Bom Waktu

Bom Waktu

DENGAN terburu-buru Gob menarik gas motornya sangat kencang. Ke mana lagi kalau bukan ke warung Mbok Nom. Alasan dia kesusu karena Blok menelponnya. Katanya di warung, Blok lagi bikin gara-gara. Sebagai sahabat karib, Gob nggak bisa tinggal diam. Makanya di siang yang belum juga datang musim penghujan ini, Gob gas pol ke warung.

‘’Masalah apa lagi yang dibikin sama Blok,’’ kata Gob dalam hati sambil mendahului berbagai kendaraan bermotor. Tak peduli kendaraan mahal, murah, masih kredit, atau sudah lunas, dia tak pandang bulu. Semua dilibas. Termasuk puluhan ribu guru honorer yang lagi demo mendesak dan menuntut government menyegerakan pengangkatan status mereka menjadi PNS.

Benar saja, dari kejauhan warung Mbok Nom ramai sekali. Gob makin takut dan nggak mau mbayangin apa yang terjadi di sana. Akhirnya, dia memutuskan memarkir motornya dari kejauhan. Gob berjalan pelan-pelan menuju warung yang sudah seperti gula yang sedang dirubung semut.

Kepada seseorang yang sedang ada di luar warung, Gob bertanya, ‘’Ada apa ya kok ramai begini?’’

‘’Nggak tahu, katanya ada teroris.’’

Jantung Gob makin deg-degan nggak karuan. Mosok yang dibilang teroris samaorang itu adalah Blok. Sejauh Gob mengenal sohibnya itu, tak pernah sekalipun dia mendengar Blok ikut organisasi yang berbahaya. Nasionalismenya tinggi. Buktinya, dia masih mau tinggal di negara yang nilai mata uangnya selalu anjlok. Dan bukannya mengungsi ke negara lain yang uangnya lebih stabil. Agamanya pun sama kuat. Maksudnya kuat bertahan di level rendah menurut orang banyak. Jadi nggak mungkin terorisnya Blok.

Kalau memang Blok betul jadi teroris, wah ini bisa membahayakan nasib Gob. Apalagi barusan Blok menelponnya. Bisa-bisa ada yang menyangka Gob adalah anggota komplotan Blok. Gob sempat kepikiran buat pulang saja. Karena takut dicap sebagai teroris juga. Dia juga takut diinterogasi dan dituduh macam-macam.

Bisa saja dia langsung ditembak di tempat tanpa diperiksa, tanpa disidang, tanpa divonis di pengadilan. Karena memang biasanya seperti itu. Selalu saja diberitakan terduga teroris ditembak mati di tempat persembunyiannya. Padahal yang namanya terduga itu bisa betul bisa bukan. Dan sekarang, hal itu bisa saja menimpa Gob yang mungkin saja didor begitu diketahui dia temannya Blok.

Eh, tapi bisa saja yang dibilang teroris itu bukan Blok melainkan orang lain. Ah, Gob makin bingung. Mau maju takut salah, mau mundur kepalang sudah di TKP.

‘’Gooob… Goooob… Help me!!!’’ tiba-tiba ada yang memanggilnya dari dalam warung. Setelah dicari sumber suara ternyata itu adalah Blok. Dia melambai-lambai ke arah Gob berdiri. Sontak orang-orang yang berada di sekitar situ memandangi Gob. Tentu saja butiran-butiran keringat Gob yang sebesar biji jagung itu langsung mengalir deras.

Gob pelan-pelan masuk warung. Wajahnya makin pucat pas melihat tangan Blok yang sudah diikat kencang dengan tali. Benar dugaan Gob. Blok adalah teroris yang dimaksud orang di luar tadi. ‘’Aduuuuh, apa dosaku bersahabat dengan teroris kayak kamu, Blok,’’ ujar Gob dengan nada melas.

‘’Huss!! Sing teroris sopo?’’ tanya Blok.

‘’Lha itu tanganmu kenapa diikat kayak tersangka begitu?’’

‘’Misunderstanding!’’ kata Blok berbisik mendekatkan mulutnya ke telinga Gob.

Blok pun menceritakan duduk perkaranya. Blok datang ke warung Mbok Nom sendirian. Dia membawa sesuatu. Dan sialnya, ada salah seorang pengunjung yang menyangka barang yang dibawa Blok itu adalah bom. Pengunjung itu langsung berteriak seperti ayam kehilangan induknya sambil menunjuk-nunjuk kardus Blok.

Secepat kilat, orang-orang di sekitar langsung merespon teriakan itu dengan mengamankan Blok dan barang bawaannya. Blok diikat dengan tali seadanya. Sedangkan kardusnya di simpan di pojok warung.

