Salah Sendiri Salah

Salah Sendiri Salah

ADA aktivitas berbeda di warung Mbok Nom. Warung sederhana di antara gedung mewah kota besar ini direnovasi. Terlihat beberapa tukang mengerjakan hal-hal berbau pembangunan. Dari orang-orang yang sibuk itu terlihat salah seorang yang paling santai, yakni Gob. Entah karena apa, dia menjadi mandor renovasi warung Mbok Nom.

Dengan bekal pengalaman pertukangan entah dari mana, Gob nampak serius dengan gaya santai memperhatikan pekerjaan para tukang. Dia manggut-manggut melihat tukang yang mengaduk semen tanpa komentar perbandingan antara semen, air, dan pasir sudah sesuai atau belum. Yang penting baginya pekerjaan itu cepat selesai. Dan yang penting lagi, ke mana pun kakinya melangkah, dia pengin semua tukang itu kerja, kerja, dan kerja.

Agar cepat memenuhi target, proyek renovasi dikerjakan full 24 jam dibagi tiga shift jam kerja. Upah yang diterima tukang tentu jauh lebih besar dari buruh yang beberapa hari lalu demo. Nominal itu juga berkali lipat dibanding gaji bulanan guru honorer yang juga beberapa waktu lalu memperingati hari pahlawan tanpa tanda jasa itu. Makanya, banyak di antara para tukang renovasi ini sebetulnya guru honorer dan buruh.

Masalah pendanaan, jangan anggap remeh, warung Mbok Nom punya banyak pelanggan setia yang jumlah angka rekening bank-nya sepanjang nomor HP. Tentu mereka tak keberatan menyisihkan sebagian uangnya untuk merenovasi warung itu. Apalagi tujuannya agar menjadi warung yang representatif. Embuh representatif untuk siapa.

‘’Ada proyek kok nggak nigajak aku sih?’’ Blok yang tak tahu warung Mbok Nom direnovasi itu menanyakan langsung pada sahabatnya, Gob. Selain tak tahu ada proyek, Blok juga nggak tahu kalau ternyata Gob malah menjadi mandor dari renovasi warung.

‘’Tadinya aku mau ngajak kamu. Tapi kowe tak goleki ke mana-mana nggak ketemu, lho,’’ Gob membela diri.

‘’Kemarin-kemarin aku mau ke Papua, Gob.’’

‘’Ngapain ke sana? Mau minta saham Freeport juga?’’

‘’Huss! Ya nggak lah. Aku mau berkunjung ke Distrik Mbuwa, Kabupaten Nduga. Kabarnya di sana ada puluhan anak meninggal dunia. Gejalanya panas, demam, menggigil, dan kejang.’’

‘’Terus?’’

‘’Pas perjalanan menuju ke sana, aku mengurungkan niat. Aku balik ke rumah kontrakan. Aku mau mengawal MKD saja. Kalau sewaktu-waktu masuk angin, aku kan bisa kerokin mereka pakai balsem dan uang koin pecahan lima rupiah biar cepat sembuh.’’

‘’Hmm, yakin cuma itu niatmu ngawal MKD?’’

‘’Heuheuheu, kamu tahu saja, Gob. Aku juga lagi harap-harap cemas siapa tahu dipanggil buat masuk jajaran MKD. Sekarang lagi jadi trend pasang-copot anggota di MKD. Siapa tahu aku bisa kebagian saham, eh, kebagian amanah menyelamatkan bangsa dan negara tercinta …’’

Demi melepas rindu beberapa hari nggak ketemu, Gob istirahat sebentar dari pekerjaannya sebagai mandor proyek. Dia mau nraktir Blok yang masih agak sakit hati gara-gara nggak diajak ngerjain proyek renovasi warung Mbok Nom. Blok diajaknya ngopi di warung yang letaknya beberapa meter dari lokasi renovasi.

‘’By the way, warung Mbok Nom kok direnovasi kenapa, Gob?’’ tanya Blok sambil meniupi kopinya yang masih panas.

‘’Mbok Nom mau bikin jendela yang banyak di warungnya.’’

‘’Buat apa?’’

Sebagai pemilik warung yang peduli pada pelanggannya, Mbok Nom pengin membuat nyaman orang-orang yang mampir ke warungnya. Maka dari itu, perempuan paro baya itu berniat membikin dinding warungnya dipasangi banyak jendela. Ini biar suasana dalam warung tak panas karena ventilasi yang kurang memadai.

