Sumpah, Saya Pemuda

Sumpah, Saya Pemuda

ADA sedikit pemandangan berbeda terlihat di warung Mbok Nom. Setiap pengunjung yang masuk ke warung sederhana itu diberi masker gratis. Ini sebagai aksi simbolis keprihatinan terhadap nasib teman dan saudara kita yang sedang setiap hari sejak beberapa bulan lalu bergumul dengan asap beracun hasil pembakaran hutan di beberapa daerah di Tanah Air.

Sosok yang membagikan masker itu tak lain dan tak tak bukan adalah Gob. Dengan mengenakan kaus bergambar Pak Raden sebagai bentuk penghormatan kepada penemu tokoh Unyil dkk yang baru saja dipanggil Tuhan, Gob sukarela memberikan masker kepada setiap pengunjung. Tak ada yang tahu Gob mendapatkan uang dari mana sehingga bisa membeli masker yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Padahal selama ini dia dikenal sebagai pemuda serabutan yang penghasilannya pun sama serabutannya.

Tak tampak Gob ditemani soulmate-nya, Blok. Biasanya ke mana-mana di mana ada Gob selalu ada Blok. Dan begitu pun sebaliknya. Apalagi warung kopi ini merupakan tempat favorit mereka menghabiskan waktu. Terlebih, sekarang ini ada momen bagi-bagi masker oleh Gob, sungguh pemandangan aneh jika tak ada Blok mendampingi.

Menurut gosip yang beredar, dwi tunggal ini sudah tidak lagi bersahabat. Bahkan sampai bermusuhan segala. Ini semua dikarenakan hasil balapan MotoGP di Sepang, Malaysia beberapa waktu lalu. Balapan yang digelar di negeri jiran itu menyisakan kontroversi insiden jatuhnya Marc Marquez setelah berduel sengit dengan Valentino Rossi.

Gob yang sebetulnya tidak paham betul tentang dunia tarik gas ini meyakini nasib nahas yang menimpa Marquez itu disebabkan karena arogansi Rossi. Menurutnya, dari hasil rekaman balapan jelas sekali pembalap berjuluk The Doctor ini menendang Marquez di tikungan. Aksi tidak sportif ini membuat pembalap asal Spanyol ini jatuh tersungkur dan memaksanya tidak bisa melanjutkan balapan.

Sedangkan Blok berpendapat sebaliknya. Justru menurutnya Marquez lah yang mempermainkan pembalap asal Italia ini. Ketika insiden itu terjadi, dari hasil pengamatan naif seorang Blok, dalam insiden yang menyebabkan Rossi dihukum pengurangan tiga poin dan bakal memulai balapan di posisi paling belakang di seri selanjutnya ini Marquez memang terlihat menghalang-halangi jalan Rossi yang mau menyalipnya.

Saking sengitnya persaingan di arena balapan ini, Marquez akhirnya jatuh. Kata Blok, pembalap berusia 22 tahun ini justru sengaja menjatuhkan diri. Semua ini agar Rossi mendapat hukuman. Akibatnya, gelar juara dunia yang sudah berada di depan matanya hampir pasti tidak jatuh ke tangannya.

Dan semua itu tentu saja menguntungkan pesaing terberat Rossi dalam memperebutkan juara dunia, Jorge Lorenzo. Dengan pengurangan poin dan start di posisi paling belakang seolah-olah memuluskan jalan Lorenzo untuk mengkudeta mahkota juara dunia yang tadinya hampir pasti milik Rossi. Blok yakin perbuatan curang Marquez ini demi memuluskan jalan Lorenzo yang ternyata sama-sama merupakan warga negeri matador ini.

Gosip perpisahan sahabat ini terdengar semakin kuat. Terbukti, dalam acara pembagian masker gratis kepada pengunjung di warung, Blok tak menampakkan batang hidungnya. Dan lagi, Gob terlihat tidak menampakkan raut muka sedih karena tidak ada Blok yang mendampinginya melakukan aksi ini. Dia justru terlihat bahagia.

Ya, namanya juga anak muda. Wajar mereka berdebat sampai bermusuhan segala. Yang tidak wajar justru orang dewasa yang bertengkar, berdebat, dan berujung pada permusuhan. Apalagi jika ini urusannya sudah menyangkut negara. Wooo, bisa dibayangkan berapa nilai kerugian negara yang mesti menanggung perseteruan dua pihak yang jika bersatu justru bisa memperkuat bangsa.

Sambil menikmati langit malam yang tampak jelas bertaburan bintang, Gob masih setia membagikan masker ini. Tiba-tiba datang seseorang dengan langkah yang tergesa-gesa hendak masuk warung. Gob yang melihat gerak-gerik orang tersebut langsung mencegatnya. Dia mencurigai bisa saja orang ini merupakan kawan teroris yang sempat menggegerkan mal dengan bom rakitannya itu.

