Mata Lambung

Mata Lambung

“Huweeeeekk

Siang masih hampir. Pagi sudah berlalu. Seseorang baru saja bangun dari tidur. Baru saja muntah. Zat asam Lambung penyebabnya. Kepala pusing. Rebahan lagi di atas kasur. Mata masih merah mengantuk. Baru subuh tadi dipejamkan. Semalaman menyelesaikan tugas kuliah yang tenggat waktunya berakhir siang ini.

“Heh, Mbung! Kau tadi kenapa, hah? Gara-gara kau muntah, aku jadi bangun!” Bentak Mata kepada Lambung.

“Aku lapar, Mat. Sejak semalam tak ada makanan yang bisa kucerna. Zat asamku tak bisa kutahan lagi.”

Mata memarahi Lambung karena zat asamnya naik sehingga Sang Raga muntah. Dan bangun. Dan Mata harus terbuka lagi. Warnanya masih merah. Ia ingin tidur lagi. Sang Raga merebahkan diri di atas kasur. Mencoba untuk tidur lagi. Waktu masih beberapa jam lagi menuju batas akhir pengumpulan tugas.

Sang Raga masih lelah. Masih mengantuk. Begitu juga Mata, ia masih lelah. Semalam suntuk ia memandang layar komputer. Dibalut tubuhnya dengan selimut. Meski hari itu cukup cerah, namun suhunya cukup dingin. Mata tak juga memejam. Sang Raga kesal. Ia mandi. Memutuskan ke kampus sekarang. Daripada suntuk sendirian di kamar, lebih baik ke kampus. Siapa tahu Mata jadi lebih segar memandangi mahasiswi-mahasiswi yang berseliweran di kampus.

“Asyiiiik, sebentar lagi kita ke kampus, Mbung. Aku akan segar kembali kalau melihat gadis-gadis manis.”

“Enak sekali, ya, kau, Mat. Nanti kau bisa kenyang melihati gadis-gadis itu. Sedangkan aku? Aku masih kelaparan. Belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke sini.”

“Tenang saja, Mbung. Sekarang tanggal satu. Pasti makan enak hari ini.”

“Semoga kau benar, Mat.”

Begitulah percakapan antara Mata dan Lambung selama perjalanan Sang Raga menuju kampus untuk mengumpulkan tugas.  Benar apa kata Mata, di siang yang cerah itu banyak mahasiswi lalu-lalang di sekitar kampus. Mata merasa termanjakan dengan apa yang ia lihat.

Tuh kan, Mbung, apa kubilang. Rasa kantukku seketika hilang,” berkata Mata pada Lambung.

“Huh, terus kapan aku kejatuhan rezeki? Kau mau aku muntahkan lagi zat asamku?” Sahut Lambung.

“Tenang, Mbung, giliranmu sebentar lagi. Kita lagi menuju ruang dosen nih mau ngumpulin tugas.”

Begitu tugas dikumpulkan, Sang Raga menuju ATM yang ada di lingkungan kampus untuk mencek saldo tabungannya apakah sudah bertambah. Begitu girangnya Mata melihat isi saldo yang tertera di layar mesin ATM. Segera ia laporkan apa yang ia lihat kepada Lambung. Mendengar kabar baik itu, Lambung ikut kegirangan. Mata girang karena setelah melihat isi saldo, ia bisa memuaskan keinginannya untuk memanjakan Lambung. Begitu juga Lambung, berdasarkan laporan Mata, ia merasa senang karena kebutuhannya akan makanan bisa segera terpenuhi.

Karena tak ada lagi urusan di kampus, Sang Raga memutuskan pulang. Ia mendengarkan keluhan Lambung yang sudah sangat kelaparan. Ia mampir ke warung nasi Padang yang ia lalui. Lagi-lagi Mata termanjakan oleh banyaknya pilihan lauk di warung nasi itu.

“Mbung, kau mau makan apa? Pilihannya banyak banget nih,” tanya Mata.

“Memangnya sekarang kita lagi di mana?” Lambung balik bertanya.

“Warung nasi Padang dong. Cepat kau mau apa?”

