Jas Merah

Jas Merah

MALAM itu Mbok Nom bikin warungnya bertema batik. Sebetulnya bukan malam itu thok Mbok Nom pakai baju batik. Setiap hari, batik selalu melekat di tubuh perempuan separuh baya itu. Sebagai peringatan hari batik nasional, Mbok Nom jadi ikut-ikutan latah pengin warungnya jadi serba batik.

Dia pun menunjuk Gob dan Blok sebagai panitia guna mendandani warungnya. Dua pemuda serabutan itu semangat mendapat amanat dan kepercayaan dari Mbok Nom. Mereka maunya acaranya sukses dan bisa menyedot masyarakat buat ngopi di sana. Dinding warung ditempeli berbagai gambar batik khas kedaerahan di Nusantara.

Betul apa yang diinginkan Gob dan Blok. Warungnya ramai! Banyak orang berseliweran masuk-keluar buat ngopi atau makan. Dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan bule pun turut meramaikan warung yang masih mempertahankan kesederhanaannya itu. Dan sesuai dengan dress code pengunjung warung, semua yang datang memakai atribut yang serba batik.

‘’Wah,  batikmu bagus banget, Gob. Beli di mana?’’ tanya Blok sambil memperhatikan detil baju batik yang dikenakan soulmate-nya itu.

‘’Jelas dong! Ini bikinan luar negeri gitu lho!’’ ujarnya bangga.

‘’Lho, batik ini kan warisan asli leluhur kita! Kok malah orang luar yang produksinya.’’

‘’Ini oleh-oleh temanku sehabis dia holiday ke luar negeri, Blok.’’

‘’Aneh ya, batik itu asli punya kita tapi kok yang bikin produksinya malah orang luar ya. Dan yang lebih aneh lagi, kita kok ya mau-maunya beli produk batik buatan luar negeri. Ah, aku jadi bingung.’’

Belum selesai obrolan mereka, pengunjung warung semakin membludak. Sebagai panitia dadakan, mereka wajib melayani tamu yang entah mau makan atau sekadar ngopi. Bahkan ada juga pengunjung yang nggak mau makan. Mereka ke warung buat menunggu update perkembangan pencarian pesawat Aviastar di TV. Mereka juga mengajak semuanya buat mendoakan yang terbaik bagi orang-orang yang berada dalam pesawat nahas itu. Juga jangan sampai kejadian yang sama terulang di kemudian hari.

‘’Wah, acara kita sukses besar ya,  Gob,’’ ujar Blok girang menyaksikan betapa tingginya antusiasme masyarakat memakai batik dan meramaikan warung Mbok Nom.

‘’Iya,’’ jawab Gob dengan nada datar.

‘’Ekspresi mukamu kok tegang itu kenapa? Sudah, nggak usah dipikirkan. Baju itu kan oleh-oleh dari temanmu. Toh, bukan kamu sendiri yang beli. Nanti kalau kamu ketemu temanmu itu bilang saja begini: Bro, kalau memang mau ikut-ikutan melestarikan batik, belinya jangan di luar negeri dong! Batik produksi dalam negeri nggak kalah keren dengan bikinan luar! Kalau kamu beli batik di luar negeri, kadar cintamu pada batik dan produk dalam negeri pantas dipertanyakan!’’

‘’Bukan itu yang bikin aku tegang, Blok.’’

‘’Lha terus opo?’’

‘’Aku lagi waspada memperhatikan para pengunjung di sini. Siapa tahu ada hal-hal yang nggak kita inginkan terjadi.’’

‘’Lho, di sini kita kan lagi memperingati hari batik. Bukan lagi kumpul buat bikin sesuatu yang bisa membahayakan keamanan dan stabilitas negara.’’

‘’Bukan itu maksudku! Tolong kamu catat jumlah orang yang datang dan yang keluar. Aku nggak mau nanti total orang yang masuk limapuluh tapi yang diwisuda, eh yang keluar berjumlah limaratus orang. Kan aneh bin ajaib itu namanya,’’ kata Gob sambil bisik-bisik.

