Naik-naik ke Puncak Debat

DARI kejauhan, warung Mbok Nom tampak gelap gulita. Seperti titik hitam di antara ribuan lampu kehidupan kota yang gemerlap. Jalan menuju warung sederhana itu pun sepi. Padahal biasanya selepas jam makan malam, jalanan ini ramai. Gob dan Blok yang berjalan kaki mau ngopi di warung jadi ragu.

‘’Lho, warung Mbok Nom kok gelap, Blok?’’

‘’Iya ya. What happen ya? Jangan-jangan kena gusur?’’

‘’Nggak mungkin, Blok! Penggusuran alias relokasi itu bukan di sini tempatnya!’’

‘’Tapi bisa saja penggusuran yang ramai diberitakan itu pengalihan isu. Tujuan sebenarnya itu ya warung Mbok Nom itu. Soalnya di warung itu sering ada diskusi hal-hal yang katanya bisa membahayakan stabilitas negara,’’ kata Blok mulai ketakutan.

‘’Ora mungkin, Blok!!’’

‘’Mungkin saja! Apalagi kita sering banget nongkrong di sana. Aku takut nanti tiba-tiba kita didatangi intel terus ditanya dan dituduh yang macam-macam,’’ kata Blok semakin ketakutan.

‘’Daripada omonganmu ngelantur ngalorngidul, ayo kita ke sana. Kita cari tahu kebenarannya,’’ kata Gob mengajak kawannya itu untuk menunaikan niat mereka ngopi.

Dengan langkah yang begitu pelan dan kaki yang gemetaran, Blok menuruti ajakan Gob. Sambil sesekali dia lirik kanan-kiri dan ke belakang, kalau ada orang mencurigakan bin misterius yang membuntutinya.

‘’Tuh, apa kubilang… Warung ini nggak kenapa-napa,’’ ujar Gob begitu mereka sampai di pintu warung.

‘’Wah, iya iya. Tapi kok gelap begini ya, Gob? Cuma ada lampu petromak thok di meja Mbok Nom,’’ kata Blok sambil duduk di depan meja itu.

‘’Listriknya lagi mati…’’ sahut Mbok Nom yang sedang mengaduk kopi.

‘’Tumben mati, Mbok,’’ kata Gob sambil ngganyang pisang goreng yang asapnya masih kepul-kepul karena masih panas.

‘’Yo embuh… ’’ jawab Mbok Nom yang masih mengaduk seduhan kopi.

Kemudian duo Gob dan Blok memesan kopi hitam kesukaan mereka. Tanpa perlu diingatkan lagi, Mbok Nom sudah hapal racikan spesial bagi pelangggan setianya tersebut. Yakni, hitam kental tanpa gula yang diseduh dalam cangkir kecil warna putih.

Alasan mereka nggak mau pakai gula bukannya takut kena diabetes dan nggak mampu bayar biaya rumah sakit. Mereka nggak mau keaslian rasa kopi terkontaminasi rasa manis gula. Kopi pahit dan ada sedikit rasa asamnya. Enaknya yang seperti itu.

Selain itu, mereka merasa kehidupan sudah pahit. Nyatanya, kurang lengkap dan sempurna jika kopi pun tidak terasa pahit bagi mereka. Oh.

‘’Maaf, Mbok, ini kok kopinya asin ya?’’ keluh Gob pada Mbok Nom karena kopinya terasa asin. Dan setelah dilihat lebih lanjut, ternyata Mbok Nom salah meracik kopi. Gara-gara minimnya cahaya, dia susah membedakan mana kopi mana garam.

Tanpa bicara, Mbok Nom langsung mengganti cangkir salah racik itu dengan cangkir kopi revisi yang baru saja dibikinnya.

‘’Ya harap maklum, Gob. Listriknya lagi padam. Penglihatan Mbok Nom susah fokus karena sudah tua. Dalam kondisi remang begini, dia pasti susah bedain mana kopi mana garam,’’ sahut Blok.

‘’Hmmm …’’

‘’Kamu hari ini aneh banget. Jadi cepat sewot and marah gitu, Gob.’’