“Asyik! Pakai rendang saja, Mat. Ingat, minta bonus sambalnya yang banyak,” pinta Lambung.

“Yakin kau mau makan banyak sambal? Nanti kau kaget lalu muntah lagi?”

“Yakin! Tidak ada kata tidak untuk nasi Padang!” Ujar Lambung penuh keyakinan.

“Baiklah.”

Dengan tuntunan Mata yang terus mengarah ke rendang dan sambal. Sang Raga memilih lauk rendang untuknya makan siang beserta tambahan sambal yang lebih banyak. Selesai nasi bungkus, ia langsung pulang.

Perjalanan pulang berlanjut. Mata melihat ada warung es kelapa muda. Si pemilik warung sedang mengupas dan menuangkan air kelapa ke dalam wadah. Hmm, pasti segar siang terik seperti ini meneguk air kelapa muda. Kata Mata dalam hati. Ia tuntun Sang Raga untuk sejenak singgah dan membeli es kelapa muda. Sengaja dia tidak bilang pada Lambung. Ia ingin memberi kejutan untuk kawannya itu. Karena ia merasa iba sudah semalam Lambung tak mencerna barang suatu apa.

Sebagai anak indekos, ritual makan terasa kurang afdal bila tak sambil menonton televisi atau film. Setibanya di kamar indekos, ia langsung menyalakan laptop untuk menonton film yang belum ditonton. Siang itu Mata dimanjakan dengan tontonan yang tak perlu tenaga ekstra untuk memeras Otak agar ia berpikir lebih. Kasihan Otak, ia sudah semalaman diperas untuk menyelesaikan tugas. Pilihan jatuh pada film “Despicable Me 2”. Film yang masih hangat kala itu. Mata terhibur. Mata memperingatkan Lambung bahwa Sang Raga akan segera makan. Ia minta Lambung agar bersiap-siap dan jangan terlalu larut dalam euforia nikmatnya nasi Padang.

Adegan demi adegan menjadi saksi betapa suapan demi suapan masuk lancar melalui tenggorokan setelah sebelumnya lembut dikunyah. Pada penelanan pertama, Lambung begitu girang menerimanya. Ia aduk-aduk hasil kunyahan Sang Raga. Kunyahan makanan menghujani Lambung. Ia menari-nari di bawah guyuran makanan itu. Sesekali juga diguyurkan es kelapa muda. Ia semakin bergembira. Ia tahu bahwa Mata adalah organ penggagas untuk membeli es kelapa muda ini. minuman kesukaan Lambung. “Terima kasih, Mata,” kata Lambung dengan nada seperti orang menyanyi dan menari dalam hujan.

Film baru berjalan sekitar lima belas menit. Nasi Padang sudah ludes. Tak ada sebutir nasi pun tersisa. Sepotong daging rendang, sehelai daun singkong, sayur nangka, dan sambal tak ada yang tak luput dari sapuan Jemari yang tangkas memasukkannya ke Mulut. “Eeeuuukk,” Lambung bersendawa. Ia terpuaskan oleh menu makan siangnya kali ini.

“Nasinya sudah habis, Mbung. Gimana? Puas kau?” Tanya Mata.

“Tentu dong, tak kau dengar betapa merdu sendawaku tadi,” sahut Lambung. “Kini aku tinggal mencernaya untuk segera kukirim ke bawah.”

“Kau mau Sang Raga tidur? Agar kau tidak terlalu berat mencerna makanan itu.”

“Tak perlu, Mat. Aku justru sedang semangat-semangatnya mencerna. Sudah lama sekali tak kurasakan nikmatnya nasi Padang,” ujar Lambung. “Tapi kalau kau mau tidur silakan saja. Kau kan juga masih lelah.”

“Iya, sih. Aku juga masih lelah. Tapi film ini masih seru.”

“Baiklah. Selamat menikmati tontonanmu, Mat. Aku mau mencerna ini dulu.”

Tanpa disadari lambat laun Mata mulai mengantuk. Beberapa kali ia terpejam dan membelalak lagi. Tak ingin ketinggalan adegan film yang menghibur itu. Apa daya, rasa kantuk sangat membebaninya. Akhirnya ia terlelap.

