Kopi Belappuccino

Kopi Belappuccino

TERNYATA tak hanya pelawak yang bisa guyon. Hujan pun sama lucunya. Beberapa waktu lalu dia sudah berani menyapa Bumi, eh tahunya cuma sebentar. Para manusia terlanjur ge-er karena akhirnya hujan menjawab kerinduan Bumi. Tenyata hujannya sekadar mampir. Dia belum mau mengubah musim kemarau yang sudah dirasa terlalu lama memanasi Bumi dan penghuninya ini. Apa boleh buat, silakan berdoa dengan caranya masing-masing biar hujan kembali memadu rindu dengan  Bumi.

Karena hujan yang sebentar itu, dunia kembali panas. Ya lumayanlah daripada nggak hujan babar blas. Akibat cuaca yang hot ini, menurut laporan staf khusus warung Mbok Nom, minuman terlaris yang dibeli pengunjung adalah yang dingin. Mereka jarang pesan minuman hangat semacam kopi, teh, wedang jahe, dan sebangsanya.

Salah seorang pelanggan yang melariskan dagangan minuman dingin adalah Gob. Pemuda serabutan yang akhir-akhir ini sering berpakaian sporty ini selalu memesan es teh, es jeruk, es susu soda, dan es-es yang menyegarkan lainnya. Membersihkan keringat yang masih mengucur sambil meneguk minuman dingin betapa nikmatnya.

Blok yang masih setia dengan kopi hitam pahit panas ini heran juga melihat perubahan sahabatnya yang tiba-tiba dan mendadak rajin olahraga itu. Dia juga heran tiba-tiba di warung Mbok Nom dipajang selembar poster aktris Emilia Clarke. Kalau yang ini wajar, sebab pemeran Daenerys Targaryen di serial Game of Thrones ini baru saja dinobatkan sebagai the sexiest woman alive versi sebuah majalah.

Lha ini, bukan dalam rangka hari olahraga, atau serba-serbi berbau olahraga, Gob beberapa hari terakhir datang ke warung selalu dengan tampilan yang sporty. Tak jarang dia datang dengan keringat yang masih mengucur deras. Sebagai sahabat, Blok wajib heran. Apalagi Gob sudah tidak lagi minum kopi. Jangan-jangan ada apa-apa …

‘’Kamu ngapain sekarang kok kelihatan sporty begitu? Kamu sudah nggak mau lagi minum kopi? Kamu mau mengkhianati kopi?’’ tanya Blok yang masih memperhatikan paras cantik Emilia Clarke di poster.

‘’Woooo, kamu ini jangan asal tuduh dong! Aku ini masih doyan kopi!’’ jawab Gob sambil ngganyang pisang goreng.

‘’Terus kenapa sekarang kamu minumnya yang dingin melulu?’’

Gob yang sekarang memperhatikan kesehatannya itu mengurangi konsumsi kopi. Dia bukannya bermaksud kopi nggak baik buat tubuhnya. Tapi kopi paling nikmat kalau disajikan selagi panas. Sedangkan Gob setiap kali ke warung setelah dia berolahraga. Minuman panas nggak cocok untuk tubuhnya. Maka dari itu, dia selalu pesan yang bisa menyegarkan seperti es. Selesai memeras keringat karena olahraga, asyiknya memang meneguk minuman yang dingin dan segar.

‘’Begitu, Blok,’’ ungkap Gob menjelaskan.

‘’Oalah, sorry sorry. Aku kira kamu sudah berpaling dari kopi.’’

‘’Ya nggak lah. Prinsipku cuma satu: Untukku kopiku, dan tetap untukku jugalah kopimu!!’’ ujar Gob mantap.

‘’Hahaha, kamu ini ada-ada saja.’’

‘’Aku ini ciyus lho, Blok! Jangan kamu anggap ini guyonan!’’

‘’Iya, sorry sorry. Jarang minum kopi bikin kamu jadi temperamen ya.’’

‘’Bukan begitu, tapi memang kamu nggak pernah menganggapku serius.’’

‘’Iya, sorry sorry. Tapi kamu kenapa sih kok jadi senang olahraga begitu? Kamu pengin mengubah bentuk tubuhmu ya? Kayak penyanyi dangdut itu?’’

‘’Ngawur! Dia mengubah bentuknya bukan karena olahraga atau diet ketat, tapi operasi plastik yang konon biayanya sampai sekian M lho.’’

‘’Lha terus kenapa kamu mendadak suka olahraga? Jangan-jangan kamu ini tersangkut kasus korupsi ya. Kamu olahraga biar bentuk badanmu jadi beda terus penyidik jadi nggak kenal sama kamu lagi? Iya to?’’

‘’Gundulmu kuwi, Blooook Blok!’’

Gob berang bingit saat Blok itu menuduhnya tersangkut kasus rasuah. Semiskin-miskinnya dia, nggak mungkin Gob sampai melakukan perbuatan yang mungkin nilai dosanya jauh lebih besar daripada sekadar memakai sandal yang ukiran alasnya menyerupai simbol dzat Yang Maha Kuasa itu.

Meskipun miskin, Gob masih waras. Dia nggak mau sampai korupsi. Karena itu cara kaya secara instan, segala sesuatu yang instan tak menarik perhatiannya kecuali mie instan. Toh, dia nggak mungkin korupsi. Karena posisinya tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Dia kan lelaki serabutan. Pekerjaannya saja nggak jelas apa.

‘’Iya, sorry sorry, Gob.’’

‘’Lagipula kalau sampai terbukti korupsi, minimal berstatus tersangka, aku langsung mengundurkan diri jadi sahabatmu. Aku juga nggak akan bilang-bilang kalau kamu itu sebetulnya juga terlibat dengan kasus korupsi.’’

