Bayi Indonesia

TERKADANG Gob memang pandai melihat situasi. Dalam kondisi seperti ini, dia yang tadinya pekerja serabutan tiba-tiba banting stir jualan atribut merah-putih di jalan. Apalagi momennya tepat menjelang tujuh belasan alias hari lahir negara Indonesia.

Blok yang tak sengaja lewat tempat jualan Gob berhenti mampir sejenak.

‘’Ngapain kamu di sini, Gob?’’

‘’Aku lagi jualan, Blok. Menjelang tujuh belasan ini lumayan banyak yang cari bendera atau apa-apa yang berbau merah-putih.’’

‘’Aku tahu kamu lagi jualan. Tapi ngapain kamu jualan di jalan ini, Gob?’’

‘’Memangnya kenapa kalau aku jualan di sini?’’

‘’Jalan ini kan sepi, Gob! Ya mana bisa laris jualanmu?’’

Jalan tempat Gob membuka lapak untuk berjualan memang sepi. Jarang ada kendaraan lewat sana. Jika ada yang mau lewat pun bukan sembarang orang. Yang boleh lewat haruslah pengendara yang sudah mengantongi sertifikat profesional dari lembaga terpercaya. Pasalnya, jalan beraspal itu nyatanya banyak yang berlubang.

Selain itu, di antara ratusan lubang itu bahkan ditanami pohon pisang. Bukan apa-apa, sebagai langkah antisipatif warga kalau suatu saat harga pisang naik tinggi tak terkendali. Mereka takut harga pisang ikut-ikutan naik seperti harga daging sapi belakangan ini. Jika itu terjadi, warga sekitar tak perlu membeli pisang ke pasar, cukup memetik sendiri di jalan.

‘’Justru itu, aku pengin semua seimbang, Blok. Di jalan ramai pasti sudah banyak yang jualan. Aku nggak mau berebut lahan dengan mereka. Mending aku di sini. Meski sepi, ada saja lho yang beli,’’ kata Gob optimistis terhadap pilihannya jualan di jalan sepi.

‘’Tapi kowe nanti  ojo protes kalau jualanmu ora payu. Terus ujug-ujug minta upacara hari merdeka diundur.’’

‘’Ya nggak lah. Aku ini orangnya nrimo ing pandum. Aku jualan di sini juga biar warga sekitar sini nggak perlu jauh-jauh mencari atribut di tempat lain,’’ kata Gob.

‘’Berarti sekarang di mana-mana ada yang jualan ya, Gob. Mau di tempat ramai atau sepi, pasti ada yang jualan atribut.’’

‘’Begitu juga dengan Tuhan, Blok. Dia tak perlu kita cari di tempat ramai atau sepi. Tuhan ada di mana-mana,’’ ujar Gob.

‘’Mas, mau benderanya satu,’’ tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berjalan kaki mampir membeli barang dagangan Gob.

‘’Oh, ini, Dik,’’ kata Gob sambil memberikan bendera, ‘’Amerika, Dik!! Eh, maksudnya merdeka!!’’ Saking semangatnya menyambut kemerdekaan, Gob sampai lidahnya terpeleset. Anak kecil yang sempat bingung dengan apa yang dikatakan Gob itu berlalu pergi.

‘’Eh, tapi ngomong-ngomong usia Indonesia sudah tujuh puluh tahun, lho,’’ kata Blok.

‘’Memangnya kenapa, Blok?’’

‘’Lha iya, ibarat manusia, di usia yang setua ini Indonesia seharusnya sudah punya istri, anak-anak, dan cucu. Sebagai orang sepuh, Indonesia juga wajib disegani oleh negara lain. Terutama yang lebih muda dari kita.’’

‘’Seharusnya sih ya begitu itu,’’ ujar Gob manhtuk-manthuk tanda setuju.

‘’Eh kalau Indonesia itu manusia berarti sudah sepuh banget ya. Sudah ubanan, keriput, fisiknya sudah lemah, dan lain-lain.’’

‘’Sudah bau tanah begitu maksudmu, Blok? Sudah seharusnya menyiapkan warisan buat anak-cucunya kalau nanti ujug-ujug ditimbali Gusti Allah?’’

‘’Ya zaman sekarang kan rata-rata usia manusia cuma sampai segitu, Gob.’’

Secara usia manusia, Indonesia memang sudah cukup tua. Indonesia negeri yang gemah ripah loh jinawi. Negeri yang kata Koes Plus merupakan tanah surga karena tongkat kayu dan batu pun bisa menjadi tanaman. Tapi tapi tapi eh tapi …

Masyarakatnya pun dikenal baik kepada sesama. Saking baiknya, limpahan sumber daya alam dibiarkan saja dikelola dan dikeruk warga negara lain. Saking baiknya, banyak sawah disulap jadi pabrik atau pertokoan demi terciptanya lapangan kerja. Saking baiknya, impor ini-itu biar warganya tak perlu lagi lelah memproduksi produk serupa.

Dan masih banyak lagi kebaikan alam maupun warga Indonesia baik untuk urusan dalam negeri maupun luar. Biar malaikat saja yang mencatat kebaikan Indonesia bagi dunia.

Di usianya yang baru saja menginjak kepala tujuh ini, mari kita doakan semoga Indonesia panjang usianya. Semoga semakin bijak dalam menjalani kehidupan. Semoga masih ada warisan yang berharga yang bisa dinikmati anak-cucu. Semoga mereka masih bisa merasakan apa namanya negeri yang gemah ripah loh jinawi. Semoga anak-cucu Indonesia masih merasakan relevansi lagu Kolam Susu Koes Plus. Semoga semoga semoga …

‘’Kamu salah besar, Blok!’’

‘’Lho, salah opo maneh?’’

‘’Itu kalau kowe melihatnya dari kacamata manungsa,’’ ujar Gob. ‘’Lihatnya dari kacamata Tuhan dong,’’ lanjutnya.

‘’Ya mana bisa to?’’ sahut Gob tak percaya.

‘’Bisa dong! Sudah banyak dijelaskan dimensi waktu antara Tuhan sama kita itu beda!’’

‘’Wah, mosok to, Blok?’’

‘’Seharinya Tuhan sama seperti seribu tahunnya kita,’’ jelas Blok.

Dalam beberapa surat di Al Quran ada yang menjelaskan tentang dimensi waktu antara Tuhan dan manusia. Salah satunya seperti di QS Al Hajj ayat 47, di situ dikatakan sehari di sisi Tuhan seperti seribu menurut perhitungan manusia.

‘’Itu artinya, mungkin di mata Tuhan negara Indonesia itu baru beberapa hari. Sekali lagi, mungkin lho ya. Mungkin benar mungkin mboten,’’ terang Blok.

‘’Wah?’’

‘’Iya, artinya negara kita itu masih bayi. Masih lemah dan perlu perawatan khusus. Masih perlu dibimbing sama orangtua atau saudara tua. Masih perlu bantuan Amerika, Inggris, Cina, Jepang dan negara lain untuk tetap hidup.’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s