Kala Diskon Menggoda

ATAS nama angin yang sepoi-sepoi malam itu, Blok buru-buru mau ke warung Mbok Nom selepas tarawih. Dia mampir dulu ke toko alat tulis membeli beberapa lembar kertas dan spidol. Beres urusan di toko tulis, Blok melangkah lagi ke warung. Raut mukanya yang cenderung memerah membuatnya makin cepat melangkah. Padahal keceriaan selalu terpancar dari wajahnya.

Sampai juga Blok di warung, secepat kilat langsung duduk di samping Gob yang sudah lebih dulu nangkring di sana. Begitu duduk manis di kursi, Blok sibuk bikin tulisan di kertas yang tadi dibeli di jalan. Tak lumrah dia bertingkah seperti itu. Biasanya pesan minum dulu. Baru setelah itu sibuk dengan urusannya sendiri. Biasanya Blok juga menyapa sahabatnya yang sudah lebih dulu ada di sana itu. Padahal, dalam keadaan apapun, selalu ada sapa di antara mereka walau cuma lirikan mata.

Kalau sudah begini, cuma satu yang bisa bikin Blok normal lagi. Apalagi kalau bukan kopi. Gob pun memesankan secangkir kopi untuk sahabatnya itu. ‘’Mbok, bikin kopi satu buat Blok, ya,’’ kata Gob memanggil Mbok Nom, si empunya warung kopi yang sudah melegenda itu.

‘’Hitam tanpa gula, Mbok! Seperti biasa!’’ tiba-tiba Blok menyahut. Setelah itu, dia kembali konsentrasi menulis di kertas.

Merasa ada keanehan pada sahabatnya itu, Gob penasaran. Dia tempelkan tangannya di kening Blok. Gob pengin tahu suhu tubuh Blok. Takutnya gara-gara Yunani lagi digoyang hutang, Blok ikut prihatin dan terbawa suasana. Tapi suhunya badannya normal. Karena penasaran, Gob menanyakan keadaan Blok, ‘’Hey, kamu ini kenapa? Kok tumben aneh?’’

‘’Aku lagi emosi, Gob. Nanti aku cerita kalau sudah selesai bikin tulisan di kertas ini,’’ jawabnya singkat.

Tak mau mengganggu kesibukan sahabatnya, sambil nyaplok pisang goreng Gob meniupi kopinya yang masih panas. Cuma perlu waktu sebentar kopi hitam tanpa gula sudah jadi. Kebetulan, garapan tulisan Blok juga sudah beres. ‘’Tadi aku emosi karena masjid makin lama semakin sepi!’’ akhirnya Blok bersuara sambil sesekali mencium aroma kopinya yang masih panas.

‘’Memangnya kenapa?’’ Gob menimpali.

‘’Ternyata orang-orang yang tadinya sering ke masjid pada pindah ke mal, supermarket, dan pasar modern maupun sejenisnya,’’ jawab Blok.

‘’Memangnya kenapa?’’ Gob menimpali lagi.

Kemudian Blok mulai bercerita panjang lebar. Dia merasa sedih kalau masjid tak lagi ramai. Padahal sekarang, kan, lagi bulan puasa. Orang-orang juga pasti tahu saat seperti ini semua pahala kebaikan bakal dilipatgandakan nilainya. Tapi kenapa kaki mereka seperti enggan melangkah ke masjid.

‘’Tadi sepulang dari masjid, aku ketemu sama orang yang biasa ke masjid. Aku tanya kenapa dia nggak ke masjid. Jawabaya karena dia lagi shopping baju lebaran di mal. Katanya, mal itu lagi ada diskon gila-gilaan. Gilanya lagi, diskon itu cuma berlaku hari ini. Begitu alasan dia tadi nggak tarawihan di masjid,’’ ujar Blok.

‘’Terus kamu mau apa?’’ sahut Gob.

‘’Aku mau menarik perhatian orang-orang itu biar sudi meramaikan masjid lagi,’’ jawab Blok optimistis.

‘’Caranya?’’ Gob penasaran apa yang ada di pikiran Blok. Dia ambil lagi satu pisang goreng yang ada di depannya sambil menyimak penjelasan Blok.

Blok mulai menjelaskan apa yang sudah dia rencanakan. Berdasarkan pengalamannya sebagai militan pemburu takjil, Blok sedikit menarik kesimpulan: orang-orang ke masjid hanya saat awal-awal Ramadan saja. Saat awal tarawihan, banyak masjid jadi penuh. Warga bejubel menyambut datangnya Ramadan dengan pergi ke masjid. Tapi semakin mendekati Idul Fitri, jumlah mereka semakin berkurang. Dari hari ke hari jumlah barisan jamaah yang tadinya puluhan menyusut menjadi hanya tiga atau empat baris saja.

