Ujian Paket Ramadan

BLOK lagi nongkrong di warung Mbok Nom. Suntuk sendirian di warung, dia menelpon sahabatnya, Gob. Blok pengin ada yang menemani kesepiannya. ‘’Halo, posisi? Aku lagi di warung nih. Kamu ke sini dong! Aku sendirian nggak ada temannya. Oke? Tak tunggu, ya!’’

Sambil nunggu Gob, Blok mencoba ngelingeling niatnya ke warung Mbok Nom. Sekarang bulan Ramadan, lha kok siang bolong begini bisa ada makhluk bernama Blok lagi nangkring di warung kopi. Sambil mengingat-ingat Blok sesekali menghayati aroma sayur yang dimasak Mbok Nom. Wanginya begitu menggoda iman orang-orang beriman yang puasa.

Selang setengah jam, Gob mak pencungul duduk di samping Blok. Dengan nada bisik-bisik, dia bertanya pada Blok, ‘’Heh, kamu ngapain puasa kok malah di sini? Kowe ora pasa?’’

‘’Nada bicaramu biasa wae, ora usah dipelankan. Aku puasa,’’ jawab Blok.

‘’Lha terus kalau puasa ngapain kamu di sini, Blok?’’

‘’Jadi begini, Gob, ceritanya …’’ kata Blok siap menjelaskan duduk perkaranya.

Selidik punya selidik, ternyata Blok hari itu tidak sahur karena tidurnya bablas sampai subuh.  Tadinya dia pengin bikin pengecualian untuk tidak puasa hari itu. Tapi karena mulutnya sudah bertekad apalagi mengucap niat, ya mau gimana lagi. Setiap malam sebelum tidur, selain menghitung hutangnya, sudah menjadi kebiasaan Blok niat puasa. Dia takut tidurnya kebablasan. Menurutnya yang penting niat saja dulu. Perkara bisa bangun pas sahur apa tidak itu urusan belakang.

Weladalah, apa yang dia takutkan terbukti! Blok lupa nggak bangun. Alarm HP-nya nggak nyala. Jebulé HP-nya mati kehabisan daya. Blok lupa nggak nge-charge HP-nya sebelum tidur. Mungkin terlalu larut menghayati jumlah hutangnya yang sudah numpuk itu.

‘’Oalaah nasiiib nasiiiib. Sudahlah kemarin makan cuma sama nasi kucing, sekarang malah nggak bangun sahur. Aku kudu piye iki, ya Tuhaaaaannn!!!’’

Begitu dia meratapi nasib malangnya saat matanya baru melek dan menyadari sudah terlambat buat makan sahur karena kala itu sudah jam 05.00 WIB.

Meski bersedih, dia masih bisa bersyukur. ‘’Tapi matur nuwun, ya Tuhan, Engkau sudah membangunkan hamba. Coba kalau tidak? Bisa-bisa saya juga bablas mboten salat subuh,’’ batinnya dalam hati sambil ke kamar mandi buat ambil air wudu.

Waktu terus berputar. Belum posisi matahari tegak lurus sama kepala Blok, dia sudah uringuringan. Perutnya mulai keroncongan. Menghindari gangguan kelaparan, Blok tidur saja. Ah, dasar nasib sial, mata Blok nggak bisa merem gegara lapar. ‘’Duuuuh, apa aku batalin puasa saja, ya?’’ pikirnya dalam hati.

Tapi tekadnya sudah bulat: HARI INI PUASA PENUH! Tapi kondisi fisik Blok tak seiring sejalan dengan tekadnya. Semakin Blok bersikukuh melanjutkan puasa, rasa laparnya makin meraja. Sebenarnya, kalau mau membatalkan puasa agak susah. Karena di kontrakan Blok nggak ada apa-apa. Jangankan makanan, air minum saja dia nggak punya. ‘’Ya, Tuhaaan, hamba tidak kuaat,’’ jeritnya dalam hati.

Semangatnya untuk tetap puasa akhirnya pupus. Dia memutuskan pergi ke warung Mbok Nom buat membatalkan puasanya. ‘’Ya, Tuhan, maafkan hamba-Mu ini,’’ katanya dalam perjalanan dengan nada sedih karena apa yang diinginkannya untuk tetap puasa penuh bakal muspra.

‘’Begitu awal ceritanya, Gob.’’

‘’Lalu kamu sudah makan?’’ tanya Gob menelan ludah karena habis melirik orang yang lagi menyantap ayam goreng dan sambal terasi bikinan Mbok Nom yang terkenal pedasnya itu. Rupanya dia juga mulai tergoda akan godaan masakan itu.

”Nggak jadi, Gob.”

Lho, kok ora sido?’’

”Aku khilaf tadi, Gob. Aku disadarkan oleh keadaanku sendiri.”

Sesampainya Blok di depan warung Mbok Nom tadi, keputusannya buat batal puasa kembali goyah. Dalam hatinya berpikir, mosok cuman karena lapar dia batal puasa. Pasti banyak orang di luar sana yang penderitaannya tidak hanya lapar tapi masih tetap puasa penuh. ‘’Tapi kan, tapi kan, tapi kan …’’ katanya dalam hati. ‘’Ah, aku capek jalan ke sini buat batalin puasa, mosok pas sampai di sini nggak jadi batal puasanya?’’

