Heronaldo

Heronaldo

MENDUNG sudah menyelimuti langit pagi hari itu. Nampaknya hujan sudah mulai menjawab doa-doa manusia yang merindukannya. Beberapa hari terakhir awan gelap mulai menjatuhkan rintik airnya ke Bumi. Selain menyambutnya dengan suka cita, sebaiknya kita mulai mengantisipasi hujan.

Kita harus menyiapkan jalan yang mulus bagi air dari langit ini untuk kembali ke lautan. Sebab kalau tidak, air ini nggak bisa ke mana-mana lagi. Dia pasti menggenang di daerah yang tidak bisa melancarkan aliran air ini. Kalau sudah begitu, aktivitas kita sebagai manusia terganggu. Kalau sudah begitu mau menyalahkan siapa?

‘’Salah gue? Salah teman-teman gue?’’ kata Blok menirukan dialog Dian Sastrowardoyo di salah satu adegan film Ada Apa dengan Cinta?.

‘’Kamu ini pagi-pagi begini kok sudah sewot begitu kenapa?’’ tanya Gob.

Ternyata bukan masalah hujan yang bisa menjadikan banjir ini yang bikin Blok muring. Dia sebal karena Rossi gagal menjadi kampiun MotoGP musim ini. Di rangkaian terakhir balapan motor di Sirkuit Valencia, Spanyol, itu The Doctor sudah berusaha mati-matian mengejar pebalap yang ada di depannya. Namun nasib berkata lain, dia finish di urutan empat dan merelakan mahkota juara dunia jatuh di tangan rekan setimnya.

‘’Ternyata gara-gara itu to kamu sebal?’’

‘’Iya, tapi walau gagal, Rossi tetap pahlawanku. Perjuangannya dari posisi paling belakang sampai bisa finish empat besar sungguh heroik, lho,’’ ujar Blok.

‘’Hmmm, ngomong-ngomong pahlawan, sekarang ayo kita mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang jasa-jasa beliau yang wafat ketika memperjuangkan hak, harkat, dan martabat bangsa ini. Mengheningkan cipta, mulai …’’

Kemudian mereka mengheningkan cipta sejenak. Entah apa yang ada di pikiran Gob dan Blok saat menundukkan kepala. Apakah mengingat-ingat deretan nama pahlawan yang sudah sejak SD dihapalkan. Atau membayangkan apakah para pendahulu yang digelari pahlawan ini memang menginginkan penghargaan semacam ini atau tidak.

Namun sekilat mereka memikirkan nasib nahas dokter magang yang akhirnya menghembuskan nafas di pelosok negeri. Nyawa dokter muda ini tak tertolong karena katanya fasilitas medis di sana tidak memadai untuk mengatasi penyakit yang dideritanya. Dalam renungan sejenak itu, Gob dan Blok mikir, di negeri yang tambang emas di Papua diperebutkan banyak pihak, tapi menyediakan fasilitas kesehatan secara merata saja sampai nggak bisa.

Warung Mbok Nom saat pagi hari memang terbilang sepi. Para pelanggan setia warung ini rata-rata banyak beraktivitas saat pagi sampai sore. Jadi baru bisa meramaikan kazanah perkopian saat malam hari saja. Beda dengan Gob dan Blok, dua pemuda ini memang nggak jelas apa pekerjaannya. Makanya mereka bisa bebas sewaktu-waktu ngopi di sana.

‘’Selesai …’’ ucap Gob sambil mengusapkan telapak tangan ke mukanya seperti orang selesai salat.

Blok pun merasa lebih tenang usai mengheningkan cipta. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Dia kembali uring-uringan begitu melihat ada segerombolan anak muda yang tidak merenung seperti dirinya barusan.

‘’Hei, kalian ini dari tadi sibuk dengan gadget masing-masing ya? Nggak tahu sekarang ini Hari Pahlawan. Bukannya ikut mengheningkan cipta malah asyik main game!’’ tegur Blok pada gerombolan anak muda yang kira-kira masih SMP itu.

‘’Santai, Bang. Kami lagi main Duel Otak. Di sini juga ada pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah dan pahlawan lho, Bang,’’ ujar salah seorang di antara mereka. ‘’Jadi ini cara kami menghormati jasa-jasa beliau itu. Kami menghafalkan nama, tanggal kejadian, tempat kejadian, dan lain-lainnya,’’ lanjutnya.

‘’Apa ID Duel Otak Abang? Kalau mau kita battle sekarang?’’ ujar temannya.

