Front Pembela Takjil

HARI lagi Minggu panas, cocok untuk berdiam diri di masjid. Apalagi sedang puasa. Dan ndilalah itulah yang dilakukan Gob dan Blok saat itu. Mereka leyehleyeh di masjid usai salat ashar. Sementara para jamaah pergi, dua orang ini masih saja duduk santai di masjid. Kalau sudah capek, ganti posisi tiduran. Begitu terus bergantian posisi mereka lakukan sekalian menunggu waktu magrib.

Gob paling mencolok wajahnya terlihat murung banget. Entah lemas karena meski sudah sore, cuacanya masih sangat hot. Atau entah karena sahurnya cuma sedikit dan terlalu mepet dengan subuh. Sehingga membuat Gob cepat lapar dan haus.

‘’Kamu kenapa kok kelihatan murung begitu?’’ Tanya Blok yang melihat sahabatnya itu sedang murung.

‘’Lebaran tinggal menghitung hariii …,’’ jawab Gob menirukan gaya Krisdayanti kala menyanyikan lagu Menghitung Hari.

‘’Kok malah sedih. Seharusnya senang. Soalnya kita merayakan kemenangan.’’

‘’Aku nggak bisa lagi cari takjil kalau puasanya selesai. Aku juga lagi mikir, nanti masjid mana lagi yang disambangi buat diburu takjilnya,’’ jawab Gob lemas.

‘’Tak kirain apa gitu, ternyata gara-gara itu kamu sedih.’’

Maklum, sebagai militan pemburu takjil, Gob tak rela bulan puasa selesai. Penginnya sepanjang tahun adalah bulan puasa. Biar kaum bawah seperti Gob ini ada tempat yang memberinya makan gratis. Karena setelah itu dia mesti berpontang-panting lagi mencari makan setiap hari kalau bukan hari puasa.

‘’Maka dari itu, tradisi takjil ini mestinya ada terus sepanjang tahun setiap hari.’’

‘’Kamu ini aya-aya wae, Gob. Ya mana mungkin bisa,’’ Blok menyahut dengan nada mengejek.

‘’Pasti bisa! Lha wong belum dicoba kok bilang nggak mungkin! Aku juga mau bikin Front Pembela Takjil!’’ kata Gob tegas.

‘’Walah, edan tenan wong iki!’’ sahut Blok

‘’Edan gimana? Rhoma Irama saja bisa bikin partai kok, mosok aku nggak bisa bikin Front Pembela Takjil!’’

Gob optimistis ide gendheng-nya mau bikin Front Pembela Takjil ini bakal sukses. Apalagi jumlah penduduk miskin di Indonesia masih banyak. Belum lagi yang pura-pura miskin tak kalah banyak. Apalagi oknum-oknum yang bakal dimiskinkan masih menunggu antrean. Tentu, dia tak bakal menemukan kesulitan untuk menggalang simpatisan maupun loyalis. Mereka tentu tak keberatan mendukung Gob merealisasikan gagasannya itu.

Takjil memang menjadi fenomena tersendiri di setiap bulan Ramadan. Apalagi dibagikan secara gratis bagi orang yang berkunjung ke masjid. Bagi manusia entah di mana pun mereka berada, begitu mendengar kata ‘gratis’ pasti tertarik. Terlebih yang digratiskan itu hal yang berurusan langsung dengan perut, yaitu makanan. Bukan tak mungkin Front Pembela Takjil gagasan Gob bakal banyak pendaftar. Meski mungkin tak sebanyak pendaftar calon pemimpin KPK.

Menurut Gob, takjil sejatinya memang mesti dibela. Bagi orang-orang bawah macam Gob takjil pantas dilestarikan. Dengan adanya takjil, paling tidak menu makan malam mereka terjamin. Karena sudah disediakan di masjid. Selesai bekerja, mereka bisa istirahat sebentar di masjid sambil makan takjil. Tak lupa, mereka mungkin bakal ikut beribadah di masjid. Oh, betapa berlipatganda pahala bagi siapa saja yang menyiapkan takjil.

‘’Kamu ini sebenarnya ngapain sih ngotot banget bikin Front Pembela Takjil?’’

