Mantan Masa Gitu

SUDAH lama Gob tak menampakkan batang hidungnya di warung Mbok Nom. Blok yang hampir setiap hari ngopi di sana tak sekalipun melihat keberadaan sahabatnya itu. Setelah beberapa hari tak berjumpa, Blok mulai khawatir. Apalagi HP-nya nggak bisa dihubungi. Dia khawatir sohibnya itu stres ikut-ikutan memikirkan isu reshuffle kabinet.

Keesokan harinya, Blok bertandang ke kontrakan Gob untuk mengetahui misteri hilangnya Gob dari peredaran dunia perkopian tanah air. Sebelumnya dia sudah menyimpan nomor kantor polisi dan rumah sakit terdekat. Buat jaga-jaga kalau ada yang nggak beres dengan Gob.

Sesampainya di kontrakan, Gob masih utuh. Dia duduk tenguk-tenguk sendirian ngopi di teras kontrakannya. Gob yang melamun tak sadar Blok sudah duduk di sampingnya. Hampir dipastikan durasi lamunan Gob sangat lama. Terbukti, secangkir kopi hitam di meja sudah dingin saat dipegang Blok.

‘’Heh!’’ Blok tiba-tiba menepuk bahu Gob untuk membangunkannya dari lamunan.

‘’Eh, kamu, Blok. Bikin kaget saja,’’ kata Gob sambil ngelus dada takut jantungnya tiba-tiba copot.

‘’Kamu ke mana saja? Hampir setiap hari aku ngopi tapi wujudmu blas nggak muncul. Mbok Nom juga khawatir, takutnya kabur gara-gara nggak bisa bayar hutangmu ke dia.’’

‘’Aku ini lagi sedih kok malah kamu bikin tambah sedih! Aku jadi ingat hutang-hutangku sama Mbok Nom juga masih banyak. Ini yang bikin aku makin sedih,’’ ujar Gob nelangsa.

‘’Lho, lha kamu ini sedih kenapa to, Gob? Cerita dong sama akyu,’’ kata Blok kemayu.

‘’Ini soal mantanku, Blok.’’

Blok terperanjat dari duduknya. Dia terkaget-kaget sahabat yang dia kenal selama ini bisa juga ngomongin mantan. Padahal kesehariannya, yang Blok tahu Gob paling antusias ngobrol soal yang tidak ada baunya sama sekali dengan cinta. Lha ini tidak ada badai El Nino tidak ada tsunami, tapi Perdana Menteri Inggris David Cameron sowan ke sini, ujugujug Gob lunglai lemas gara-gara mantannya. ‘’Mantanmu kenapa?’’

‘’Itu dia yang bikin aku nggak nafsu ngopi. Setiap hari aku diam di kamar kontrakan. Malas ke mana-mana. Teringat melulu sama si mantan.’’

‘’Lha iya, mantanmu itu kenapa?’’ Tanya Blok sedikit kesal gara-gara pertanyaannya belum juga dijawab.

‘’Aku dengar mantanku sekarang jadi orang kaya.’’

‘’Oh, cuma gara-gara itu. Aku kira sedih gara-gara hubungan Nassar sama Musdalifah makin ruwet,’’ kata Blok sedikit menyindir Gob.

‘’Jangan sembarangan kamu! Ini persoalan serius! Bahkan kabar mantanku yang sugih itu jauh lebih penting ketimbang itu!’’ kata Gob kesal.

‘’Memangnya sekarang mantanmu jadi apa?’’

‘’Aku baru tahu dia sekarang jadi pejabat.’’

‘’Terus kenapa kalau mantanmu itu sekarang jadi pejabat?’’

‘’Aku menyesal dulu putus sama dia. Coba kalau sekarang aku masih pacaran sama doi. Wah, pasti asyik kalau pacarku seorang pejabat,’’ kata Gob.

‘’Waini, hal macam begini ini nggak boleh dibiarkan and dilestarikan.’’

‘’Maksudmu piye?’’

Blok menghela nafas. Dia berdehem-dehem seperti seorang dosen yang hendak menyidang skripsi mahasiswa tingkat akhir. Kemudian lanjut menjelaskan, segalanya termasuk hidup ini sendiri serba tidak tentu. Belum tentu si mantan bisa jadi pejabat kalau masih pacaran sama Gob. Kalau masih pacaran, mungkin saja si mantan malah jadi pebisnis, walikota, gubernur, bahkan presiden sekalian. Semua itu bisa saja terjadi dan belum tentu juga bisa terjadi.

Blok meneruskan, belum tentu predikat Macan Asia selamanya melekat di negara kita. Dulu negara kita dikenal sebagai Macan Asia, tapi sekarang keberadaan macan ini pun masih tanda tanya besar. Entah sejatinya ganas dan liar atau sudah berhasil dijinakkan. ‘’Entah masih bertaring atau sudah ompong, nggak ada yang tahu,’’ tutur Blok.

‘’Benar juga katamu,’’ kata Gob mengangguk.

