Sampai Nanti Puluhan Tahun Lagi

SAYUP terdengar radio Mbok Nom memainkan lagu campursari yang sempat popular tahun 2000-an, ‘’Mbokeee, aku njaluk dikawinkeee …’’

Malam itu tak banyak yang dilakukan duo Gob dan Blok. Biasanya mereka begitu cerewet mengomentari ini-itu, kali ini seakan mereka lagi puasa ngomong. Gob dari tadi menundukkan kepala ke bawah sambil memegangi dahinya. Sedangkan Blok hanya menopang dagu sambil memperhatikan asap kopi hitamnya yang masih panas.

‘’Mendengarkan lagu itu aku jadi ingat sesuatu,’’ kata Gob.

‘’Kamu juga pengin minta dikawinkan kayak yang di lagu itu?’’

‘’Bukaaaan. Aku jadi ingat akhir-akhir ini dapat banyak undangan manten,’’ ujar Gob.

‘’Justru bagus. Artinya bisa makan gratis dan menghemat pengeluaran,’’ sahut Blok.

‘’Gratis piye?! Nggak ada yang gratis, Blok! Aku kan mesti ngamplop juga. Dan zaman sekarang, isi amplop itu paling tidak uang warna biru. Kalau sudah begitu kan mending uangnya buat aku makan di warteg atau di sini’’ ujar Gob.

Sudah menjadi tradisi, jika saudara atau tetangga sedang ada hajat seperti mantenan, sunatan, atau orang yang meninggal, sudah selayaknya masyarakat sekitar mbecekMbecek lumrahnya mendatangi rumah yang sedang ada hajatan. Ibu-ibu datang membawa sembako seperti gula, minyak goreng, dan sebagainya. Sedangkan yang laki-laki umumnya amplop berisi uang.

Jumlah sembako maupun nominal uang amplop itupun tidak ada ukuran pastinya. Sepantasnya saja. Tapi kalau memang tidak punya apa-apa ya tak perlu mbecek. Tak perlu memaksakan diri sampai mencari hutangan. Cukup datang ke acara saja tanpa mbecek juga diperbolehkan.

Ini didasari niat membantu beban keluarga yang ada hajat. Seperti diketahui, untuk menggelar hajatan memang perlu biaya. Maka dari itu muncul tradisi mbecek yang juga bisa dikatakan sebagai simbol gotong royong. ‘’Aku pengin mbecek, tapi uangku lagi tipis banget,’’ keluh Gob.

‘’Hahaha, kamu ini mbok yo sedikit kreatif. Kasih saja amplop kosong,’’ ledek Blok.

‘’Aku pernah melakukan itu. Waktu itu di acara pernikahan. Pas sampai di penerima tamu, katanya amplopku lupa dikasih nama. Kepalang bingung, aku kasih tulisan ‘mantanmu’ saja.’’

‘’Hahaha, cerdas kamu, Gob!’’ kata Blok memuji, ‘’Lha kamu kapan menyebar undangan?’’

‘’Lha embuh,’’ jawab Gob pendek.

Gob berpikir, salah satu konsekuensi menikah itu adalah betah atau tidak betah. Artinya, paling tidak pasangan yang sudah menikah bakal menghabiskan waktu sekitar lima puluh tahun bersama pasangannya istri atau suaminya.

Dengan dasar penghitungan dan perbandingan sederhana, rata-rata menikah di usia dua puluhan tahun. Sedangkan manusia rata-rata meninggal di kisaran usia tujuh puluhan tahun. ‘’Bisa dibayangkan, selama itu kita hampir setiap hari melihat istri,’’ jelas Gob.

‘’Tapi kalau sudah cinta satu sama lain penghitunganmu itu jadi invalid. Yang namanya cinta kan nggak kenal usia,’’ sanggah Blok.

Dalam melihat perempuan, tentu yang pertama kali dipandang adalah fisiknya. Tak terkecuali bagi laki-laki macam Gob. Selain memandang, dia pun tak lupa menerawangnya. Gob menerawang kondisi fisik bakal calon istrinya itu saat usianya beranjak tua. Apakah aura kecantikannya sama seperti saat pertama kali Gob melihatnya.

Gob membayangkan saat perempuan yang sedang dia terawang itu memakai daster yang warnanya sudah lusuh alias mbladus. Belum lagi rambutnya memutih dan keriput kulitnya semakin banyak. Itu baru perubahan fisik. Belum masuk hitungan perubahan lain seperti perubahan sikap dan perilakunya.

‘’Ngapain kamu membayangkan yang seperti itu?’’

‘’Dengan begitu, aku menanyai diriku sendiri, masihkah aku mencintainya dengan kondisi seperti yang aku bayangkan barusan,’’ ujar Gob.

Apalagi melihat perputaran regenerasi kecantikan sekarang ini kecepatannya semakin tak terduga. Hampir setiap hari secara bergantian perempuan berparas ayu berseliweran. Gob yang mudah sekali tergoda kaum wanita ini takut suatu saat terlena dan lali jiwo akan godaan itu.

‘’Nah, kalau melihat di luar rumah bejibun perempuan cantik. Ini malah yang di rumah cuma pakai daster thok. Aku membayangkannya mumet,’’ keluh Gob.

‘’Ya, jangan sampai tergoda dong.’’

‘’Itu dia maksudku, kalau sudah menikah seharusnya kadar cintanya juga semakin kuat. Dengan kondisi yang aku terawang tadi, apa aku masih bisa mencintai istriku nanti sampai limapuluh tahun ke depan. Itu yang bikin aku masih pikir-pikir buat melepas masa lajang.’’

Sekarang atau limapuluh tahun lagi aku akan tetap mencintaimuuuu …

Radio Mbok Nom memperdengarkan lagu 50 Tahun Lagi yang beberapa tahun lalu dipopularkan ulang oleh duet Raffi Ahmad dan Yuni Shara itu.

‘’Tapi kalau kamu tergoda ya nggak apa-apa. Kita kaum laki-laki kan boleh poligami maksimal sampai empat istri,’’ kata Blok.

‘’Jangan senang dulu. Kata Cak Nun, dalam surat itu Gusti Allah lagi ngguyoni kita. Katanya memang diperbolehkan menikah sampai empat perempuan yang kita suka. Tapi ojo lali kalimat selanjutnya. Syaratnya musti adil terhadap istri-istri kita nanti,’’ ujar Gob.

Ibaratnya, kaum muslimin laki-laki diiming-imingi surat izin menikah lebih dari satu istri. Tentu keturunan Adam itu bakal kegirangan mendengarnya. Tapi tunggu dulu, syaratnya tak mudah. Keadilan harus merata bagi setiap perempuan yang diperistri.

‘’Tuhan tahu manusia macam kita ini mustahil bisa adil, makanya pada kalimat selanjutnya kita di-skakmat. Kalau takut nggak bisa adil cukup nikahi satu istri saja,’’ beber Gob.

Lha wong hakim yang jelas-jelas kerjanya atas dasar hukum dan keadilan saja masih sering memvonis nggak adil, apalagi kita kaum nggak jelas yang nggak tahu apa-apa kayak gini,’’ kata Blok.

‘’Wis wis wisojo bahas yang begituan. Aku lagi nggak mood,’’ kata Gob.

‘’Oke. Tapi ngomong-ngomong soal istri, aku justru malah pengin cepat kawin.’’

‘’Lho, kenapa?’’

‘’Simple, biar setiap lebaran nanti nggak ada lagi pertanyaan kapan nikah …’’ (dsk/)

Advertisements

One thought on “Sampai Nanti Puluhan Tahun Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s