Wajib Bagi yang Mampu

Wajib Bagi yang Mampu

HUJAN masih juga enggan turun. Panas kemarau semakin merajalela sampai pelosok negeri yang tak cuma hutan yang mudah dibakar, namun juga emosi manusianya. Pun di sebuah bangunan sederhana bernama warung yang sahamnya seratus persen atas nama Mbok Nom itu ikut-ikutan kepanasan. Orang-orang yang lagi ngopi di sana pada kipas-kipas dengan alat seadanya.

Tak ketinggalan, Blok juga lagi kipas-kipas pakai tangan. Sebetulnya dia sumuk bukan karena cuacanya yang panas maupun habis makan sambal bawang yang pedas, tapi karena melihat sahabatnya, Gob, lagi masyuk makan bareng sama dua cewek cantik. Gob sangat pede berhaha-hihi dengan dua wanita misterius tersebut.

Kalau  sudah asyik dengan dua wanita itu, Gob jadi lupa pada sahabatnya. Itu yang bikin Blok panas hati. Terlebih, saat Blok mencoba nimbrung obrolan mereka, Gob mengusirnya secara halus. ‘’Ssst, jangan diganggu!! Huss husss sana!!’’ ucap Gob dengan nada centil ala Syahrini.

Seiring tiba waktu senja yang dipotong sepotong seorang wartawan untuk dipersembahkan kepada pacarnya itu, dua perempuan cantik itu pergi. Gob menghampiri Blok yang ternyata malah tertidur di warung. ‘’Blok, sorry tadi kelamaan ngobrolnya. Sekarang ayo kita ngopi seperti biasa,’’ kata Gob sambil membangunkan Blok.

‘’Oke!’’ sahut Blok langsung kembali semangat setelah mendengar ajakan ngopi. ‘’Eh, tadi awalnya aku kira yang lagi ngobrol sama dua perempuan itu bukan kamu, lho,’’ lanjut Blok.

‘’Memangnya kamu kira siapa?’’ tanya Gob penasaran.

Tadinya, Blok tak menyangka orang yang lagi makan bareng dua cewek itu adalah sohib-nya. Entah mata Blok yang lagi kurang bisa fokus karena ngantuk, entah juga memang betul dugaannya. Hari itu Gob mirip banget sama tahanan yang pernah kepergok nonton pertandingan tenis di Bali itu.

Plesiran ke tempat umum semasa menjadi terpidana sepertinya jadi hobi tersendiri bagi orang seperti itu. Mungkin saja dia menganut hukum bahwa keluar-masuk penjara itu hukumnya wajib bagi yang mampu. Selama mampu keluar dengan segala daya dan upaya, maka hal itu menjadi wajib. Selama mampu menyulap ruangan sel yang mengurung mereka menjadi setara kamar hotel berbintang, maka itu wajib.

‘’Terus bagi yang nggak mampu gimana, Blok?’’

‘’Ya jangan sirik. Karena sirik tanda tak mampu. Lagipula perbuatan seperti itu nggak layak buat dijadikan bahan iri hati.’’

‘’Tapi kan kasihan bagi yang nggak mampu.’’

‘’Kalau nggak mampu ya nggak wajib hukumnya. Ilmu menembus tembok penjara itu bukan sembarang orang yang menguasai. Dan bagi mereka yang mampu menembusnya layak diberikan pujian.’’

Tadinya Blok mau mengucapkan selamat pada pria terduga narapidana itu. Dia mau memuji kesaktian dan betapa hebatnya pria itu sampai-sampai bisa keluar penjara. Padahal penjara itu konon dibangun untuk menghukum orang-orang yang salah di mata hukum. Sayang, mata hukum kadang disilaukan sehingga membuat ketajaman pandangannya berkurang.

Bisa saja orang yang sering keluar plesiran ke tempat umum itu sebetulnya orang biasa. Tapi orang-orang di belakangnya lah yang punya kekuatan super. Dengan kekuatan yang kasat mata, pria yang masih menyimpan banyak rahasia mafia itu dengan santai melenggang keluar lapas.

Tentu usahanya untuk kabur penjara tidak sedramatis tokoh sentral di film The Shawshank Redemption. Eh, dia nggak kabur. Tapi sejenak menghirup udara luar. Memeriksa apa anjloknya Rupiah itu benar-benar berlaku untuk semua umat. Memeriksa apakah api yang membabat hutan Sumatra dan Kalimantan sudah bisa membakar jenggot pelaku pembakaran atau belum.

