Pokoknya

Pokoknya

SEJAK beberapa hari lalu, Gob dan Blok jarang terlihat ngopi bareng di warung Mbok Nom. Waktu lebih banyak dihabiskan di kontrakan masing-masing. Mereka juga jarang berduaan seperti biasanya. Padahal partai beringin yang bercabang dua sudah ada sinyal mau berdamai dan manunggal lagi, ini dua sahabat malah pisah.

Memorandum of Understanding (MoU) perpisahan ini sudah mereka putuskan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Ketika menyetujui MoU ini pun mereka dalam keadaan yang sadar sesadar-sadarnya alias tidak mabuk. Mereka berpisah secara baik-baik. MoU ini akan berlangsung sampai waktu yang belum ditentukan.

Usut punya usut, perpisahan ini didasari atas rasa saling takut. Soalnya kalau mereka lagi berduaan, hampir dipastikan mulut kedua pemuda nggak jelas ini susah menutup alias njeplak melulu sampai berbusa. Pepatah ‘mulutmu harimaumu’ seakan mengingatkan kata-kata bisa suatu saat menjadi senjata makan tuan.

Apalagi sekarang lagi ramai soal penyebaran kebencian. Meski obrolannya sama sekali tidak didasari atas rasa benci, tetap saja mereka takut. Berurusan dengan nasib saja mereka sudah jungkir balik nggak karuan. Apalagi nanti kalau mereka berurusan dengan pihak berwajib. Oh.

Sudah nggak pernah bertemu,  Gob dan Blok juga nggak saling berkirim sms lagi. Wah, pokoknya sudah tidak ada komunikasi di antara mereka berdua. Mereka ingat betul wejangan seorang seniman yang berkata, ‘’Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon tak saling SMS BBM-an dan lain-lain tak saling namun diam-diam keduanya saling mendoakan.’’

Dan itu yang mereka lakukan. Saling berkomunikasi via telepati. Embuh betulan atau tidak, hanya Tuhan yang tahu. Kalau masih berkomunikasi lewat sms, mereka takut isi pesannya disadap. Wah, bisa disangka menyebarkan kebencian. Akhirnya mereka sepakat mengunci mulut masing-masing. Komentar maksimal sebatas di dalam hati saja. Tidak lebih.

Absennya dua sohib ini dari dunia perkopian nyatanya tidak berpengaruh apa-apa pada kehidupan di negara ini. Ya karena mereka memang bukan siapa-siapa. Coba kalau Gob dan Blok ini siapa-siapa, pasti ada yang selalu mendekatinya dengan modus yang apa-apa.

Namun sekuat-kuatnya Gob dan Blok mendekam diri di dalam kontrakan, mereka tak sekuat Pelindo II yang seakan tak tersentuh hukum. Tentu saja kedigdayaannya tidak bisa ditandingi Gob dan Blok yang takkan tahan untuk tak ngopi. Tepat saat matahari tergelincir di ufuk barat, mereka keluar dan tancap gas ke warung kopi Mbok Nom.

Beberapa meter sebelum sampai di tujuan, warung Mbok Nom terlihat ramai sekali. Ada serombongan demonstran sedang berunjuk rasa di depan warung kopi sederhana itu. ‘’Mereka ini salah alamat atau bagaimana? Demo kok di warung kopi,’’ batin Gob dalam hati sambil berjalan cepat menuju warung.

‘’Sebentar… sebentar… ada apa ini kok ada demo di sini?’’ kata Gob setelah dia sampai di depan warung dan berbicara pada kerumunan massa.

‘’Kamu siapa?’’

‘’Saya manajer humas warung ini,’’ Gob juga kaget kenapa tiba-tiba mengaku sebagai orang dalam warung. Kepalang nasi jadi bubur, lebih baik dikasih suwiran ayam, irisan seledri, kedelai, serbuk merica, kecap, sambal, dan kerupuk biar nikmat. ‘’Di sini tempatnya orang santai. PeacePeace…’’ ujarnya sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda damai.

