Harap Jangan Berharap

Harap Jangan Berharap

BAGAIMANA jadinya kalau hukuman kebiri itu benar-benar dilaksanakan. Kalau iya, kemungkinan besar memang para pelaku pedofilia ini jera dan nggak bisa mengulangi perbuatan menyiksa anak di bawah umur demi egoisme kepuasan pribadinya sendiri. Bagaimana mau mengulangi lagi, lha wong alat kejahatannya saja sudah nggak berfungsi sebagaimana mestinya.

Apa bisa hukuman serupa juga diperlakukan pada jenis kejahatan lain. Pelaku pembakaran hutan misalnya, alat kejahatannya yang biasanya tangan bisa saja dipotong. Tapi bukankah pembakar itu kemungkinan besar cuma eksekutor yang merupakan rakyat cilik yang diiming-imingi imbalan seadanya untuk melakukan hal itu.

Pasti ada inisiator di balik aksi yang sudah bikin negara tetangga mencak-mencak karena asapnya sampai ke mereka ini. Apakah hukum negeri ini bisa sampai ke sana. Memburu sang inisiator untuk dimintai keterangan dan kalau perlu pertanggungjawabannya sekalian.

Kalau tidak, bukan mustahil tahun depan kejadian terulang. Bahkan bisa jadi tragedi banjir asap ini menjadi agenda tahunan yang menyelimuti beberapa daerah di Nusantara. Tapi bisa saja pembakaran hutan tahun ini menjadi yang terakhir. Karena sudah tak ada lagi lahan yang dibakar. Karena semua lahan sudah dimanfaatkan sesuai keinginan entah-siapa-mereka yang dari awal mungkin memang sudah mengincar itu.

‘’Ngeri juga ya,’’ ujar Blok berbicara sendiri sambil membayangkan hukuman kebiri bagi para pelaku pedofil.

‘’Apanya yang ngeri, Blok?’’ tanya Gob yang duduk di sampingnya.

Blok sedari tadi melamun. Karena tidak ada partner ngobrol, dia mulai memikirkan hal-hal yang ada di luar jangkauannya sebagai wong cilik. Selama Blok berada di awang-awang, Gob sudah muncul dan duduk manis di sampingnya. Lengkap dengan secangkir kopi pahit made in Mbok Nom.

Namun ada pemandangan berbeda di meja mereka. Selain dua cangkir kopi hitam dan beberapa jenis gorengan, ada satu kue. Di atas kue khas ulang tahun itu dipasangi tulisan ‘Happy Anniversary’ dan lilin berbentuk angka satu.

‘’Ada apa ini kok kamu tiba-tiba bawa kue segala?’’ tanya Blok yang kaget karena Gob membawa makanan yang tidak biasa baginya tersebut.

Blok curiga Gob mau memberinya kejutan. Tapi dia heran karena hari itu bukan ulang tahunnya. Kalau memang kue itu diberikan padanya dalam rangka hari lahirnya, kenapa tulisannya bukan ‘Happy Birthday’. Dan yang aneh lagi, kenapa lilinnya berangka satu. Usia Blok kan bukan satu, tapi banyak.

‘’Tenang, jangan ge-er dulu kamu. Kue ini buat aku,’’ jawab Gob.

‘’Memangnya dari siapa kue itu?’’

‘’Dari aku sendiri,’’ ujar Gob.

‘’Lho, piye to bocah iki. Masak kamu beli kue buat dirimu sendiri.’’

‘’Ini berarti aku paham betul arti demokrasi, Blok. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, ’’ ujar Gob mantab.

‘’Halah, kamu ini sudah kayak apa saja bicara demokrasi. Terus dalam rangka apa kamu beli kue buat dirimu sendiri itu?’’

‘’Lho, kamu nggak tahu? Ini dalam rangka satu tahun kita punya pemimpin baru.’’

‘’Masak iya? Sorry, Gob. Aku ini orangnya nggak perhitungan. Jadi nggak tahu sudah berapa lama presiden memimpin negeri ini. Aku mungkin juga nggak tahu kalau sebetulnya kita ini punya pemimpin apa tidak,’’ kata Blok.

‘’Huss, kamu ini bicaranya sembarangan! Ya jelas kita punya!’’ sahut Gob ketus.

‘’Kelihatannya begitu. Sebenarnya kita kan nggak tahu siapa pemimpin yang kasat mata itu, yang kedigdayaannya mungkin saja melebihi figur yang sekarang menjadi orang nomor satu di negeri ini. Iya kan? Iya kan? Iya kan?’’

‘’Walah, embuh aku nggak mudeng maksudmu apa.’’

‘’Heuheuheu, ya nggak apa-apa. Kita ini wong cilik, urusan kita kerja kerja kerja saja. Yang itu bukan tandingan kita kalau mau membahasnya.’’

‘’Okelah kalau begitu. Terus selama setahun terakhir ini kamu merasa ada perubahan nggak?’’

‘’Hmmmm …’’ Blok berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya yang tebal mengikuti tren biar tak disangka ketinggalan zaman.

