Papa Nggak Papa

Papa Nggak Papa

STOK bahan dagangan Mbok Nom terlihat lebih melimpah dari biasanya. Sejumlah kardus berisi kopi, teh, susu, gula, garam, tepung, minyak goreng, mie instan, dan lainnya terlihat sampai luar dapur. Padahal, sejak pertama warung buka tak pernah terlihat satu pun bahan dagangan Mbok Nom itu nongol sampai ke luar dapur. Di luar dapur saja kardusnya sudah menumpuk, bagaimana dengan yang di dalam.

Ternyata pasokan sembako itu merupakan berkah Pilkada yang digelar serentak di sejumlah daerah di negeri ini. Terhitung beberapa sebelum hari pencoblosan digelar, setiap pagi selalu ditemui kardus sembako di depan warung Mbok Nom. Sayang, berkah itu tak berlangsung lama. Mbok Nom menerima sembako terakhir tepat saat Pilkada digelar.

‘’Waaah, coba kalau serangan fajar itu berlangsung terus-menerus …’’ kata Gob yang ikut membantu merapikan kardus-kardus sembako tersebut.

‘’Ini kan jurus dari kandidat kepala daerah biar nanti terpilih,’’ sahut Blok yang juga ikut membantu tapi hanya mengangkut yang bebannya ringan.

‘’Fajar itu setiap hari terbit lho, Blok. Kalau memang namanya serangan fajar, seharusnya ya setiap hari ngasih dong!’’

Blok tak mengomentari sahabatnya itu. Dia melanjutkan pekerjaannya membantu membereskan kardus biar cepat selesai. Biar dia bisa ngopi dengan khidmat sambil mendengarkan klakson kendaraan bermotor yang semakin hari semakin bising. Maklum, letak warung Mbok Nom memang berada di jalur ramai. Wajar kalau intensitas kendaraan yang melintas di sana banyak.

‘’Kalian ini ngomong apa to, Nak Gob, Nak Blok,’’ ujar Mbok Nom yang terlihat menghitung sembako yang masuk ke warungnya.

‘’Mosok kata Gob, bagi-bagi sembako ini harus setiap hari. Yang namanya serangan fajar kan berakhir saat pilihan berlangsung. Nggih to, Mbok?’’ ucap Blok.

‘’Lho, sebentar sebentar. Jadi kalian mengira sembako ini dari kandidat Pilkada itu?’’

‘’Kalau bukan mereka siapa lagi, Mbok? Kalau tidak sekarang, kapan lagi ada hal semacam ini?’’ sahut Gob dan Blok bebarengan.

Mbok Nom geleng-geleng kepala sambil tersenyum. ‘’Ini bukan dari mereka …’’

‘’Kok bisa? Mbok, tahu dari mana?’’ sahut Gob dan Blok masih bebarengan.

‘’Di dalam kardus itu ada amplopnya …’’

‘’Nah, itu dia! Pasti isinya uang dan ada secarik tulisan untuk memilih si anu, kan?’’ potong Gob dan Blok.

‘’Kalian ini piye sih, Mbok belum selesai bicara kalian potong. Isinya memang ada uang dan ada tulisan di kertas …’’

‘’Apa saya bilang, Mbok. Pasti …’’

‘’Huss!’’ Mbok Nom balik memotong kata-kata Gob dan Blok. ‘’Di kertas itu tulisannya begini: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.’’

‘’Itu kan sila keempat Pancasila, Mbok.’’

Maka dari itu, kecil kemungkinan pasokan sembako itu berasal dari para kandidat kepala daerah. Tak ada yang tahu maupun memberi tahu Mbok Nom siapa yang ngasih sembako itu. Tidak ada pula yang mengaku bertanggung jawab atas pemberian sembako secara cuma-cuma tersebut.

Mbok Nom tak mau ambil pusing memikirkan siapa yang begitu dermawan melakukan kebaikan tersebut. Perempuan paro baya itu menganggapnya sebagai durian runtuh. Sembako dan uang itu dia terima secara iklhas. Lumayan, Mbok Nom tidak perlu pusing memikirkan anggaran belanja warungnya untuk beberapa hari ke depan.

Tak terasa, sembako itu sudah rapi sebagaimana mestinya. Tak ada lagi kardus yang menumpuk di luar dapur. Semuanya sudah tersimpan rapi di dapur. Sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu, Gob dan Blok dipersilakan makan dan ngopi sepuasnya hari itu. Tentu saja dua pemuda nggak jelas itu girang bukan kepalang.

