Mak Elarr

21. Mak Elarr

KOPI bikinan Mbok Nom malam itu tidak seperti biasa. Kali ini kopi bikinan perempuan paro baya itu sangat pahit. Meski sudah terbiasa dengan segala kepahitan kopi, Gob dan Blok baru merasakan yang melebihi pahitnya diceraikan melalui pesan singkat BBM.

Walau konsumen alias pembeli diibaratkan sebagai raja, Gob dan Blok merasa sungkan mau menyebarkan petisi di dunia maya yang meminta Mbok Nom lengser keprabon. Dua pemuda nggak jelas ini nrimo saja dengan racikan kopi orang nomor satu di warung kopi itu. Alhasil, kopi yang pahit dan berwarna hitam seperti mobil Jaguar ketua DPR RI itu mereka nikmati dengan lapang dada.

‘’Tumben kok pahit ya kopinya, Gob?’’

‘’Iya. Lalu siapa yang mesti kita salahkan atas rasa kopi yang pahit ini, Blok?’’

‘’Waah, kalau itu susah, Gob. Soalnya ada banyak kemungkinannya.’’

‘’Opo wae?’’

Rasa kopi yang pahit memang meninggalkan pertanyaan di benak Blok. Menurutnya, bisa saja Mbok Nom mengubah perbandingan kala meracik kopi ini hingga siap disajikan. Kemungkinan lain pun berkata kopi itu berubah kualitas karena perubahan treatment terhadap tanaman biji-bijian itu. Atau bisa jadi kualitas airnya sudah tidak layak minum lantaran belum diuji kadar layak konsumsi di laboratorium perguruan tinggi ternama di negeri ini.

‘’Mungkin di balik rasa kopi pahit ini, Mbok Nom minta saham …’’ jelas Blok.

‘’Weeiissss, saham opo to Blok?’’ tanya Gob yang langsung tersedak saat menghirup kopi pahitnya.

‘’Ya itu dia yang mesti diselidiki …’’

‘’Ooh, begitu ya. Yo wis, pokoknya aku mendukungmu, Blok. Apa perlu kita mengundang para penikmat kopi untuk menyaksikan langsung kelanjutan kasus ini? Biar terbuka dan terkesan fair gitu lho …’’

‘’Huss, you jangan intervensi proses penyelidikan kasus ini dong!’’

‘’Aku kan cuma mau mendukungmu masa’ kamu bilang intervensi sih?’’

‘’Itu bisa dikategorikan intervensi, you know! Pokoknya kamu diam saja, Gob.’’

‘’Hmmm …’’ jawab Gob pendek dan kembali menikmati kopi pahitnya.

Tak lama berselang, terdengar suara ramai-ramai di luar. Banyak orang berjalan melintas di depan warung kopi Mbok Nom. Orang-orang yang tadinya masyuk menikmati kopi langsung berhamburan keluar ingin tahu apa yang terjadi di luar. Tak terkecuali pemuda serabutan Gob dan Blok terpaksa ikut-ikutan melihat keramaian di luar.

‘’We’ll be right back, Mbook,’’  kata Gob dan Blok kepada Mbok Nom saat mereka keluar warung. Sebagai pelanggan setia, tentu saja mereka nggak mau merusak citra baik yang sudah melekat. Mereka pergi bukannya hendak kabur. Mereka pergi untuk sementara dan nanti akan kembali untuk membayar kopi.

‘’Ada apa ini?’’ tanya Gob ke salah seorang kerumunan.

‘’Ada makelar, eh, Mak Elarr …’’

‘’Sopo kuwi? Mafia? CEO? Pengusaha? Ustad? Aktris porno?’’ tanya Gob penasaran.

‘’Huss, pikiranmu ngeres! Itu lihat saja di papan namanya,’’ sahut Blok menunjuk sebuah neon box menyala terang yang dipasang di atas pintu sebuah bangunan kecil yang letaknya beberapa meter saja dari warung Mbok Nom.

MAK ELARR: MENYELESAIKAN MASALAH TANPA SALAH

Pantas saja tempat yang baru beroperasi beberapa jam ini langsung diserbu warga. Dari tulisan di atas, sosok bernama Mak Elarr dipercaya dapat menyelesaikan masalah tanpa salah. Inilah solusi yang didambakan setiap orang yang bermasalah. Selama ini persoalan tidak berhenti pada menyelesaikan masalah tanpa masalah saja. Dan bisa jadi cara itu salah. Sekarang muncul sang juru selamat yang bisa menyelesaikan masalah tanpa salah.