Ternyata eh ternyata, seseorang yang terburu-buru itu adalah Blok. Tentu saja kedatangan yang mendadak ini bikin jantung Gob mau lepas. Dia kaget sahabatnya yang sudah sekian lama bersama-sama meniti mimpi di warung kopi akhirnya muncul di hadapannya.

‘’Kamu ke mana saja, Blok?!’’ sapa Gob kepada sohib-nya itu.

‘’Aku habis dari Amerika,’’ jawab Blok dengan nafas yang masih terengah-engah.

‘’What?’’ kata Gob sambil melongo seakan tidak percaya Blok benar-benar dari negeri adidaya tersebut.

Selidik punya selidik, ternyata Blok ikut rombongan presiden melawat ke Amerika Serikat. Entah bagaimana ceritanya pemuda nggak jelas ini bisa ikut berkunjung Paman Sam itu tidak ada yang tahu. Lagipula tidak ada yang tahu juga apa dia berkata benar ke sana atau tidak. Siapa tahu ini cuma pencitraannya saja biar disangka dekat dengan lingkaran istana. Yang memungkinkannya mengubah nasib buruk yang selama ini menaungi Blok.

‘’Lha terus kenapa kamu lari terburu-buru begitu?’’

‘’Kami terpaksa pulang lebih cepat karena keadaan di Tanah Air masih genting. Asap yang menyelimuti sejumlah daerah belum mau pergi. Ini sebagai bentuk kepedulian terhadap saudara kita yang lagi dilanda kesusahan.’’

‘’Kalau memang kondisinya lagi genting, kan mending nggak usah berangkat sekalian. Memangnya mendesak sekali ya mengunjungi negerinya Pak Barack Obama?’’

‘’Kalau itu aku nggak tahu, Gob. Soalnya anu …’’

‘’Halah… anu opo? Sudah, kamu sekarang bantu bagikan masker ke pengunjung.’’

‘’Kamu ini ikut-ikutan anggota dewan saja. Pakai acara membagikan masker segala sebelum menggelar rapat. Aksimu ini cuma simbol. Aksi yang nyata mana?’’

‘’Sudah. Nggak usah banyak komentar. Lebih baik begini daripada diam saja kan?’’

‘’Siap!’’ jawab Blok dengan sigap dan langsung ikut membagikan masker.

Sampai tengah malam, dua Gob dan Blok masih betah di warung. Hanya tinggal mereka berdua bersama Mbok Nom di warung sederhana itu. Gob dan Blok memandang bintang yang begitu kerlap-kerlip menghiasi langit. Beruntung mereka masih bisa menikmati indahnya ciptaan Tuhan itu. Entah, saudara-saudara mereka yang langitnya sedang tertutup kabut asap. Apakah bintang masih terlihat bersinar di sana?

‘’Aku jadi penasaran. Dulu para embah-embah kita waktu bikin Sumpah Pemuda itu yang ada di pikirannya apa ya?’’ kata Blok memandang langit penuh penghayatan.

‘’Biar kita semua ini bersatu. Dulu musuh kita penjajah, makanya mesti bersatu lewat sumpah itu. Kalau sudah bersatu, kita bisa kuat dan mampu mengusir penjajah.’’

‘’Oke, tapi apa kabar sumpah itu sekarang, Gob?’’

‘’Baik-baik saja. Buktinya setiap tahun masih diperingati kok.’’

‘’Nah itu dia. Aku bingung. Setiap ada peristiwa sejarah selalu dibikin hari peringatan. Selalu begitu. Apa embah-embah kita dulu minta momen penting ini diperingati? Mungkin tidak. Mungkin mereka malah kepenginnya kita para pemuda ini menghayati isi sumpah itu dengan semangat yang sama seperti ketika sumpah itu dideklarasikan.’’

‘’Maksudmu piye, Blok? Aku nggak mudeng …’’

Blok mempertanyakan apakah isi sumpah itu benar-benar diaplikasikan dengan penuh kesadaran dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dilihat, betapa tidak pedulinya manusia terhadap nasib lingkungannya. Mereka juga terlihat tak acuh kepada sesama makhluk Tuhan. Belum lagi banyak orang tua yang lebih bangga anaknya lebih mahir berbahasa asing daripada bahasa ibu.

‘’Wooo, kalau begitu kita bikin sumpah baru saja, Blok!’’ kata Gob penuh semangat.

‘’Sumpah opo?’’

‘’Sumpah, kami para pemuda bakal menghayati isi Sumpah Pemuda. Sumpah, kami meskipun nanti sudah tua akan tetap berjiwa muda sehingga tetap bersemangat menghayati isi Sumpah Pemuda. Sumpah, kami akan tetap awet muda dan siap mengguncang dunia!’’ ucap Gob berapi-api sambil mengepalkan tangannya ke atas.

Kala Gob mengucapkan sumpah yang dia bikin secara mendadak itu, ada bintang jatuh dari langit. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s