Tak Datang Maka Tak Sayang

GOB dan Blok jalan kaki bareng menuju warung Mbok Nom. Jangan tanya mereka dari mana. Karena nggak ada yang tahu. Mereka ujug-ujug ya begitu itu. Datang tak dinyana, pergi tak dirindu.

Sampai di warung, malam itu cukup banyak orang sedang nongkrong di sana. Blok seperti sedang menghitung jumlah orang-orang di warung. Tiba-tiba saja dia berteriak memberi pengumuman, ‘’Halo, para pengunjung warung. Perkenalkan saya Blok. Hari ini kalian tidak perlu bayar. Karena saya nanti yang bayar! Silakan makan, jajan, ngopi sepuasnya! Tak perlu sungkan-sungkan! Kenyangkan perut kalian! Kalau perlu bungkus apa yang perlu dibawa pulang!’’

Gob yang berdiri di samping Blok kaget bukan kepalang. Sama kagetnya masyarakat saat ada tongkat komando Kabareskrim Polri berpindah tangan. Sambil berjalan mencari kursi buat ngopi, Gob berkata pada dengan nada setengah berbisik pada Blok, ‘’Heh! Edan opo kowe!’’

‘’Ssssstt! Tenang saja, Gob. Pokoknya malam ini kita ngopi sampai waktu yang tak ditentukan.’’

‘’Kamu hari ini ulang tahun ya?’’ tanya Gob setelah duduk di kursi dan mulutnya mulai nyaplok tempe goreng.

‘’Iya, Alhamdulillah usiaku hari ini tujuh belas tahun.’’

‘’What?! Aku ora percoyo umurmu masih sweet seventeen!’’

‘’Lho, percaya saja. Toh, benar atau tidak usiaku nggak ada pengaruhnya kan bagimu?’’

‘’Iya sih, Blok,’’ tak terasa mulut Gob kembali menguyah gorengan. Kali ini ada pisang goreng yang beruntung dia makan.

‘’Wis wis wis! Makan saja sana. Nikmati apa yang ada.’’

‘’Oke, Blok. Matur nuwun. Tapi lain waktu kamu traktir aku ke restoran atau hotel yang mewah gitu lho. Sekali-kali aku pengin nyoba masakan kelas atas.’’

‘’Gundhul-mu kuwi! Aku ini bukan golongan wong sugih. Mana kuat aku bayar makanan kelas atas yang pasti mahal itu!’’

‘’Iya ya. Yo wis yo wis yo wis, ojo nesu. Ayo mangan!’’ sahut Gob mengambil sepiring nasi yang diberikan Mbok Nom. Mumpung makan gratis alias ditraktir, Gob makan dengan porsi yang di luar kebiasaan. Lauknya pun daging-dagingan. Padahal biasanya cukup telur dadar atau tahu-tempe.

‘’Toh di mana pun aku merayakan ulang tahun, nanti ibuku juga nggak bakalan datang ke pesta ulang tahunku karena jauh,’’ kata Blok sedikit lesu.

‘’Ini yang mesti diluruskan. Kamu jangan sedih begitu dong.’’

Gob sebetulnya kurang setuju dengan perayaan ulang tahun. Bagusnya ulang tahun nggak perlu dirayakan, baik secara sederhana maupun wah. Karena menurut Gob, hari lahir harus dimaknai dengan merefleksi diri. Dulu kita lahir sebagai bayi tanpa dosa. Ibarat kertas masih putih mulus tanpa noda. Lha sekarang ini sudah besar. Sudah bisa ini-itu. Sudah tahu ini-itu. Bisa dibayangkan kondisi kertas yang tadinya mulus itu. Mungkin penuh coretan pulpen, spidol, pensil, krayon, kuas, dan sebagainya.

Sampai usia sekarang, kira-kira sudah berapa dosa yang sudah dicatat malaikat. Apakah diri kita sudah cukup untuk menyandang gelar manusia yang manfaat di antara makhluk Tuhan yang lain. Apakah keikhlasan kita dalam beribadah sudah cukup untuk menjadikannya masuk surga kelak. Eh, tapi urusan surga-neraka hak prerogatif Allah. Biar Sang Maha Adil saja menentukan kita nanti ke mana. Jangan sok tahu, nanti diketawain malaikat sama Tuhan!

Selain itu, ketika ibu mboten saged rawuh, baik secara fisik maupun batin, bukan berarti beliau ndak sayang sama kita. Kasih sayang maupun cinta tidak harus ditunjukkan dengan kata-kata atau dengan kehadiran beliau pada waktu tertentu. Bisa juga semua itu ditunjukkan melalui doa. Karena mungkin memang puncaknya ketika kita hanya bisa mendoakan orang terkasih agar diberi keselamatan dan kebahagiaan dunia-akhirat.

Kita memang nggak mendengar langsung beliau bilang sayang. Kita memang nggak melihat langsung kehadiran beliau di acara penting. Tapi doa orangtua atau siapa pun yang menyayangi kita pasti kita rasakan dampaknya. Buktinya, kita masih diberi sehat, masih bisa makan, minum, berpikir, berbicara, dan lain-lain. Dan yang penting lagi, kita masih menjadi manusia. Itu, insya Allah berkat doa orang-orang yang menyayangi kita.

