Tembakan Nasi Bungkus

Tembakan Nasi Bungkus

KOPI hitam memang pantas menghangatkan malam kemarau yang begitu dingin ini. Dan itulah yang dilakukan Gob di warung Mbok Nom. Dia tengah asyik masyuk mengamati putaran air kopi di cangkir yang baru saja dia aduk. Malam itu Gob sendirian di warung, ada sih orang lain di sana, tapi Gob sedang tidak ditemani Blok. Mereka ini kan pasangan yang tak terpisahkan seperti pelabuhan dan mafia kecilnya. Di mana ada Gob, di situ ada Blok.

Namun malam ini Gob sendirian saja nongkrong di warung. Tak terlihat ekspresi wajah kehilangan seorang sahabat yang tidak menemaninya ngopi. Datar saja wajahnya tak sedih tak juga bahagia. Dia terlihat biasa-biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa seperti tukar jabatan Kabareskrim dan Kepala BNN.

Malam semakin larut, entah sudah berapa cangkir kopi dan berapa gorengan yang Gob habiskan. Dan sudah semalam itu pula, Gob tak juga pulang. Tak pulang satu malam tak membuatnya seperti Bang Toyib yang sampai tiga kali lebaran tak pulang menengok istri dan anaknya. Entah mengapa Gob belum juga beranjak dari duduknya. Firasatnya bilang dia harus menunggu kedatangan sahabatnya, Blok.

Dan firasat itu benar adanya, menjelang tengah malam Blok menampakkan batang hidungnya. Sambil senyum-senyum mencurigakan, dia duduk di samping Blok yang sudah terlihat menahan kantuk yang berat.

‘’Hei, kamu kok masih di sini?’’ tanya Blok.

‘’Eh, ada kamu, Blok.’’

‘’Iya dong. Meski malam sudah larut, aku tetap setia pada kopi bikinan Mbok Nom.’’

‘’Lho, kamu ke sini kok bawa makanan dari luar? Nggak enak sama Mbok Nom! Hati-hati kamu nanti bisa dicekal nggak boleh ke sini lagi sama loyalis dan pendukung garis keras warung ini!’’ kata Gob terkejut saat melihat Blok datang membawa sebungkus nasi.

‘’Aku juga tahu itu. Makanan ini dikasih sama orang pas aku jalan mau ke sini.’’

Dalam perjalanannya ke warung, Blok terhenti karena ada sebuah acara ramai-ramai. Banyak orang mengerumuni satu orang yang berdiri di tengah-tengah kerumunan. Eh, pas Blok melintas, dia tiba-tiba ditarik masuk kerumunan oleh orang itu. Blok takut bukan main. Dia mengira orang itu debt collector yang mau menagih hutang-hutangnya. Jadi yang bisa Blok lakukan cuma senyum-senyum di tengah orang banyak.

Ketika dikerumuni itu, tangan Blok dipegangi orang yang tadi berdiri di tengah. Blok nggak begitu paham apa yang dia omongkan. Bahkan dia nggak tahu sebetulnya orang itu ngobrol sama dia atau sama penonton yang mengelilinginya. Daripada sama sekali nggak merespons, Blok cuma bilang ‘iya, terima kasih’ sambil melempar senyum setiap kali orang itu melihatnya.

Setelah selesai, orang itu mengantar Blok keluar kerumunan. Tepuk tangan mengiringi kepergian Blok dari tengah menuju pinggir keramaian. Saat mau lanjut jalan, Blok dikasih nasi bungkus. Wah, beruntung sekali Blok malam itu. Dia merasa tidak melakukan apa-apa tapi malah dikasih makanan. Dan lagi-lagi Blok hanya bisa berucap terima kasih pada orang itu.

‘’Begitu, Gob, ceritanya. Kamu jangan asal njeplak begitu dong.’’

‘’Wah wah wah wah ini nggak bisa dibiarkan. Kamu nggak sadar? Ini namanya penghinaan alias pelecehan! Dia pikir kamu nggak bisa cari makan sendiri. Dia kira kamu ini bisanya cuma minta makan tanpa mau usaha! Dia menyangka kamu nggak becus cari duit buat membiayai hidup!’’

‘’Wah, jangan begitu dong. Dia kan orang baik, buktinya ngasih aku makan.’’

‘’Mbelgedes!!! Yang namanya manusia itu jadi baik kalau ada maunya saja! Orang itu ngasih kamu makan pasti ada agenda tertentu di balik itu!’’

‘’Ya berprasangka baik apa salahnya sih, Gob. Kamu itu mbok yo jangan langsung main vonis begitu.’’ Blok yang tadinya mau makan nasi bungkus tak jadi membuka bungkusnya.