‘’Kami mau warung ini diperlebar,’’ sahut seseorang yang kemudian mengaku sebagai koordinator aksi unjuk rasa ini.

‘’Bukan apa-apa lho ya. Tapi kalian sudah minta izin keramaian?’’

‘’Belum …’’

‘’Waini, bahaya! Yang namanya demo itu kan harus ada izin dulu. Nanti kalian disangka melakukan perbuatan yang bisa menyebarkan kebencian gimana?’’

‘’Jangan banyak alasan! Pokoknya kami minta warung ini direnovasi dan dibikin lebih luas lagi. Tidak bisa tidak! Titik!’’ ujar koordinator itu. ‘’Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’ teriaknya pada massa yang ada di belakang.

‘’Tapi urgensinya apa kok kalian minta warung ini dibikin lebih luas?’’

‘’Warung ini sudah nggak muat menampung jumlah pelanggan yang pengin ngopi di sini. Setiap hari yang ke sini makin banyak. Sudah seharusnya warung ini direnovasi. Dibikin tingkat atau diperluas areanya! Sederhana kan?!’’ jawab koordinator unjuk rasa.

‘’Sederhana gundulmu!’’ batin Gob.

‘’Hmmm, betul. Tapi ini mesti dibicarakan dengan para pemegang saham dulu. Pasti perlu biaya yang tidak murah, bukan? Selain itu, ada hal lain yang mesti dipertimbangkan karena ini menyangkut kemaslahatan umat dan hajat orang banyak. Pokoknya, secepatnya saya sampaikan terkait permintaan ini,’’ kata Gob pada koordinator.

‘’Jangan banyak alasan! DPR saja minta gedung baru langsung diiyakan kok. Permintaan mereka dikabulkan tanpa hambatan, lancar jaya seperti jalan tol. Kami cuma minta warung ini diperluas beberapa meter saja. Kamu masih perlu membicarakannya dengan petinggi warung? Lelucon macam apa ini, ha? Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’

‘’Kata-kata kalian ini sudah mengandung unsur kebencian. Pikiran kalian sudah tidak murni. Permintaan kalian sudah tidak murni. Ingat kata-kata bijak, jangan kebencian membuatmu tak adil dalam melakukan sesuatu,’’ ujar Gob.

‘’Dan jangan pula kecintaanmu pada sesuatu membuatmu berlaku tak adil!’’ balas si koordinator dengan suara yang lebih lantang. ‘’Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’

Suasana semakin panas saja. Sama panasnya telinga Bos Real Madrid, Florentino Perez, saat mendengar pernyataan pemain kesayangannya, Cristiano Ronaldo, yang mengatakan dirinya berencana tidak akan menggantung sepatunya di klub asal Spanyol yang bermarkas di Santiago Bernabeu tersebut.

Perdebatan antara Gob dengan demonstran juga semakin nggak jelas. Sama kaburnya dengan nasib Mourinho di Chelsea. Sudah sejak lama banyak yang memprediksi nasib The Special One di klub asal kota London, Inggris, ini bakal segera berakhir. Namun pelatih asal Portugal ini masih saja dipercaya menjadi arsitek The Blues yang sedang mengalami masa sulit di liga domestik.

‘’Begini saja, bagaimana kalau kami menuruti permintaan kalian …’’

‘’Harus itu! Pokoknya harus! Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’ sahut koordinator memotong kalimat Gob yang belum selesai.

‘’Hmmm… Gimana kalau kalian sekarang mengumpulkan uang masing-masing. Siapa tahu jumlahnya bisa buat bantu renovasi warung. Piye?’’

‘’Kok malah kami yang repot! Itu bukan urusan saya! Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’

‘’Hmmm, kalau bukan kalian siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi, ha?’’

‘’Memangnya kita komplotan sindikat penipu sms ‘Mama Minta Pulsa’ yang katanya meraup untung Rp 7 juta per hari!’’ protes sang koordinator pada Gob.

