis melibas jalanan yang kanan kirinya tercengkeram gedung-gedung tinggi menusuk langit. Macet yang biasa terjadi sepertinya mulai beralih ke tempat wisata maupun kampung halaman.

Namun sayang, niat tulus untuk menghirup kopi terpaksa terhenti. Warung kopi Mbok Nom yang biasa mereka sambangi hari itu sedang tidak beroperasi. Dengan mimik wajah penuh kecewa, sepasang sahabat karib ini membaca dengan saksama pengumuman yang ditempel di pintu warung.

‘’Hmmmm, di sini tertulis: ‘’Maaf, untuk kepentingan pembukuan keuangan tutup tahun, kami segenap keluarga besar warung kopi Mbok Nom tidak bisa beroperasi sebagaimana biasanya.’’ Yaaah, kok kemarin-kemarin Mbok Nom nggak bilang ke kita ya, Gob.’’

‘’Iya. Seharusnya beliau kan ngasih tahu. Kita ini kan pelanggan paling setia di antara kesetiaan aparat keamanan yang berjaga-jaga kalau ada aksi teror. Katanya sama-sama menjunjung tinggi kerukunan dan toleransi antar-umat beragama. Tapi setiap ada perayaan hari besar agama tertentu, selalu ada kabar tempat ibadahnya diberi pengamanan ekstra,’’ sahut Gob.

‘’Eh sebentar … Tapi di sini tertulis: ‘’Pengumuman ini berlaku sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Terima kasih. TTD Manajemen Warung.’’ Kita juga nggak tahu sampai kapan Mbok Nom bisa jualan lagi. Di situ kadang saya merasa sedih …’’ ratap Blok.

Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Gob dan Blok duduk di depan warung Mbok Nom. Apa yang mereka bayangkan tentang nikmat kopi yang ngeri-ngeri sedap berubah menjadi 180 derajat. Jalanan sepi yang seharusnya mereka nikmati bersama kopi terasa semakin terasa sepi. Kesepian ini bikin dua pemuda serabutan itu merenungi nasib yang menaungi kehidupan mereka selama setahun ke belakang.

‘’Gob, selama setahun ini kamu ngapain saja?’’

‘’Setelah tak pikir-pikir, aku sendiri yo bingung, Blok. Selama ini apa saja yang aku lakukan. Ternyata masih banyak hal buruk yang selama ini aku lakukan.’’

‘’Apa saja contohnya, Gob. Ayo kita sharing. Biar kita merenung berjamaah. Katanya setiap ada kata berjamaah, pahala yang didapat selalu berlipat. Bahkan perbuatan seperti korupsi kalau dilakukan secara besama-sama juga mendapat untung yang banyak bagi si pelaku.’’

‘’Aku nggak mau, Blok. Bukannya pelit. Aku nggak mau menceritakan keburukanku. Ini aib. Sebaiknya diurus sendiri-sendiri saja. Nanti kalau diceritakan malah jadi menyebar. Aku nggak mau itu terjadi …’’

Sambil manggut-manggut tanda mengerti, Blok berujar, ‘’Okelah kalau begitu. Lalu resolusimu buat tahun depan opo, Gob?’’

Itu dia masalahnya. Gob nggak punya resolusi pasti tentang kehidupannya tahun depan. Selama masa perenungan yang panjang, resolusi dari tahun ke tahun selalu gagal. Resolusi mulai dari yang terkesan biasa saja sampai yang tinggi sekali pun tetap saja gagal tidak tercapai. Dari situ Gob terkadang mulai putus asa untuk bikin resolusi seperti yang ditayangkan di televisi.

‘’Di ujung renungan, ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal rasa penasaran. Apa aku ini benar-benar layak untuk masih hidup ya?’’ ucap Gob sambil memandang bintang yang bergelimang di langit.

‘’Mendengar pertanyaanmu, aku jadi ingat Pep Guardiola yang belum juga buka suara musim depan dia mau melatih klub mana …’’

‘’Aku lagi bicara serius kowe malah ngomongin bola. Piye to kowe iki?’’

‘’Iya, sorry sorry. Aku ikut terbawa suasana dan penasaran nasib pelatih ber-KTP Spanyol itu. Soalnya dia jadi rebutan klub-klub kaya raya terutama dari daratan Inggris.’’

‘’Blok, please deh. Aku sudah mulai kzl nih. Aku lagi ciyus, eh serius!’’

‘’Santai, Gob. Ingat kata Rhoma Irama, yok kita santai agar syaraf tidak tegang,’’ sahut Blok menirukan gaya bernyanyi Raja Dangdut tersebut. ‘’Hidup ini kan juga perlu hiburan. Jangan serius melulu dong, Gob.’’

‘’Hiburan memang perlu, tapi itu semua ada waktunya sendiri-sendiri, Blok.’’

‘’Betul! Aku yes! Tapi waktu itu yang menentukan seharusnya juga kita sendiri, Gob! Jangan orang lain yang menentukan kapan kita bisa serius dan kapan kita bisa guyon!’’ ujar Blok meninggikan nada suaranya sedikit.

Katanya, hidup manusia ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan mesin. Ada kalanya mesin mesti bekerja. Tak jarang juga dia dipaksa bekerja lebih keras agar kemauan manusia cepat terlaksana. Ada waktunya juga mesin untuk beristirahat. Sudah ada jadwalnya mesin perlu diganti oli, diberi bahan bakar, dirawat sedemikian agar awet, dan sebagainya.

Musim liburan ini memberi Blok inspirasi tentang pendapatnya ini. Liburan akhir tahun yang sering digunakan para pegawai untuk ambil cuti panjang. Waktu yang cocok untuk beristirahat. Menghindar barang sebentar dari lelahnya menanggung beban pekerjaan. Itu pun kalau sebuah pekerjaan dianggap beban. Kalau dianggap sebagai sarana rekreasi atau pekerjaan yang menyenangkan, itu lain cerita.

‘’Lagi pula buat apa kita berlibur?’’ tanya Blok.

‘’Ya buat refreshing! Kalau di komputer itu kita cukup pencet F5.’’

‘’Keliru! Kalau suatu pekerjaan membuat kita segar, buat apa kita perlu refreshing dengan berlibur di akhir pekan atau di musim liburan! Seburuk-buruk aktivitas kita sehari-hari, sebisa mungkin kita mesti menikmati itu. Agar apa? Agar syaraf tidak tegang! TER-LA-LU …’’

Belum selesai Blok berorasi, tiba-tiba dia mendengar suara yang menyejukkan. Suara itu tentu saja bukan berasal dari Gob, sahabatnya.

‘’Kalian ini teriak-teriak di depan warung, nanti kalau disangka orang gila gimana? Nanti nggak ada lagi pelanggan sesetia kalian di warung Mbok …’’

‘’Waaah, Mbok Nom kok ada di sini?’’ tanya Gob dan Blok bersamaan.

‘’Mbok habis ngurus pembukuan keuangan warung. Biar disangka warung profesional begitu. Padahal mah biasa saja. Hari ini Mbok mau memeriksa apa-apa yang kurang, besok mau belanja. Heuheuheu …’’

‘’Lalu kapan Mbok Nom buka lagi warungnya?’’

Dengan senyum yang tulus dan menyejukkan, Mbok Nom menjawab, ‘’Tenang, besok Mbok sudah mulai jualan lagi …’’

‘’Yesss!!! Kita bisa ngutang lagi!!!’’ ujar mereka berdua.

Mbok Nom tak berkomentar apa-apa. Dia cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat dua pelanggan setia warungnya itu. []

*Bandung, 26 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s