Blok yang masih membelai jenggotnya itu tampak berpikir keras. Tapi semakin keras otaknya disuruh bekerja, semakin dia buntu mendapat jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu. Entah karena tingkat kepekaan pemuda ini sudah terjun bebas di bawah garis normal. Dia belum merasakan adanya perubahan yang benar-benar signifikan.

Dia malah membayangkan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Biasanya perjalanan satu tahun bisa diartikan sebagai hari-hari penuh keindahan. Ke mana-mana selalu pergi berdua. Ibarat kata, dunia ini milik berdua, sedangkan orang lain menumpang di dunia khayalan yang begitu utopis itu.

Satu tahun adalah masa-masa ketika saling ingin lebih mengenal satu sama lain. Sama-sama ingin tahu siapa kawan siapa lawan sang terkasih. Momen yang tepat untuk mengetahui dengan siapa saja sang pujaan hati bergaul. Apakah dari blusukannya, eh pergaulannya itu bisa mendatangkan manfaat atau mudharat.

Selain itu, satu tahun menjadi masa yang tepat untuk menguji sifat pacar. Apakah perhatiannya masih sama saat masih pedekate atau justru berkurang saat sudah pacaran. Apakah kelakuan baik sang pacar memang ada maunya atau memang seperti itu tabiatnya. Terakhir, setelah resmi berpacaran, masihkah dia membawakan martabak saat apel malam Minggu.

‘’Wuiiih, iya juga ya. Terus kalau pacarannya sudah sampai dua, tiga, empat, sampai lima tahun piye, Blok?’’

‘’Pacaran jangan perhitungan dong. Jangan menghitung pacarannya sudah berapa lama, terus merenung mau dilanjutkan atau tidak kalau sudah lima tahun.’’

‘’Lha terus gimana?’’

‘’Pokoknya jalani saja apa yang ada sekarang ini. Kalau pacarnya salah, ya diingatkan biar tetap sama-sama melangkahkan kaki di jalan yang diridhoi Tuhan. Pokoknya saling berusaha menjadi pacar yang baik. Biar Tuhan nggak kecewa dan merasa percuma sudah menciptakan makhluk seperti yang lagi pacaran itu.’’

‘’Kamu cerdas juga ya, Blok. Saking cerdasnya, bisa-bisa nanti presiden nawari kamu jabatan yang prestisius.’’

‘’Wah, ciyus kamu, Gob? Miapa? Aku ini apa mumpuni jadi pejabat?’’

‘’Mialoh, Blok! Mumpuni atau tidak, yang penting menjabat jabatan penting!’’

‘’Nggak mau ah! Kita ini rakyat, rakyat kecil malah. Tugas kita ya sekuatnya berusaha bertahan hidup secara semestinya. Kalau yang di sana memikirkan dan memperjuangkan nasib kita biar menjadi rakyat yang lebih baik ya alhamdulillah, karena itu memang kewajiban mereka. Tapi kalau justru sebaliknya, tak acuh pada nasib rakyat yang sudah memilih mereka jadi pejabat negara, itu bukan urusan saya!’’

‘’Betul!’’ ujar Blok seperti seseorang yang selalu mengamini perkataan idolanya.

‘’Kita dari awal memang harus ikhlas. Sebagai manusia yang merdeka, kita nggak boleh terlalu menyandarkan nasib di tangan mereka. Karena mereka punya hidupnya sendiri. Kita pun demikian. Maka dari itu, kita harus mandiri. Life must go on, Blok!’’

‘’Betul! Yang namanya ikhlas kan artinya nggak mengharapkan apa-apa. Kita harus ikhlas siapa pun pemimpinnya. Kita nggak usah terlalu berharap lebih pada sepak terjang mereka. Lagipula kurang lebih Tuhan bersabda, Dia takkan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa pada diri mereka.’’

‘’Betul!’’ ujar Gob menirukan gaya sahabatnya.

‘’Hmmm, terus kue itu mau kamu apakan sekarang? Aku jadi lapar melihatnya. Taburan coklat dan parutan keju yang dihias di kue itu bikin perutku semakin lapar. Kuenya boleh aku makan kan? Mosok kamu mau bikin kartu dulu kepada orang-orang yang berhak makan kue-mu ini. Nggak kan?’’

Gob tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda memperbolehkan kue itu dimakan sahabatnya.

Lilin berbentuk angka satu di atas kue itu kemudian dinyalakan. Gob dan Blok berdoa dengan caranya masing-masing. Entah harapan apa yang mereka panjatkan. Yang pasti, doa yang tak terucap itu mesti antre bersama doa-doa lain yang dipanjatkan oleh orang lain. Entah itu doa dari koruptor, ketua partai, kiai, selebriti, tukang becak, tukang ojek online, pemain sepak bola, bintang porno, dan sebagainya. Selanjutnya, mutlak hak Tuhan untuk menyeleksi doa-doa yang menurutNya terbaik untuk dikabulkan saat ini atau suatu saat nanti. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s