‘’Tumben pikiranmu keren begitu, Gob,’’ Blok terlihat kembali sumringah raut mukanya.

‘’Of course! Aku kan habis makan enak. Aku jadi senang. Kalau sudah senang, entah mengapa aku tiba-tiba jadi merasa IQ-ku bertambah,’’ sahut Gob sambil mengelus-elus perutnya yang sudah penuh.

‘’Alhamdulillah, dengan uang yang nggak seberapa aku bisa bikin senang temanku, Mbok Nom, dan orang-orang di sini.’’

‘’Ya itu dia, Blok. Meskipun sedikit, tapi efeknya terasa banget kenanya. Itulah yang dimaui rakyat. Tak perlu habisin duit sekian M. Pakai uang rakyat tapi kok kami ini nggak merasakan dampaknya. ’’

‘’Maksumu opo, Gob?’’

‘’Itu lho, anggota dewan ke Amerika pakai duit rakyat ngapain saja mereka di sana? Konon biaya mereka ke Amerika selama berhari-hari itu menghabiskan duit rakyat sekian M lho. Apalagi ada yang ketahuan nampang di acara salah seorang kandidat bakal calon presiden Amerika. Padahal itu nggak ada di daftar acara yang kegiatan. Piye?’’

Gob menyayangkan agenda anggota dewan ke negeri Paman Sam yang menelan biaya sekian miliar itu. Sebetulnya, bagi rakyat biasa macam Gob, tak masalah mereka mau pergi ke mana saja terserah. Tak masalah juga mereka menguras uang negara berapa pun jumlahnya. Silakan habiskan uang rakyat. Rakyat tak takut miskin. Karena mayoritas sudah miskin!

Gob menginginkan paling tidak yang mereka lakukan itu ada baiknya buat rakyat. Asalkan ada dampak baik yang dirasakan langsung oleh rakyat. Dan nilainya paling tidak sebanding dengan biaya mereka bepergian tersebut. Tentu manusia macam Gob ini bakal menaruh respect tinggi pada mereka. Karena atas jerih payah anggota dewan berdampak baik pada rakyat.

Sejatinya, anggota dewan itu mengabdi ke rakyat. Apa yang mereka lakukan tak lain tak bukan harusnya atas nama rakyat. Nah, kalau ke luar negeri dengan biaya sekian M itu katanya ada pertemuan parlemen seluruh dunia. Pesawatnya pasti naik kelas yang wah. Menginapnya pun pasti di hotel kelas wahid. Dan lain-lain pasti serba wah dan wahid. ‘’Namun sekarang opo hasilnya?’’ kata Gob berapi-api.

‘’Tenang, Gob. Kita ini rakyat jelata. Bukan orang penting apalagi orang berpengaruh di negara ini. Sekarang kita berprasangka baik saja sama anggota dewan itu. Mereka kan masih di sana. Kita tunggu saja hasilnya. Mungkin mereka lagi menyiapkan surprise buat kita. Siapa tahu pas tiba di sini, mereka mengumumkan rupiah sudah kuat. Bahkan nilai tukarnya sama rata dengan dollar Amerika.’’

‘’Wah, betul juga ya. Aku sudah nggak sabar nih menunggu kedatangan mereka. Sudah nggak sabar surprise macam apa yang bakal mereka kasih ke kita.’’

‘’Semoga saja tidak zonk! Heuheuheuheu,’’ ujar Blok sambi menghirup kopi hitamnya.

‘’Ya jangan sampai begitu to, Blok! Ada-ada saja kamu ini. Eh, by the way aku jadi penasaran kamu dapat uang banyak dari mana kok bisa nraktir semua pengunjung warung?’’

‘’Aku menang taruhan sama temanku.’’

‘’Hah, taruhan opo, Blok?’’

‘’Taruhan ada posisi pejabat yang nggak akan tahan lama. Biasanya pejabat yang gas pol dan bisa mengkhawatirkan sekelumit oknum bakal dimutasi ke bidang lain, seperti BNN atau yang lain. ’’

‘’Wah, keren sekali kamu bisa meramal masa depan.’’

‘’Bukan meramal, Gob. Tapi memang biasanya begitu.’’

‘’Wah, keren betul kamu! Kalau aku nanti kira-kira mau jadi pejabat, kamu mau dukung aku kan?’’

‘’Yes.’’

‘’Terus nanti kita bakal melakukan hal besar buat Indonesia kan?’’

‘’Yes.’’

‘’Orang-orang bakal menyukaiku kan?’’

‘’Wis wis wis! Kamu ini kalo ngomong sudah kayak orang yang pasti jadi pejabat saja. Kamu kalau kekenyangan jadi ngelantur ngomongnya. Ayo pulang!’’ kata Blok setelah membayar semua makanan dan minuman semua pengunjung.

‘’Yes, thank you so much, Blok,’’ kata Gob sambil berjalan pelan karena masih menahan perut yang masih penuh. (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s