DPR, Dolar Pusingkan Rupiah

REMBULAN lagi bunder ser. Sesuai kebiasaan dan aturan tak tertulis, Gob dan Blok sudah dijadwalkan ngopi bareng di warung Mbok Nom berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Gob datang lebih awal. Eh, sebetulnya dia datang tepat waktu. Tapi karena Blok belum nongol, makanya dibilang datangnya lebih awal.

Masalah waktu, jangan sekali-kali menganggap remeh Gob. Dia hampir selalu dipastikan on time. Bahkan kadan in time kalau sudah janjian dan ditentukan jam ketemunya. Beda banget sama Blok yang selalu bikin jadwal jadi ngaret dari waktu yang sudah ditentukan. Paling cepat, Blok pasti datang satu jam dari jadwal perjanjian.

Untungnya Gob sudah hafal betul sifat, tabiat, karakter, dan kebiasaan sahabatnya itu. Sehingga tak jadi masalah. Dia pun menunggu kedatangan Blok sambil nggayang pisang goreng favoritnya.

‘’Hello, Gob. How are you today? I am sorry for coming late,’’ tiba-tiba Blok datang dengan menepuk pundak Gob. Meski ngomong pakai Bahasa Inggris, lidah Blok yang asli pabrikan Jawa itu susah menyamai logat, aksen, maupun dialek ala British maupun American.

Gob terkaget-kaget melihat kedatangan Blok yang tiba-tiba itu. Sama kagetnya dengan Dirut Pelindo II yang secara tiba-tiba juga kantornya digeledah Bareskrim Polri. Apalagi ini dia muncul dengan sapaan ala Barat. Gob heran dengan perubahan tingkah laku sahabatnya itu.

Selama dia mengenal Blok, tak pernah dilihatnya sahabatnya itu bicara Bahasa Inggris. Paling sesekali bilang yes sama no. Gob juga tak pernah mendengar Blok ikut kursus bahasa asing. Lagian Blok nggak mungkin juga tertarik ikut-ikutan kursus segala. Pasti alasannya sayang uangnya, mending buat mbayar hutang.

Selain itu, Gob yakin orang seperti Blok nggak bakal keluar negeri. Blok sudah cinta mati sama negara ini. Sampai kapanpun, Blok bakal setia tinggal di Indonesia. Dia nggak tertarik untuk tinggal di negeri yang katanya lebih maju dari Indonesia. Blok begitu menghayati lagu Indonesia Pusaka. Terutama di bagian akhirnya, ‘Sampai akhir menutup mata’. Kata-kata itu begitu merasuki jiwa Blok. Oleh karenanya, dia bakal setia sampai ajal menjemput untuk tinggal di negara tempat dia dilahirkan tersebut.

Anehnya, hari ini Blok berubah drastis. Dia ujug-ujug ngomong pakai Bahasa Inggris. Tak hanya lidahnya yang sudah berganti ala Barat, rambutnya yang bergelombang pun berubah warna. Rambut Blok yang tadinya berwarna hitam agak kusut karena sering kepanasan kini ganti jadi warna pirang. Persis seperti orang-orang bule.

Tak hanya penampilannya saja yang ganti. Selera perutnya juga. Lha wong biasanya Blok itu kalau di warung Mbok Nom pesan kopi hitam tanpa gula dan aneka gorengan seperti pisang goreng, tahu isi, bakwan, ubi goreng, lan sakpiturute. Lha ini sekarang dia pesan segelas susu dan roti bakar rasa coklat-keju.

‘’Heh, awakmu waras, Blok?’’

‘’Of course I am good, my friend,’’ kata Blok sambil menganggukkan kepalanya.

‘’Kamu ngapain sekarang ngomongnya kayak gitu?’’

‘’English is good, my friend. It is good for our future …’’

‘’Halah, aku ora mudeng kamu ngomong apa!’’ Gob mulai sedikit emosi.

‘’It’s okay you don’t understand what I am talking about. But we have to learn English, my friend.’’

‘’Embuh!!!’’ jawab Gob ketus.

Kemudian mereka saling diam beberapa saat. Warung yang tadinya ramai kini sudah mulai sepi. Seperti sepinya sidang paripurna DPR dalam rangka memperingati ulang tahun ke-70 yang tidak dihadiri hamnpir separo total anggota DPR itu.

Malam semakin malam. Orang-orang kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat sebagai persiapan diri untuk kembali kerja kerja kerja keesokan harinya. Sedangkan Gob dan Blok masih duduk manis di antara sedikit orang yang masih betah di warung.

‘’Gob, kamu kok jadi diam,’’ Blok nampaknya sudah menyerah. Dia tak lagi berbicara ala Inggris.

‘’Kamu sebenarnya ngapain kayak gitu?’’ tanya Gob pelan.

‘’Aku ini mau ke Amerika, Gob.’’