Gob mewaspadai warungnya dijadikan sebagai tempat seremonial kampus-kampus nggak jelas yang rela memberikan ijazah pada orang-orang yang menginginkan gelar akademik dengan cara apa pun. Apalagi tema warung ini mendukung buat dijadikan acara wisuda terselubung. Biasanya memang para mahasiswa yang diwisuda memakai batik. Nah, bisa saja ada oknum yang memanfaatkan itu.

‘’Halah, kamu ini jangan lebay gitu dong. It’s impossible, my friend!’’ ujar Blok mencoba menenangkan ketakutan sahabatnya itu.

‘’Bukan cuma itu thok! Kamu perhatikan juga bule-bule itu. Siapa tahu dia bawa pistol terus menembaki pengunjung warung, termasuk kita.’’

‘’Ini bukan Amerika, Gob! Ini juga bukan kampus yang menjadi TKP kasus penembakan di Negeri Paman Sam itu. Kamu pokoknya tenang saja. Everything’s gonna be alright! Woles!’’

‘’Yang namanya waspada kan tetap harus ada, Blok.’’

‘’Ya monggo. Tapi siapa sih yang mau bunuh kita. Kita ini bukan aktivis yang berani dengan lantang menentang adanya penambangan pasir yang katanya ilegal. Nggak ada untungnya kalau kita mati.’’

‘’Jangan bilang begitu! Ingat pepatah mati satu tumbuh seribu!’’

Bagi Gob, meski raga sudah tak bernyawa, semangat juang untuk mempertahankan apa yang benar tetap ada. Yang namanya ideologi, ilmu, semangat perjuangan, dan lain sebagainya itu nggak bakal bisa mati dan dimatikan. Ruh itu tetap ada, berkembang biak, dan merasuki setiap pikiran manusia-manusia  yang peduli pada sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan.

‘’Wah, terus kita kerasukan ruh sehingga menjadi bodoh ini warisan dari siapa, Gob?’’

‘’Lha embuh! Yang jelas dia pasti bukan orang yang beruntung,’’

‘’Kok begitu, Gob?’’

‘’Ya iya dong. Kalau bejo, dia pasti sudah masuk sejarah. Mungkin dia dicatat sebagai orang yang memperjuangkan semangat untuk selalu merasa bodoh.’’

‘’Wah, kalau begitu mungkin sekarang ini kesempatan kita untuk bikin catatan bersejarah biar nanti dikenal oleh generasi selanjutnya.’’

‘’Tercatat dalam sejarah sih nggak apa-apa. Tapi masalahnya, yang menulis sejarah itu kan bukan kita!’’

Bisa saja kelak yang menulis tentang eksistensi Gob dan Blok di dunia ini adalah orang baik dan mengenal mereka dengan baik pula. Tentu yang dicatat hal-hal baik mengenai dwi-tunggal itu. Generasi masa depan bakal melihat sosok Gob dan Blok sebagai simbol kebodohan yang haus akan kepintaran.

Bukan nggak mungkin juga keberadaan Gob dan Blok ini dicatat oleh orang-orang yang nggak suka sama mereka. Dua pemuda nggak jelas ini bisa saja ditulis sebagai orang yang membahayakan stabilitas dan keamanan negara karena menyebarkan ideologi kebodohan. Oleh karenanya, ideologi semacam itu wajib dimusnahkan di negara yang katanya demokratis dan menerima perbedaan antarsesama ini.

‘’Kalau itu sudah terjadi, kamu mau apa? Kita nggak bisa apa-apa. Lha wong kita sudah mati kok. Kita jadi nggak bisa bikin semacam pembelaan atas catatan sejarah yang nggak seimbang itu,’’ kata Gob sambil tetap mengawasi setiap pengunjung warung.

‘’Aku jadi paham sekarang, dulu Bung Karno mengamanatkan kita dengan salah satu slogannya yang terkenal, Jas Merah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!’’

‘’Tapi kita jangan cuma meninggalkan saja. Yang paling krusial itu jangan sekali-kali membelokkan sejarah!!’’ (dsk/)

Advertisements

2 thoughts on “Jas Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s