Salat Seribu Rupiah

Salat_1000_Rupiah[1]

Minggu (1/6) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB saya mendapat kabar bahwa nenek saya telah dipanggil Yang Kuasa. Kebetulan pada waktu itu saya sedang di rumah menonton tivi. Ibu saya mendatangi tempat di mana saya sedang menonton tivi dan memberitahu kabar tersebut. Segera saya bersiap-siap berangkat mengantar orangtua saya ke rumah duka.

Saya cuci muka sikat gigi. Tanpa mandi karena hawa dan air kala itu masih dingin. Tanpa terlebih dahulu buang air besar karena pasti akan lama. Padahal jam-jam tersebut adalah waktu yang tepat untuk saya biasanya membuang sisa metabolisme tubuh saya ini. Ya sudah, saya tahan saja. Lantas saya ganti baju seadanya. Begitu juga bapak dan ibuku. Selagi mereka bersiap-siap, saya mau memanaskan mobil di garasi. Saya sudah selesai siap-siap. Saya tidak bawa apa-apa. Hanya baju dan celana yang melekat di badan. Serta dompet yang berisi beberapa lembar rupiah dan kartu tanda pengenal seperti KTP, SIM, dll.

Mobil sudah cukup hangat, semua orang sudah siap, kami pun berangkat. Rumah kami terletak di sebuah desa yang terletak di ujung selatan Kabupaten Madiun, nama desanya adalah Mlilir. Sementara rumah duka yang akan kami tuju adalah Pagotan, desa yang masih satu kabupaten dengan Mlilir. Cukup dengan 15 menit perjalanan menuju rumah duka. Sebenarnya jarak Mlilir-Pagotan cukup jauh. Namun karena pagi itu sangat sepi. Perjalanan kami dilancarkan.

Tiba di rumah duka, suasanya sudah sangat ramai. Sementara itu, nenek saya sedang dimandikan. Saya hanya duduk-duduk saya menonton adegan pemandian jenazah tersebut. Ini adalah pertama kalinya saya melihat kejadian ini. “Oh begitu memandikan caranya memandikan jenazah,” batin saya. Usai dimandikan, jenazah dibawa masuk ke rumah untuk kemudian dikafani. Saya lalu membereskan peralatan mandi yang dipakai barusan.

Adzan Subuh berkumandang, saya baru selesai membereskan peralatan mandi jenazah. Saya menuju mobil untuk mengambil sarung dan segera menunaikan ibadah sholat Subuh. Sekembalinya dari mobil dan beberapa langkah menuju rumah duka, saya dimintai tolong oleh salah satu sanak keluarga untuk mengantar mereka belanja ke pasar. Daripada tidak ada yang bisa dikerjakan di sini, saya setuju untuk mengantar mereka.

Jarak antara pasar dengan rumah duka tak terlalu jauh. Cukup memakan waktu 5 menit. Saya menunggu di dalam mobil sementara sanak keluarga saya belanja ke pasar. Ternyata dalam waktu yang bersamaan perut saya bergejolak. Sudah saatnya membuang kotoran. Untunglah di dekat tempat saya memarkir mobil ada toilet umum. Setelah mencek isi dompet dan menemukan masih ada beberapa lembar uang pecahan dua ribu, saya langsung ke sana.

Oh iya sebelumnya saya ingin  mengatakan bahwa toilet ini bersih. Air kran mengalir deras. Keadaan kloset juga bersih. Tak ada bau menyengat. Begitu juga lantai WC ini bersih. Tidak seperti toilet umum pada umumnya. Hanya satu kekurangan toilet umum ini, dia tidak menyediakan sabun di dalam kamar mandi. Sebagai orang yang cukup menjaga kebersihan, saya sering kesal ketika ingin buang air besar di toilet umum tapi tidak ada sabun untuk membersihkan badan. Saya sering mengurungkan niat untuk buang air besar jika tidak ada sabun di sana. Namun keadaan kali ini sangat mendesak. Saya tak mampu lagi menahannya. Akhirnya ya sudahlah saya buang air besar di sini. Tanpa sabun.

Dalam duduk jongkok yang sangat menawan, saya membaca selembar kertas yang menempel di pintu WC. Itu adalah rincian biaya pemakaian toilet umum antara lain mandi, buang air kecil, dan buang air besar. Semuanya dikenai biaya seribu. Tumben. Biasanya yang saya tahu untuk buang air kecil dikenai seribu. Sementara untuk buang air besar dan mandi biayanya adalah dua ribu rupiah. Namun toilet umum yang terletak di dekat pasar Pagotan ini mematok dengan harga yang sama.