Sore ia baru bangun. “Mbung, maaf aku ketiduran tadi. Apa kabarmu?”

“Aman terkendali, Mat. Ini masih mencerna.”

“Hmm, tiba-tiba aku teringat gorengan, Mbung. Kau masih sanggup kan menampungnya?”

“Siap!”

Karena masih belum bangun secara sempurna. Sang Raga berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi untuk membasuh muka agar kesegaran tubuhnya kembali. Lalu pergi ke tempat penjual gorengan. Gorengan yang masih hangat baru saja diangkat dari penggorengan. Berbagai macam gorengan disajikan. Semuanya hangat. Tepat sekali waktu kedatangan Sang Raga. Ia beli berbagai macam gorengan yang total jumlahnya sepuluh. Kebetulan di samping penjual gorengan itu ada penjual bakso. Ketika Sang Raga membayar gorengan yang ia beli, penjual bakso membuka tutup tempat ia memanaskan kuah. Seketika asap menyeruak menyebarkan aroma khas bakso Malang. Mata begitu terpukau melihat kepulan asap tersebut. “Ah, ini cocok untuk cuaca yang sedang mendung ini. Lambung pasti suka,” bisiknya pelan.

“Mat, apa ini? Katanya kau beli gorengan?” Lambung terkejut ketika ia dihujani gorengan disertai kuah bakso yang masih hangat. Sekembalinya dari membeli gorengan dan bakso, Sang Raga melanjutkan menonton film yang sempat ia tinggal tidur tadi.

“Tadi beli gorengan dan bakso. Sekarang lagi mendung, Mbung. Cocok kan kalau makan bakso,” Mata meyakinkan pilihannya adalah pilihan yang tepat.

“Iya, tapi aku belum selesai mencerna nasi Padang tadi. Kapasitasku sudah hampir penuh, Mat.” Lambung kebingungan. Ia terlihat kelelahan melihat hujan gorengan dan bakso yang bertubi-tubi mulai memenuhinya.

“Tenang, nanti aku pelankan makannya.”

Film selesai. Begitu juga dengan makan bakso dan gorengan. Lambung memuntahkan sendawanya lagi. Pertanda sudah sangat kekenyangan. Mata turut bangga kawannya ini mendapatkan begitu banyak asupan gizi. Mata juga sudah termanjakan oleh banyak penglihatan semenjak ia bangun pagi sampai sekarang.

Lambung terkucar-kacir berusaha mencerna makanan yang baru saja ia terima. Terlalu banyak minyak dan lemak yang dalam makanan itu. Ia kesusahan mengolahnya. Sementara Mata sedang asyik memandangi layar ponsel yang berisi kata-kata mesra yang Sang Raga kirimkan kepada perempuan yang sedang ia sukai. Sambil sayup-sayup suara televisi menemani mereka bersantai berbaring di sore yang masih mendung.

Kemudian perhatian Sang Raga berpindah ke layar televisi. Dalam berita tersebut sedang memberitakan tentang kuliner segala olahan kambing. Mulai dari gulai, tongseng, tengkleng, sate, sop, dan lain sebagainya. Ia begitu tertarik dengan keindahan presentasi gulai dan sate kambing yang disiarkan. Sontak ia berkeinginan untuk menu makan malam ini adalah gulai dan sate kambing. Mata yang juga melihatnya begitu tergiur untuk segera menyantapnya.

Dengan penuh semangat karena akan makan malam gulai dan sate kambing, Sang Raga bergegas ke kamar mandi. Ia mandi dengan bersih. Ternyata dia mengajak sang pujaan hati untuk makan gulai dan sate kambing. Dan dia menyetujuinya. Begitu berbunga-bunganya suasana hatinya kala itu. Kebetulan juga hari ini saldo ATM-nya bertambah sehingga mampu mentraktir sang pujaan hati.

“Mat, kita lagi di mana?” Lambung yang masih sibuk mengolah makanan yang proses pencernaannya lama itu sedari tadi tak memperhatikan suasana di luar.