Satu lagi, Mak Elarr tak pasang tarif. Semuanya gratis!

‘’Waaaah, hebat benar ya Mak Elarr itu …’’ ujar Gob takjub.

‘’Iya, aku jadi penasaran. Ayoo kita masuk, Gob,’’ ajak Blok.

Selama mengantre, terdengar selentingan kedidayaan Mak Elarr. Katanya dia bisa mengabulkan segala permintaan klien. Gob dan Blok mendengar samar-samar ada seorang klien minta jatah saham suatu perusahaan. Bagai membalikkan telapak tangan, semua masalah yang dikeluhkan klien terkabul. Dan yang terpenting, dengan kesaktian Mak Elarr, permintaan saham itu pun tidak salah. Jadi tidak akan ada yang menyalahkan sang klien dengan alasan yang macam-macam.

Semua itu begitu mudahnya dilakukan Mak Elarr. Semudah ditemukannya identitas berupa kartu tanda pengenal yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) sebuah tragedi ledakan bom yang langsung diterka-terka orang tersebut sebagai pelaku aksi yang mengebohkan dunia internasional tersebut.

Malam semakin larut. Antrean masih bejibun. Gob dan Blok bersama orang-orang yang merasa bermasalah lainnya tetap setia mengular di depan pintu masuk tempat Mak Elarr membuka praktik. Satu demi satu pasien keluar dan masuk. Dari raut muka orang-orang yang masalahnya diselesaikan Mak Elarr, mereka tampak begitu sumringah.

Gob dan Blok semakin penasaran.

‘’Memangnya kamu nanti mau minta apa dari Mak Elarr?’’ tanya Gob pada Blok.

‘’Aku mau minta agar pengguna narkoba nggak jadi dihukum mati. Kasihan. Mereka itu kan korban. Sebaiknya mereka itu direhabilitasi lho. Kalau kamu?’’

‘’Hmmm,’’ Gob mengernyitkan dahi tanda sedang berpikir keras.

‘’Kamu ini piye to, Gob! Sebentar lagi giliran kita masuk! Mosok belum tahu kamu penginnya apa?’’

‘’Aha! Aku tahu sekarang! Aku minta Mak Elarr bikin ruang kokpit pesawat terbang yang kedap suara. Biar kalau ada bunyi menyerupai desahan bisa diredam dan nggak terdengar sampai keluar …’’

‘’Duh, kamu ini … Nggak ada yang lain?’’ ujar Blok.

‘’Ini saja, Blok! Aku mau minta agar Mak Elarr mbantu Sander Metz alias Budi Santoso menemukan orangtua kandungnya di sini. Piye?’’

‘’Oke …’’

Tak terasa, obrolan Gob dan Blok sudah membawanya ke depan pintu masuk Mak Elarr. Jantung mereka berdegup kencang karena penasaran ingin segera melihat kesaktian Mak Elarr. Gob dan Blok siap mencurahkan masalahnya pada Mak Elarr untuk segera diselesaikan tanpa salah.

Namun sial bagi Gob dan Blok. Tiba gilirannya masuk, Mak Elarr sudah menutup tempat praktiknya. Dua pengawal berbadan besar yang menjaga pintu menghadang langkah Gob dan Blok. Dengan muka menyeramkan, dua bodyguards ini mengatakan kalau klinik Mak Elarr sudah tutup.

Dengan langkah penuh kecewa, Gob dan Blok bersama orang-orang yang senasib sepenanggungan meninggalkan tempat tersebut. Gob dan Blok pengin cepat-cepat pulang malam itu. Tapi sebelumnya, mereka mesti membayar kopi di warung Mbok Nom.

‘’Gratis …’’ ujar Mbok Nom sesampainya Gob dan Blok di dalam warung.

‘’Kenapa, Mbok?’’ tanya Gob dan Blok serempak.

‘’Mbok salah meracik. Tadi kopinya kebanyakan. Maafkan Mbok Nom ya …’’

‘’Woooo, nggak apa-apa kok, Mbok. Tapi kenapa kok hari ini tiba-tiba berubah begitu rasa kopinya, Mbok?’’

‘’Mbok lelah. Jadinya kalau bekerja nggak fokus. Dari semalam Mbok menghitung jumlah anggota DPR yang tertangkap kamera lagi enak tidur di ruang sidang. Mbok pengin tahu, apa kebiasaan buruk mereka itu termasuk pelanggaran bukan ya?’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s