Kereta Api: Pelayanannya Dari Dulu Sampai Sekarang

Praktis mulai 2007 saya menjadi mahasiswa UPI Bandung. Adalah kereta api, sebagai moda transportasi favorit saya untuk mengantar ke Bandung. Untuk pulang kembali ke Madiun, saya juga memakai kereta api. Kenapa saya memilih kereta? Sudah saya jelaskan di sini. Pada kesempatan kali ini saya ingin menguraikan tentang pelayanan kereta api. Mulai dari pembelian tiket, stasiun, dan di dalam kereta selama perjalanan. Sebagai pelanggan setia, saya ingin membandingkan pelayanan tersebut dari dulu hingga sekarang sesuai dengan apa yang saya rasakan.

Dulu, pemesanan tiket kereta api dapat menggunakan nama orang lain sebagai nama yang tertera di atas tiket. Artinya identitas penumpang tidak harus sama dengan identitas yang tercantum di tiket. Hal ini terjadi karena petugas KA tidak akan memeriksa dan mencocokkan identitas para penumpangnya. Sehingga penumpang bisa dengan bebas melenggang masuk kereta asalkan tiket yang ia bawa merupakan tiket resmi.

Ketika memesan tiket pun, pemesan (seingat saya) dapat memesan tiket sesuai dengan jumlah yang ia inginkan. Dengan demikian, hal ini menjadikan semakin menjamurnya bisnis percaloan tiket. Para calo dapat meraup keuntungan besar. Mereka bisa memesan sejumlah tiket sehingga jatah tiket yang sudah disediakan pihak KA menipis dan akhirnya habis. Setelah stok tiket ini habis, para calon penumpang terpaksa membeli tiket dari calo dengan harga yang tak jarang 2 sampai 3 kali lipat dari harga tiket normal. Apalagi ketika tiba musim libur panjang seperti lebaran, para calo ini seperti mendapat durian runtuh dan jamur yang tumbuh lebat di musim penghujan.

Untuk KA kelas ekonomi, hukum rimba berlaku di sini. Siapa kuat dia dapat. Siapa cepat ia dapat. Dulu, aturan tiket berdiri (tanpa tempat duduk) masih berlaku. Hasilnya adalah penumpang berebut berdesak-desakan mencari tempat duduk begitu kereta tiba. Hal ini saya alami sendiri ketika menaiki KA ekonomi Kahuripan jurusan Kiaracondong (Bandung) ke Kediri. Meski saya mendapat tiket dengan label mendapat tempat duduk, tetap saya harus berebut masuk gerbong dengan penumpang yang lain. Tempat duduk bukanlah tujuan utama menaiki kereta ini, yang terpenting adalah bisa masuk ke dalam gerbong sudah cukup. Ketika sudah masuk gerbong, keadaannya sudah penuh sesak. Untuk bergerak saja susah. Jadi ya terpaksa saya berdiri berimpitan dengan penumpang lain.

Kejadian-kejadian seperti itu kini sudah tidak lagi ada. Untuk pemesanan tiket, kita harus menyertakan nama yang sesuai dengan KTP calon penumpang. Nomor KTP pun wajib ditulis ketika memesan tiket. Pembelian tiket juga dibatasi sampai maksimal 4 penumpang untuk satu orang pembeli. Jika ingin melakukan perjalanan pergi-pulang, pihak KA juga menyediakannya pada lembar formulir pemesanan tiket. Kebijakan ini membuat para calo mati kutu. Mereka tidak lagi bisa membeli tiket dengan nama penumpang sembarang. Karena identitas yang tertera di tiket harus sesuai dengan calon penumpang.

Perubahan besar juga terjadi pada KA kelas ekonomi. Kini tidak akan ada lagi penumpang yang berdiri. Jika jatah kursi kereta sudah penuh, pihak KA tidak akan lagi melayani tiket berdiri. Tidak ada penumpang yang selama perjalanan mereka berdiri dan berimpitan satu sama lain. Dengan demikian penumpang merasa nyaman karena suasana gerbong tak lagi sumpek.

