Maaf Kami Tak Minta Maaf

LEBARAN tinggal menghitung hari. Hiruk-pikuk kehidupan di kota-kota besar mulai berangsur menyepi. Sebagian penghuni kota dengan segala limpahan rezekinya pulang ke kampung halaman masing-masing. Ada juga yang memanfaatkan libur hari raya ini dengan berwisata ke tempat-tempat yang menyenangkan. Oh, betapa indahnya lebaran.

Bagi yang pulang ke kampung halaman, momen Idul Fitri begitu dinantikan. Karena hanya pada saat itu mereka bisa bertemu dengan handai tolan. Apalagi momentumnya tepat. Tepat untuk saling bersilaturahmi dan saling meminta dan memberi maaf pada sesama.

Meski sudah mendekati waktunya mudik alias pulang kampung, Gob dan Blok masih terlihat masyuk menikmati suasana kota besar yang kian sepi penghuni. Tak tampak mereka begitu girang menyambut datangnya lebaran dan pulang kampung. Mereka malah asyik ngopi di warung Mbok Nom usai tarawih. Warung langganan mereka ini pun ikut kena imbas sepi karena banyak pelanggannya sudah angkat kaki kembali ke peraduan masing-masing.

‘’Kamu mudik kapan, Gob?’’ Tanya Blok sambil menyeruput kopi hitamnya.

‘’Aku nggak mudik tahun ini.’’

‘’Lho, kenapa?’’

‘’Kamu sendiri nggak mudik?’’ Blok bertanya balik pada Gob.

‘’Aku nggak punya uang buat balik. THR dari tempat kerja saja sudah tinggal ekstraknya. Gimana aku bisa pulang,’’ sahut Gob lesu, ‘’Memangnya kamu nggak silaturahmi dan sungkem sama orangtua dan saudara-saudaramu?’’

‘’Aku nggak mau,’’ jawab Blok pendek.

‘’Lho kok nggak mau? Sombong tenan kamu!’’ Gob menyahut ketus.

‘’Aku nggak mau minta maaf karena itu memang nggak perlu.’’

‘’Lho, piye to wong iki? Kok makin nggak jelas begini omongannya,’’ kata Blok mulai kebingungan.

‘’Maksudku begini, Gob. Sebelum aku salaman sama mereka buat minta maaf, kalau memang mereka ikhlas memaafkan kesalahanku, bahkan sebelum datang ke sana pun mereka sudah memaafkan aku dari dulu. Jadi aku nggak perlu lagi minta maaf,’’ jelas Blok.

‘’Jadi maksudmu tanpa kita minta maaf pun karena orang lain dari awal sudah lebih dulu memaafkan kesalahan kita, jadi nggak perlu datang minta maaf?’’ Tanya Gob memastikan.

‘’Kurang lebih begitu maksudku. Selain itu aku juga belum kuat kalau pulang,’’ ujar Blok.

Bagi Blok yang sudah bertahun-tahun merantau, tradisi mudik memang menjadi agenda wajib untuknya setiap jelang lebaran. Dia tak pernah absen pulang kampung sungkem pada orangtuanya dan silaturahmi dengan sanak saudara serta tetangga di tempatnya dibesarkan dulu.

Namun, untuk lebaran tahun ini entah ada angin apa sehingga membuatnya enggan pulang. Salah satunya karena lelaki seperti Blok minim ongkos. Apalagi musim mudik ini hampir semua angkutan umum saling bersaing menaikkan harga tiket. Bagi pekerja serabutan macam Blok, dengan harga normal saja dia sudah ngos-ngosan apalagi dengan harga yang berkali-kali lipat tentu bisa membuatnya mati berdiri.

Selain itu, Blok menyadari ada sesuatu yang mengusik pikirannya tentang lebaran. Selain menjadi puncaknya alias berakhirnya bulan Ramadan, selama ini, sepengetahuannya lebaran menjadi momentum ajang mudik, silaturahmi, kumpul sama keluarga, teman, dan tetangga.

Bagi Blok yang akhir-akhir ini menjadi pendiam, lebaran tidak seharusnya dirayakan dengan model yang seperti itu. Karena bisa merusak hikmah puasa selama sebulan penuh. Dari pengamatannya selama ini, bagi yang tidak kuat iman, silaturahmi bisa merusak benteng iman yang sudah dibangun selama Ramadan.

Menurutnya, silaturahmi itu muasal bahan pembicaraan alias gosip bin ngrasani  atau bergunjing. Blok membayangkan saat silaturahmi ke saudara atau tetangga. Hatinya tak kuat untuk tidak ‘mengomentari’ penampilan dan kehidupan orang-orang seperti itu. Begitu Blok melihat yang seperti itu, hatinya susah untuk tidak bilang: ‘’Wuuuih, si ini sudah punya anu; waaaah, si itu masih anu; wuuuih, si anu kok belum itu; wuuuuih, anunya kok begitu?’’

‘’Selain itu, aku juga emoh and nggak siap dijadikan bahan pembicaraan orang-orang,’’ kata Blok.