‘’Ya gimana nggak berprasangka buruk, tanpa ada embel apa-apa dia begitu saja ngasih kamu nasi! Itu kan aneh namanya! Memangnya kamu kenal sama orang itu?’’

‘’Wah, itu dia, Gob. Aku nggak kenal. Wajahnya asing bagiku.’’

‘’Apalagi ini kamu nggak kenal! Kamu mesti hati-hati sekarang!’’

‘’Hati-hati kenapa?’’ tanya Blok terlihat mulai ketakutan. Wajahnya memucat.

‘’Ya hati-hati saja, siapa tahu dia itu orang berbahaya.’’

Dorrr!!! Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Suara yang mirip suara tembakan senjata api itu terdengar kencang. Sontak orang-orang yang belum tidur berhamburan keluar. Bahkan orang yang tidur juga ikut bangun dan lari keluar mencari tahu apa yang terjadi. Tak ketinggalan, penghuni warung Mbok Nom yang tinggal Gob dan Blok juga ikut keluar.

Orang-orang mencari-cari objek yang ditembak penembak misterius yang langsung kabur usai melepaskan tembakan itu. Ternyata penembak misterius itu menembak dinding warung Mbok Nom. Tembok itu sedikit berlubang. Beruntung yang ditembak bukan jendela warung yang terbuat dari kaca. Bisa-bisa peluru yang kira-kira ditembakkan dalam jarak dekat itu menembus kaca dan bisa saja mengenai orang yang ada di dalam warung.

‘’Tuh, ini pasti gara-gara kamu ketahuan ikut acara ramai-ramai tadi kan? Aku dari pas kamu cerita sudah curiga sama orang itu. Dia pasti ada apa-apanya!’’

‘’Huss, jangan suudzon begitu! Nggak baik. Lebih baik kita kembali ke dalam saja. Siapa tahu di penembak misterius itu balik lagi ke sini dan melepaskan tembakan lagi,’’ Blok terlihat ketakutan apa yang dikatakan Gob itu benar adanya.

‘’Ini baru teror pertama lho, Blok. Bisa saja kamu bakal diteror dengan cara yang lebih sadis lagi. Menembak gedung kementerian ESDM di siang bolong saja mudah dilakukan. Apalagi cuma menembak orang yang nggak punya kuasa dan nggak punya pengaruh besar kayak kamu ini, wooo gampang banget pasti!’’

‘’Wis, Gob! Cukup! Kata-katamu bikin aku takut saja!’’ ujar Blok benar-benar ketakutan.

‘’Ya makanya lain kali kamu harus lebih hati-hati,’’ sahut Gob sambil mengunyah pisang goreng buat menahan kantuknya.

‘’Kalau diteror lagi, aku mesti gimana, Gob? Aku harus mencari perlindungan di mana? Aku harus mengungsi ke mana?’’

‘’Cari perlindungan? Mengungsi? Lawan dong! Buktikan kamu ini laki-laki sejati yang mau mempertanggungjawabkan perbuatanmu!’’

‘’Lawan gundulmu! Kalau jumlah mereka lebih banyak, senjata lebih canggih, itu namanya konyol kalau aku masih berani melawan!’’

‘’Lha terus kamu mau gimana?’’

‘’Aku mau ke Eropa saja ah.’’

‘’Kalau di Eropa sudah penuh dan overload gimana? Banyak banget lho pengungsi dari negara konflik di Afrika yang mencari tempat aman ke sana.’’

‘’Wah, mosok bisa sampai begitu sih, Gob? Kenapa mereka nggak ke sini saja ya? Indonesia kan luas banget wilayahnya. Pasti cukup buat menampung ratusan bahkan sampai ribuan pengungsi. Tinggal dibikinin rumah susun, mereka pasti betah di sini.’’

‘’Kamu ini jangan ngawur! Mereka aslinya pengin ke sini. Indonesia kan negara yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo. Tapi kok ada pembakaran hutan secara besar-besaran. Mereka jadi takut. Selain itu, perekonomian kita ini lagi susah, lemah, dan lesu. Para pengungsi itu nggak mau merepotkan kita. Makanya mereka lebih memilih mengungsi ke negara-negara Eropa saja.’’

‘’Kalau ekonomi lagi susah, lemah, dan lesu, itu konser Bon Jovi kenapa tiketnya yang harganya ratusan sampai jutaan rupiah katanya sold out ya?’’

‘’Ekonomi susah itu cuma berlaku bagi orang-orang susah. Bagi orang yang nggak susah ya nggak terpengaruh!’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s