Kereta Api: Makanan Di Dalamnya

regional-train-rail-cars-platform-deutsche-bahn-159148.jpeg

SATU hal yang paling malas saya lakukan ketika melakukan perjalanan jauh adalah makan selama di dalam perjalanan, khususnya ketika menaiki kereta api. Alasan pertama adalah karena takut mulas. Saya termasuk orang dengan metabolisme pencernaan tubuh yang cukup cepat. Perjalanan yang saya tempuh selalu kala malam. Siang hari ketika malamnya akan pergi, saya akan sedikit mengurangi porsi makan. Saya pun jarang makan malam ketika akan pergi. Karena takut nanti malam ketika di tengah perjalanan, saya ingin buang air besar. Bukannya apa-apa, toilet kereta api dari dulu sampai sekarang masih terlihat kotor. Airnya pun mengucurnya tidak deras. Akhirnya saya sebagai penumpang akan mengurungkan niat untuk menggunakan toilet tersebut.

Kedua, mahal. Iya, harga makanan yang dijual oleh pihak KA sangatlah di luar nalar. Bayangkan, untuk semangkuk mie rebus, mereka memasang harga Rp 18 ribu. Padahal itu hanya mie instan yang harga mentahnya di pasaran pun tak sampai Rp 2 ribu. Menurut saya silakan saja pihak KA memasang harga mahal. Tapi tolong yang lebih rasional harganya. Jangan hanya karena penumpang benar-benar membutuhkan sehingga pihak KA dengan seenaknya menaikkan harga semangkuk mie rebus setinggi langit. Tapi mungkin ini sudah diperhitungkan untung-ruginya oleh pihak KA sehingga akhirnya mereka membanderolnya dengan harga tersebut. Well, who knows?

Saya pernah membeli makan di sana. itu pun dibelikan oleh orang tua atau kakak saya. Biasanya pilihan saya mie rebus atau nasi goreng. Mie rebus plus telur harganya Rp 18 ribu. Sedangkan nasi goreng dengan telur ceplok dan krupuk dibanderol Rp 22 ribu. Untuk rasa mie rebus sendiri seperti yang ada di warung-warung. Tak ada yang spesial dari rasa mie rebus ini. Sementara nasi goreng rasanya kurang memuaskan lidah. Sebagai penikmat kuliner, rasa nasi goreng yang ditawarkan pihak KA cenderung mengecewakan. Mungkin kalau saya jadi Bondan Winarno, saya akan bilang rasanya kurang nendang. Kurang top markotop. Kurang maknyus. Atau bahkan akan lebih buruk komentar yang akan saya utarakan. Kalau tidak sedang benar-benar terdesak, saya mungkin tidak akan memesan makanan yang ditawarkan oleh pihak kereta api. []

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s