Mungkin juga dengan keluarnya dia dari penjara, ingin menguji ingatan warga kita. Apakah dia masih dikenali meski sosoknya nyaris tak terberitakan. Tapi sayang, niat Blok untuk memuji-muji pria terduga tahanan lapas itu urung ditunaikan. Ya apalagi kalau bukan karena matanya itu salah lihat. Ternyata yang daritadi Blok perhatikan adalah Gob, sahabatnya sendiri.

‘’Mosok aku mbok samakan sama dia, Bloook Blok.’’

‘’Sorry, Gob. Mataku salah lihat,’’ kata Blok sambil kedap-kedip.

‘’Memangnya matamu kenapa?’’

‘’Nggak tahu. Mungkin gara-gara kebanyakan makan daging kambing. Sekarang aku juga agak mumet.’’

‘’Kamu sih nggak bisa kontrol diri.’’

‘’Aku kan jarang banget makan daging kambing. Mumpung ada kesempatan ya tak sikat saja sepuasnya. Heuheuheuheu …’’

‘’Sesuatu yang berlebihan itu kan nggak baik. Termasuk dengan cinta yang berlebihan pada pekerjaan dan atasan. Saking cintanya pada pekerjaan dan atasan, sampai lali jiwo membakar hutan yang bikin rugi banyak orang demi untung sesaat.’’

‘’Iya, aku khilaf, Gob. Tapi ngomong-ngomong dua cewek tadi siapa sih? Kayaknya penting banget. Ini sekarang kita lagi berduka karena ada warga kita yang jadi korban tragedi Mina, kamu malah asyik bertigaan sama mereka.’’

‘’Yang namanya mendoakan sesama itu jangan kalau ada warga kita yang jadi korban. Kita semua itu bersaudara tanpa pandang SARA dan tanpa melirik apa merk tasnya. Kalau di tragedi itu nggak ada warga kita yang jadi korban ya jangan sampai kita nggak ikut mendoakan. Siapapun korbannya kita wajib mendoakan yang terbaik.’’

‘’Tapi tragedi itu kok bisa kejadian gara-garanya kenapa ya?’’

‘’Ojo mbahas penyebabnya, Blok. Mending sekarang doakan saja yang terbaik. Semoga korbannya nggak tambah. Dan yang terpenting, bagi yang selamat dan bisa kembali ke Tanah Air masing-masing, semoga jadi haji yang mabrur.’’

‘’Okelah kalau begitu. Kita ini kan bisanya memang cuma mendoakan thok.’’

Dalam tragedi kemanusiaan itu tentu sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk saling menolong. Pertolongan bisa bermacam bentuk. Untuk orang nggak jelas macam Gob dan Blok, bantuan yang mereka mampu berikan hanya doa. Makanya, hukum mendoakan yang terbaik jadi wajib bagi Gob dan Blok karena kemampuannya hanya sampai sebatas doa.

‘’Eh, pertanyaanku tadi belum mbok jawab. Dua cewek itu tadi siapa? Aku tadi sudah ambil foto kalian lagi makan, lho. Aku mau pasang di Facebook. Biar orang-orang pada tahu kamu itu masih normal. Heuheuheuheu …’’ kata Blok sambil memperlihatkan hasil jepretannya melalui HP yang sudah bisa dibilang out of date itu.

‘’Ojo, Blooook! Mereka itu masih di bawah umur. Lha wong arti ‘Tut Wuri Handayani’ saja mereka nggak paham lho. Kata mereka ‘Tut Wuri Handayani’ itu artinya ‘walaupun beda tetap satu’. Aku sebagai orang yang lebih tua mendengar itu serasa seperti ditampar Ki Hadjar Dewantara. Seharusnya aku lebih memperhatikan nasib mereka ketimbang nasib bangsa ini. Seharusnya aku lebih memikirkan mereka ketimbang hutang negeri ini. Seharusnya aku lebih memikirkan mereka ketimbang anggota dewan yang selalu maunya dianggap yang terhormat itu. Seharusnya aku lebih memikirkan mereka ketimbang tahanan yang diduga berkeliaran makan di restoran. Karena nantinya nasib bangsa ini ada dalam genggaman mereka …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s