Si(k)sa Hidup

Si(k)sa Hidup

HUJAN akhirnya menampakkan gemericiknya. Tak hanya penyair yang begitu mencintai hujan sampai-sampai menulis puisi tentang hujan yang melegenda, Gob dan Blok pun demikian. Saking cintanya pada hujan, dua pemuda nggak jelas ini semakin melamakan waktu mereka ngopi di warung Mbok Nom.

Air yang jatuh dari langit itu bikin mereka ingat masa kecil saat hujan-hujanan main bola di lapangan. Sayangnya, masa kecil Gonb dan Blok sudah berlalu. Sayangnya, lapangan untuk bermain sudah tidak ada. Sayang, bolanya pun sudah kemasukan mafia.

‘’Kalau hujan begini, aku jadi ingat masa kecil. Aku sering hujan-hujanan,’’ kata Blok sambil menyeruput kopi hitam hangat.

‘’Yoi, kalau sudah pulang pasti dimarahi ibu,’’ sahut Gob ikut mengenang.

‘’Besoknya sakit demam, flu, masuk angin. Terus nggak masuk sekolah. Hahaha …’’

‘’Iya ya. Hahaha …’’

‘’Tapi sekarang anak-anak kegemarannya opo ya?’’

‘’Mereka gemar dijadikan korban kekerasan!’’ ujar Gob ketus.

Gob miris mendengar ada lagi anak kecil yang jadi korban kekerasan. Bahkan sampai meninggal dunia dengan cara yang tidak layak diungkapkan. Parahnya lagi, bocah malang yang sudah tak bernyawa ini bukannya diperlakukan dengan semestinya seperti dikubur, malah ditaruh di dalam kardus terus dilempar di jalan.

Dia merasa iba dengan nasib generasi anak kecil sekarang. Mereka tidak sebebas anak-anak ketika Gob masih seusia mereka. Dulu, Gob bebas bermain di mana pun, asal dekat rumah. Dan dengan siapa pun, asalkan dengan yang sudah dikenal.

Sekarang, anak masa kini nggak bisa merasakan itu. Mereka diliputi rasa ketakutan. Takut saat asyik bermain, tiba-tiba dia diculik. Beberapa hari hilang, dicari ke mana-mana tak ketemu. Tahu-tahu ditemukan dalam kondisi tak lagi bernyawa. Dengan kondisi tubuh penuh luka maupun terpisah organ satu sama lain.

‘’Tragis sekali ya nasib bocah itu. Usianya belum sampai belasan tahun tapi sudah dipanggil Tuhan dengan cara yang menurut orang-orang nggak manusiawi,’’ sahut Blok.

‘’Iya, aku dengar sekarang sudah diusulkan hukuman bagi pelakunya. Katanya mereka bakal dikebiri. Kalau perlu dihukum mati sekalian.’’

‘’Wah, ternyata hukumannya nggak kalah sadis ya dengan perbuatan pelaku,’’ kata Blok merinding membayangkan bagaimana eksekusi pelaku yang dikebiri itu.

‘’Kalau hukumannya ecek-ecek nggak bakal menimbulkan efek jera. Kalau ancaman hukumannya mengerikan seperti itu, mungkin nggak ada lagi yang berani melakukan kekerasan terhadap anak-anak.’’

‘’Kalau kamu dikasih umur dua belas tahun lagi, setelah itu mati seperti nasib anak itu, kamu mau apa?’’

 ‘’Aku mau benar-benar memaksimalkan menikmati hidup!’’ jawab Blok mantap.

Blok bakal bikin bucket list atau daftar hal-hal yang ingin dia lakukan sebelum ditimbali Gusti Pangeran. Dia ingin pulang dalam keadaan bahagia. Bahagia karena sudah merasakan hal-hal yang dia inginkan selama di dunia. Sehingga ketika bertemu Tuhan, dia tidak lagi punya keinginan apa-apa.

Mulai dari hal-hal kecil, dia pengin bantu mengembalikan kejayaan Liverpool yang sekarang ditangani Jurgen Klopp itu. Selain itu dia juga pengin menjadi Plt. atau Pelaksana Tugas Presiden FIFA yang kosong karena Joseph ‘Sepp’ Blatter lagi diskors. Dia pengin mengevaluasi statuta FIFA yang bikin organisasi-organisasi di bawahnya itu jadi arogan dan nggak mau nurut sama negara.

Kemudian, sebagai lelaki sejati, tentu Blok pengin membantu Ayu Tingting move on setelah hubungan asmaranya kandas dengan Shaheer Sheikh. Kalau pelantun Alamat Palsu itu mau, Blok selalu membuka pintu lebar-lebar hatinya untuk menerima Ayu Tingting dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Tak ketinggalan, Blok juga pengin bantu memadamkan api di hutan Sumatra dan Kalimantan. Sebagai wong cilik, dia sebetulnya malu kalau sampai negara lain ikut bantu mematikan api itu. Warga negara ini jumlahnya banyak sekali, mosok gotong-royong bantu mematikan mati saja nggak bisa. Atau nggak mau? Atau sudah nggak peduli dengan nasib saudaranya yang setiap hari menghirup asap berbahaya.

