Belum Tentu

PACARAN dalam kurun waktu tiga tahun sudah bisa terbilang lama. Untuk usia berpacaran selama itu, bagi sebagian orang mungkin terlalu lama. Terlalu lama mendekati zina, begitu kata yang merasa paling mengerti agama. Mereka mendorong pelaku pacaran untuk meresmikan hubungan itu agar halal dan diberkahi Tuhan.

Kata ‘menikah’ tak pernah terbersit sekalipun di pikiran Grace. Sampai pada Mamanya yang nun jauh di sana menelpon. Beliau menanyakan tujuan hidup mahasiswi berambut hitam lurus sebahu itu. Gadis berbibir tipis tersentak mendengarnya.

Grace baru sadar, selama ini begitu semangat kuliah. Setiap hari ke kampus. Setiap hari mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Mata kuliahnya tak pernah bernilai C, D, apalagi E. Selalu A dan jarang B. Dia tak tahu mau apa setelahnya. Ke mana setelah lulus.

Belum usai Grace melamunkan masa depannya, pertanyaan lanjutan ibunya semakin membuatnya terpaku. Dengan siapa kelak Grace mengarungi kehidupan di dunia.

Ketika usia kuliahnya menginjak pertengahan semester tiga, teman kampusnya berhasil memikat hatinya. Sejak saat itu, hari-hari Grace dihiasi lelaki bernama Lanang.

Suka dan duka dilewati bersama. Menangis dalam tawa, tertawa dalam tangis mewarnai halaman demi halaman buku kehidupan mereka selama menjadi sepasang kekasih. Tugas kuliah mulai dari yang terberat sampai yang ecek-ecek dikerjakan berdua dengan penuh semangat demi mengejar satu tujuan, wisuda bersama-sama.

Skripsi seakan merenggangkan intensitas pertemuan mereka. Pra-skripsi, hampir setiap hari mereka bisa bebas memadu kasih dengan caranya masing-masing. Kini, prasyarat menamatkan jenjang sarjana itu membelenggu kebebasan Grace dan Lanang untuk semakin menebalkan kadar cinta mereka.

Akhir pekan yang menjadi langganan menghabiskan waktu di keramaian kota tak lagi terlihat. Mereka lebih memilih tempat-tempat terdekat. Itu pun hanya pergi ke tempat makan. Itu pun dibawa pulang, bukannya dinikmati di tempat sambil saling menyuapi satu sama lain. Selebihnya, waktu mereka banyak digunakan untuk merevisi bab yang dianggap belum layak mengantar keduanya mengenakan toga.

Pantang hura-hura, makan enak dan mahal, nonton bioskop, shopping, ke salon, dan jalan-jalan sebelum sidang dan dinyatakan lulus tanpa syarat oleh dosen penguji. Itu mungkin Sumpah Palapa ala muda-mudi yang masih saja termabuk cinta itu.

Mereka lebih banyak menghabiskan waktu pacaran mereka via pesan singkat atau telepon. Jarang ada pembahasan hal berbau apa kabar, sudah makan atau belum, tidur yang nyenyak, maupun harapan saling memimpikan saat mata terpejam. Itu semua berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan seputar progres skripsi.

Grace belum mengenalkan Lanang secara lebih jauh pada orangtuanya. Mamaya hanya tahu Grace punya pacar. Selebihnya, beliau tak tahu-menahu perihal kekasih putri bungsunya itu. Bahkan dia tak tahu nama lelaki yang memacari anaknya tersebut.

 ‘’Kenapa kamu belum juga kenalkan dia ke Mama-mu?’’ tanya seorang teman dekat Grace saat main ke kamar kontrakannya.

Grace tak menjawab. Dia masih melamun seusai curhat dengan sahabatnya itu.

‘’Ingat, kalian pacaran sudah tiga tahun, lho,’’ lanjut temannya.

Pertanyaan itu membawa pikiran Grace kembali di tahun pertama kuliah. Saat pertama kali melihat dan mengenal Lanang sebagai teman sekelasnya. Karena sifat pendiamnya, Lanang menjadi sosok mahasiswa paling misterius sekelas. Dia hanya berbicara seperlunya dengan teman sekelasnya, termasuk dengan Grace.

Tahun kedua, Lanang seperti mulai membuka diri. Mungkin dia perlu waktu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebagai mahasiswa dari luar daerah, tentu dia merasa canggung bergaul dengan teman barunya yang mayoritas berasal dari satu daerah.

Perubahan Lanang yang terbuka itu berimbas juga pada teman lawan jenisnya. Grace yang paling takjub akan hal itu. Ternyata di balik sifat pendiamnya, Lanang merupakan sosok lelaki yang ramah. Begitu kesan pertama yang Grace rasakan ketika mengobrol dengan Lanang di kantin kampus.