Melihat keadaan Blok sekarang yang masih belum bisa dibilang sukses menaklukkan kota, justru hal itu semakin memancing pergunjingan hati bagi orang yang melihatnya saat pulang kampung. Dia membayangkan dialog dalam hati orang-orang yang melihatnya. ‘’Duuuh, si anu kok gitu ya? Aaaaiiih, si itu kok belum gitu ya?’’

Bagi Blok, selama bulan puasa ini manusia diwajibkan untuk banyak-banyak menahan. Entah itu menahan makan, minum, amarah, nafsu syahwat, bahkan sampai menahan untuk tidak bergunjing pun semuanya sudah diatur. Blok emoh latihannya untuk menahan semua itu pada saat Ramadan gagal justru di hari perayaan kemenangannya. Hanya karena hatinya tak kuat ngrasani sanak saudara dan tetangga, mungkin bisa jadi latihannya selama satu bulan penuh gagal total.

‘’Maka dari itu aku nggak mau datang silaturahmi dan salaman sama orang lain. Aku cukup berdoa pada Allah SWT biar mereka ikhlas memaafkan diriku tanpa bertatap muka langsung  sama mereka,’’ jelas Blok.

‘’Edan tenan wong iki,’’ kata Gob sambil geleng-geleng kepala, ‘’Terus kamu mau ke mana nanti pas hari H?’’ Tanya Gob lagi.

‘’Aku mau mengunci diri di dalam kontrakan,’’ kata Blok kalem.

‘’Tambah edan tenan wong iki!’’ ujar Gob sambil geleng-geleng kepala.

‘’Aku mau merasakan yang namanya kesepian dalam keramaian,’’ kata Blok mantap.

‘’Opo maneh iku, Bloooook?’’

‘’Dalam ramainya lebaran saat orang-orang sedang senang merayakan kemenangan, aku mau menyendiri merenungi diriku sendiri. Menghitung dosa-dosaku yang kira-kira belum terampuni. Aku juga mau berdoa biar Tuhan menyabarkan dan menguatkan diriku menghadapi sebelas bulan ke depan yang pasti godaan dan cobaannya lebih dahsyat dari kemarin. Dengan demikian, aku siap menyongsong Ramadan selanjutnya tahun depan dan menjadi manusia sebenar-benarnya manusia yang lebih baik.’’

Embuh! Aku ora mudeng, Blok!’’

‘’Heh, kalian. Hari ini nggak usah bayar kopi sama jajannya. Semuanya gratis dalam rangka menyambut lebaran. Sekalian Mbok umumkan, selama libur lebaran nggak jualan dulu. Mbok mau istirahat,’’ Mbok Nom yang selama ini dikenal jarang ngomong ujugujug bersuara. Obrolan Gob dan Blok yang belum selesai terpaksa terhenti karena Mbok Nom ngendika.

‘’Hah? Ciyus, Mbok? Miapah, Mbok?’’ sahut Gob dan Blok bebarengan menirukan gaya berbicara anak muda masa kini.

‘’Yoi, Mbok juga sekalian mau minta maaf selama ini banyak salah sama pelanggan. Seperti misalnya bikin kopinya lama, bikin kopinya kemanisan, dan lain-lain. Maafkan si Mbok, ya.’’

‘’Iya, Mbok. Saya juga minta maaf. Semoga si Mbok sehat selalu dan tetap jualan di warung. Biar saya ada tempat buat ngutang. Heuheuheuheuheuheu,’’ ujar Gob dan Blok bebarengan. (dsk/)

Advertisements

3 thoughts on “Maaf Kami Tak Minta Maaf

  1. sekali lagi, dan ini bukan dibuat-buat, aku sepakat sama idenya Blok. terutama, ide tentang cara ‘merayakan’ lebaran. tidak seharusnya lebaran ‘dirayakan’ dengan model yang seperti sekarang ini; mudik, belanja-belanja, makan-makan dan… maaf-maafan. panjang kalau aku mau nambah alasanaku sendiri (semoga aku bisa nulis tentang ini). yang jelas, spirit puasanya yang sederhana, introspeksi, evaluasi dan ‘menahan diri’, jadi hilang.
    semoga tiap tahunnya aku juga bisa memaknai lebaran dengan lebih baik seperti Blok. amin…

  2. etapi, harus ada dialektika juga atuh, biar lebih baik.
    mengenai konsep maaf-maafan secara umum (bukan hanya momen lebaran), menurutku, maaf itu tetap harus terucap. walaupun si orang yang dimintainya sudah ikhlas memberi maaf sebelum diminta. karena niat harus menjadi tindakan, biar nyata. bukan begitu?

    • maksudnya, kalau saya (sombong) nggak mau minta maaf, biar si orang yg seharusnya saya mintai maaf itu sadar, bahwa untuk memaafkan seseorang tidak perlu menunggu ada pernyataan maaf dari si orang tersebut.. Jadi, kalau kita sudah memaafkan lebih dulu, kenapa harus nunggu untuk dimintai maaf.. Bukan begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s