Tadinya Blok juga mau bantu menguatkan Rupiah, tapi ternyata sudah kuat sendiri. Kemarin, katanya kurs Rupiah meroket. Kalau sudah begitu, niat Blok urung dia laksanakan. Biarkan saja, Blok nggak mau membantu untuk lebih meroketkan Rupiah. Cukup dibantu dengan doa. Semoga kabar baik ini sifatnya nggak sementara. Pelan tapi pasti Rupiah harus menguatkan diri menghadapi dominasi mata uang negara asing.

‘’Dan masih banyak lagi, Gob. Bisa sampai besok pagi kalau aku sebutkan satu-satu,’’ kata Blok.

‘’Wah, banyak juga ya, Blok. Memangnya kamu bisa melakukan itu semua?’’ tanya Gob meragukan keinginan sahabatnya itu.

‘’Lho, harus yakin dong! Bersama kita bisa! Lebih cepat lebih baik! Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Makanya ayo kerja kerja kerja!!’’

‘’Yo wis, aku percaya saja sama kamu.’’

‘’Eh, ngomong-ngomong kenapa mesti dua belas tahun sih?’’ tanya Blok.

‘’Ini kan sesuai sama program pendidikan kita, wajib belajar dua belas tahun!’’

‘’Oalah, lha terus kalau kamu gimana?’’

‘’Aku mau protes!’’

‘’Protes opo, Gob?!’’ kata Blok kaget.

Jika Gob diberi jatah usia dua belas tahun lagi, dia tidak mau menerima begitu saja. Pemuda yang hobi ngeyel itu akan mencari tahu alasan kenapa dia akan mati dua belas tahun lagi. Kalau sampai alasannya tidak mencapai standar minimal akalnya, dia bakal protes terus. Kalau perlu dia mau mengajukan praperadilan sampai berkali-kali seperti yang dilakukan Farhat Abbas menghadapi kasusnya dengan Ahmad Dhani.

Kalau memang dunia ini masih membutuhkan orang seperti Gob, dia nggak mau dimatikan begitu saja. Terlebih selama proses kematiannya itu dia dilumpuhkan seperti KPK kalau Undang-undang lembaga anti rasuah itu sampai disahkan. Bagaimana nggak lumpuh, mau menyadap saja harus pakai izin pengadilan negeri. Mau mengusut kasus korupsi saja harus yang nilai kerugian dialami negara minimal Rp 50 miliar saja.

‘’Lho, KPK mau diapakan lagi, Gob?’’

‘’Dilemahkan, eh, bukan hanya dilemahkan saja, tapi kalau kata orang-orang, KPK itu lagi dibunuh secara pelan-pelan,’’ jawab Gob.

‘’KPK salah apa kok dari dulu sampai sekarang seperti begini nasibnya?’’

‘’Ya menurut koruptor, KPK itu jelas salah!’’

Koruptor pasti tidak suka dengan eksistensi KPK. Karena lembaga yang resmi berdiri sejak 2002 itu dianggap menghalagi para koruptor untuk melakukan tindakan memperkaya diri. Padahal korupsi itu buat mereka tujuannya baik, lho. Karena uangnya untuk menafkahi keluarga. Nah, niat suci ingin menghidupi keluarga dari uang hasil korupsi itu dihalang-halangi jalannya dengan adanya KPK itu. Itu bikin koruptor mumet.

Makanya, koruptor yang rata-rata sudah kaya raya sejak sebelum menjadi koruptor itu pengin menghukum KPK. Atas dasar karena lembaga ini sudah berani dan lancang menghalang-halangi pekerjaan mereka. Itu jelas melanggar hukum. Dengan segala daya dan upaya, mereka pasti ingin melemahkan KPK. Kalau perlu dimusnahkan saja dari negara yang tingkat korupsinya sudah terbilang akut ini.

Sama seperti pelaku kekerasan terhadap anak-anak tadi. Jika hukuman bagi pelakunya yakni dikebiri atau dihukum mati, berarti si pelaku itu nggak bisa lagi mengulangi perbuatannya. Begitu juga dengan KPK, kalau sudah dimatikan, nggak ada lagi penghalang bagi koruptor untuk melakukan yang seharusnya mereka lakukan. Nggak ada lagi lembaga yang menyalahkan tindakan korupsinya.

‘’Hmm, betul juga katamu, Gob,’’ kata Blok sambil manggut-manggut. ‘’Eh, ngomong-ngomong kenapa mesti dua belas tahun sih?’’ tanya Blok lagi.

‘’Ini kan sesuai sama program pendidikan kita, wajib belajar dua belas tahun!’’

‘’Apa hubungannya korupsi sama program itu?’’

‘’Ada! Dalam waktu dua belas tahun itu, koruptor mesti belajar. Mereka wajib mempelajari trik berkorupsi biar nggak ketahuan KPK. Harus belajar  menghilangkan barang bukti yang bisa menjadikan mereka tersangka korupsi. Dan yang terpenting lagi, mereka harus belajar mencari cara dan alasan yang lebih rasional untuk melumpuhkan KPK biar nggak jadi kontroversial. Karena kalau tidak begitu, sama saja mereka menelanjangi diri sendiri. Semakin jelas mereka menunjukkan wujud aslinya di depan rakyat.’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s