‘’Dari situ kamu mulai suka sama dia?’’

‘’Mungkin …’’

Hari-hari selanjutnya sejak perubahan sikap Lanang itu, Grace seperti diterbangkan ke awan. Setiap hari saat bangun pagi, selalu ada senyum tersungging begitu membaca pesan di HP-nya. Isinya beberapa baris puisi yang dikirim Lanang saat dini hari. Puisi itu menjadi penyemangat Grace untuk menghabiskan hari yang melelahkan.

Puncaknya, beberapa minggu setelahnya, Lanang membaca puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono di depan kelas. Tingkah laku nekat lelaki yang dulunya misterius dan pendiam itu sontak membuat geger seisi kelas. Tak lain tak bukan, puisi itu dijadikan Lanang sebagai pernyataan rasa cintanya pada Grace.

Di mata Grace, Lanang begitu gagah saat membaca puisi itu. Suaranya yang berat membuat Lanang terlihat begitu tulus dan sungguh-sungguh menyatakan perasaannya itu. Belum lagi sorot mata Lanang yang teduh. Selama membaca puisi, Lanang tak sedikitpun memalingkan matanya ke arah lain selain Grace. Dan itu membuat Grace semakin tinggi terbang ke awan sampai logikanya tak sanggup lagi berbicara.

‘’Perempuan mana yang sanggup menahan untuk tidak berkata ‘iya’ begitu mendengar ada yang membacakan puisi sedahsyat itu!’’ kata Grace pada sahabatnya itu.

‘’Terus selama kalian tiga tahun pacaran, sudah seberapa jauh kamu mengenal Lanang? Kamu sudah kenal dengan keluarganya?’’

‘’Aku pernah beberapa kali berbicara dengan ibunya via telepon.’’

Selama pacaran pun, Grace cukup mengenal sosok Lanang. Lelaki yang berhasil memikat hatinya itu berasal dari kampung yang jauh dari tempatnya kuliah. Biasanya, Lanang pulang kampung menggunakan bus kelas ekonomi. Kata Lanang, perjalanan menuju kampungnya menempuh waktu lebih dari sepuluh jam. Itu pun mesti menyambung dengan beberapa angkutan umum lainnya. Karena tidak ada kendaraan yang jurusannya langsung dari tempatnya kuliah menuju ke kampung halaman.

Dari yang diceritakan Lanang pada Grace, orangtuanya di kampung bekerja sebagai buruh tani. Lanang pun merupakan anak tunggal. Tujuannya kuliah jauh di kota besar semata-mata demi mengubah takdir yang seakan mengutuk keluarganya turun-temurun tergolong dalam kaum miskin.

‘’Sekarang apa yang bikin kamu ragu?’’

‘’Aku nggak tahu …’’

‘’Apa karena latar belakang Lanang yang seperti itu?’’

‘’Aku nggak tahu …’’

‘’Mungkin rasa itu hilang seiring tak ada lagi hal misterius yang melekat pada diri Lanang. Kamu sudah tahu semuanya tentang Lanang. Itu membuat kamu nggak lagi penasaran sama sosok misterius Lanang,’’ kata sahabat Grace yang berbeda jurusan namun bernaung di bawah atap kontrakan yang sama itu.

‘’Aku nggak tahu …’’

‘’Kamu sudah tanya ke Lanang, nanti setelah lulus bagaimana kelanjutan hubungan kalian?’’

‘’Sudah …’’

Setiap kali Lanang ditanya tentang rencana hidupnya ke depan, Grace selalu mendapat jawaban yang sama. Dengan jawaban pendek dan tidak memuaskan Grace, Lanang hanya berkata, ‘’Tenanglah, sayang. Jangan meremehkan Tuhan.’’

Setelah jawaban itu, tak ada lagi pembahasan lebih lanjut dan lebih rinci lagi. Semua menguap begitu saja sampai Grace menyinggung lagi perihal masa depan hubungan mereka. Jawaban yang sama bakal diucapkan dari mulut Lanang.

‘’Kamu ragu dengan masa depan Lanang?’’

‘’Bagaimana aku nggak ragu?! Setiap kali ditanya jawabannya selalu sama!’’ jawab Grace ketus. ‘’Itu juga yang buat aku agak malas mengenalkannya ke orangtuaku!’’

Dari dulu, Grace selalu menunda mengenalkan pacarnya pada keluarga, terutama orangtua. Dia baru akan melakukan itu jika pacarnya meyakinkan untuk lanjut ke tingkat yang lebih mulia. Dalam hal ini, Lanang belum memenuhi. Meski sudah pacaran tiga tahun, tetap saja mustahil  Grace mengenalkan pemuda kampung itu pada orangtuanya yang sudah kenyang makan asam-garam kehidupan kota di berbagai negara.