‘’Ya maka dari itu, kalian harus sabar. Kalau nggak bisa bantu uang, kalian masih mau membantu yang lain kan. Misalnya jadi kuli yang membantu renovasinya? Soalnya terus terang saja bisnis kami lagi agak macet. Perolehan keuntungan turun drastis.’’

‘’Nah kalau itu sih aku yes. Asalkan jangan uang, karena kami ini pun miskin. Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’

‘’Ya sudah, berarti permasalahannya selesai, kan. Deal?’’

‘’Deal! Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’ sahut koordinator sambil berjabat tangan dengan Gob sebagai pertanda selesainya demonstrasi ini.

‘’Ngomong-ngomong hari ini kan panas dan gerah banget. Kok bisa sih kalian masih semangat? Apalagi ini sampai teriak-teriak. Memangnya nggak kering tenggorakan gara-gara dari tadi teriak?’’ tanya Gob penasaran.

‘’Semangat itu harus! Meskipun posisi sepakbola kita menurut FIFA terjun bebas, kami ya tetap semangat! Meskipun kedatangan FIFA dan AFC ke sini katanya buat bantu benahi sepakbola kita tapi kok sepertinya cuma formalitas dan nggak akan bikin perubahan yang signifikan, kami ya tetap semangat! Betul kawan-kawan? Merdekaaa!’’

‘’Ya sudah, sebagai pengiring kepulangan kalian, mari menyanyi lagu Hymne Guru sebagai tanda hormat dan bela sungkawa pada penggubahnya, Pak Sartono, yang tempo hari meninggal di Madiun,’’ ucap Gob yang langsung berdiri tegap siap memimpin paduan suara demonstran itu.

Selesai menyanyikan dan mendoakan almarhum Sartono, para demonstran membubarkan diri dengan tertib. Kepada rombongan demonstran, orator unjuk rasa ini bilang, ‘’Sekarang tinggal tunggu waktu saja. Warung ini sebentar lagi direnovasi. Biar bisa menampung kawan-kawan sekalian. Betul kawan-kawan? Merdekaaa! Mari kita bubar jalan, grakk!’’

Ada sebagian yang pulang ke rumah masing-masing. Ada sebagian dari mereka yang ngopi di warung. Dari sebagian yang tinggal di warung, ada seseorang yang tidak asing. Dia adalah Blok!

‘’Lho, kamu kok ada di sini, Blok?’’ tanya Gob kaget sekaligus senang akhirnya bisa bertemu dengan soulmate-nya tersebut.

‘’Aku tadi nggak sengaja terjebak di tengah kerumunan demonstran. Aku nggak bisa bergerak. Jadinya aku diam di sana deh.’’

‘’Kenapa kamu diam?’’

‘’Bagaimana lagi, aku ditahan oleh orang di sampingku. Katanya, mau kemana? Kita nggak boleh terlalu maju. Kita disuruhnya cukup di barisan ini saja,’’ jelas Blok.

‘’Kok bisa begitu?’’

‘’Lha embuh. Terus dia bilang lagi, kita di sini saja. Nanti kalau ada kode, tinggal teriak kata-kata ‘betul’ atau ‘merdeka’ dengan tangan mengepal ke atas. Oke? Demo ini bayarannya lumayan lho daripada yang biasanya. Katanya kita bakal dikasih konsumsi nasi Padang dan pulsa masing-masing Rp 10 ribu.’’

‘’Terus?’’

‘’Aku iyakan saja orang itu. Nanti kalau bilang nggak mau malah kena masalah. Bisa-bisa aku keluar dari rimbunan demonstran itu dalam keadaan tidak bernyawa. Selain itu, lumayan kan dapat nasi Padang sama pulsa dengan modal yang sesederhana ini.’’

‘’Yo wis, yang penting kamu selamet …’’

‘’Huss! Aku ini Blok, bukan Slamet!’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s