Dasar sedang kebingungan, Blok bablas saja menyelinap masuk warung. Wah, beberapa lauk baru saja matang dimasak. Ada ayam goreng, telur, tempe, dan tahu goreng. Asapnya kelihatan masih mengepul menggoda lidah Blok. ‘’Waaah, enak sekali ini,’’ pikirnya. Apalagi sudah ada beberapa orang yang lagi makan di warung Mbok Nom.

Lidah Blok sudah tak tahan mau makan. Tapi sebelum memilih menu yang mau dimakan dia mesti ngecek isi dompetnya dulu. Jadi menunya disesuaikan dengan duit yang dia pegang. Bumi gonjang-ganjing, ternyata eh ternyata isi dompet Blok cuma ada tiga lembar uang pecahan seribu alias tiga ribu rupiah thok.

‘’Dagelan macam apa lagi ini, Gusti?’’ Blok meratapi malang nasibnya.

‘’Lalu kamu jadi makan?’’

‘’Nggak jadi,’’ jawab Blok pelan.

‘’Lho, kok nggak jadi?’’

‘’Aku lupa aku lagi ujian.’’

‘’What? Ujian opo to, Blook blok, ada-ada saja kamu ini,’’ ujar Gob tak percaya.

‘’Aku sedang menguji diriku menghadapi cobaan puasa.’’

‘’Maksudmu piye?’’

Ternyata dalam perenungan singkatnya, Blok menyimpulkan kejadian yang dia alami hari itu memang cobaan dari Gusti Allah. Mulai dari ketiduran nggak sahur, mau batal tapi duitnya cuma cukup buat beli minum. Dalam kebimbangannya di dalam warung, Blok tersadar ini semacam ujian. Meski kelupaan sahur, masih kuatkah Blok menjalani puasa.

‘’Lalu kamu ngapain masih di sini?’’ tanya Gob lagi.

‘’Ini namanya ujian naik kelas, Gob!’’

Blok paham ujiannya tidak sampai pada tahap itu saja. Melainkan dia mau menguji dirinya dengan jenis cobaan yang lain dan yang lebih berat tentunya. Yakni melihat orang lain lagi makan sedangkan dia sedang puasa. Ini tentu lebih berat bagi Blok. Puasa tapi nggak sahur, ditambah sekarang mengamati orang yang lagi makan.

‘’Hebat, kan, aku masih kuat puasa. Padahal di depanku ini banyak orang lagi makan. Aku blas ora tergoda untuk ikut makan yang bisa membatalkan puasaku,’’ kata Blok penuh bangga.

‘’Ujian sih ujian, tapi yo nggak gitu-gitu amat to, Blok.’’

‘’Lho, gimana to kamu ini. Justru di situ ujian yang sebenarnya!’’ kata Blok berapi-api.

Dalam rasa lapar yang amat sangat, Blok mencoba menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya itu pada Gob. Memang agak susah menjelaskannya pada orang yang IQ-nya agak anu seperti Gob itu. Padahal aslinya IQ Blok juga sama-sama agak anu.

Blok memberi contoh orang puasa itu seperti anak SD yang lagi belajar di sekolah. Mulai dari kelas satu, dua, dan seterusnya sampai kelas enam, pasti mereka harus mengikuti dan lulus ujian. Selesai diberi pelajaran ini-itu, si murid bakal diuji sama gurunya. Dari apa yang sudah diajarkan, sejauh mana pemahaman si murid agar bisa naik kelas dan menerima pelajaran dengan tingkat kesulitan yang lebih.

Sama halnya seperti orang puasa. Kalau sedang puasa, dia lagi belajar buat nahan ini-itu. Ini sama seperti anak SD yang lagi diberi penjelasan mata pelajaran dari gurunya. Nah, kalau lagi puasa tapi suasananya adem ayem, kan, kurang seru puasanya karena tak ada sesuatu yang menguji iman si orang yang lagi puasa itu. Nggak ada godaan seperti yang sedang dialami Blok. Banyak orang yang paham arti puasa, tapi seberapa dalam pemahaman mereka siapa yang tahu.

Oleh karena itu, biar tahu si orang itu paham apa belum tentang puasa, alangkah baiknya diuji dengan duduk di depan orang yang lagi makan. Kalau nggak ada ujian, dari mana bisa diketahui kedalaman pemahamannya. Selain itu, ini sebagai bentuk toleransi bagi mereka yang nggak puasa. Entah yang KTP-nya Islam maupun yang agamanya Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dll.

‘’Mudeng?’’ tanya Blok pada Gob yang dari tadi diam memperhatikan kuliah dadakan Blok.

‘’Mosok buat menguji kedalaman iman harus kayak gitu ujiannya. Pasti ada jenis ujian yang lain, kan?’’ Kata Gob sambil garuk-garuk kepalanya.

‘’Pasti! Tapi buatku ya yang kayak begini ini yang cocok buatku. Karena aku yang mengalaminya sendiri. Selain itu, ada satu lagi tahap ujian yang pengin aku omongin,” ujar Blok.