Sistem pemesanan tiket sekarang juga semakin dipermudah dengan adanya sistem pemesanan tiket secara online. Para calon penumpang tak perlu lagi harus mengantre di stasiun untuk membeli tiket. Mereka dapat mengakses situs resmi yang sudah disediakan. Tinggal beberapa kali klik tetikus dan segera melakukan pembayaran via ATM dan mendapat kode untuk nanti ditukar menjadi tiket di stasiun. Praktis. Para calon penumpang juga dapat memesa tiket di agen-agen resmi yang sudah bekerja sama dengan pihak KA. Minimarket (Alfamart dan Indomaret) yang sudah banyak dibangun di hampir tiap desa kini juga melayani pemesanan tiket KA. Pemesanan dengan sistem online ini akan dikenai biaya tambahan. Terus terang saya belum pernah mencoba memesan tiket dengan sistem yang baru ini. Saya lebih menyukai dan menikmati mengantre di stasiun. Entah kenapa.

Pelayanan di stasiun juga mengalami perubahan. Dulu para pengantar diperbolehkan untuk masuk ke stasiun. Untuk masuk ke dalam stasiun, mereka diharuskan membayar karcis peron. Petugas pintu masuk stasiun juga tidak memeriksa identitas penumpang. Identitas nama yang tertera di tiket boleh tidak sama dengan identitas asli penumpang. Dan petugas tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, aturan ini diubah. Pengantar tidak lagi diperbolehkan masuk. Hanya calon penumpang yang sudah mengantongi tiket yang boleh masuk. Itupun tiketnya harus disesuaikan dengan identitas calon penumpang tersebut. Mereka diwajibkan membawa kartu pengenal seperti KTP, Kartu Pelajar/Mahasiswa, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan sebagainya. Petugas stasiun akan memindai barcode yang tertera di tiket untuk mencocokkan data penumpang.

Menurut saya, peraturan pengantar tidak boleh masuk stasiun ada bagusnya. Mungkin maksudnya adalah meminimalkan adanya penumpang gelap. Ditakutkan pengantar (atau orang yang mengaku mengantar) tiba-tiba menyusup masuk ke kereta dan menjadi penumpang gelap. Setelah aturan ini diterapkan, saya merasakan sesuatu, yaitu hilangnya sisi emosional ketika pengantar melepas kepergian yang diantar dan penumpang tidak bisa melambaikan tangan perpisahan kepada yang mengantarnya. Bagi saya, adegan seperti ini sangat menyentuh hati. Apalagi bagi penumpang yang pergi untuk bekerja, kuliah, dsb. Untuk pengantar (khususnya orangtua penumpang), saya rasa lambaian tangan mereka menyimbolkan bahwa mereka mendoakan keselamatan yang mereka antar sukses mengejar cita-cita dan karier di perantauan. Tapi aturan adalah aturan. Saya yakin perubahan peraturan ini untuk kebaikan bersama.

Aturan baru yang saya rasakan berbeda adalah dibatasinya ruang untuk merokok. Dulu orang-orang bisa bebas mengepulkan asap rokok mereka di dalam stasiun. Kini aktivitas seperti tidak tidak lagi terlihat di stasiun. Pihak stasiun telah menyiapkan ruang khusus bagi para orang-orang yang ingin merokok di dalam stasiun.

Terjadi perubahan juga di sektor pelayanan di dalam kereta selama dalam perjalanan. Yang tidak berubah adalah tetap petugas penjual makanan dan minuman menjajakan dagangannya dan dengan harga yang tidak murah. Petugas lain juga masih menyewakan bantal dan selimut. Di sini saya mencatat ada 4 perubahan yang saya rasakan. Pertama, petugas pemeriksa tiket tidak lagi sesering dulu memeriksa tiket penumpang. Dulu, biasanya hampir setiap sehabis transit di stasiun tertentu, petugas ini selalu datang memeriksa tiket semua penumpang, iya, semua, termasuk yang sudah diperiksa sebelumnya. Kedua, pedagang dari luar kereta tidak diperkenankan masuk gerbong ketika kereta transit di suatu stasiun. Kini mereka hanya berdiri di samping kereta menjajakan dagagannya dengan berteriak-teriak agar penumpang mendengarnya. Jika ingin membeli dagangan tersebut, penumpang tinggal pergi ke pintu gerbong dan melakukan transaksi jual-beli di sana.