Usai berak, saya mengambil air wudhu. Kebetulan sekali toilet umum ini juga menyediakan sebuah mushala sederhana. Sederhana di sini maksudnya secara ukuran, mushala ini cukup kecil. Mungkin hanya mampu menampung sampai 7 orang dengan proporsi bentuk badan normal. Di depan pintu mushala ada seorang pemuda yang saya duga adalah penjaga sekaligus orang yang membersihkan toilet umum dan mushala ini. Pemuda ini juga saya duga adalah orang yang menerima uang ongkos pemakaian toilet umum. Karena terdapat sebuah kotak kayu yang bagian atas tengahnya berlubang seperti sebuah kotak amal pada umumnya.

Kemudian terjadi adegan yang menurut saya unik antara saya dengan pemuda itu. Untuk lebih jelasnya, saya paparkan adegan percakapan antara saya (A) dan pemuda itu (B).

A: (Mengeluarkan selembar uang pecahan dua ribu rupiah dan memberikannya pada pemuda penunggu mushala.)

B: Sekalian sama sholat, Mas?

A: Iya.

B: Oh. (Memasukkan uang tersebut ke kotak yang berada di depannya.)

A: (Sedikit bingung sebentar lalu langsung masuk untuk sholat Subuh.)

Selesai sholat Subuh. Masih di dalam mushala. Masih dalam keadaan duduk bersila. Sambil berdzikir barang sebentar. Saya memikirkan adegan yang baru saja saya alami. Padahal ketika sholat saya juga masih memikirkannya. Yang saya tahu ongkos buang air besar adalah seribu rupiah, tapi kenapa pemuda itu tidak memberikan kembalian uang kepada saya? Tapi ia malah menanyakan apakah saya mau sholat. Kesimpulan sementara saya kali ini adalah untuk sholat di mushala ini dikenai biaya seribu. Atau hanya saya saja diperlakukan seperti itu? Sayang tidak ada orang lain selain saya yang sholat di sana untuk saya perhatikan. Saya juga sungkan untuk menanyakan pada pemuda itu. Takutnya saya dikira mempermasalahkan uang seribu. Ya sudahlah, biarkan.

Menurut saya apa yang saya alami (sholat di mushala dikenai biaya seribu rupiah) sah-sah saja. Entah menurut MUI yang konon katanya adalah organisasi yang paling berhak untuk menentukan halal-haram di negeri ini. Bagi saya, uang seribu itu adalah biaya perawatan mushala. Antara lain mungkin untuk beli sapu, beli lap dan sabun pel, mencuci sajadah/mukena/sarung, bayar listrik, dan sebagainya. Serta mungkin untuk sedikit menambah penghasilan pemuda penunggu mushala dan toilet umum.

Namanya juga di Indonesia, apa-apa bisa dijadikan uang. Memang pada dasarnya manusia Indonesia ini adalah makhluk kreatif. Entah yang dilakukan pemuda ini benar atau salah. Karena benar atau salah adalah hak prerogatif Tuhan. Tapi menurut saya pemuda ini berpikir rasional, di zaman edan segalanya harus menghasilkan uang. Termasuk menunggui mushala dan toilet umum harus menghasilkan uang untuknya. Eh, tapi kan saya tidak tahu uang itu dipakai untuk apa saja. Siapa tahu uang itu memang benar-benar sepenuhnya untuk keperluan perawatan mushala dan toilet umum. Sedangkah pemuda ini benar-benar ikhlas mengerjakannya tanpa imbalan uang. Saya hanya bisa menduga-duga. Tak ada gunanya berpikir negatif.

Ah, semoga pemuda tersebut bahagia menjalaninya. Dan semoga amalnya sebagai penjaga mushala sehingga mushala itu selalu aman dan bersih akan mendapat pahala yang setimpal. Dengan keadaan mushala yang bersih, otomatis orang-orang yang akan sholat di sana merasa nyaman dan kekhusyukan sholat kemungkinan besar akan tercapai. Bukankah kalau begitu ia berjasa atas khusyuknya orang sholat sehingga ia mendapat pahala karena atas jerih payahnya membersihkan mushala. Ah, sudahlah, daya tidak sok ingin tahu membenarkan atau menyalahkan sesuatu. Apalagi pengetahuan agama saya masih sangat dangkal. Daripada orang-orang yang mengerti mengaku agama tapi melakukan penistaan agama dengan cara korupsi pengadaan Al Quran dan dana haji. Ah, semua manusia hanya menjalankan takdir dari Yang Maha Kuasa. Benar dan salah hanya Engkau seorang yang berhak menentukan, ya Tuhan. Ah, heuheuheuheuheuheu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s