Bagi Grace, orangtuanya cukup tahu saja bahwa dia punya pacar. Orangtua Grace pun tak menanyakan lebih lanjut perihal sosok lelaki yang berhasil mengambil hati anaknya tersebut. Selama Grace menjadi mahasiswi, orangtuanya selalu menanyakan perkembangan perkuliahan di kampus. Tak sekalipun menyentuh hal-hal berbau pacar.

Beberapa kali Grace sempat membahas pacar kebanggaannya itu pada orangtuanya. Namun apa tanggapan mereka? Mama dan Papanya menganggap Grace tak berbicara sama sekali. Pernah sekali Grace menyinggung pacarnya, sayang waktunya tak tepat. Dengan nada yang tegas, Papa Grace bilang, ‘’Kamu ini kuliah di sana buat mengejar ilmu, bukan pacar-pacaran. Dan ingat! Kalau memang mau pacaran, cari yang sepadan!’’

Saat mendengar hal itu, usia pacaran Grace dengan Lanang telah berjalan dua setengah tahun. Namun Grace tetap menaruh keyakinan yang besar pada lelaki pujaannya tersebut. Dia yakin kelak Lanang mampu menjadi menjadi sosok lelaki yang seperti dibilang Papa Grace sebagai calon yang sepadan.

 ‘’Menurut kamu, Lanang sudah menjadi pasangan yang sepadan buat kamu belum?’’ tanya temannya.

Grace kembali terdiam. Kamarnya yang ber-AC itu menjadi sunyi. Masih banyak yang ingin diutarakan temannya itu. Hanya saja tertahan karena percuma karena Grace tidak akan mendengar ucapannya. Karena Grace sedang diam mematung. Dia memandangi TV berlayar lebar dengan tatapan kosong.

‘’Masa depan itu penuh misteri. Dan itulah yang membuat manusia betah bertahan hidup. Mereka diliputi rasa penasaran akan seperti apa rupanya masa depan itu. Tapi masalah masa depan juga menyangkut keyakinan. Kalau memang kamu sudah nggak yakin, buat apa dilanjutkan?’’ kata sahabatnya itu sambil berlalu keluar kamar meninggalkan Grace yang matanya sudah penuh airmata yang kecewa.

Perlu beberapa hari bagi Grace untuk menimbang-nimbang apa yang mau dia putuskan. Selama masa itu, dia tak enak makan, tak nyenyak tidur, tak mandi, tak lain-lain tak apa-apa. Juga tak konsentrasi melanjutkan skripsinya. Semuanya buyar.

Sampai pada akhirnya dia sudah memutuskan keputusannya dengan bulat. Saat akhir pekan, di saat yang pasangan lain sedang senang-senangnya bersuka dengan cinta. Grace mesti bergelut dengan perasaannya. Dia mengajak Lanang untuk makan di sebuah restoran kota tempat mereka kuliah.

Sambil menunggu pesanan makanan datang, tak ada sepatah kata pun terucap. Seakan sudah tahu apa yang akan terjadi. Grace dan Lanang hanya saling pandang satu sama lain. Mata mereka seakan berbicara. Hingga membuatnya basah tanpa kata-kata.

‘’Aku mau ngomong sesuatu …’’ Grace sudah tak kuat menahan ingin bersuara.

Lanang sama sekali tak membalasnya. Dia hanya tersenyum sambil terus menatap mata Grace yang tak lagi kuat melihat mata Lanang yang teduh.

Belum sempat Grace melanjutkan apa yang mau dia omongkan, HP Lanang berdering. Itu dari Ibunya. Tak mungkin Lanang mendiamkan panggilan tersebut. Dia takut mengkhawatirkan ibunya karena tidak menerima telepon itu. Dia tak mau ibunya kecewa, murka, dan tiba-tiba mengutuknya menjadi batu.

‘’Sebentar ya …’’ kata Lanang pada Grace. ‘’Iya, Bu …’’

‘’Kamu lagi apa?’’

‘’Lagi makan, Bu …’’

‘’Masih ingat pesan Ibu, kan? Jangan sekali-kali pernah bilang ke siapa pun kalau kamu ini anak orang kaya! Jangan bilang kalau Bapak sama Ibumu ini juragan tanah yang punya berhektar-hektar sawah! Jangan bilang kalau kita ini keturunan orang ningrat! Ibu nggak mau kamu kecewa karena orang-orang mendekatimu hanya karena tahu latar belakangmu!’’

‘’Iya, Bu …’’

‘’Kamu kapan lulus? Nanti kalau sudah lulus, kamu pulang ke kampung saja. Sawah ini kamu saja yang urus. Bapak sama Ibu pengin istirahat menikmati masa tua.’’ []

Madiun, 7 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s