Kopi Gebrak

Kopi Gebrak

WARUNG Mbok Nom lagi siaga satu. Beliau ketar-ketir lapak jualannya yang berdiri nyaman ini ujug-ujug ditubruk mobil mewah. Perempuan paro baya ini nggak mau nasib warung yang menjadi lahannya mengais rezeki diporak-porandakan Lamborghini.

Maka dari itu, di sekeliling dinding warung sederhana itu, Mbok Nom memasang berbagai tulisan dengan warna-warni yang mencolok pandangan. Di antaranya ‘’NGEBUT BENJUT’’, ‘’PELAN-PELAN, BANYAK ANAK KECIL’’, ‘’TIDAK TERIMA KASBON’’, dan lain sebagainya. Langkah preventif ini dipercaya ampuh membuat pengemudi kendaraan waspada.

‘’Interupsi, Yang Mulia! Interupsi, Yang Mulia! Nggak sekalian dipasangi CCTV, Mbok?’’ tanya Blok yang begitu tertarik dengan desain warna-warni warung.

‘’Kamera pengintai itu nggak bisa mencegah, Nak Blok. Cuma bisa merekam …’’

‘’Justru rekaman itu yang bisa jadi bukti, Mbok,’’ sahut Blok lagi.

‘’Bukti opo, Nak Blok?’’

‘’Yaaaa kalau sampai ada yang nabrak, paling tidak Mbok kan ada bukti rekaman CCTV bahwa si pengemudi anu nubruk warung. Pengemudi itu melanggar kode etik lho, Mbok.’’

‘’Halah, Nak Blok ini bisa saja. Mosok pengemudi juga punya kode etik segala.’’

‘’Aku ciyus, Mbok. Memang ada.’’

Dengan tubuh yang mengantuk karena habis keliling KPUD untuk menghitung jumlah surat suara yang rusak, Blok menjelaskan sedikit kode etik dalam berkendara. Menurut pemuda serabutan itu, jalan raya itu bagaikan proyek. Kalau semua dapat jatah jalan yang adil, maka jadi enak karena semuanya dapat jatah yang sama.

Keadaan yang berbeda bakal terjadi jika ada jalan yang baru, mulus, dan lurus seperti jalan tol. Pengendara yang punya sifat keserakahan yang tinggi, apalagi mereka yang berpengaruh dan menaiki mobil mewah, merasa ingin menguasai jalan itu. Caranya ya kebut-kebutan. Kalau sudah terjadi, pembagian saham jalan raya tak seimbang.

Di sini kode etik sesama pengendara dilanggar. Akibat pelanggaran itu pun berbahaya. Bisa-bisa warung yang tak bersalah bisa menjadi korban sasaran laju cepat mobil keserahakan yang tak terkendali.

‘’Hmmmm, meski Mbok nggak mudeng, omonganmu ada betulnya juga, Nak Blok. Yo wis, sana temani sahabatmu. Dia dari tadi diam saja lho di sana. Kasihan nggak kamu ajak ngobrol. Mbok juga mau melanjutkan pekerjaan. Ini lagi banyak pesanan.’’

‘’Oke, Mbok …’’

Di sudut warung. dari tadi Gob terlihat serius menghitung ruas-ruas di jemarinya seperti orang yang sedang berzikir. Mungkin dia berdoa agar secara tiba-tiba dirinya memegang saham Freeport. Dia berdoa sekaligus menghitung berapa pundi-pundi rupiah atau dollar Amerika yang masuk kantongnya jika itu terjadi betulan.

‘’Hei, kamu dari tadi kok diem melulu?’’  tanya Blok.

‘’Ini lho, Blok, aku lagi ngitung kira-kira berapa kali orang lain menyebut namaku dalam pembicaraan mereka.’’

‘’Heuheuheu, buat apa orang lain nyebut namamu, ha? Kamu itu bukan orang sakti seperti tokoh Bento di lagunya Bang Iwan Fals! Orang-orang banyak yang nyebut namanya buat berguru kesaktian!’’

‘’Aku ini juga sakti lho, Blok! Jangan salah kamu!’’ Gob sedikit menaikkan nada bicaranya, tapi tak sampai menggebrak meja.

‘’Preetttt!! Kamu itu kalau bicara mbok yo yang agak realistis. Omonganmu soal kesaktian itu menurutku kok jauh lebih nggak realistis ketimbang janji para calon kepala daerah yang mau bertarung di panggung pilkada ya,’’ jawab Blok nggak percaya pada omongan sahabatnya itu.

BRAAKKK!!

Tiba-tiba terdengar bunyi mengagetkan. Sumber suara menggelegar itu berasal dari dalam dapur. Orang-orang yang peduli dan penasaran langsung bergerak cepat menuju dapur. Mereka takut terjadi apa-apa di dalam warung kopi yang sudah menampung ribuan harapan orang-orang untuk tetap hidup tersebut.

Gob dan Blok yang penasaran juga ikut mencari tahu apa yang terjadi di dalam dapur. Mereka khawatir terjadi apa-apa pada Mbok Nom. Mereka khawatir apa yang ditakutkan Mbok Nom terjadi betulan. Warungnya secara tiba-tiba ditabrak mobil mewah. Ah, pikiran Gob dan Blok sudah nggak karuan. Mereka juga takut Mbok Nom jadi korban penembakan seperti yang terjadi di San Bernardino, California, Amerika sana.