”Wah, masih ada lagi? Ayo, jelaskan padaku! Sekalian nunggu bedug magrib sebentar lagi,” sahut Gob.

”Okelah kalau begitu.”

Nah, jika seseorang sudah lulus tahap pertama, ada satu tahap ujian lagi yang mesti ditempuh. Meskipun sudah sukses menahan lapar dan dahaga di depan orang yang lagi makan, apakah lantas kita merasa lebih baik dari orang itu. Karena kita puasa dan dia tidak?

Belum tentu! Bisa jadi kalau si orang yang lagi nggak puasa itu distributor kopi. Mungkin jika dia puasa, konsentrasinya pas lagi nyetir buat ngirim kopi buyar. Akibatnya, bisa saja terjadi kecelakaan yang bikin pendistribusian kopi jadi seret. Kalau sudah begini manusia maniak kopi seperti Gob dan Blok bisa mengalami krisis kopi.

‘’Maka dari itu, mentang-mentang puasa tapi jangan semena-mena merasa lebih baik dari yang nggak puasa.’’

‘’Hmm, gimana kalau itu terjadi sama presiden, ya?’’

’Lho, kok ujugujug kamu bawa presiden?’’ kata Blok menjawab  pertanyaan Gob yang cenderung ngawur.

‘’Iya, presiden itu pasti capek karena kerjaannya buanyak. Dia mesti blusukan atau perjalanan dinas ke sana-sini, peresmian ini-itu, rapat ini-itu, tanda tangan ini-itu. Bayangkan kalau konsentrasi presiden turun drastis, kan, bahaya kalau tiba-tiba beliau salah tanda tangan dokumen,’’ ujar Gob.

‘’Jadi maksudmu kalau presiden bikin salah atau bikin kebijakan yang nggak pro-rakyat kita mesti maklum, gitu? Karena mungkin beliau lagi puasa dan konsentrasinya drop?’’ tanya Blok.

‘’Wah, aku nggak bilang gitu, tapi …,’’ belum selesai Gob menjawab, tetiba terdengar suara azan magrib.

Allahu akbar, Allahu akbaaarrr!!

Akhirnya waktu magrib tiba. Suasana warung Mbok Nom ramai riuh. Orang-orang bareng merayakan buka puasa di warung sederhana itu. Termasuk juga Gob dan Blok. Obrolan barusan terpaksa ditunda hingga waktu yang belum bisa ditentukan lantaran terganjal waktu buka puasa. Mereka berdoa dulu sebelum mulai santap makan sebagai bentuk rasa syukurnya. Beres berdoa, Gob langsung mereguk segelas teh nasgithel (panas, legikenthel). Tapi tidak dengan Blok. Dia diam dulu sebentar usai berdoa dan memperhatikan orang-orang yang sedang buka puasa di sekitarnya.

‘’Anu, Gob, makananku ini kamu yang bayarin, ya. Aku lagi nggak ada duit banget,’’ kata Blok malu-malu.

‘’Hmm, aku sudah tahu modusmu, Blok. Niatmu ngajak aku ke sini, kan, memang biar kamu ada yang traktir.’’

‘’Heuheuheuheuheu, makasih, ya Gob. Gusti Allah sing mbales …’’ (dsk/)

Advertisements

4 thoughts on “Ujian Paket Ramadan

  1. heuheuheu, suka endingnya.
    dan masyaallah… iya, selama ini aku sering buruk sangka sama presiden. harusnya aku bisa lebih empati, ngerti dan ngemaklum kalau presiden ngelakuin ini ngelakuin itu… dan sama anggota dewan, dan sama gubernur, dan sama walikota atau bupati. masyaallah…

  2. atau bagaimana kalau bulan ramadhan adalah “pekan ujian akhir semester”-nya. bulan-bulan sebelumnya adalah “masa kuliah”-nya. tiap tahun aku diuji buat naik tingkat. kalau aku diuji sejak umur 15 tahun (asumsi mulai puasa pada umur akil balig), berarti aku sudah mengalami pekan UAS 12 kali. kalau lulus semua, harusnya gelar aku sudah profesor spesialis. harusnya gaji aku sudha puluhan juta per bulan. wow. heuheu.
    kalau bener puasanya, aku sudah jadi manusia yang taqwa. amin

  3. Justru aku lebih condong bahwa 11 bulan di luar Ramadan adalah ujian..
    Soalnya selama Ramadan orang Islam dimanjakan dengan segala macam bonus pahala. Dengan begitu (kemungkinan besar) mereka pasti berlomba-lomba berbuat baik. Karena mereka tahu perbuatan mereka bakal diganjar berkali lipat..
    Nah, pas 11 bulan sesudahnya, mereka dikasih ujian. Apakah ibadah/perbuatan baiknya sama kencangnya dengan yang mereka lakukan saat Ramadan? Masak rajinnya cuma saat Ramadan doang? Heuheuheu

    • mmh… menarik. saya sedang mencoba habit training untuk solat duha, tahajud, dan puasa senin-kamis secara rutin. dan memang susah! hehe. harus berusaha lebih keras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s