Kereta Api: Makanan Di Dalamnya

Satu hal yang paling saya malas lakukan ketika melakukan perjalanan jauh sendiri adalah makan selama di dalam perjalanan, khususnya ketika menaiki kereta api. Alasan pertama yang saya ajukan adalah takut mulas. Saya termasuk orang dengan metabolisme pencernaan tubuh yang cukup cepat. Perjalanan saya selalu adalah perjalanan malam. Siang hari ketika malamnya saya akan pergi, saya akan sedikit mengurangi porsi makan. Saya pun jarang makan malam ketika akan pergi. Karena takut nanti malam ketika di tengah-tengah perjalanan, saya ingin buang air besar. Bukannya apa-apa, toilet kereta api dari dulu sampai sekarang masih terlihat kotor. Airnya pun mengucurnya tidak deras. Akhirnya saya sebagai penumpang akan mengurungkan niat saya untuk menggunakan toilet tersebut.

Kedua, mahal. Iya, harga makanan yang dijual oleh pihak KA sangatlah di luar nalar. Bayangkan, untuk semangkuk mie rebus, mereka memasang harga 18 ribu. Padahal itu hanya mie instan yang harga mentahnya di pasaran pun tak sampai 2 ribu. Menurut saya silakan saja pihak KA memasang harga mahal. Tapi tolong yang lebih rasional harganya. Jangan hanya karena penumpang benar-benar membutuhkan sehingga pihak KA dengan seenaknya menaikkan harga semangkuk mie rebus setinggi langit. Tapi mungkin ini sudah diperhitungkan untung-ruginya oleh pihak KA sehingga akhirnya mereka membanderolnya dengan harga tersebut. Well, who knows?

Ketiga, kebersihan makanan. Saya adalah orang yang akan duduk manis selama dalam perjalanan. Saya jarang mondar-mandir di dalam gerbong seperti orang lain. Yang biasa saya lakukan adalah tidur sepanjang malam, atau terkadang membaca buku yang saya bawa. Kalau saya beranjak pun, tujuannya adalah toilet untuk saya buang air kecil. Saya tidak tahu keadaan gerbong reservasi KA. Saya belum pernah ke sana. Maka dari itu saya agak ragu untuk memesan makanan di dalam kereta. Saya membayangkan keadaan gerbong reservasi berantakan karena guncangan selama perjalanan lumayan mengguncang. Para pemasak akan sangat kesulitan ketika memasak. Bayangan saya beberapa bahan makanan akan jatuh berantakan di lantai gerbong reservasi. Semoga apa yang saya bayangkan itu salah.

Saya pernah membeli makan di sana. itu pun dibelikan oleh orangtua atau kakak saya. Biasanya pilihan saya mie rebus atau nasi goreng. Mie rebus memakai telur harganya 18 ribu. Sedangkan nasi goreng dengan telur ceplok dan krupuk dibanderol 22 ribu. Untuk rasa mie rebus sendiri seperti yang ada di warung-warung. Tak ada yang spesial dari rasa mie rebus ini. Sementara nasi goreng rasanya kurang memuaskan lidah saya. Sebagai penikmat kuliner, rasa nasi goreng yang ditawarkan pihak KA mengecewakan. Mungkin kalau saya jadi Bondan Winarno, saya akan bilang rasanya kurang nendang. Kurang top markotop. Kurang maknyus. Atau bahkan akan lebih buruk komentar yang akan saya utarakan. Kalau tidak sedang benar-benar terdesak, saya mungkin tidak akan memesan makanan yang ditawarkan oleh pihak kereta api.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s