“Ini, Sang Raga lagi mau makan gulai dan sate kambing. Pasti enak tuh, Mbung.”

“Astaga! Bagaimana bisa? Kapasitasku belum sepenuhnya kosong, Mat. Makanan itu tak akan muat di sini,” keluh Lambung.

“Sudahlah, percuma kau mengeluh. Makanan ini sudah terlanjur dipesan. Lagi pula Sang Raga sedang melakukan proses pendekatan dengan pujaan hatinya,” ujar Mata. “Mustahil tiba-tiba membatalkan makan malam ini.”

“Tapi, Mat …”

“Sudahlah, Mbung, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Lagi pula kau kan mampu memperbesar kapasitasmu lagi.”

“Iya, tapi kalau sudah membesar, akan sulit dikecilkan lagi, Mat. Nanti kalau sudah membesar akan terus-menerus meminta asupan makanan. Kalau itu terjadi aku akan sangat keberatan menanggungnya,” Lambung berkata dengan nada memelas.

“Sssstt!! Sebentar. Aku sedang mengamati paras indah tubuh perempuan ini. Kau tenang saja,”  Mata sedang begitu tergila-gila.

Lambung menghela nafas panjang. Pasrah. Ia tak mau membayangkan begitu mengerikan keadaannya nanti. Dengan ukuran yang membesar dan terisi penuh oleh lemak, minyak, dan daging. Ia akan sangat kesusahan mencernanya. Benar apa yang ia bayangkan. Begitu banyak daging berjatuhan beserta kuah santan dan tak ketinggalan nasi serta daging sate ditaburkan di dirinya. Ia tak bisa apa-apa. Hanya dapat melihat potongan demi potongan daging menghujaminya. Kapasitas tubuhnya sudah hampir penuh. Ia bekerja dengan sekuat tenaga melebarkan tubuhnya. Dan berhasil. Makanan itu kini muat semua di dalam tubuhnya. “Eeeuuukkk,” Lambung sendawa. Lambung begitu lemas. Ia panggil-panggil Mata untuk mengingatkan agar jangan ada makanan yang masuk lagi. Namun tak ada jawaban dari Mata.

“Mbung, kau baik-baik saja kan? Ini kita baru sampai di kamar.”

“Iya, kukira kau melupakanku, Mat,”  ujar Lambung masih dalam keadaan lelah.

“Aku mau langsung tidur, ya, Mat. Dini hari nanti ada Liga Champions. Aku tak mau melewatkannya.”

“Iya.”

Dan Sang Raga tertidur pulas. Itu membuat kinerja Lambung dalam mencerna makanan melambat. Apa lagi makanan tersebut banyak di antaranya daging, lemak, minyak yang sudah untuk dicerna. Tak banyak yang bisa ia cerna malam itu.

Pertandingan Liga Champions kali ini antara kesebelasan Schalke 04 menjamu Real Madrid. Pertandingan itu dimulai sekitar pukul setengah tiga. Lambung memanggil-manggil Mata untuk segera bangun. Akhirnya Mata terbuka. Ia masih sangat mengantuk. Namun ketika ia mendengar peluit babak pertama dibunyikan pertanda pertandingan dimulai ia langsung segar kembali. Ia tak ingin selalu menjadi saksi tim kesayangannya bertanding. Meskipun masih melalui layar televisi. “Terima kasih sudah membangunkanku, Mbung,” kata Mata.

Tak perlu banyak waktu bagi Real Madrid untuk mengubah papan skor. Pada menit ke-13 Karim Benzema berhasil melesakkan bola ke gawang Schalke 04. Seketika Sang Raga melompat-lompat kegirangan. Ia melompat ke sana ke mari seolah-olah dia lah yang mencetak gol tadi. Lambung terguncang-guncang karena selebrasi berlebihan Sang Raga. Makanan yang ia tampung tak dapat ia kendalikan. “Apa kubilang, Mat! Jangan salahkan aku!” teriak Lambung dengan keadaan masih terguncang-guncang. Tanpa terkendali makanan itu meluap dan membuat Sang Raga muntah.

“Huweeeeekk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s