‘’Siapa yang marah? Kamu saja yang terlalu sensitif perasaannya,’’ jawab Gob ketus.

‘’Lha itu, tadi kamu marah gara-gara kopimu rasanya asin. Mosok begitu saja langsung marah,’’ timpal Blok.

‘’Aku ora nesu, Blok …’’

‘’Atau kamu masih belum move on gara-gara nggak dipanggil presiden buat jadi menteri pengganti?’’

‘’Kalau ini aku baru nesu tenananOra dadi menteri ora petheken! Kamu ini kalau ngomong mbok ya jangan ngawur gitu to! Mau tak ajak debat kamu?’’ Gob langsung naik pitam karena perkataan sahabatnya itu.

‘’Lho lho lho, kok ujug-ujug malah ngajak debat to kowe?’’

‘’Aku itu ya begini. Kalau marah bawaannya pengin debat!’’ ujar Gob dengan nada keras.

‘’Aku emoh debat karo kowe …’’

‘’Halaaaaah, bilang saja kamu takut mau debat sama aku. Iya to?’’ ejeknya.

‘’Waini yang bikin aku ikutan panas. Yo wis tak ladeni kowe. Ayo, siapa takut? Mau debat soal apa? Politik, sosial, agama, olahraga, perempuan, panganan, atau listrik yang lagi mati sekarang?’’ Blok terbawa suasana. Dia ikut-ikutan marah seperti sabahatnya itu.

‘’Huss, aku emoh debat soal listrik itu. Kita nggak level. Biar debat itu dilakukan orang sekelas menteri saja. Kita debat yang lain saja, piye?’’

‘’Lho, menteri itu kan tugasnya cuma tenguk-tenguk nungguin petunjuk dari presiden to? Nanti kalau pas menteri pidato juga bilangnya begini, berdasarkan petunjuk bapak presiden …’’

‘’Itu menteri zaman kapan? Sudah nggak musim menteri yang model begitu. Sekarang musimnya revolusi mental! Mental menterinya juga mesti direvolusi. Jangan kerjanya cuma nunggu petunjuk saja. Kalau perlu ajak debat sekalian atasannya …’’

‘’Benar juga apa katamu, Gob. Kalau ini aku sih yes,’’ kata Blok menirukan gaya salah seorang juri kontes pencarian bakat di TV.

‘’Eh, kita ini lagi debat! Kamu dilarang setuju sama pendapatku!’’ Gob belum lupa kalau dia sedang marah dan begitu bernafsu ingin berdebat.

‘’Oh iya! Sorry, aku lali, Gob!’’ jawab Blok sambil garuk-garuk kepala.

‘’Ayo kerja kerja kerja! Eh, debat debat debat!’’ kata Gob mengepalkan tangannya ke atas.

‘’Ayo! Siapa takut! Coba jawab tebakanku ini, ayam sama telur duluan mana?’’

‘’Duluan apanya? Duluan harganya naik atau duluan menghilang di pasaran?’’

‘’Lho, memangnya sekarang harga ayam naik?’’

‘’Iyo!!’’

‘’Walah, aku nggak tahu …’’

Blok tak tahu harga daging ayam meroket karena jarang makan daging hewan unggas itu. Dia lebih sering makan tempe dan tahu yang harganya relatif lebih murah dibanding daging-dagingan. Selain itu, harga tempe atau tahu lebih stabil dibandingkan komoditas yang didagangkan di pasar.

Ibarat kendaraan transportasi, harga tempe atau tahu itu seperti sepeda onthel yang jenisnya sepeda kumbang. Enaknya dibawa pelan. Kalau digowes cepat-cepat, rasanya nggak enak. Sami mawon dengan harga lauk yang berbahan baku kedelai itu, harganya di kisaran segitu-segitu saja. Jarang naik apalagi turun. Juga jarang menghilang di pasaran. Jarang dipermainkan oknum.