‘’Hmmm, kopi ini enak sekali, Gob …’’

‘’Yoi …’’ sahut Gob sambil menghirup kopi yang masih panas itu. ‘’Ngomong-ngomong serangan fajar, kamu dapat apa?’’

‘’Dapat duit, Gob.’’

‘’Wah, Alhamdulillah ya. Pilkada memang pesta rakyat. Rakyat yang miskin kayak kita juga dikasih duit biar bisa ikut merayakan pesta dengan caranya masing-masing. Kamu dapat berapa?’’

‘’Weeiits, ya rahasia dong! Pilkada itu kan sifatnya rahasia. Isi serangan fajar pun layak dirahasiakan. Nggak ada yang boleh tahu.’’

‘’Tapi kandidat kepala daerah yang ngasih itu apa kamu coblos?’’

‘’Iya dong, Gob! Aku ini orangnya menganut paham keadilanisme. Nggak cuma dia saja, biar adil kabeh tak coblos!’’

Gob geleng-geleng kepala dan memilih untuk tidak melanjutkan obrolan terkait Pilkada.

Malam itu jalanan masih ramai seperti biasanya. Mendung tiba-tiba datang sehingga menghalangi bintang yang menghiasi angkasa. Tak selang lama, hujan langsung turun. Air yang jatuh dari langit itu nyatanya membawa berkah bagi warung Mbok Nom. Terbukti, para pengguna jalan raya mampir ngiyup, ngopi, dan makan di sana.

‘’Waah, langit pasti sedang sedih ini, Blok …’’

‘’Sedih gara-gara opo to Gob? Kamu ini ada-ada saja. Sedih karena Manchester United nggak lolos fase grup Liga Champions? Sedih karena sidang Setya Novanto di MKD digelar tertutup?’’

‘’Sidang MKD itu justru biarkan tertutup saja! Dari dua sidang sebelumnya yang digelar secara open, kita sudah tahu ujung kasus itu seperti apa …’’

‘’Kamu ini gimana to, Gob? Rakyat berhak tahu!’’

‘’Betul, rakyat memang berhak tahu. Tapi menurutku nonton sidang itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Ada saja pertanyaan-pertanyaan yang nggak nyambung. Itu bikin emosi! Mending nonton drama serial impor dari Turki atau India sekalian. Kita nggak akan emosi-emosi banget karena tahu itu cuma akting.’’

‘’Tapi kan …’’

‘’Sudah sudah , jangan mbahas itu lagi. Aku jadi ikut-ikutan sedih seperti langit malam ini …’’ potong Gob.

Dalam benak Gob, hujan bisa juga menandakan alam yang ikut bersedih. Entah sedih karena apa yang disebutkan Blok barusan. Entah pula karena kecelakaan antara KRL dengan MetroMini yang memakan tak sedikit korban jiwa. Entah pula karena pebisnis M. Riza Chalid keburu ngacir ke luar negeri yang bikin MKD semakin kewalahan menangani kasus ‘Papa Minta Saham’ itu. Entah pula sedih karena melihat betapa emosinya presiden Jokowi mengomentari pencatutan namanya oleh ketua DPR tersebut.

Bisa juga langit sedih karena masih saja ada kandidat yang nggak mau sportif mengakui kekalahannya. Meski masih versi quick count, calon kepala daerah gagal itu siap menggugat. Langit ikut sedih karena dimungkinkan ada calon kepala daerah yang gagal itu nggak kuat mental. Kemudian jiwa mereka terganggu sehingga menjadi gila. Atau bisa juga pura-pura gila biar lolos dari jeratan hutang buat macung jadi kepala daerah.

‘’Eh, ngomong-ngomong kamu nyoblos kandidat yang bagi-bagi rezeki dadakan itu nggak?’’ tanya Gob yang menghirup kopinya yang sudah mulai dingin.

‘’No way …’’ jawab Blok pendek.

‘’Kenapa? Coba bayangkan, belum jadi kepala daerah saja sudah dermawan begitu. Apalagi nanti kalau sudah resmi jadi kepala daerah, pasti makin sering bagi-bagi sembako dan duit.’’

‘’Rezeki itu harus kita hormati, Gob! Tetapi … tapi … tidak boleh yang namanya rakyat itu dipermain-mainkan. Saya nggak papa dibilang rakyat bodoh, rakyat nggak berpendidikan, nggak papa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa, seberapa besar uang yang dikasih nggak bakal mampu beli rakyat! Cukup …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s