Ketiga, keberadaan kipas angin kini tergantikan oleh adanya AC. Ini hanya terjadi di KA kelas ekonomi dan bisnis. Sementara KA kelas eksekutif sudah dari dulu menggunakan AC untuk mendinginkan gerbong. AC ini menggantikan peran kipas angin yang hanya mampu mengibaskan angin. Peran AC di sini tidak hanya mengibaskan angin melulu melainkan juga udara yang dingin dan segar. Dengan demikian penumpang merasa nyaman selama dalam perjalanan. Tingkat suhu AC ini dapat diatur sesuai keinginan. Petugas kereta akan mengubahnya jika penumpang menginginkan suhu yang tinggi atau rendah. Keempat, kini gerbong kereta api harus bersih dari asap rokok. Ternyata aturan pembatasan ruang bagi perokok ini berlaku juga di dalam gerbong kereta. Kepada yang ingin merokok, mereka dapat melakukannya ketika kereta transit di suatu stasiun atau ketika kereta berhenti di tengah-tengah perjalanan yang itu entah di mana. Mereka harus keluar dari gerbong bila ingin merokok. Dalam gerbong harus tetap bersih dari asap rokok. Perokok akan merokok di luar gerbong.

Demikianlah perubahan-perubahan pelayanan pihak kereta api yang saya alami. Saya yakin perubahan aturan pelayanan ini demi untuk memudahkan dan membuat nyaman konsumen. Semoga pihak PT KAI dapat melakukan inovasi lain yang akan lebih memanjakan kami para pelanggan setianya. Dua pertanyaan besar yang saya ajukan untuk PT KAI. Pertama, mengapa kereta api begitu sering terlambat tiba? Tidak adakah solusi yang dapat mereka terapkan untuk menanggulangi penyakit lama kereta api ini? Hal ini sudah bertahun-tahun terjadi namun masih saja sering terjadi. Kedua, mengapa toilet, khususnya KA kelas ekonomi dan bisnis, selalu terlihat dan terkesan kotor, jorok, dan bau? Airnya pun kurang deras mengalir dan tak jarang begitu cepat air ini habis. Begitu juga dengan tisu yang cepat habis. Dan pihak kereta api terkesan tak mengacuhkannya. Mereka tidak segera mengisi air begitu transit di stasiun tertentu. Mereka tidak segera membersihkan toilet yang sedang dalam keadaan tidak bersih. Mereka juga tidak segera mengganti tisu yang sudah habis. Dengan keadaan yang seperti ini, penumpang akan mengurungkan niatnya untuk buang air besar/kecil di toilet kereta. Mereka akan lebih memilih untuk menahannya sampai tiba di stasiun tujuan. Semoga ke depannya, hal ini tidak lagi terjadi dan pihak PT KAI segera mengatasinya.

Ada dua hal lagi yang saya ajukan kepada pihak PT KAI. Ini sekedar usul. Pertama, pihak stasiun kereta api selayaknya mengabsen para calon penumpangnya, seperti yang sudah lumrah terjadi di bandara. Kedua, baiknya petugas kereta api mengumumkan keberadaan kereta api sedang ada di mana. Jika itu susah dilakukan, paling tidak petugas kereta api memberitahukan kepada penumpang stasiun terdekat yang akan dituju. Sebabnya yang saya amati, banyak penumpang yang kebingungan begitu kereta akan berhenti di suatu stasiun. Mereka bertanya-tanya apakah ini stasiun tujuan mereka atau bukan. Can you do that , Sir?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s