Dengan banyaknya jendela yang dipasang, Mbok Nom ingin udara bisa bebas masuk dan keluar menyegarkan ruangan sederhana nan kecil itu. Kalau sudah begitu, para pelanggan bisa merasa nyaman karena ada angin semilir menyejukkan ruangan. Selain itu, Mbok Nom kepingin biar angin banyak masuk ke warungnya. Dia cemburu karena angin konon lebih memilih terbang dan masuk ke gedung dewan sehingga membuatnya mendadak menderita penyakit bernama masuk angin.

‘’Oooo, tapi kenapa tukang yang mengerjakannya banyak banget? Bahkan pengerjaannya sampai 24 jam. Pembangunan jalan tol saja kayaknya nggak gini-gini amat.’’

‘’Biar cepat beres, Blok! Selama renovasi ini, warung libur. Mbok Nom nggak betah nganggur di rumah. Dia penginnya cepat-cepat jualan lagi …’’

‘’Memangnya cuma mau pasang jendela?’’

‘’Mbok Nom juga mau bikin helipad dan landasan pesawat jet di atap warung …’’

‘’Weleh weleh weleh … Memangnya siapa yang mau ke sini bawa helikopter, Gob?’’

‘’Siapa tahu pelanggan Mbok Nom tambah banyak. Dari golongan orang-orang tajir pula. Daripada naik kendaraan darat kena macet. Bagi mereka yang kaya raya, kan lebih baik naik pesawat terbang …

‘’Hhhmmmmm,’’ Blok tak berkomentar dan bertanya lagi. ‘’Ngomong-ngomong aku masih nggak habis pikir lho, kamu nggak ngajak ngerjain bareng proyek ini.’’

‘’Halah, kok kamu jadi baper begini, Blok.’’

‘’Kamu kan tahu, aku ini kerjaannya nggak jelas. Aku pasti mau kalau diajak.’’

‘’Iya, sorry, Blok. Aku kan tadi sudah bilang alasannya …’’

‘’Coba kalau ikut proyek ini, aku bisa menabung buat beli jet pribadi. Kalau kemahalan masih bisa beli helikopter. ’’

‘’Iya, sorry, Blok. Aku yang salah. Tapi kamu juga salah lho …’’

‘’Lha kok aku juga salah? Kamu itu jangan kayak mereka dong! Disalahkan malah balik menyalahkan! Seharusnya kowe introspeksi, Gob!’’

‘’Salah sendiri susah dihubungi, jadi kan kamu nggak tahu ada proyek ini!’’

‘’Kalau kamu niat ya pasti bisa menghubungi aku! Pokoknya kowe yang salah!’’

‘’Kowe, Blok!’’

‘’Kowe, Gob!’’

‘’Kowe, Blok!’’

‘’Kowe, Gob!’’

Perdebatan siapa yang lebih salah antara Gob dan Blok masih panjang. Sampai kopi sudah dingin, mulut mereka masih saling menyalahkan dengan alasan yang macam-macam. Tampaknya adu argumen ini bakal berlangsung lama. Sama lamanya seperti nasib KPK yang sedang digantung karena belum juga punya pemimpin baru.

Kemudian perdebatan bergeser ke topik ceramah salah seorang tokoh ormas yang mengundang kontroversi. Bagi yang kontra, salam sampurasun yang dipelesetkan itu merupakan hinaan bagi orang Sunda. Sedangkan yang pro, mereka bilang tokoh itu justru benar karena sedang melakukan dakwah.

Tidak hanya itu, debat antara dua pemuda nggak jelas ini meluas ke berbagai bidang. Di dunia sepak bola, melakukan aksi diving agar pemain lawan kena sanksi itu benar atau salah. Mempertahankan Rafael Benitez sebagai manajer Real Madrid itu benar atau salah.

‘’Sebentar… Sebentar… Aku kok jadi ingat kata-kata para orang tua dulu ya …’’

‘’Opo, Blok?’’

‘’Maju tak gentar membela yang benar!’’

‘’Terus?’’

‘’Ya itu dia. Kalau semua orang yang paling benar gimana? Siapa yang salah? Siapa yang benar? Kita semua jadi membela diri sendiri karena merasa paling benar. Kita pun nggak tahu mana yang benar-benar membela kebenaran dan mana yang pura-pura membela kebenaran padahal sejatinya membela kepentingan golongan. Piye?’’

‘’Bagaimana kalau voting? Bagi yang kalah mesti menerima dengan lapang dada.’’

‘’Podo wae, Gob! Kebenaran menurut orang banyak belum tentu itu adalah kebenaran sejati. Kesalahan menurut orang banyak pun belum tentu mutlak. Piye, Gob?’’

‘’Aaah, pusiiiiingggg …’’ Gob menirukan gaya khas Peggy Melati Sukma di sebuah sinetron tersebut. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s