‘’Bisa saja besok mantanmu itu tiba-tiba datang ke kontrakanmu dan bilang gini: ‘Aduuuuh, Mas Gob, aku menyesal dulu putus sama kamu. Jadi pejabat nggak enak blas. Aku mau hidup sederhana sama kamu saja, Mas. Nikahi aku sekarang, Mas.’ Piye?’’

‘’Hmmm.’’

‘’Semua bisa saja terjadi. Kita nggak tahu pasti besok apa yang bakal terjadi sama kita. Termasuk sama mantanmu itu tadi. Bisa saja besok dia dicokok KPK gara-gara ketahuan korupsi.’’

‘’Waduuuh, kok menyeramkan begitu ya kemungkinannya,’’ kata Gob merinding.

‘’Kemungkinannya nggak berhenti di situ, Gob,’’ ujar Blok, ‘’Setelah bebas keluar dari penjara bisa saja mantanmu itu maju jadi calon kepala daerah di pilkada,’’ lanjutnya.

‘’Lho, kalau mantanku mumpuni buat jadi kepala daerah, kenapa kita mesti melihat sejarahnya yang kelam! Why not?’’ kata Gob dengan nada meninggi.

Kuping Gob terasa panas mendengar kemungkinan buruk yang diutarakan sahabatnya itu. Menurutnya, bisa saja mantannya itu sudah tobat dan tidak bakal mengulangi tindakan korupsinya. Prasangka baiknya, mantan Gob itu menjadi orang bertipe pemimpin sejati. Dia mampu bikin rakyat merasa sejahtera. Dengan begitu, imejnya sebagai orang yang pernah menghuni lembaga permasyarakatan seketika terlupakan.

Selain itu, jabatan kepala daerah ini juga menjadi cobaan bagi mantan Gob itu. Dia sudah dipercaya lebih dari separo penduduk suatu daerah untuk menjadi pemimpin. Dengan cacatnya catatan sejarah hidupnya, seharusnya dia tak lagi menambah cacat halaman demi halaman di sisa hidupnya. Jangan sampai dia mengulangi kesalahan yang sama.

Dengan mengabdi secara sungguh-sungguh dan tulus ikhlas demi kemakmuran rakyat yang dia pimpin, tentu dia akan menjadi pemimpin sejati yang dicintai rakyatnya. Dampaknya, insya Allah nama mantan Gob itu berangsur membaik di mata publik. Dengan baiknya nama dia di mata rakyat, baik pula nama dia di mata Tuhan. Sekali lagi, insya Allah lho ya.

‘’Itu kan baru kemungkinan baiknya, Gob,’’ timpal Blok.

Blok berkata, kemungkinan buruknya kalau si mantan ini ternyata masih penyakitan. Meski sudah dihukum bertahun-tahun, masih saja penyakit itu belum juga mati. Naluri korupsi masih bersemayam di tubuhnya. Bahkan sampai merasuk ke jiwanya. Kalau sudah begini, ini sudah akut bin bahaya. Susah disembuhkan.

Ibarat kata, dia bagaikan mendapat kesempatan kedua untuk korupsi. Dari kasus pertamanya, tentu dia mempelajari kesalahan-kesalahan yang dia buat. Nanti dia harus lebih hati-hati dalam berkorupsi. Juga mesti lihai menyembunyikan atau bahkan menghilangkan bukti-bukti korupsinya.

Apalagi dia sudah tahu apa saja yang bisa dijadikan barang bukti yang bisa menyeretnya kembali ke hotel prodeo. Tentu, mantan Gob tak mau itu terjadi lagi. Apalagi hidup di penjara pasti banyak tidak enaknya. Meski masih bisa diusahakan fasilitas penjara disulap jadi wah dan mewah.

‘’Waduh, kalau sampai itu terjadi sungguh TER-LA-LU,’’ kata Gob menirukan gaya Rhoma Irama.

‘’Maka dari itu, mantanmu itu mesti memegang teguh pepatah sepandai tupai melompat akhirnya jatuh juga,’’ ujar Blok.

Menurut Blok, sepandai-pandainya mantan Gob menyembunyikan atau bahkan menghilangkan barang bukti tindakan korupsinya, penyidik pasti mencium dan menciduknya. Akhirnya dia dijebloskan lagi ke penjara. Paling tidak dia berharap kasus korupsi baru terungkap saat dia lengser dari panggung politik. Selain itu, dia berharap kasusnya baru ketahuan saat usianya sudah senja. Dengan begitu sang mantan bisa mengelak untuk diproses hukum dengan alasan kesehatan.

‘’Waaah, ngeri-ngeri sedap,’’ ujar Gob.

‘’Tenang saja, Gob. Gusti Allah mboten sare. Mantanmu itu kelak pasti diadili. Kalau kata Pidi Baiq kira-kira begini: neraka adalah tempat yang disediakan untuk mereka yang lolos dari hukuman dunia,’’ kata Blok mengakhiri penjelasannya.

‘’Benar juga katamu, Blok. Aku setuju satus persen!’’ kata Gob mengiyakan paparan sahabatnya itu.

‘’Eh sebentar… sebentar …. dari tadi kita ngomongin mantan. Aku baru kepikiran, dulu kok ada cewek yang mau sama kamu ya? Heuheuheuheu …’’ (dsk/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s