‘’Memangnya barang yang kamu bawa apa, Blok?’’

‘’Jam rakitanku dhewe.’’

‘’Lha terus kok dibilangnya bom?’’

‘’Embuh. Mungkin karena bunyi putaran detiknya keras ‘tik tok tik tok’ begitu. Jadi mereka kira jam itu bom yang mau mbledos,’’ sahut Blok yang lagi santai makan pisang goreng meski tangannya terikat kuat.

‘’Lha terus ngapain kamu bawa jam ke warung?’’

‘’Mau tak jual ke anggota DPR,’’ jawab Blok mantap menyeruput kopi.

Jam rakitan Blok ini memang limited edition. Karena memang dibikin cuma satu. Meski belum diuji kelaikannya, Blok pede saja mau menjualnya pada anggota DPR. menurutnya, para manusia yang merasa wakil rakyat itu pasti tertarik dengan jam made in tangannya sendiri itu. Apalagi harga yang dibanderoal nggak semahal jam tangan ketua mereka yang konon hanya dibuat beberapa unit di dunia itu.

Blok pun yakin jualannya itu langsung laris tanpa bersusah payah menghabiskantenaga berkoar-koar menawarkan jamnya itu. Apalagi anggota DPR bakal dapat durian runtuh. Mereka semakin dimanjakan lagi dengan limpahan materi berupa tunjangan. Meski ada yang bilang tunjangan itu masih kurang, Blok tetap yakin mereka masih mampu membeli jamnya yang unik karena hanya ada satu di dunia itu.

Sebetulnya, wajar saja orang-orang curiga dan takut pada jam yang dibungkusnya dalam kardus itu. Bunyi detiknya yang ‘tik tok tik tok’ memang keras. Tapi sebenarnya yang paling ditakutkan adalah bom waktu manusia itu sendiri. Sekarang ini, rakyat begitu sabar nrimo kondisi negara seperti ini. Pembakaran hutan yang gila-gilaan, rupiah yang anjlok melulu, dan lain-lain. Belum lagi kelakuan pejabat yang bikin geleng-geleng kepala.

Bisa saja kalau rakyat sudah habis kesabarannya, bom waktu itu akan seketika meledak. Dan entah apa saja bisa terjadi kalau sudah begitu. Mulai sekarang, seharusnya semuanya sudah siap jika suatu saat itu kejadian betulan. Mulai sekarang, sebagai rakyat, Blok mengajak semuanya menebalkan kadar kesabarannya. Jangan mudah terbakar emosi. Dan yang terpenting, jangan mudah takut. Mosok baru dengar bunyi ‘tik tok tik tok’ langsung disangka bom.

‘’Terus jam bikinanmu itu sekarang di mana?’’

‘’Lagi dicek benar tidaknya jam itu bom atau bukan. Kamu tenang saja. Nggak usah takut.’’

‘’Hmm … ’’ jawab Gob pendek. Lalu dia menenangkan diri sambil ngganyang tahu isi dan menyeruput kopi entah milik siapa ada di meja itu.

Beberapa menit kemudian, seseorang yang kemungkinan ahli di bidang barang meledak mendatangi Blok. Katanya tidak ada material membahayakan di jam bikinan Blok itu. Dia juga tidak menemukan adanya bahan peledak yang dipasang di jam seukuran roda mobil itu. Mereka akhirnya menyimpulkan jam itu bukanlah bom seperti yang dituduhkan dan ditakutkan orang-orang. ‘’Siap. Aku rapopo,’’  kata Blok sambil mengantar kepergian ahli itu pulang.

Blok masuk lagi ke warung. Tangannya sudah terlepas dari lilitan tali. Dia mau ngopi lagi. Karena tadi dia nggak puas ngopi dengan kondisi tangan yang nggak bergerak bebas.

Pas asyik duduk ngopi tiba-tiba HP Blok bunyi. Tak ada namanya, cuma nomor. Pas diangkat ternyata Barrack Obama, Presiden Amerika Serikat.

‘’Iya, halo, Mister Presiden. Piye kabare? Dolar di sana aman? Di sini rupiah anjlok terus, lho. What? You undang aku ke Gedung Putih? Iya dong, jam buatan saya ini memang joss gandoss karena pakai science bikinnya. Tapi kenapa you nyuruh aku yang ke sana. Mister Presiden saja yang ke sini. Biar you lihat langsung jam ini. Sekalian lihat betapa gemah ripah loh jinawi-nya negara kami. It’s what makes my country great.’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s