Gob yang sedang menghirup kopinya langsung tersedak. ‘’Hah? Aku nggak salah dengar?’’

‘’Ora, Gob. Aku pengin ke sana mau studi banding. Makanya aku biasakan pakai Bahasa Inggris biar bisa ngomong sama orang sana.’’

‘’Studi banding? Lagakmu wis koyok anggota DPR wae pakai studi banding segala.’’

‘’Justru itu, Gob! Sekarang ini kita sudah jarang baget dengar ada anggota DPR yang studi banding ke luar. Makanya aku mau menggantikan tugas mereka buat studi banding. Aku juga mau tahu bagaimana rasanya studi banding ke luar negeri.’’

Dengan jarangnya (atau belum atau sudah tak ada lagi?) terdengar kiprah anggota DPR yang studi banding ke luar, bisa jadi membuat bingung Blok. Di satu sisi dia mesti senang jika mereka tak lagi dolan dan sowan ke negeri orang buat studi banding, artinya uang rakyat bisa dihemat sekian rupiah. Toh, hasil studi banding itu kok menguap begitu saja bagai kabar beras plastik yang sempat menggegerkan Indonesia beberapa waktu lalu.

Di sisi lain Blok turut sedih. Jika orang-orang yang katanya para pilihan rakyat itu tak lagi studi banding. Artinya pekerjaan mereka berkurang. Dengan kata lain, aktivitas di lapangan berkurang. Rakyat semakin jarang melihat sepak terjang mereka di lapangan. Rakyat semakin sering melihat mereka duduk di ruang sidang. Perjuangan mereka demi rakyat hanya dari balik meja thok. Tentu rakyat seperti Blok tidak terima wakilnya itu cuma duduk tanpa tahu situasi dan kondisi riil permasalahan yang dihadapi masyarakat yang sudah memilihnya saat pemilu dulu.

‘’Iya ya. Aku sudah jarang banget dengar mereka studi banding. Malahan mencuat lagi kabar gedung baru itu.’’

‘’Kan mereka lagi ulang tahun. Wajar dong minta gedung baru yang lebih wah,’’ kata Blok merapikan rambut pirangnya.

‘’Mosok mereka tega mau bikin gedung baru, ya Blok?’’

‘’Kalau itu bisa menunjang kinerja mereka biar lebih maksimal, why not?’’

‘’Tapi rakyat masih banyak yang kurang mampu. Uangnya mending buat yang lain. yang lebih banyak manfaatnya buat rakyat banyak.’’

‘’Ya sama saja to. Kalau kerja dengan suasana yang nggak nyaman, pasti hasil kerja kita nggak maksimal. Lalu kita pasti mbayangin kerja dengan suasana yang nyaman, tentu hasil kerja kita maksimal. Nah, mereka ini mikirnya juga begitu. Ruang kerja yang nggak nyaman menyusahkan mereka untuk fokus mengurus rakyat.’’

‘’Tapi ini soal anggaran lho, Gob!’’

‘’Itu dia! Ibarat kata kita mundur satu langkah buat nanti melompat seribu langkah ke depan. Apa artinya uang sekian triliun kalau nanti hasilnya bisa bikin rakyat bahagia, sentosa, makmur, damai, dan sejahtera. Tentu kebahagiaan rakyat itu kalau dinilai dengan rupiah jauh di atas biaya pembangunan gedung baru itu.’’

‘’Berari kalau sudah dibikinkan gedung baru, mereka jadi semakin bagus kinerjanya. Semakin memperhatikan nasib rakyat. Dan yang penting semakin memperbaiki citra diri mereka …’’

‘’Seharusnya sih begitu. Harapannya, kalau kerja mereka bagus, rakyat juga percaya sama mereka. Rakyat jadi semakin semangat bekerja juga. Dengan demikian, ekonomi kita menjadi solid. Harapannya lagi rupiah bisa menguat,’’ ujar Blok sambil nyaplok roti bakar rasa coklat-keju.

‘’Kita lihat saja nanti. Eh, ngomong-ngomong kamu tadi bilang mau studi banding masalah apa ke Amerika, Blok?’’

‘’Ya masalah rupiah itu tadi, Gob. Aku mau tahu cara mereka bikin dolar bisa begitu superior terhadap mata uang lain. Dari dulu sampai sekarang rupiah terus melemah, jarang banget kita bisa kuat lawan dolar Amerika. Entah sampai kapan rupiah terus melemah dan dilemahkan seperti ini. Aku takut kita juga ikut lemah. Kita terlalu sering memikirkan hal-hal macam kurs rupiah yang melemah dan anjlok nilainya. Kita jadi lupa sesuatu yang lebih konkrit dan penting. Yaitu jati diri bangsa kita. Kalau jati diri kita pun sudah lemah, jadi mudah sekali dipecahbelah. Apalagi jati diri kita sebagai manusia… Aku takut… Aku takut… ’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s