Nah, kalau komoditas macam daging ayam atau daging sapi itu seperti motor gede alias moge, apalagi yang made in negeri Paman Sam. Naik kendaraan ini memang enaknya dibawa cepat. Bobot motor yang berat bakal nyusahin rider kalau dibawa pelan. Lebih enak gas pol.

Begitu juga dengan perdagingan, harga ini juga cepat naik. Mak wusssss… Saking cepatnya naik, pedagang jadi susah dan kewalahan mengendalikan laju harganya. Saking cepatnya juga, government kita juga kayaknya kesusahan mengurai masalah perdagingan ini. Saking cepatnya, jadi nggak kelihatan oknum mana yang sedang bermain. Wes hewes hewes bablas blas blas blas …

‘’Hmmm, ngomong-ngomong soal kendaraan, menurutmu kenapa masih ada saja pengendara yang melanggar lampu merah?’’ ujar Gob yang sudah mulai lupa dia sedang marah.

‘’Kamu ini piye to? Bagi warga Indonesia, warna merah itu artinya berani. Makanya kalau ada lampu merah ya artinya si pengendara harus berani melintas.’’

‘’Kalau begitu kan bisa membahayakan pengendara lain?’’ Gob nampaknya sudah benar-benar lupa sedang marah.

‘’Ya makanya harus dicari solusinya bareng-bareng. Biar sama-sama enak,’’ jawab Blok.

‘’Justru aku nggak setuju, Blok! Kalau semua enak, malah nggak asyik. Kalau ada yang enak, berarti harus ada yang nggak enak. Biar hidup ini seimbang! Biar adil!’’ Gob kembali sedikit mengeraskan nada bicaranya.

‘’Lho, kowe mau ngajak debat lagi?’’ Blok kembali ingat tadinya sedang debat dengan Gob.

‘’Ayo!!’’ jawab Gob penuh semangat.

‘’Sudah … sudah … Kalian ini dari tadi ngomongnya keras terus!’’ Tiba-tiba Mbok Nom memotong pembicaraan atau perdebatan antara Gob dan Blok.

‘’Sebentar, Mbok! Aku mau debat lagi!’’ sahut Gob dan Blok berbarengan.

‘’Debat opo? Warung Mbok jadi sepi! Orang-orang pada takut ke sini gara-gara ada yang teriak-teriak! Dikiranya di sini ada orang gila lagi kumat!

‘’Sebentar, Mbok! Debat itu merah, Jenderal!!’’ sahut Gob dan Blok berbarengan lagi.

‘’Sebentar gundulmu! Merah gundulmu! Jenderal gundulmu! Kalau mau debat di sini, bayar dulu semua dagangan Mbok! Piye?’’

‘’Waduh, kalau itu aku nggak sanggup, Mbok,’’ jawab Gob dan Blok kompak.

‘’Makanya, debat yang kalian lakukan barusan nggak ada faedahnya alias nggak ada gunanya. Malah merugikan orang lain kayak saya. Percuma debat ngalor-ngidul tapi kalian nggak produktif. Ingat, salah satu slogan andalan presiden kita itu ‘kerja kerja kerja’. Meskipun lapangan kerjanya nyaris belum disediakan …’’ (dsk/)

Advertisements

2 thoughts on “Naik-naik ke Puncak Debat

  1. Mas Dim ini… makin pandai nulis aja.
    Mas, kalau penulis, kerja produktifnya nulis kan?
    Kalau komentator, kayak saya ini, kerja produktifnya berkomentar kan? Sama kayak tukang debat, kerja produktifnya debat. hehehe

    • Ah, kamulah yang pandai. Buktinya kamu bisa menilai saya makin pandai nulis. Saya mah nggak bisa.. Heuheuheuheu
      Tapi manusia diciptakan tidak untuk produktif dalam satu bidang saja kan? Mosok komentaaaaaarr melulu.. Kerjanya kapan? kerja kerja kerja!!
      Oh iya, kapan Budi dan Dole main ke Warung Mbok Nom, biar ketemu sama Gob dan Blok. Siapa tahu sudi ngutangin duit ke Gob dan Blok.. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s