‘’Hahaha!’’ Blok tertawa lepas sekali. ‘’Percuma aku kasih tahu! Kalian nggak akan menang melawan aku! You gonna waste your time, kid! Hahaha …’’

‘’Bilang saja takut sama kami yang lebih muda. Kalau sampai kalah sama anak-anak kan Abang pasti malu. Iya kan? Ah, percuma lama-lama di sini. Ayo, kawan-kawan kita pindah tempat. Di sini nggak asyik,’’ ajak salah seorang anak muda itu pada kawan-kawannya. Kemudian berlalu pergi setelah membayar beberapa gelas es teh manis.

Begitu rombongan anak-anak yang tergolong kategori di bawah umur ini pergi, Gob berusaha mendinginkan Blok yang sudah mendidih. Sambil mencandainya, Gob bilang, ‘’Bilang saja HP-mu itu jadul. Makanya kamu nggak bisa ikut main,’’ ujar Gob sambil tersenyum yang dibuat-buat manis.

‘’Sudahlah, namanya juga anak-anak,’’ ujarnya yang sudah tampak tenang kembali. Blok menghela nafasnya dalam-dalam. Seiring kepergian anak-anak muda itu, dalam hati Blok mendoakan agar negeri ini aman di tangan mereka. Jangan sampai Nusantara yang dia cintai ini diusik teror bom seperti yang terjadi di Prancis maupun di belahan Bumi yang lain.

‘’Sekarang ini Hari Pahlawan. Jangan sampai hari yang sakral ini ternodai oleh generasi penerus yang justru terpecah-belah. Ini kan yang ditakutkan pendahulu. Bukannya bersatu demi kemajuan bangsa, kita malah begitu mudahnya terpecah dan saling berantem satu sama lain.’’

‘’Betul, jangan seperti Kabinet Kerja yang kayaknya mudah sekali digoyang isu reshuffle,’’ sahut Blok.

‘’Iya, tapi kan presiden sudah bilang pergantian ini ditunda.’’

‘’Ditunda karena apa? Terlalu banyak turut campur partai yang mengantrekan putra-putri terbaiknya untuk jadi menteri? Masalah ini copot-pasang jabatan ini kan hak prerogatif RI-1?’’ protes Blok.

‘’Untuk menunda reshuffle ini kan juga hak prerogatif beliau.’’

‘’Oke, terus menurutmu siapa kira-kira pembantu presiden yang bakal diganti?’’

‘’Aku menjagokan Cristiano Ronaldo masuk Kabinet Kerja,’’ ujar Gob mantap.

‘’Lho, kok ujug-ujug kamu bawa nama pemain bola asal Portugal itu piye?’’

‘’Baru-baru ini CR7 rilis film dokumenter tentang dirinya. Itu kan bisa dianggap dia kasih kode ke presiden biar dipilih jadi menteri.’’

‘’Aku sangsi mantan kekasih Irina Shayk itu bisa masuk kabinet,’’ ujar Blok ragu.

Menurut hasil survei yang dilakukan beberapa waktu lalu, pemain Real Madrid itu ternyata nggak masuk daftar orang popular di negeri ini. Dia masih kalah popular sama pebisnis, walikota atau mantan menteri yang digadang-gadang bisa meramaikan perebutan kursi DKI-1 melawan sang incumbent.

‘’Kalau kamu nggak yakin dia bisa jadi menteri, terus enaknya dia jadi apa?’’ tanya Gob.

Blok kepingin Ronaldo menyelesaikan baktinya sebagai pemain bola. Biarlah dia menjadi panji Real Madrid dan Portugal meraih prestasi demi prestasi dalam dunia sepak bola. Jangan sampai dia ikut-ikutan urusan Nusantara. Nanti bisa-bisa konsentrasinya terganggu. Dan kalau terganggu, bisa mempengaruhi permainannya di lapangan hijau.

‘’Dan yang penting lagi, CR7 harus fokus dalam menjalankan tugasnya sebagai pemain bola!’’ tegas Gob.

‘’Ya jelas fokus dong! Apa lagi yang mesti dia pikirkan? Mobil Jaguar milik ketua DPR yang harganya miliaran? Semuanya mungkin sudah ada dalam genggaman tangannya,’’ sergah Blok.

‘’Bukan itu maksudku, Blok. Yang seharusnya dia pikirkan itu hanya bermain bagus dan menang. Sudah itu saja. Jangan sampai Ronaldo kepikiran bahwa semua yang sudah dia lakukan dan dicapai itu semata-mata agar orang-orang menyematkan gelar pahlawan padanya. Itu yang bahaya. Melakukan sesuatu biar orang-orang menganggapnya sebagai pahlawan … ’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s