Ternyata kondisi dapur tak seperti yang dibayangkan orang-orang. Tidak ada tanda-tanda warung ini habis ditubruk Lamborghini apalagi Jaguar. Kondisinya juga rapi. Tidak berantakan seperti habis kena berondongan tembakan senjata api. Orang-orang, termasuk Gob dan Blok, bersyukur kondisi Mbok Nom biasa-biasa saja.

‘’Tadi ada apa, Mbok?’’  tanya orang-orang yang masih penasaran.

‘’Heuheuheuheu… Ini lho, Mbok lagi bikin inovasi baru, namanya kopi gebrak.’’

‘’Apa itu, Mbok?’’ tanya mereka lagi.

‘’Makanan berbau gebrak seperti Soto gebrak kan sudah ada. Bahkan yang gebrak meja saat rapat, eh sidang, eh sidang atau rapat sih? Ah, embuh. Mbok juga pengin bikin gebrakan baru. Mbok namakan kopi gebrak.’’

‘’Apanya yang digebrak, Mbok?’’ tanya mereka kompak.

‘’Heuheuheuheu … Mbok tadi nggebrak cangkir kopi. Maksudnya sebagai penanda kopi pesanan pelanggan sudah siap disajikan. Tapi saking semangatnya cangkirnya jadi pecah. Suaranya juga jadi keras sekali.’’

‘’Tapi Mbok nggak apa-apa, kan?’’

‘’Iya, semua aman terkendali.’’

Melihat kondisi orang nomor satu di warung itu, para pelanggan setia itu kembali ke meja masing-masing.

‘’Ada-ada saja ya Mbok Nom itu,’’ ucap Blok begitu dia duduk.

‘’Ya namanya juga hidup, Blok. Harus diada-adakan biar ada betulan.’’

‘’Aku jadi pengin segera menyebarkan keunikan warung Mbok Nom ini dengan nama warung yang unik, kopi gebrak.’’

‘’Ojo!!!’’ Gob langsung menyahut keras.

‘’Suka-suka gue dong! Bodo amat!’’

‘’Huss!!’’

Gob justru tak mau kabar keunikan warung Mbok Nom ini disebarluaskan. Apalagi melalui media sosial di internet yang bisa dengan begitu mudah aksesnya untuk dilihat dan dibaca isinya. Jika niat Blok yang mau membagi kabar gembira itu benar-benar terjadi bisa gawat.

Gob takut nanti ada gerombolan pemuda-pemudi mendatangi warung Mbok Nom. Warung jadi ramai sih malah bagus sebetulnya. Tapi kalau mereka justru ber-selfie ria di warung njuk piye? Bisa dibayangkan spot­spot di warung untuk dijadikan latar belakang foto selfie. Mulai dari depan warung yang lagi bling-bling dipenuhi peringatan pengendara jalan raya, meja-meja di dalam warung, bahkan sampai dapur pun pasti tak luput dari jepretan anak gaul itu. Belum lagi kemungkinan piring maupun gelas di warung itu pada pecah terinjak dan diinjak mereka.

‘’Kalau itu benar-benar terjadi, Mbok Nom bisa stres.’’

‘’Mosok, Gob?’’

‘’Iya! Gara-gara warungnya terkenal, Mbok Nom jadi banyak pikiran. Warungnya ramai tapi nggak ada yang beli. Karena kebanyakan yang datang cuma pengin selfie dengan warung gebrak kopi.’’

‘’Yo wis, aku nggak akan menyebarkan kabar ini.’’

Selain itu, Gob pengin hanya orang-orang tertentu yang memang benar-benar pengin menikmati suasana di warung ini. Biarlah orang-orang itu merasa terpanggil dengan sendirinya untuk mendatangi warung kopi Mbok Nom. Bukannya datang dengan niat selfie dan bahkan bikin berantakan kondisi warung yang sudah ditata sedemikian rupa.

‘’Waaah, aku kagum sama kamu, Gob. Perkataanmu ada betulnya juga ya. Kamu benar-benar sakti ternyata.’’

‘’Jangan begitu ah. Lagipula ini hanya sebagian kecil dari kesaktianku.’’

‘’Kamu punya kesaktian lain lagi?’’

‘’Iya dong.’’

‘’Waaaaahhh, opo, Gob?’’

‘’Aku punya ajian sakti bisa bikin lupa. Orang-orang yang aku hutangi untuk sementara waktu bisa lupa aku punya hutang sama mereka. Dengan begitu, aku bisa lebih tenang cari duit buat melunasi hutang-hutangku. Kalau setiap hari diingatkan apalagi ditagih, aku jadi tertekan dan pekerjaanku semakin berantakan. Pusing pala Berbie.’’

‘’Waaaaahhh, aku juga pengin punya kesaktian seperti kamu, Gob. Syaratnya apa?’’

Dengan senyum yang manis Gob menjawab dengan nada lagu Bento, ‘’Sebut namaku 66 kali, Gob Gob Gob …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s