‘’Kamu nggak sadar? Selama ini orang-orang macam kita cuma diperhatikan pas puasa doang!’’ jawab Gob dengan nada meninggi.

‘’Iya sih, Gob.’’

‘’Orang-orang yang merasa punya rezeki lebih pasti nyumbang ini-itu, ngasih ini-itu pada orang yang rezekinya nggak lebih baik dari mereka,’’ ujar Gob.

‘’ Iya sih, Gob.’’

‘’Maksudku kenapa cuma pas puasa thok mereka berbuat kebaikan! Apa karena di bulan Ramadan ini perbuatan baik dilipatgandakan jadinya mereka kayak berlomba-lomba banyak-banyakan berbuat baik. Eh, tapi pas sudah beres lebaran, mereka lali lagi sama nasib orang-orang kayak kita!’’ kata Gob berapi-api layaknya orator demonstrasi.

‘’Jadi itu alasanmu mau bikin Front Pembela Takjil?’’

‘’Betul! Coba bayangkan pahala yang bakal mereka tabung buat sangu di akhirat kelak. Selama setahun penuh mereka ngibadah menyantuni orang-orang yang kurang beruntung. Belum lagi ada satu bulan istimewa yang spesial melipatgandakan pahala kebaikan yang mereka lakukan,’’ nada Gob masih seperti orator demonstrasi.

‘’Tapi kan orang-orang seperti kita nggak boleh juga terus-terusan menanti uluran bantuan orang lain kayak gitu kan?’’

‘’Of course! Dengan adanya takjil itu, paling tidak beban kaum kelas bawah sedikit diringankan. Menu makan malam mereka sudah terjamin dan dijamin disediakan di masjid. Yaaaaa, meskipun kualitas dan kuantitas menunya nggak sama setiap hari, minimal mereka bisa menghela nafas sedikit lebih panjang,’’ Gob mulai terlihat sedikit ngos-ngosan karena nada bicaranya cenderung teriak-teriak seperti orator demonstrasi.

‘’Tapi kan …’’ belum selesai Blok berbicara, langsung dipotong oleh Gob yang masih berapi-api ingin menjelaskan dan segera merealisasikan idenya itu.

‘’Meski makan malam sudah terjamin, tidak lantas membuat mereka jadi santai. Mereka juga mesti tetap banting tulang biar tetap bertahan hidup. Dengan adanya takjil ini, anggaran makan malam mereka bisa dialihfungsikan ke hal lain. Syukur-syukur bisa ditabung  buat jaga-jaga dana tak terduga,’’ jelas Gob

‘’Benar juga apa katamu, Gob.’’

‘’Yaeyalah, Gob gitu lho!’’ kata Gob menepuk-nepuk dadanya tanda bangga. ‘’Eh, sebentar lagi magrib, kamu mau buka di mana? Aku sudah capek ngomong panjang-lebar. Dilanjutkan kapan-kapan saja kalau ada kesempatan,’’ nampaknya energi Gob sudah hampir habis. Dia sudah kelihatan lemah dan lemas.

‘’Nggak tahu. Aku ikut kamu saja, Gob.’’

‘’Kamu ada uang buat beli makan?’’

‘’Heuheuheuheuheu …’’ jawab Blok sambil meringis malu.

‘’Ya wis, sekarang ikut aku berburu takjil. Aku sudah terlalu sering berbuka di masjid ini, nggak enak sama jamaah yang lain. Mending kita pindah cari masjid lain.’’

‘’Siap! Hidup Front Pembela Takjil!!!’’ sahut Blok penuh semangat. (dsk/)

Advertisements

One thought on “Front Pembela Takjil

  1. aku suka idenya! ide Front Pembela Takjil.
    secara prinsip, memang kebaikan di bulan ramadhan harusnya berlanjut di bulan-bulan berikutnya. menjadi kebiasaan. menjadi karakter. itu esensi puasa. dengan begitu, tujuan puasa supaya jadi taqwa akan tercapai. sampaikan ini pada Ustadz Ipin, dia akan bergumam, “Mmh…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s