‘’Huss! Jangan sekali-kali sebut namaku! Ingat prinsip sesama koruptor selama tidak tertangkap: Untukku hasil korupsimu, untukmu sendiri hukumannya kalau ketahuan,’’ kata Blok dengan nada bicara yang mendadak serak, berat serta berapi-api.

‘’Tenang, rahasia di antara kita aman. Paling nanti pas disidang di pengadilan, aku bakal jawab lupa atau nggak tahu setiap kali ditanya majelis hakim atau jaksa.’’

‘’Oke sip! Sudah ah, jangan bahas korupsi. Aku jadi takut apa yang diomongkan ini terjadi betulan pada kita,’’ ujar Blok bergidik. ‘’Terus kenapa kamu rajin berolahraga?’’

‘’Justru aku olahraga itu demi my lovely coffee, Blok.’’

‘’Demi kopi piye maksudmu?’’

Sesuai dengan salah satu semboyan keolahragaan, ‘Mens Sana in Corpore Sano’, Gob kepingin tubuh dan jiwanya sehat walafiat. Selama ini Gob memang jarang menggerakkan tubuhnya. Paling banter dia ke mana-mana jalan kaki. Itu pun niatnya bukan sebagai olahraga, melainkan karena nggak punya ongkos buat beli bensin motornya atau nggak ada duit buat bayar angkutan umum.

Sebagai militan kopi kelas teri, Gob sadar betul suatu saat stabilitas kopi bisa goyah. Kemungkinan terburuknya, bisa saja kopi yang sudah menginspirasi penyair dan filsuf ini suatu saat dikudeta minuman lain. Entah itu ancaman dari minuman jenis lain maupun dari jenis kopi sendiri. Mengingat kopi pun jenisnya bejibun.

Makanya, Gob persiapan sejak dini kalau ancaman itu sewaktu-waktu terjadi. Jika ada yang menyerang minuman kesayangannya itu, dia siap pasang badan berdiri paling depan menantang perang musuh. Karena tubuh dan jiwanya sudah kuat berkat rajin olah tubuh, dia jadi pede guna membela kopi.

‘’Sampai segitunya kamu membela kopi, Gob?’’

‘’Memangnya negara saja yang wajib dibela? Kopi juga punya hak yang sama!’’

‘’Berarti bela negara nggak penting?’’

Gob bukan bermaksud lebih memprioritaskan kopi ketimbang negara. Dia membayangkan suatu saat negara ini terlibat perang, misalnya jika kalah, mungkin saja nama negara ini bakal dihapus dari peta dunia. Namun hilangnya negara ini masih bisa diusahakan untuk didirikan kembali oleh rakyat yang masih menginginkan kembalinya negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.

Sedangkan kalau kopi yang hilang, musnah, punah, sirna, muspra, dan lain-lain, bisa lain ceritannya. Gob membayangkan jika kopi benar-benar tinggal kenangan, minuman ini tak lagi bisa dinikmati. Karena tanaman kopi sebagai bahan baku utamanya sudah diberangus dibabat habis dari ujung daun sampai ujung akar.

Kesimpulan ngawurnya, menurut Gob, seterpuruk-terpuruknya negara, masih bisa diusahakan untuk didirikan kembali. Sementara jika kopi sudah tinggal nama, tak ada lagi bibit untuk menumbuh-kembangkan tanaman jenis biji-bijian ini. Makanya, kopi lebih utama bagi Gob ketimbang negara.

‘’Aku jadi ingat pepatah: Jangan tanya apa yang sudah kopi berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk kopi ini,’’ sahut Blok.

‘’Nah, itu dia maksudku! Kopi bagi kita berdua mungkin cuma sebagai minuman penghilang ngantuk, tapi jika eksistensinya terkoyak, aku siap membelanya. Aku siap dengan segala daya upaya membela agar kopi dapat survive. Karena hanya ini yang bisa aku berikan demi minuman kesayanganku ini,’’

‘’Tapi semoga yang kau takutkan itu jangan terjadi ya. Aku nggak bisa bayangkan bagaimana tersiksanya kita jika kopi benar-benar sudah punah.’’

‘’Ya jangan dong. Tapi bukan berarti kita jadi lengah dan enggan berolahraga sebagai persiapan fisik membela kopi. Serangan ini bisa diluncurkan sewaktu-waktu,’’ kata Gob sambil pamer otot di lengannya yang masih belum nampak menggembung.

‘’Iya dong. Eh, by the way kamu mulai kapan jadi sering olahraga begini?’’

‘’Sejak satu Suro kemarin, Blok. Aku dapat wangsit melalui mimpi.’’

‘’Wah, ciyus?’’

‘’Yoi! Aku mimpi jadi pacarnya Ayu Tingting. Dalam mimpi yang langka itu, dia bahagia banget pacaran sama aku. Di mimpi itu, badanku yang kurus kerempeng ini jadi atletis mirip Cristiano Ronaldo. Setelah bangun, aku langsung semangat berolahraga. Yaaaa, kalau memang kenyataannya nggak jadi pacarnya Ayu Tingting, paling tidak badanku kan jadi atletis …’’

Blok tidak berkomentar. Dia hanya geleng-geleng kepala dan memesan secangkir kopi lagi. Kemudian dia membayangkan jika negara ini dipimpin karakter yang diperankan Emilia Clarke di serial TV yang laris ditayangkan negeri Paman Sam itu. (dsk/)

Advertisements

One thought on “Kopi Belappuccino

  1. mysukmana says:

    Postingan mu pas bgt..semalem aku mimpi.bumi tiba tiba mendung.terus hujan lebat…eh bangun udh subuh..apa itu yg namanya hujang yg dirindukan..:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s