Sebagai loyalis takjil masjid, hal ini tentu mengusik hatinya. ‘’Di situ kadang saya merasa sedih,’’ kata Blok melanjutkan.

Dari hasil investigasinya, ternyata orang-orang lebih memilih pergi ke mal untuk menghabiskan waktunya. Ini dikarenakan pasar modern itu memberikan diskon besar-besaran pada hampir semua item yang dijual. Otomatis, kata ‘diskon’ yang memang magis ini terbukti merebut hati manusia untuk meramaikan perputaran ekonomi di negeri yang nilai mata uangnya semakin  loyo ini.

‘’Terus kamu mau gimana?’’

‘’Di sini tentu kata DISKON menjadi kunci!’’ jawab Blok penuh percaya diri.

‘’Maksudmu?’’

Menurut analisis yang dia bikin secara ngawur, Blok menyimpulkan dalam kata diskon yang dipasang di mal memiliki kekuatan tak kasat mata yang dapat menarik siapa saja untuk datang ke sana. Tak peduli dari kalangan atas, tengah, bawah, bahkan bawah tanah sekalipun hampir dipastikan tertarik berkunjung. Atas nama cuci mata, tak jarang alasan itu ternyata malah berujung pada pengurasan isi kantong celana.

Dengan cara yang tidak jauh berbeda, Blok mencoba mengaplikasikan metode itu untuk menarik massa agar kembali meramaikan masjid. Dia sudah menyiapkan banyak tulisan yang dia tulis sendiri menggunakan spidol. Antara lain ‘Salat Jamaah Bonus Pahala Berlipat Ganda’, ‘Sedekah Kotak Amal Menambah Pahala dan Mengurangi Dosa’, ‘Bonus ini Hanya Berlaku Saat Ramadan Saja’ dan kata-kata persuasif sejenis yang menurutnya dapat menarik minat orang-orang untuk beribadah di masjid.

‘’Semua orang juga sudah tahu kalau salat jamaah di masjid itu pahalanya berlipat daripada salat sendiri.  Mengisi kotak amal bakal menjadi tabungan di akhirat semua orang juga sudah tahu. Tuhan melipatgandakan pahala di bulan Ramadan pun mereka sudah paham,’’ Gob mempertanyakan rencana sahabatnya itu.

‘’Justru itu aku mau mengingatkan mereka lagi. Soalnya selama ini mereka cenderung lebih tertarik untuk memperindah fisiknya saja,’’ sambil mengunyah pisang goreng, Blok melanjutkan kata-katanya, ‘’Baju pengin beli yang bagus dan mahal. Tapi mereka sepertinya nggak terlalu peduli sama penampilan jiwa mereka! Itu yang bikin pusing pala, Berbie!’’

‘’Tapi dari mana kamu tahu mereka juga tidak memperindah jiwa mereka? Sepinya masjid dan ramainya mal bukan jaminan atas apa yang kamu tuduhkan,’’ sahut Gob.

‘’Semoga saja dugaanku salah. Selain memperindah bagian luar, semoga mereka juga tidak lupa memperindah bagian dalam diri yang tidak kalah penting ini,’’ kata Blok.

‘’Aamiin. Eh, kamu mau tak kasih pahala nggak?’’

‘’Wah, pasti mau dong!’’ Blok dengan cepat merespons tawaran Gob.

‘’Kopi dan jajanku malam ini kamu yang bayarin dulu, ya. Aku lagi bokek,’’ (dsk/)

Advertisements

5 thoughts on “Kala Diskon Menggoda

  1. bwahaha, giliran Gob yang kena jebakan!
    dan sampaikan ke Blok, satu alasan lagi kenapa mesjid lebih sepi di akhir ramadhan; orang-orang sibuk buka bareng sama kawan-kawan!
    dan yang saya ga ngerti: kenapa buka bareng harus mengorbankan ibadah lain, yakni salat taraweh berjamaah? piye to…

  2. dan, oh, itu ide yang sangat bagus dari Blok! dewan kemakmuran mesjid harusnya melakukan hal yang sama. mesjid juga harus melakukan promsi-promosi tertentu untuk menarik jamaah. ingatkan aku tentang hal ini bulan ramadhan mendatang. itu bisa termasuk upaya dakwah 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s